cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Indigenous: Jurnal Ilmiah Psikologi
ISSN : 08542880     EISSN : 2541450X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Indigenous: Jurnal Ilmiah Psikologi is a media for Psychology and other related disciplines which focus on the finding of indigenous research in Indonesia.
Arjuna Subject : -
Articles 589 Documents
KEMAMPUAN SELF REGULATED LEARNING DITINJAU DARI ACHIEVEMENT GOAL DAN KEPRIBADIAN PADA PELAJAR USIA REMAJA Saraswati, Putri
Indigenous Vol. 4 No. 2, 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/indigenous.v4i2.7209

Abstract

Remaja yang berada dalam lingkungan akademik dan pendidikan memiliki tuntutan dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik sehingga membutuhkan keterampilan dan kemampuan dalam meregulasi diri sebab akan memengaruhi proses belajarnya, seperti performanya dalam menyelesaikan tugas akademik. Faktor Self Regulated Learning (SRL) dari dalam diri berupa kepribadian dan tujuan khusus (achievement goal) berpengaruh terhadap kemampuannya dalam melakukan regulasi diri dalam belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh self regulated learning ditinjau dari kepribadian (OCEAN) dan achievement goal (Mastery dan Performance Orientation) pada pelajar usia remaja. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif, dengan cluster random sampling, dengan subjek sebesar 388 siswa SMA baik laki-laki maupun perempuan yang duduk di kelas 1, 2, dan 3. Data yang diperoleh akan diuji dengan menggunakan teknik statistik struktural equation modelling (SEM). Penelitian ini memperoleh hasil bahwa achievement goal berpengaruh terhadap SRL. Hanya kepribadian openess dan conscientiousness yang berpengaruh terhadap SRL.Kata kunci: achievement goals; personality; self regulated learning; youth.Adolescents who are in an academic and educational environment have demands in completing academic tasks so that they need skills and abilities in self-regulation because it will affect their learning process, such as their performance in completing academic assignments. The Self Regulated Learning (SRL) factor of the self in the form of personality and special goals (achievement goal) influences its ability to conduct self-regulation in learning. This study aims to determine the effect of self-regulated learning in terms of personality (OCEAN) and achievement goals (Mastery and Performance Orientation) in adolescent students. The research method used is quantitative, with cluster random sampling, with a subject of 388 high school students both male and female who are sitting in grades 1, 2, and 3. The data obtained will be tested using statistical structural equation modelling (SEM) techniques. This study found that achievement goals had an effect on SRL. Only openess personality and conscientiousness affect SRL.Keywords: achievement goals; personality; self regulated learning; youth.
HUBUNGAN TINGKAT NEUROTISME DENGAN FEAR OF MISSING OUT (FOMO) PADA REMAJA PENGGUNA AKTIF MEDIA SOSIAL Christina, Riska; Yuniardi, Muhammad Salis; Prabowo, Adhyatman
Indigenous Vol. 4 No. 2, 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/indigenous.v4i2.8024

Abstract

The massive flow of easily-accessed information in social media has affected teenagers with a high level of neuroticism hard to control their behavior in using social media. As a consequence, they are prone to experience anxiety that other people are engaging in some more fun and valuable activities and that they miss the chance to engage in those activities. This anxiety is known as ?Fear of Missing Out (FoMO)?. This study aimed to investigate the correlation between neuroticism and the Fear of Missing Out among teenagers who actively use social media. This study used a correlational study design with purposive sampling. Subjects of this study were teenagers with a total of 110 between the age of 13-18 that actively use social media in recent months. The instrument used were the Big Five Inventory (BFI) and modified Fear of Missing Out (FoMO) Scale. Data were analyzed using the Pearson Product Moment. Correlation results showed that there was a significant positive correlation between neuroticism and Fear of Missing out (FoMO) scores among teenagers. Coefficient value of the correlation (r) was 0,464 with p = 0,00 < 0,01. It can be concluded, the higher the tendency of the teenagers having neuroticism, the higher risk of experiencing anxiety that other people?s activities are more fun and valuable. The contribution of the neuroticism to the Fear of Missing Out (FoMO) was 21,5%.
TEKNIK MODELING DAN BIMBINGAN KONSELING KELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PADA SISWA SMP X SURAKARTA Ratri, Prapti Madyo; Pratisti, Wiwien Dinar
Indigenous Vol. 4 No. 2, 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/indigenous.v4i2.7730

