cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner
ISSN : 25409492     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner merupakan media elektronik yang digunakan sebagai wadah penyebaran hasil-hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala yang ditulis bersama dengan dosen pembimbingnya. Naskah/artikel yang diterbitkan telah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan penyunting JIMVET. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner untuk saat ini menerbitkan naskah ilmiah mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Dokter Hewan. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner terbit dengan satu volume dan empat nomor dalam setahun (Fabruari, Mei, Agustus, dan November).
Arjuna Subject : -
Articles 296 Documents
JUMLAH CEMARAN Escherichia coli PADA DAGING AYAM BROILER DI PASAR RUKOH, BANDA ACEH Dwi Rosa Selfiana; Rastina Rastina; Ismail Ismail; Cut Nila Thasmi; Darniati Darniati; Muttaqien Muttaqien
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 2 (2017): FEBRUARI - APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.002 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i2.2708

Abstract

ABSTRAK      Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah cemaran Escherichia coli pada daging ayam broiler di Pasar Rukoh, Banda Aceh. Sampel penelitian yang digunakan adalah 4 paha dan 4 punggung  daging ayam broiler. Pengambilan sampel dipilih secara acak pada empat pedagang Pasar Rukoh, Banda Aceh. Setiap pedagang diambil 2 sampel bagian daging ayam broiler sekitar punggung dan paha atas dan dimasukkan ke dalam plastik yang steril lalu masukkan ke dalam Cooler box. Metode pengujian yang dilakukan mengacu pada Bacteriological Analytic Manual dan Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-2897-2008. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Nilai  cemaran Escherichia coli terendah 2,6 x 102 cfu/gr dan nilai  tertinggi cemaran yaitu 5,2 x 102 cfu/gr. Semua sampel daging ayam telah tercemar Escherichia coli, yang memperlihatkan perubahan koloni berwarna metalik kehijauan pada media Eosin Methylen Blue Agar (EMBA). Dari penelitian ini dapat disimpulkan, bahwa jumlah cemaran Escherichia coli pada daging ayam broiler di Pasar Rukoh, Banda Aceh melebihi batas maksimum cemaran mikroba. Menurut SNI 01-7388-2009 bahwa batas maksimum cemaran mikroba (BMCM) Escherichia coli pada daging ayam segar adalah kurang dari 1 x 101 cfu/gr.Kata kunci: Esherichia coli, daging ayam broiler, Pasar Rukoh.                                              ABSTRACT      This study aims to determine the level of Escherichia coli contamination in chicken meat sold in Rukoh traditional market, Banda Aceh. The samples were four thighs and four back parts of chicken meat. Sampling was collected randomly in four stores There were 2 samples taken from each store. Testing methods refers to the Bacteriological Analytical Manual and SNI 01-2897-2008. The data then analyzed descriptively. Escherichia coli contamination at the lowest value is 2.6 x 102 cfu / g and the highest contamination is 5.2 x 102 cfu / g. All samples of chicken meat has been contaminated with Escherichia coli, these results of contamination marked by the metallic green colonies on Eosin Methylen Blue Agar (EMBA). Thus, the author can conclude that the number of Escherichia coli contamination in chicken meat sold in Rukoh traditional market, Banda Aceh exceeds the maximum limit of microbial contamination. According SNI 01-7388-2009 that the maximum limit of Escherichia coli contamination (BMCM) allowed on fresh chicken meat is less than 1 x 101cfu / g.Keywords: Esherichia coli, Chicken meat, Rukoh traditional market.
KADAR GLUKOSA DARAH PADA MENCIT (Mus muscullus) YANG DIBERIKAN DEKSAMETASON PER ORAL Try Kartika Dewi; M. Hasan; Rosmaidar Rosmaidar
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 4 (2017): AGUSTUS-OKTOBER
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.14 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i4.5172

