cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 498 Documents
Effect of storage temperature and material shelf life on provisional crown’s hardness and flexural strength: an experimental laboratory study Azizah, Laila Nur; Dewi, Sekar Nirmala; Andryas, Ika; Wahyuni, Siti
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 38, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v28i1.60076

Abstract

Introduction: Provisional crowns are interim restorations placed on prepared teeth until the definitive crown is completed. Fractures of provisional crowns and bridges often occur as a result of crack propagation due to inadequate mechanical properties. This study aimed to analyze the effect of storage temperature and material shelf life on the surface hardness and flexural strength of bis-acryl provisional crown materials. Methods: This study was an experimental laboratory study with a posttest-only control design. Five cartridges of bis-acryl provisional material (SmarTemp®, shade A2, USA) were divided into two groups. Thirty five disc-shaped (10 x 2 mm) and thirty five bar-shaped (2 x 2 x 25 mm) bis-acryl specimens were produced by layering bis-acryl composite in an aluminum mold. Surface hardness was measured using Vickers Hardness Tester (Shimadzu HMV®, Japan), and flexural strength.was.evaluated using three-point.bending.test (Tensilon AND RTF-1350®, Japan). Data were analyzed using one-way ANOVA followed by a post-hoc LSD test. Result: The highest surface hardness value was 31.20±0.91 and the highest flexural strength value was 62.32±0.75. Data analysis showed significant differences in surface hardness (p-value=0.001) and flexural strength (p-value=0.0001). Conclusion: Surface hardness and flexural strength were affected by storage temperature and material shelf life. Bis-acryl materials, whether recently produced or with 12 months remaining before expiration, are recommended to be stored at 5 °C or room temperature (27 °C), as they exhibit better surface hardness and flexural strength compared to those stored at 35oC.Pengaruh temperatur dan masa penyimpanan terhadap kekerasan permukaan dan kekuatan fleksural bahan mahkota sementara: studi eksperimental laboratorisPendahuluan: Mahkota sementara merupakan restorasi sementara yang dipasang pada gigi yang telah dipreparasi sampai mahkota definitif selesai. Mahkota dan jembatan sementara sering terjadi retakan karena sifat mekanik material yang tidak adekuat. Penelitian dilakukan untuk menganalisis pengaruh temperatur penyimpanan dan masa penyimpanan bahan terhadap kekerasan permukaan dan kekuatan fleksural bahan mahkota sementara bis-acryl. Metode: Penelitian ini adalah studi eksperimental laboratoris dengan desain posttest only control design. Lima katrid bahan restorasi sementara bis-acryl (SmarTemp®, shade A2, USA) dibagi menjadi 2 kelompok. Tiga puluh lima sampel berbentuk silindris (10 x 2 mm) dan 35 sampel berbentuk balok (2x2x25 mm) dibuat dengan cara memasukan bahan bis-acryl ke dalam cetakan aluminium. Kekerasan permukaan diukur menggunakan Vickers Hardness Tester (Shimadzu HMV®, Jepang) dan kekuatan fleksural diuji menggunakan uji three-point bending (Tensilon AND RTF-1350®, Jepang). Hasil dianalisis menggunakan uji ANOVA satu arah yang dilanjutkan dengan uji LSD post-hoc. Hasil: Nilai rata-rata tertinggi kekerasan permukaan yaitu 31.20±0.91 dan kekuatan fleksural yaitu 62.32±0.75. Hasil analisis data menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada kekerasan permukaan (p=0,001) dan kekuatan fleksural (p=0,0001). Simpulan: Kekerasan permukaan dan kekuatan fleksural dipengaruhi oleh temperatur dan masa penyimpanan produk. Bis-acryl yang baru diproduksi dan 12 bulan sebelum kadaluarsa disarankan disimpan pada suhu 5 oC atau temperatur ruangan (27 oC) karena memiliki kekerasan permukaan dan kekuatan fleksural yang lebih baik dibandingkan dengan bahan yang disimpan pada temperatur 35oC.
The effect of sodium ascorbate 35% combination of surfactant 0,4% application frequency and different intracoronal bleaching on composite resin microleakage: an experimental study Elitasari, Denti; Nugraheni, Tunjung; Untara, Tri Endra
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 38, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v28i1.61901