Abstract

Keluhan guru bimbingan konseling yang utama dan sering disampaikan adalah kurangnya semangat siswa dalam belajar dan kurang menunjukkan motivasi untuk belajar. Upaya untuk mengatasi permasalahan motivasi belajar telah banyak dilakukan dengan menunjukkan hasil yang bervariasi. Pada penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Bimbingan Konseling Kelompok dengan menggunakan model pada peningkatan motivasi belajar siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Rancangan eksperimen yang digunakan berupa one group pretest-posttest design. Delapan siswa menunjukkan motivasi belajar rendah berdasarkan skala motivasi belajar dipilih menjadi subjek penelitian. Intervensi yang digunakan adalah bimbingan konseling dan bimbingan konseling. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji nonparametrik dengan teknik wilcoxon. Hasilnya menunjukkan koefisien sebesar -2,366 dengan taraf signifikansi 0,018 (p< 0,05), yang dapat diartikan bahwa nilai post test lebih besar daripada nilai pre-test sehingga dapat dinyatakan bahwa terjadi peningkatan motivasi belajar setelah diberikan bimbingan konseling kelompok. kesimpulannya bahwa bimbingan konseling kelompok dengan menggunakan model dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
PENGALAMAN SELF REGULATED LEARNING SISWA UNTUK MENGHADAPI UJIAN Sudinadji, Muh Bagus; Kumaidi, Kumaidi
Indigenous Vol. 4 No. 2, 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/indigenous.v4i2.7970

Abstract

The completeness of a program in the education unit (in this case secondary school) will end with the holding of an evaluation of learning outcomes or exams, which are school exams and national exams, students will increase their learning activities in preparation for being able to take exams and try to produce satisfying achievements. This study aims to explain students? experiences in practicing self-regulated learning (SRL), which includes students? readiness in an active, constructive process, able to set learning goals, monitor, regulate, and control cognition, motivation, and behavior. This study uses a qualitative approach with data collection methods in the form of a focused group discussion (FGD) and essay writing on seven main informant students, plus interviews with seven supporting informants (subject friends). The informants in this study are students of class XII who have taken the school exams and national exams. The results of this study explain that the experience of SRL in students, in behavior, motivation, and cognitive (learning strategies), still requires an increase in the problem of time management, planning, and targets. Internally, the suitability of SRL is motivated by habits, motivation, and goals, while externally influenced by culture, parenting, and the environment. SRL is a managerial skill in learning because it regulates learning resources so that they can be taught or trained as early as possible to optimize academic skills and academic adjustment of students in the future.Keywords : exam; self-regulated learning; studentKetuntasan suatu program pada satuan pendidikan (dalam hal ini sekolah menengah) akan diakhiri dengan diselenggarakannya evaluasi hasil belajar atau ujian, yaitu ujian sekolah dan ujian nasional, siswa akan meningkatkan aktivitas belajarnya sebagai persiapan diri untuk dapat mengikuti ujian dan berusaha untuk menghasilkan prestasi yang memuaskan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengalaman siswa dalam mempraktekkan self-regulated learning (SRL), yang meliputi kesiapan siswa dalam proses  yang  aktif,  konstruktif, mampu menetapkan  tujuan belajar, memonitor, mengatur, dan  mengontrol kognisi, motivasi,  serta perilaku. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa focused group discussion (FGD) dan tulisan karangan pada tujuh siswa informan utama, ditambah dengan wawancara pada tujuh informan pendukung (sahabat subyek). Informan  dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII yang sudah menjalani ujian sekolah dan ujian nasional. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa pengalaman SRL pada siswa, secara perilaku, motivasi, dan kognitif (strategi belajar), masih memerlukan peningkatan pada masalah pengaturan waktu, perencanaan, serta target. Secara internal, kesesuaian SRL dilatarbelakangi oleh kebiasaan, motivasi, dan tujuan, sedangkan secara eksternal dipengaruhi oleh budaya, pola asuh, dan lingkungan. SRL merupakan ketrampilan manajerial dalam belajar karena mengatur sumberdaya belajar sehingga dapat diajarkan atau dilatihkan sedini mungkin untuk mengoptimalkan ketrampilan akademis dan penyesuaian akademis siswa di waktu yang akan datang.Kata kunci: self-regulated learning; siswa; ujian.
KECENDERUNGAN CINDERELLA COMPLEX ANTARA WANITA BEKERJA DAN WANITA TIDAK BEKERJA DITINJAU DARI HARGA DIRI Hapsari, Atyantari Esti; Priyatama, Aditya Nanda; Kusumawati, Rafika Nur
Indigenous Vol. 4 No. 2, 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/indigenous.v4i2.6960