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengetahui deksametason yang diberikan per oral dengan dosis berbeda pada mencit (Mus muscullus) mempunyai pengaruh terhadap kadar glukosa darah. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), yang terdiri atas empat kelompok perlakuan. Kelompok I (K1) diberi akuades (kontrol negatif), kelompok II (P1) diberi deksametason dosis 0,014 mg/20 g BB, kelompok III (P2) diberi deksametason dosis 0,042 mg/20 g BB, kelompok IV (P3) diberi deksametason dosis 0,070 mg/20 g BB, diberi perlakuan selama 5 hari. Hasil penelitian menggunakan analisis varian searah (One Way Anava) pada masing-masing kelompok perlakuan K1,P1,P2,P3 menunjukkan adanya perbedaan bermakna (p0,05). Berdasarkan hasil uji lanjut Duncan kelompok K1,P1,P2 tidak menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna  (p0,05). Sedangkan pada hasil uji lanjut pos hoc multiple comparison LSD dan Bunferroni kelompok K1 dan P1 menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna dengan kelompok P3 (p0,05), serta kelompok P3 menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna  dengan kelompok P1 dan K1 (p0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian deksametason dosis 0,07 mg/ 20 g BB per oral pada mencit selama 5 hari perlakuan dapat meningkatkan kadar glukosa darah mencit.Kata kunci :  Deksametason, kadar glukosa darah, hati dan pankreas. ABSTRACTThe aims of this research was to find out the dexamethasone given orally with different dose has an effect on blood glucose level in mice (Mus muscullus). The research used a complete randomized design (RAL), which consist of four treatment groups. Group I (K1) was given aquadest (negative control), group II (P1) dexamethasone dosage given was 0,014 mg / 20 g BB, group III (P2) dexamethasone dosage given was 0,042 mg / 20 g BB, group IV (P3) dexamethasone dosage given was 0,070 mg / 20 g BB, during 5 days. The results of the analysis using variant (One Way Anova) showed that the each treatment group K1, P1, P2, P3 show the significant distinction (p 0,05). Based on the results of Duncan test between groups K1, P1, P2 didn’t show the significant distinction (p0.05). While on the result post hoc multiple comparison LSD and Bunferroni test group K1 and P1 with group P3 show the significant distinction (p0,05) and group P3 with group P1 and K1 show the significant distinction (p0,05). Based on the results of this research concluded that the doses of dexamethason given orally 0,07 mg/ 20 g BB during 5 days treatment could be increase blood glucose levels in mice.Keywords :  Dexamethasone, blood glucose levels, liver and pancreas.
DIFERNSIAL LEUKOSIT BIAWAK AIR (Varanus salvator) YANG TELAH DIDOMESTIKASI DAN BIAWAK AIR LIAR Fauzan Fajri; Mulyadi Adam; Nuzul Asmilia
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 3 (2017): MEI - JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.811 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i3.3396

Abstract

Penelitianinibertujuanmengetahuidiferensial leukositbiawak air (Varanussalvator) yang telahdidomestikasi dan biawak air liar. Dalampenelitianinidigunakan 16 ekor biawak air yang dibagi dalam dua kelompok, yaitu8 ekorbiawak airyang didomestikasi (BD) dan 8 ekorbiawak air liar hasiltangkapan (BT).KelompokBDdipeliharaselama60 haridandiberimakananikan, udangdanjangkrik.Untukpembuatanpreparatdarahhapus, darahdiambildari BD padaharike 60, sedangkanuntuk BT pengambilan darah dilakukansaatpenangkapan.Hasil penelitian nilaidiferensial leukositBD sebagai berikut:heterofil 36,7%, basofil 13,0%, limfosit 12,0%,eosinofil 15,3%, monosit 14,0%, dan azurofil 8,8%;sedangkan BTsebagai berikut: heterofil29,3%, basofil16,3%,limfosit 14,1%,eosinofil 9,1%,monosit 17,7% danazurofil 13,2%. Hasil analisis datadenganmenggunakanuji Tmenunjukkanbahwadiferensialleukosit BD tidakberbedanyata (P0.05) dengan BT. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwadiferensial leukosit biawak air yang didomestikasi tidak berbeda dengan biawak air liar.
MORFOLOGI DAN HISTOLOGIS ESOFAGUS, LAMBUNG DAN USUS BELUT (Monopterus albus) (Morphological and Histological Esophagus, Stomach and Intestines of Eel (Monopterus albus)) febri ramadana; zainuddin zainuddin; cut dahlia iskandar; dian masyitha; winaruddin winaruddin; ummu balqis
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 2, No 2 (2018): FEBRUARI - APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2783.781 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v2i2.7616