Abstract

Introduction: Bleaching with hydrogen peroxide produces free radicals in dentin which can interfere with the penetration of adhesive materials and the polymerization process of composite resin, thereby increasing the occurrence of microleakage. In cases of severe discoloration, bleaching can be repeated more than once to maximize the color change. Repeated bleaching will increase free radical residues, so more antioxidants are needed. The purpose of this study was to examine the effect of the frequency of application of sodium ascorbate 35% combined with surfactant 0,4% at different intra coronal bleaching frequencies on microleakage of composite resin. Methods: The research sample consisted of 30 premolars prepared with class I cavities with a diameter of 3 mm and a depth of 6 mm. The samples were divided into 2 groups, group I was bleached twice while group II was bleached three times, after bleaching each group was divided into 3 subgroups, group A was incubated for 7 days then filled with composite resin, group B was applied with sodium ascorbate 35% combined with surfactant 0,4% twice then filled with composite resin, group C was applied with sodium ascorbate 35% combined with surfactant 0,4% three times then filled with composite resin. All samples were observed for microleakage using a scanning electron microscope (SEM). Results: The results of the two-way ANOVA test showed that there was a significant effect of the frequency of sodium ascorbate application and the frequency of bleaching on microleakage with a value of p=0.001 (p<0.05) and there was an interaction between the frequency of sodium ascorbate 35% combined with 0,4% surfactant application and the frequency of bleaching on microleakage of composite resin. Conclusion: The frequency of application of sodium ascorbate 35% combined with surfactant 0,4% and different intracoronal bleaching has an effect on the level of composite resin microleakage.Efek frekuensi aplikasi sodium askorbat 35% kombinasi surfaktan 0,4% dan bleaching intrakoronal yang berbeda terhadap kebocoran mikro resin komposit: studi eksperimenPendahuluan: Bleaching dengan hidrogen peroksida menghasilkan radikal bebas pada dentin yang dapat mengganggu penetrasi bahan adhesif dan proses polimerisasi resin komposit sehingga meningkatkan terjadinya kebocoran mikro. Pada kasus perubahan warna yang berat, bleaching dapat diulang sebanyak lebih dari satu kali untuk memaksimalkan perubahan warna. Bleaching yang dilakukan secara berulang akan meningkatkan residu radikal bebas, sehingga dibutuhkan antioksidan yang lebih banyak. Tujuan penelitian ini untuk menguji pengaruh frekuensi aplikasi sodium askorbat 35% kombinasi surfaktan 0,4% pada frekuensi bleaching intrakoronal yang berbeda terhadap kebocoran mikro resin komposit. Metode: Sampel penelitian berupa 30 premolar yang di preparasi kavitas kelas I dengan diameter 3 mm kedalaman 6 mm. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok I dilakukan bleaching dua kali sedangkan kelompok II dilakukan bleaching tiga kali, pasca dilakukan bleaching, masing-masing kelompok dibagi menjadi 3 sub kelompok yaitu kelompok A di inkubasi selama 7 hari kemudian di tumpat resin komposit, kelompok B diaplikasi sodium askorbat 35% kombinasi surfaktan 0,4% dua kali kemudian di tumpat resin komposit, kelompok C diaplikasi sodium askorbat 35% kombinasi surfaktan 0,4% tiga kali kemudian di tumpat resin komposit. Seluruh sampel dilakukan pengamatan kebocoran mikro dengan menggunakan scanning electron microscope (SEM). Hasil: Hasil uji ANAVA dua jalur menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan frekuensi aplikasi sodium askorbat dan frekuensi bleaching terhadap kebocoran mikro dengan nilai p=0,001 (p<0,05) dan terdapat interaksi antara frekuensi aplikasi sodium askorbat 35% kombinasi surfaktan 0,4% dan frekuensi bleaching terhadap kebocoran mikro resin komposit. Simpulan: Frekuensi aplikasi sodium askorbat 35% kombinasi surfaktan 0,4% dan bleaching intrakoronal yang berbeda berpengaruh terhadap tingkat kebocoran mikro resin komposit.
The effect of clove flower extract immersion on the surface roughness of heat-cured and cold-cured acrylic: an experimental study Dewi, Zwista Yulia; Artilia, Ira; Yuslianti, Euis Reni; Lathiifa, Thara
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 38, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v38i1.61906