Abstract

Setiap wanita baik yang bekerja maupun yang tidak bekerja dapat memiliki kecenderungan untuk bergantung pada orang lain terutama laki-laki. Hal tersebut ditandai dengan tingginya kebutuhan untuk diberi perlindungan dan pertolongan oleh orang lain. Kecenderungan tersebut dinamakan cinderella complex. Pengambilan keputusan secara mandiri dan tidak menggantungkan kehidupan memerlukan tingkat harga diri yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecenderungan cinderella complex antara wanita bekerja dan wanita tidak bekerja ditinjau dari harga diri di Kelurahan Manding, Temanggung. Data penelitian dikumpulkan melalui skala cinderella complex dan harga diri dengan sampel 118 orang dengan teknik purpossive cluster quota random sampling. Uji hipotesis menggunakan uji parametrik yaitu anova dua arah dan independent sample t test. Hasil uji hipotesis anova dua arah menunjukkan p sebesar 0,006 (p< 0,05), maka terdapat perbedaan kecenderungan cinderella complex antara wanita bekerja dan wanita tidak bekerja ditinjau dari harga diri di Kelurahan Manding, Temanggung. Uji hipotesis kedua dan ketiga menggunakan independent sample t test memperoleh p sebesar 0,000 (p< 0,05) maka ada perbedaan kecenderungan cinderella complex antara wanita bekerja dan wanita tidak bekerja di Kelurahan Manding, Temanggung. Terdapat perbedaan harga diri antara wanita bekerja dan tidak bekerja di Kelurahan Manding, Temanggung didasarkan nilai p sebesar 0,000 (p< 0,05).
INTENSITAS PENGGUNAAN KOMUNIKASI BERMEDIA DAN KEHANGATAN DALAM PERTEMANAN PADA SISWA SMA DI SURAKARTA Abdillah, Hasan; Andayani, Tri Rejeki; Scarvanovi, Berliana Widi
Indigenous Vol. 4 No. 1, 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/indigenous.v4i1.7098