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari morfologi dan histologis esofagus, lambung dan usus belut (Monopterus albus). Pengamatan dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis menggunakan tiga ekor belut. Secara makroskopis belut diamati dan diukur panjang tubuh, berat tubuh dan panjang saluran pencernaan. Esofagus, lambung dan usus dibuat menjadi preparat histologi menggunakan pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE) dan diamati di bawah mikroskop. Rata-rata panjang total tubuh belut 43,6 cm, berat tubuh rata-rata 53,9 g dan panjang saluran pencernaan rata-rata 23 cm yang merupakan belut dalam fase interseks. Esofagus terdapat di bagian belakang rongga mulut berbentuk tabung panjang yang menyempit dibagian ujungnya. Lambung terdiri dari bagian kardiak, fundus dan pilorus. Usus terbagi menjadi menjadi dua segmen yaitu usus proksimal dan distal. Histologis esofagus, lambung dan usus sama seperti ikan umumnya terdiri dari empat lapisan yaitu tunika mukosa, tunika submukosa, tunika muskularis dan tunika serosa. Tunika mukosa esofagus terdapat sel goblet berukuran besar. Lambung memiliki tunika muskularis yang tebal. Tunika mukosa usus memiliki lipatan vili panjang menuju lumen. Tunika mukosa esofagus belut berbeda dengan ikan umumnya yaitu terdiri dari epitel silindris selapis. (This research aimed to study the morphological and histological of esophagus, stomach, and intestine of eel (Monopterus albus). The observations were done macroscopic and microscopic by using three eels. Macroscopic the eel was observed and measured the body length, the body weight and the length of the gastrointestinal tract. The esophagus, stomach, and intestine were made into histologic preparations using Hematoxylin-Eosin (HE) staining and observed under a microscope. The average total length of the eel body was 43.6 cm, the mean body weight was 53.9 g and the average gastrointestinal length was 23 cm which was indicated the eel in the intersex phase. The esophagus was located at the back of the long tubular cavity narrowed at the end. The stomach consisted of cardiac, fundus and pylorus. The intestine was divided into two segments the proximal and distal colon. The Histology of esophagus, stomach, and intestine was similar with histology of fish that generally consist of four layers, i.e. mucosal tunica, submucosal tunica, muscular tunic and serous tunica. There was a large goblet cell in the tunica mucosa of the esophagus. The stomach had a thick muscularis tunica. The tunica mucosa of intestine had a long fold of villi to the lumen. Tunica mucosa of eel’s esophagus was different from the fish that generally consist of a cylindrical epithelial layer.)
JUMLAH KOLONI BAKTERI SELULOLITIK PADA ILIUM AYAM KAMPUNG (Gallus domesticus) nurjannaini nurjannaini; safika safika; M. Jalaluddin M. Jalaluddin
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 3 (2017): MEI - JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.039 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i3.4042