Abstract

Introduction: Heat-cured and cold-cured acrylic resins are commonly used as denture base materials in dentistry. Denture cleansers are essential for maintaining denture hygiene, and clove flower extract has been identified as a natural alternative due to its antifungal properties against Candida albicans. However, its high phenol content may increase the surface roughness of acrylic resins. Clinically, the acceptable roughness limit for acrylic resin is less than 0.2 µm. Increased surface roughness can lead to denture stomatitis, papillary hyperplasia, and chronic candidiasis. This study aimed to analyze changes in the surface roughness of heat-cured and cold-cured acrylic resins after immersion in clove flower extract. Methods: This true experimental study involved 32 samples divided into eight treatment groups. The samples were immersed in clove flower extract at concentrations of 1.6%, 1.8%, and 2% in distilled water, with distilled water serving as the control, for 23 days. Surface roughness was measured using a surface roughness tester. Data were analyzed using the Shapiro-Wilk test, paired sample t-test, ANOVA, Kruskal-Wallis test, and Mann-Whitney test. Results: The results showed a significant difference (P < 0.05) in surface roughness changes between heat-cured and cold-cured acrylic resins after immersion in clove flower extract at all concentrations. Cold-cured acrylic resin exhibited greater changes in surface roughness than heat-cured acrylic resin. Conclusion: The increased surface roughness in cold-cured acrylic resin is attributed to its higher residual monomer content, which allows greater absorption of clove flower extract. These findings suggest that clove flower extract may affect the durability of acrylic resin materials used in dentures.Efek perendaman ekstrak bunga cengkeh terhadap kerataan permukaan akrilik yang dipanaskan dan didinginkan: penelitian eksperimental Pendahuluan: Resin akrilik heat-cured dan cold-cured merupakan bahan yang umum digunakan sebagai basis gigi tiruan dalam kedokteran gigi. Pembersih gigi tiruan berperan penting dalam menjaga kebersihan gigi tiruan, dan ekstrak bunga cengkeh telah diidentifikasi sebagai alternatif alami karena sifat antifungalnya terhadap Candida albicans. Namun, kandungan fenol yang tinggi dalam ekstrak bunga cengkeh dapat meningkatkan kekasaran permukaan resin akrilik. Secara klinis, batas kekasaran permukaan resin akrilik yang dapat diterima adalah kurang dari 0,2 µm. Peningkatan kekasaran permukaan dapat menyebabkan stomatitis gigi tiruan, hiperplasia papilar, dan kandidiasis kronis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan nilai kekasaran permukaan antara resin akrilik heat-cured dan cold-cured setelah perendaman dalam ekstrak bunga cengkeh. Metode: Penelitian ini merupakan studi eksperimental murni dengan 32 sampel yang dibagi menjadi delapan kelompok perlakuan. Sampel direndam dalam ekstrak bunga cengkeh dengan konsentrasi 1,6%, 1,8%, dan 2%, serta air suling sebagai kontrol, selama 23 hari. Pengukuran kekasaran permukaan dilakukan menggunakan surface roughness tester. Analisis data dilakukan dengan uji Shapiro-Wilk, paired sample t-test, ANOVA, Kruskal-Wallis, dan Mann-Whitney. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan (P< 0,05) dalam perubahan kekasaran permukaan antara resin akrilik heat-cured dan cold-cured setelah perendaman dalam ekstrak bunga cengkeh pada semua konsentrasi. Resin akrilik cold-cured mengalami peningkatan kekasaran permukaan yang lebih besar dibandingkan dengan resin akrilik heat-cured. Simpulan: Peningkatan kekasaran permukaan pada resin akrilik cold-cured disebabkan oleh kandungan monomer sisa yang lebih tinggi, sehingga mampu menyerap lebih banyak ekstrak bunga cengkeh. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak bunga cengkeh dapat memengaruhi ketahanan bahan resin akrilik yang digunakan dalam gigi tiruan.
The effect of final irrigation solution and irrigation techniques on the flexural strength and elastic modulus of root canal dentin: an experimental study yuniva, Hasna syifa; Ratih, Diatri Nari; Widyastuti, Andina
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 38, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v38i1.61894