Abstract

Kehangatan menjadi salah satu hal yang penting dalam suatu hubungan pertemanan, dengan adanya kehangatan dalam pertemanan seseorang akan lebih mudah dalam bersosialisasi dan menyesuaikan diri. Salah satu hal yang dapat meningkatkan kehangatan dalam pertemanan adalah dengan komunikasi. Komunikasi di era yang modern ini lebih banyak dilakukan melalui smartphone. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas penggunaan komunikasi bermedia dengan kehangatan dalam pertemanan pada remaja di Surakarta. Sampling yang digunakan dihitung menggunakan formula Isaac dan Michael dan dilakukan dengan multistage cluster random sampling, didapatkan sample 254 siswa dari populasi yang berjumlah 16.692 siswa. Pengambilan data dilakukan menggunakan Skala Kehangatan dalam Pertemanan (reliabilitas Alpha cronbach=0,836) dan Skala Intensitas Penggunaan Komunikasi Bermedia (reliabilitas Alpha cronbach=0,863). Hasil uji hipotesis dengan analisis regresi linier sederhana didapatkan nilai korelasi (R) sebesar 0,458 dengan nilai signifikansi 0,000 (p<0,05) dan sumbangan pengaruh variabel bebas terhadap varibel tergantung sebesar 21%. Sumbangan pengaruh tiap aspek dari varibel bebas terhadap variabel tergantung antara lain durasi berkomunikasi 9,3%, kedalaman pesan saat berkomunikasi 6,4%, keluasan pesan saat berkomunikasi 3,4% dan frekuensi berkomunikasi 1,9%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan positif antara intensitas penggunaan komunikasi bermedia dengan kehangatan dalam pertemanan pada remaja di Surakarta. Penggunaan komunikasi bermedia dapat membuat pertemanan menjadi lebih hangat ketika komunikasi yang dilakukan berlangsung dalam waktu yang lama dan bersifat mendalam.Kata kunci: intensitas penggunaan komunikasi bermedia, kehangatan dalam pertemanan Warmth is one of important thing in friendship. Warmth will be easier for someone to socialize and adapt with other. Warmth in friendship can be improved by communication. In this modern era, people often use smartphone to communicate with other. This research aims to find out the relation between intensity of using mediated communication and warmth in friendship on teenagers at Surakarta. Sampling technique use Isaac and Michael?s formulas with multistage cluster random sampling obtained 254 students from 16.692 students of population. Instrument used in this research was Warmth in Friendship Scale (Alpha Cronbach?s reliability=0,836) and Intensity of Using Mediated Communication Scale (Alpha Cronbach?s reliability=0,863). Based on hypothesis test result with simple linear regression showed that value of correlation (R) was 0,458 with signification value was 0,000 (p<0,05) and the contribution of the intensity of using mediated communication to warmth in friendship was 21%. Contribution percentage each aspect of independent variable to dependent variable are duration of communication 9,3%, message depth when communicating 6,4%, message extent when communicating 3,4%, and frequency of communication 1,9%. Based on the result of this research, it can be concluded that there is positive relation between intensity of using mediated communication and warmth in friendship on teenagers at Surakarta. The use of mediated communication will improve warmth in friendship when the communication is deeper and the duration is longer. Keyword: intensity of using mediated communication, warmth in friendship
Perbedaan keterampilan sosial ditinjau dari sistem pendidikan Katoro, Aindha Vegalaras; Hertinjung, Wisnu Sri
Indigenous Vol. 5 No. 1, 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/indigenous.v5i1.6841

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan keterampilan sosial ditinjau dari sistem pendidikan yaitu untuk mengetahui tingkat keterampilan sosial antara siswa dengan sistem pendidikan negeri dan sistem pondok pesantren, serta mengetahui terkait keterampilan sosial pada masing-masing sistem pendidikan. Hipotesis dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan keterampilan sosial antara siswa sekolah negeri dengan siswa sekolah pondok pesantren dimana keterampilan sosial siswa sekolah negeri lebih tinggi dibandingkan dengan siswa sekolah pondok pesantren. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuantitatif komparasi. Instrumen pengumpulan data menggunakan skala keterampilan sosial. Subjek penelitian diambil dengan teknik cluster random sampling. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI SMA Negeri X sebanyak 4 kelas yang berjumlah 98 siswa dan siswa SMA PPTQ X sebanyak 4 kelas yang berjumlah 77 siswa. Analisis data menggunakan uji-t (t-test). Hasil analisis uji t diperoleh t-hitung = 5,744 dengan sig.p = 0,000 ≤ 0,01 yang berarti terdapat perbedaan yang sangat signifikan keterampilan sosial antara siswa sekolah negeri dan sekolah pondok pesantren. Rerata keterampilan siswa di sekolah negeri sebesar 138,50 dan rerata keterampilan sosial siswa di sekolah pondok pesantren sebesar 128,21 yang berarti keterampilan sosial siswa sekolah negeri lebih tinggi dibandingkan sekolah pondok pesantren. Keterampilan sosial siswa pada kedua sistem pendidikan memiliki kategori yang sama yaitu tinggi, hanya saja rerata sekolah pondok pesantren sebesar 128,21 yang menunjukkan  kategori tinggi ke arah sedang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka hipotesis penelitian terbukti.
Perilaku anti sosial remaja laki-laki ditinjau dari identitas moral dan moral disengagement Maharani, Meyrantika; Ampuni, Sutarimah
Indigenous Vol. 5 No. 1, 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/indigenous.v5i1.8706