Abstract

Penelitian ini bertujuan menghitung jumlah koloni bakteri selulolitik pada ilium ayam kampung. Sampel yang digunakan yaitu isi ilium 5 ekor ayam kampung yang diambil di Tempat Pemotongan Unggas (TPU) Lambaro Aceh Besar. Sampel yang diperoleh dilakukan pengenceran 10-2 sampai 10-5, kemudian diinokulasi ke dalam media BHM-CMC agar dengan metode tuang (pour plate). Selanjutnya, diinkubasi dengan suhu 37˚C selama 96 jam. Koloni bakteri selulolitik yang tumbuh kemudian dilakukan pengamatan morfologi koloni (warna, posisi, pinggiran, dan diameter koloni), diameter zona bening, penghitungan jumlah total bakteri dan pewarnaan Gram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat morfologi koloni berwarna putih bening, posisi di dalam dan di permukaan agar, pinggiran bergerigi, diameter koloni 2-4 mm dan zona bening 19 mm sampai 26 mm. Bakteri selulolitik berbentuk basil Gram negatif dan kokus Gram positif. Rata-rata jumlah total bakteri pada isi ilium ayam kampung yaitu 3,3 x 105 cfu/g. The aim of this study was to count the total sum of cellulolytic bacteria colony in the illium of native chicken. The sample used was illium contents of native chicken whic taken from the poultry slaughterhouse at Lambaro Aceh Besar. Sample were diluted from 10-2 to 10-5, then inoculated to agar BHM-CMC media with pour plate method. After that, incubated with temperature 37oC about 96 hours. A colony of cellulolytic bacteria which were grown then were observed by using colony bacteria criteria (colour, position, edge, and diameter of the colony), diameter of the bacterial zone, counting a total of bacteria which was grown, and Gram stain. The results showed that there is white translucent colony morphology, position inside and surface agar, cogged periphery, diameters of colony 2-4 mm and bacterial zone 19 to 26 mm. Cellulolytic bacteria Gram-negatif bacilli, Gram-negative cocci and Gram-positive cocci. The average number bacteria of total bacteria in the native chicken’s illium was 3.3 x 105 cfu/g.
STRUKTUR HISTOLOGIS GONAD IKAN GABUS (Channa striata) BETINA (Histological Structure Of Gonad Of Female Snakehead (Channa Striata)) rahmadia sary; rahmadia sary
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 3 (2017): MEI - JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (778.481 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i3.3324

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengetahui struktur histologis gonad ikan gabus (Channa striata) betina. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah gonad  dari 5 ekor ikan gabus betina. Sampel kemudian dibuat menjadi preparat histologi dengan pewarnaan hematoksilin-eosin (HE) dan diteliti strukturnya menggunakan metode histologi eksplorasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara makroskopis dari 5 ekor ikan gabus betina yang digunakan terdapat 1 ekor ikan dengan ovarium pada fase mature (matang) dan 4 ekor ikan (ovariumnya berada pada fase spawning (mijah). Secara mikroskopis dari 5 ekor ikan gabus betina yang digunakan 1 ekor ikan berada pada fase maturing, 1 ekor ikan berada pada fase mature dan 3 ekor ikan ovariumnya berada pada fase postovulatory follicle. Kesimpulan dari penelitian ini adalah struktur ovarium ikan gabus terdiri atas stroma, vaskularisasi, dan folikel-folikel berkembang. Secara histologi ikan gabus memiliki 4 tahap perkembangan ovarium, immatur, maturing, matur, dan spent/recovering  dan 7 tahap perkembangan oosit, chromatin nucleolar, early perinucleolar, late perinucleolar, yolk vesicle,  early yolk granule,  late yolk granule, dan  spent ovary.Kata kunci : ikan gabus, gonad, Channa striata ABSTRACTThis study aimed to determine the histological structure of gonad of female snakehead (Channa striata). The samples used in this study were gonads of 5 female snakehead. The samples were then processed histologically and stained with haematoxylin-eosin (HE). The histology structure of gonad was examinated using explorative histological method. The result showed  that the gonad from 5 females snakehead in macroscopic view there is 1 fish which the ovaries are in mature phase and the ovaries 4 fish are in spawning phase. In view microscopic from 5 females snakehead, the ovaries from 1 snakehead in maturing phase, 1 fish in the mature phases  and  3 fish in postovulatory follicle phase. The conclusion from this study are the structure of snakehead ovaries consist of  stroma, vascularization, and developed follicles. Histologically snakehead has 4 stages of ovarian development, immatur, maturing, mature and spent / recovering and 7 stages of oocyte development, chromatin nucleolar, early perinucleolar, late perinucleolar, yolk vesicle, early yolk granule, late yolk granule, and spent ovary. Keywords: snakehead fish, gonad, Channa striata
MOTILITAS DAN VIABILITAS SPERMATOZOA SAPI ACEH SETELAH PEMBEKUAN MENGGUNAKAN PENGENCER SITRAT KUNING TELUR DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus)(Motility and Viability Spermatozoa Aceh Cattle after Freezing Using Yolk Citrate Diluent with Additional of Peels Red Dragon Fruit Extract (Hylocereus polyrhizus)) melisa lola anggraini; dasrul dasrul; juli melia; triva murtina lubis; rosmaidar rosmaidar; hamdan hamdan
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 2, No 2 (2018): FEBRUARI - APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.032 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v2i2.7029