Abstract

Introduction: Root canal irrigation facilitates debris removal, lubrication, and the dissolution of organic and inorganic tissues while preventing smear layer formation. However, the chelating properties of final irrigants may deplete calcium ions from the dentin, potentially compromising the flexural strength and modulus of elasticity of the root canal walls. This study aims to analyze the effects of various final irrigants and agitation techniques on these mechanical properties of radicular dentin. Methods: Forty-five mandibular premolars were prepared and randomly divided into three groups (n=15). Group 1 was irrigated with 17% EDTA, Group 2 with 0.2% chitosan nanoparticles, and Group 3 with Ultra Clean. Each group was further subdivided into three subgroups (n=5) based on the agitation technique used: manual (A), sonic (B), and ultrasonic (C). Flexural strength and elastic modulus were measured using a Universal Testing Machine (UTM). Results: Two-way ANOVA showed that the type of irrigating solution, agitation technique, and their interaction significantly affected flexural strength and elastic modulus (p<0.05). Post-hoc LSD analysis revealed significant differences among groups for both flexural strength and elastic modulus (p<0.05), with several exceptions in specific comparisons within the EDTA and Ultra Clean groups, as well as between Ultra Clean manual agitation subgroup and the 0.2% chitosan nanoparticle subgroup (p>0.05). Conclusion: The highest flexural strength and elastic modulus values were observed in the group treated with 0.2% chitosan nanoparticles combined with sonic agitation, while the lowest values were found in the 17% EDTA group using manual agitation.Efek jenis bahan irigasi akhir dan teknik irigasi terhadap kekuatan fleksural dan modulus elastisitas dentin saluran akar: studi eksperimental in vitroPendahuluan: Irigasi saluran akar berfungsi membersihkan debris, melumasi saluran, melarutkan jaringan organik dan anorganik, serta mencegah terbentuknya smear layer. Namun, sifat khelasi pada bahan irigasi akhir berpotensi mengikis dinding saluran akar dengan mengikat ion kalsium, yang dapat memengaruhi kekuatan fleksural dan modulus elastisitas dentin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jenis bahan irigasi akhir dan teknik agitasi terhadap sifat mekanis dentin saluran akar akar. Metode: Empat puluh lima premolar mandibula di preparasi, dibagi menjadi tiga kelompok secara acak masing-masing kelompok terdiri dari 15 sampel. Kelompok 1 di irigasi dengan EDTA, kelompok 2 diirigasi dengan kitosan nanopartikel 0,2% dan kelompok 3 di irigasi dengan Ultra clean. Masing-masing kelompok dibagi lagi menjadi 3 kelompok dan setiap kelompok terdiri 5 sampel. Kelompok A digitasi manual, kelompok B sonik, dan kelompok C ultrasonik. Setelah itu dilakukan uji =kekuatan fleksural dan modulus elastisitas dengan Universal Testing Machine (UTM). Hasil: Uji ANAVA Bahan irigasi akhir, teknik irigasi, dan interaksi keduanya berpengaruh signifikan terhadap kekuatan fleksural dan modulus elastisitas (p<0,05). Hasil Post-Hoc LSD menunjukkan perbedaan signifikan antarkelompok untuk kekuatan fleksural dan modulus elastisitas dentin (p<0,05), dengan beberapa pengecualian pada perbandingan metode tertentu dalam kelompok EDTA 17% dan Ultra Clean, serta antara Ultra Clean manual dan kitosan nanopartikel 0,2% (p>0,05). Simpulan: Nilai kekuatan fleksural dan modulus elastisitas tertinggi pada penggunaan kitosan nanopartikel 0,2% dengan teknik agitasi sonik serta terendah pada penggunaan EDTA 17% dengan teknik agitasi manual.
Uji Efektivitas Antibakteri Ekstrak Brokoli (Brassica Oleracea Var. Italica) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Porphyromonas Gingivalis: Eksperimental Laboratoris Edrizal, Edrizal; Nasri, Muhammad Harits; Kornialia, Kornialia
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 38, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v38i1.63679