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran identitas moral dan moral disengagement terhadap perilaku anti sosial pada remaja laki-laki. Hipotesis yang diajukan adalah identitas moral dan moral disengagement berperan terhadap perilaku anti sosial; jika identitas moral tinggi dan moral disengagement rendah, maka perilaku anti sosial akan rendah, demikian pula sebaliknya. Alat ukur yang digunakan adalah Skala Identitas Moral, Skala Moral Disengagement, dan Skala Perilaku Anti Sosial. Partisipan adalah 121 siswa laki-laki di dua SMA di Yogyakarta yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas moral dan moral disengagement secara simultan berperan terhadap perilaku anti sosial (R2= 0,12; F = 8,19; t = 3,86;p 0,01). Semakin rendah Identitas moral (b = -0,55; t = -2,08; p 0,05) dan semakin tinggi moral disengagement (b = 0,29; t = 2,49; p 0,05) maka perilaku anti sosial akan semakin tinggi.Katakunci:identitas moral; moral disengagement; perilaku anti sosial; remaja laki-laki
Stimulasi kemampuan motorik anak prasekolah oleh ibu di rumah Ekawaty, Desy Wahyu; Ruhaena, Lisnawati
Indigenous Vol. 5 No. 1, 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/indigenous.v5i1.7126

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stimulasi kemampuan motorik anak prasekolah oleh ibu di rumah. Stimulasi kemampuan motorik dilihat dari cara ibu menstimulasi kemampuan motorik anak, respon anak terhadap stimulasi motorik yang duberikan oleh ibu dan faktor-faktor yang muncul dan menghambat kemampuan motorik anak. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif yang datanya dikumpulkan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi kepada 5 informan dengan kriteria ibu yang memiliki anak prasekolah usia 3-6 tahun dan anak tinggal bersama ibunya. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa cara ibu menstimulasi kemampuan motorik anak melalui mengajarkan seperti halnya bagaimana naik sepeda, memakai sepatu roda, bermain lego, naikturun tangga dan mengajarkan menulis, menggambar, mewarnai, meronce manik-manik, serta ibu turut serta melibatkan diri dalam setiap kegiatan anak. Memperhatikan respon anak ketika dalam kegiatan sehari-hari juga begitu penting untuk anak karena anak memiliki mood yang berbeda-beda ketika ibu memberikan stimulasi kemampuan motorik. Ibu harus memperhatikan mana yang disukaianak dan mana yang tidak disukai anak terutama dalam hal belajar, bermain dan memberikan fasilitas. Memperhatikan lingkungan sekitar juga menjadi salah satu faktor untuk dapat menunjang kemampuan motorik anak karena lingkungan yang baik dapat membawa pengaruh positif untuk anak pula. Canggihnya media seperti halnya handphone menjadi salah satu faktor yang menghambatkemampuan motorik anak. Katakunci: anak prasekolah; ibu; kemampuan motorik; stimulasi motorik
Dampak pola komunikasi keluarga laissez-faire terhadap kecanduan internet pada remaja di kota Surakarta Mareta, Heppy Ria; Hardjono, Hardjono; Agustina, Laelatus Syifa Sari
Indigenous Vol. 5 No. 1, 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/indigenous.v5i1.8740