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penambahan ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dalam pengencer sitrat kuning telur terhadap motilitas dan viabilitas spermatozoa sapi aceh setelah pembekuan. Penelitian ini menggunakan semen segar sapi aceh yang dikoleksi menggunakan vagina buatan dan dibagi ke dalam 5 kelompok perlakuan pengencer dengan 5 kali ulangan. Kelompok perlakuan kontrol yaitu semen diencerkan dalam pengencer sitrat kuning telur tanpa penambahan ekstrak kulit buah naga merah (P0), kelompok perlakuan semen diencerkan dalam pengencer sitrat kuning telur ditambah ekstrak kulit buah naga merah 0,2% (P1), 0,4% (P2), 0,6% (P3) dan 0,8% (P4). Data dianalisis menggunakan uji analysis of variance (ANOVA) satu arah dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak kulit buah naga merah konsentrasi 0,0; 0,2; 0,4; 0,6 dan 0,8% dalam pengencer sitrat kuning telur menghasilkan persentase motilitas adalah 23,60 ± 4,72; 26,60 ± 5,94; 36,40 ± 4,98; 45,40 ± 4,56 dan 33,40 ± 10,13.  Persentase viabilitas spermatozoa adalah 29,10 ± 5,82; 35,34 ± 5,85; 42,52 ± 4,87; 51,76 ± 7,13 dan 48,6 ± 6,05. Penambahan ekstrak kulit buah naga merah konsentrasi 0,6% menghasilkan persentase motilitas dan viabilitas spermatozoa yang lebih baik dibandingkan konsentrasi perlakuan lainnya. Simpulan penambahan ekstrak kulit buah naga merah dalam pengencer sitrat kuning telur dapat meningkatkan persentase motilitas dan viabilitas spermatozoa sapi aceh setelah pembekuan.(This study aims to determine the effect of addition peels red dragon fruit extract (Hylocereus polyrhizus) in the yolk citrate diluent to the motility and viability of the aceh cattle spermatozoa after freezing. This study used fresh semen of aceh cattle collected using artificial vagina and divided into 5 groups of diluent treatments with 5 replications. The control group of cement was diluted in the yolk citrate dilator without the addition of red dragon fruit skin extract (P0), semen treatment group was diluted in the yolk citrate diluent plus  peels red dragon fruit extract 0.2% (P1), 0.4% (P2), 0.6% (P3) and 0.8% (P4). Data were analyzed by using analysis of variance (ANOVA) and continued by Duncan test. The results showed that the addition of peels red dragon fruit extract 0.0; 0.2; 0.4; 0.6 and 0.8%  of yolk citrate diluent yields motility percentage is 23.60 ± 4.72; 26.60 ± 5.94; 36.40 ± 4.98; 45.40 ± 4.56 and 33.40 ± 10.13. Percentage of spermatozoa viability were 29.10 ± 5.82; 35.34 ± 5.85; 42.52 ± 4.87; 51.76 ± 7.13 and 48.6 ± 6.05.The addition of peels red dragon fruit extract 0.6% yields better percentage of motility and spermatozoa viability than other treatment doses. The conclusion of addition peels red dragon fruit extract in yolk citrate diluent can increase the percentage motility and viability spermatozoa of aceh cattle after freezing)
UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL DAUN KETEPENG CINA (Cassia alata) TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR Trichophyton sp. SECARA IN VITRO Taufiza Edo
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 1 (2017): NOVEMBER - JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.403 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i1.2400