Abstract

Introduction: Broccoli may serve as a potential antibacterial agent due to its bioactive compounds, including flavonoids, saponins, quinones, tannins, terpenoids, polyphenols, and glucosinolates. These compounds may contribute to antibacterial activity and could provide a natural alternative to conventional antibacterial agents. This study aimed to determine the inhibitory effect of broccoli (Brassica oleracea var. italica) extract on the growth of Porphyromonas gingivalis. Methods: This study employed a laboratory experimental design. Broccoli was extracted using the maceration method with ethanol as the solvent. Antibacterial activity was evaluated using Mueller–Hinton Agar (MHA) medium and the disk diffusion method. The treatment groups consisted of 10%, 30%, and 60% broccoli extract concentrations, with metronidazole as the positive control and dimethyl sulfoxide (DMSO) as the negative control. Antibacterial activity was determined based on the diameter of the inhibition zones. The data were analyzed descriptively and presented in tables. Results: The 10% broccoli extract exhibited weak antibacterial activity, with an inhibition zone of 3.8 mm. The 30% extract showed moderate antibacterial activity, with an inhibition zone of 4.75 mm, while the 60% extract demonstrated strong antibacterial activity, with an inhibition zone of 7.6 mm. The positive control, metronidazole, produced strong inhibition zones at all tested concentrations. Conclusion: All tested concentrations of ethanolic broccoli extract exhibited antibacterial activity against Porphyromonas gingivalis, ranging from weak to strong inhibition. However, the antibacterial activity of the broccoli extract was lower than that of metronidazole.Uji daya hambat ekstrak brokoli (Brassica oleracea var. Italica) terhadap pertumbuhan Porphyromonas gingivalis: studi eksperimenPendahuluan: Brokoli dapat menjadi alternatif antibakteri sebab kandungan di senyawa seperti flavonoid, saponin, kuinon, tanin, terpenoid, polifenol, serta glukosinolat. Brokoli ini berfungsi sebagai antibakteri alami tanpa menyebabkan resistensi apabila dikonsumsi secara terus-menerus. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui daya hambat ekstrak brokoli (Brassica oleracea var. italica) terhadap pertumbuhan Porphyromonas gingivalis. Metode: Penelitian yang digunakan yakni eksperimental laboratoris. Teknik ekstraksi yang digunakan yaitu maserasi dengan zat pelarut etanol. Aktivitas antibakteri dengan media Mueller Hinton Agar (MHA) dievaluasi berdasarkan zona hambat memakai metode difusi cakram bersama kelompok perlakuan ekstraksi brokoli 10%, 30%, 60%, kontrol positif metronidazol, dan kontrol negatif DMSO. Uji analisis data dilakukan dengan Rumus perhitungan diameter zona hambat. Hasil: Zona hambat antibakteri ekstrak brokoli kategori lemah pada konsentrasi 10% (3,8 mm), konsentrasi 30% (4,75 mm), dan kategori sedang pada konsentrasi 60% (7,6 mm). Seluruh konsentrasi pada kontrol positif didapatkan zona hambat dalam kategori kuat. Simpulan: Semua konsentrasi ekstrak etanol brokoli yang diuji memiliki efek antibakteri terhadap Porphyromonas gingivalis dengan kategori ringan sampai sedang, namun efeknya belum setara dengan metronidazol.
The evaluation of apical plug formation during endodontic treatment of immature teeth: a case report Wangidjaja, Bryan; Widyastuti, Wiena; Istanto, Elline; Zulkifly, Dinie Qyrratuaini
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 38, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v38i1.58376