Abstract

Sebanyak 73,5% remaja di Kota Surakarta menggunakan internet lebih dari 4 jam per hari. Kecanduan internet dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah hubungan yang terjalin dengan orang tua. Pola komunikasi keluarga menjadi salah satu bagian dari hubungan orang tua dengan anak. Pola komunikasi keluarga laissez-faire memiliki kemungkinan tertinggi dalam menyebabkan anak mengalami kecanduan internet karena anggota keluarganya tidak cukup terlibat dalam percakapan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola komunikasi keluarga laissez-faire dengan kecanduan internet pada remaja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah purposive incidental sampling, diperoleh 185 remaja di Kota Surakarta. Alat ukur yang digunakan adalah Skala Kecanduan Internet(r = 0,930) dan Skala Pola Komunikasi Keluarga laissez-faire (r= 0,802). Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis korelasi Pearson’s product moment menggunakan program Statistical Product and Service Solution versi 17.0 for windows.Hasil analisis menunjukkan r = 0,369 dengan nilai p = 0,000 (p 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa, terdapat hubungan positifyang signifikan antara pola komunikasi keluarga laissez-faire dengan kecanduan internet pada remaja di kota Surakarta. Katakunci:kecanduan internet; laissez-faire; pola komunikasi keluarga; remaja

Filter by Year

1995 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 2 (2023): July Vol 8, No 1 (2023): March Vol 7, No 3 (2022): November Vol 7, No 2 (2022): July Vol 7, No 1 (2022): March Vol 6, No 1 (2021): Vol. 6 No. 1, 2021 Vol 6, No 3 (2021): November Vol 6, No 2 (2021): July Vol 6, No 1 (2021): March Vol 5, No 2 (2020): November Vol. 5 No. 2, 2020 Vol. 5 No. 1, 2020 Vol 5, No 1 (2020): May Vol 4, No 2 (2019): November Vol. 4 No. 2, 2019 Vol. 4 No. 1, 2019 Vol 4, No 1 (2019): May Vol 3, No 2 (2018): November Vol. 3 No. 2, 2018 Vol 3, No 1 (2018): May Vol. 3 No. 1, Mei 2018 Vol 2, No 2 (2017): November Vol. 2 No. 2, November 2017 Vol 2, No 1 (2017): May Vol. 2 No. 1, Mei 2017 Vol. 1 No. 2, November 2016 Vol 1, No 2 (2016): November Vol. 1 No. 1, Mei 2016 Vol 1, No 1 (2016): May Vol. 13, No. 2, November 2015 Vol. 13, No. 2, November 2015 Vol. 13, No.1, Mei 2015 Vol. 13, No.1, Mei 2015 Vol. 12, No. 2, Nopember 2010 Vol. 12, No. 2, Nopember 2010 Vol. 12, No.1, Mei 2010 Vol. 12, No.1, Mei 2010 Vol. 11, No. 2, November 2009 Vol. 11, No. 2, November 2009 Vol.11, No.1, Mei 2009 Vol.11, No.1, Mei 2009 Vol. 9, No. 2, Nopember 2007 Vol. 9, No. 2, Nopember 2007 Vol. 9, No.1, Mei 2007 Vol. 9, No.1, Mei 2007 Vol. 8, No. 2, November 2006 Vol. 8, No. 2, November 2006 Vol. 8, No. 1, Mei 2006 Vol. 8, No. 1, Mei 2006 Vol. 7, No. 2, November 2005 Vol. 7, No. 2, November 2005 Vol. 7, No. 1, Mei 2005 Vol. 7, No. 1, Mei 2005 Vol. 6, No. 2, November 2002 Vol. 6, No. 2, November 2002 Vol. 6, No. 1, Mei 2002 Vol. 6, No. 1, Mei 2002 Vol. 4, No. 2, November 2000 Vol. 4, No. 2, November 2000 Vol. 4, No. 1, Mei 2000 Vol. 4, No. 1, Mei 2000 Vol. 3, No. 2, November 1999 Vol. 3, No. 2, November 1999 Vol. 3, No. 1, Mei 1999 Vol. 3, No. 1, Mei 1999 Vol. 2, No. 2, November 1995 Vol. 2, No. 2, November 1995 More Issue