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui daya hambat dari ekstrak etanol daun ketepeng Cina (Cassia alata) terhadap pertumbuhan jamur Trichophyton sp. Rancangan penelitian ini dianalisis secara deskriptif. Sampel dibagi dalam 5 kelompok, yaitu 3 perlakuan dan 2 kontrol, masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali pengulangan. Uji daya hambat dilakukan dengan metode Kirby Bauer. Perlakuan menggunakan ekstrak daun ketepeng Cina dengan konsentrasi 25%, 50% dan 75%. Kelompok konrol terdiri atas kelompok kontrol positif (kertas cakram berisi nistatin) dan kontrol negatif (kertas cakram berisi akuades steril). Hasil penelitian ini menunjukkan ekstrak etanol daun ketepeng cina (Cassia alata) pada KP sebagai kontrol positif (nistatin) dapat menghambat aktivitas jamur Trichophyton sp. dengan luas zona hambat sebesar 27 mm. sedangkan KN (kontrol negatif), K1 (25%), K2 (50%) dan K3 (75%), setelah diinkubasi selama 3- 5 hari pada suhu ruangan tidak menunjukkan adanya zona hambat. Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun ketepeng Cina (Cassia alata) tidak dapat menghambat pertumbuhan jamur Trichophyton sp. secara in vitro.Kata kunci: Daya Hambat, Cassia alata, Trichophyiton sp, Kirby Bauer, In VitroThe aim of this research was to determine the inhibition effect of extract ethanol of ketepeng Cina leaves (Cassia alata) againt the growth of Trichophyton sp. This research was analyzed by descriptive. Samples were devided into 5 treatments, which were 3 treatmenst and 2 control, each treatment has 3 times repetition. Inhibition test was done by using Kirby Bauer method. Treatment’s groups were given ketepeng Cina extract by 25%, 50% dan 75% in concentration. Positive control was given nistatin while negative was aquadest. The result revealed that ethanol extract of ketepeng Cina leaves in KP positive control group (paper dist contain nistatin) were able to inhibit Trichophyton sp. Growth activity of inhibition area was 27 mm. KN (paper dist contain negative control) and treatment K1 (25%), K2 (50%) dan K3 (75%), after incubated for 3-5 days in room temperature did not show any inhibition zone. Therefore it can be concluded that extract ethanol of ketepeng Cina’s leaves could not inhibit the growth of Trichophyton sp. in vitro.Keyword: Inhibition Effect, Cassia alata, Trichophyiton sp, Kirby Bauer, In Vitro
PENGARUH EKSTRAK DAUN JAMBLANG (Syzygium cumini L) TERHADAP HISTOPATOLOGI HEPAR TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) DIABETES MELITUS laksmita patma ningrum; Nur Salim; Ummu Balqis
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 4 (2017): AGUSTUS-OKTOBER
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.844 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i4.4485

Abstract

ABSTRAK        Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh ekstrak daun jamblang (Syzygium cumini L) terhadap histopatologi hepar tikus putih (Rattus norvegicus) diabetes melitus. Digunakan 15 ekor tikus jantan dengan berat badan 200-250 gram.  Tikus di induksi streptozotosin  dosis tunggal intraperitonial 40 mg/kg berat badan. Penelitian dibagi menjadi 5 kelompok dengan 3 kali ulangan. Pada hari ke 3 tikus diberikan ekstrak daun jamblang  P1 (dosis 100 mg/kg BB), P2 (dosis 150 mg/kg BB), P3 (dosis 200 mg/kg BB), kecuali  kontrol positif (KP) dan kontrol negatif (KN) selama 14 hari. Selanjutnya dinekropsi dan hati diambil, dibuat preparat histopatologis dengan pewarnaan hematoksilin eosin (HE). Parameter yang  diamati perubahan pada lobus-lobus sel hati,  degenerasi dan nekrosis, kongesti dan hemoragi serta perubahan lain. Dianalisis secara deskriptif. Hasil gambaran histopatologi pada tikus kelompok kontrol positif adalah nekrosis pada sel hepatosit dan infiltrasi lemak.  kongesti, hemoragi serta pelebaran sinusoid pada pembuluh darah. Pada 3 kelompok perlakuan P1, P2 dan P3 menunjukkan perbaikan  dibanding dengan kontrol positif, Perbaikan paling baik terjadi pada P1 dan P2 yaitu berkurangnya cloudy swelling, nekrosis sel hati, infiltrasi lemak, Kongesti, hemoragi dan pelebaran sinusoid. Disimpulkan ekstrak  daun jamblang dengan dosis 100 dan 150 mg/kg BB dapat berpengaruh memperbaiki struktur histopatologi hepar tikus diabetes melitus.Kata kunci: Histopatologi hepar, Ekstrak daun jamblang, diabetes melitus, streptozotosin, tikus putih. ABSTRACT        The aims of this research was to find out the effect of jamblang leaves (Syzigium cumini L) on histopatology of liver rats (Rattus novergicus) with diabetes mellitus. The samples were 15 male rats with the weight of 200-250 gram. Rats were injected with a single dose of 40 mg/kg BW streptozotocin. This research was divided into 5 grpups with 3 repetitions. On day 3 rats are given jamblang extract leaves P1 (100 mg/kg BW), P2 (150 mg/kg BW), P3 (200 mg/kg BW) during 14 days. Then, rats were necropsied and liver was collected for histopathological preparations using hematoxylin and eosin (HE) staining method. Parameters observed were alteration in the cell lobes, degeneration and necrosis, congestion and hemorrhage. The histopatological  observation results showed fat infiltration and hepatocyte necrosis, also congestion, hemorrhage and dilatation of sinusoid. Group P1, P2 and P3 showed the histopatological tissue was improved compare to positive control. The best tissues healing observed on P1 and P2 proven by decrease of cloudy swelling, hepatocyte necrosis, fat infiltration, congestion, hemorrhage and sinusoid dilatation. In conclusion,  jamblang  leaf extract with the dose of 100 and 150 mg/kg BW affect to improve histopatological structure of rats liver with diabetes mellitus.Key word: Histopathology hepar, Syzygium cumini l leaves extract, streptootocin, diabetes melitus, rats.
KADAR TOTAL PROTEIN PLASMA PADA AYAM BROILER YANG DIBERI SUBSTITUSI FERMENTASI TEPUNG DAUN KELOR (Moringa oleifera) DALAM PAKAN KOMERSIAL Muhammad Amin; Zuhrawaty NA; Herrialfian Herrialfian
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 3 (2017): MEI - JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.307 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i3.3394

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh substitusi fermentasi tepung daun kelor (Moringa oleifera) pada pakan komersial terhadap kadar total protein plasma ayam broiler. Dalam penelitian ini digunakan 20 ekor ayam broiler yang dibagi ke dalam 4 kelompok perlakuan, yang masing–masing terdiri atas 5 ekor. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah. Kelompok kontrol (P0) diberikan 100% pakan komersial, kelompok P1 diberikan 95% pakan komersial dan 5% fermentasi tepung daun kelor, kelompok P2 diberikan 92,5% pakan komersial dan 7,5% fermentasi tepung daun kelor, dan kelompok P3  diberikan 90% pakan komersial dan 10% fermentasi tepung daun kelor. Perlakuan pakan diberikan  selama 15 hari. Pengambilan darah dilakukan pada hari ke-16 dari vena brachialis. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan kadar total protein plasma secara spektrofotometri dengan alat Bio System A-15. Rata–rata kadar total protein plasma (g/dl) yaitu kelompok kontrol (P0): 7,02±0,91, P1: 7,50±0,73, P2: 7,16±0,23, dan P3: 7,26±1,02. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa substitusi pakan komersial dengan fermentasi tepung daun kelor 5-10% selama 15 hari tidak pengaruh nyata (P0,05) terhadap kadar total protein plasma ayam broiler.