Abstract

Introduction: Trauma can cause significant changes in pulpal blood microcirculation, leading to pulp necrosis, arrested root formation, and the development of an open apex. One of the materials recommended for creating an apical plug is mineral trioxide aggregate (MTA). Apical plug formation using biomaterials such as MTA is a common technique for inducing apical closure and facilitating healing. The aim of this case report is to describe the use of the apical plug technique in immature teeth after trauma and to evaluate its effectiveness in achieving apical closure and healing. Case report: A 26-year-old woman visited the Department of Conservative Dentistry due to pain in her upper right anterior tooth. She had dental trauma. Tooth 11 presented with a Class IV composite restoration, and periapical radiographic examination revealed an open apex. A diagnosis of pulp necrosis with symptomatic apical periodontitis and an open apex was established. The apical size of the teeth was determined to be #80. Biomechanical preparation involved circumferential filling technique up to size #100 K-file. MTA with a 4 mm thickness was applied at the open apex, followed by continued obturation. The final restoration was completed using a direct composite restoration. Trauma can result in pulp necrosis, leading to incomplete root development in the immature teeth, which is characterized by thin apex wall and open apex. MTA offers advantages such as antibacterial properties, high marginal adaptation, and a pH of 12.5. In this case, a 6-month follow-up demonstrated healing progression in the periapical region. Conclusion: MTA is an excellent material for use in cases of immature teeth. The success of apical plug formation in this case can be evaluated by the resolution of patient complaints and the healing progress of the periapical region.Evaluasi pembentukan apikal plug selama perawatan endodontik pada gigi imatur: Laporan kasusPendahuluan: Trauma dapat menyebabkan perubahan signifikan pada mikrosirkulasi darah pulpa, menyebabkan kematian pulpa, terhentinya pembentukan akar, dan apeks terbuka. Salah satu material yang direkomendasikan untuk membuat apikal plug adalah mineral trioxide aggregate (MTA). Pembentukan apical plug menggunakan biomaterial seperti MTA merupakan teknik umum untuk menginduksi penutupan apikal dan memfasilitasi penyembuhan. Tujuan laporan kasus ini untuk mendeskripsikan penggunaan teknik apical plug pada gigi imatur paska trauma dengan mengevaluasi efektivitasnya selama penyembuhan. Laporan kasus: Seorang perempuan berusia 26 tahun mengunjungi departemen konservasi karena rasa sakit pada gigi depan atas kanan. Pasien tersebut mengalami trauma dental. Pemeriksaan gigi 11 terdapat restorasi komposit kelas IV, dan melalui pemeriksaan radiograf terlihat adanya apeks terbuka. Ukuran apikal gigi adalah #80. Preparasi biomekanis dilakukan dengan teknik circumferential filing sampai dengan K-file #100. MTA dengan ketebalan 4 mm diaplikasikan pada apeks yang terbuka dilanjutkan dengan obturasi. Restorasi akhir dilakukan dengan komposit direk. Trauma menyebabkan kematian pulpa, sehingga perkembangan akar menjadi tidak sempurna pada gigi yang imatur. Akar yang tidak sempurna terlihat memiliki dinding yang tipis dan apeks terbuka. MTA memiliki kelebihan di antara lain sifat antibakteri, adaptasi marginal yang baik, dan pH 12.5. Pasca perawatan 6 bulan pada kasus ini ditemukan adanya penyembuhan pada bagian apikal dari radiograf. Simpulan: MTA adalah material yang sangat baik yang dapat digunakan pada gigi yang imatur. Keberhasilan pembentukan apical plug pada kasus ini dapat dievaluasi dengan hilangnya keluhan pasien dan adanya proses penyembuhan pada regio periapikal.
Perbandingan efektivitas obat kumur klorheksidin dengan dan tanpa cetylpyridinium chloride dalam penyembuhan stomatitis aftosa rekuren tipe minor Kania, Fierda Ayu; Nur'aeny, Nanan; Sjamsudin, Endang
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 38, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v38i1.64962

Abstract

Pendahuluan:  Stomatitis aftosa rekuren (SAR) tipe minor merupakan ulser pada mulut yang paling sering dijumpai. Terapi awal yang dapat digunakan adalah antiseptik topikal seperti klorheksidin yang dapat membantu proses penyembuhan. Penggunaan klorheksidin di rongga mulut dapat menimbulkan efek samping, sehingga dikembangkan kombinasi dengan antiseptik lain seperti cetylpyridinium chloride (CPC). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas klorheksidin dengan dan tanpa CPC dalam mengurangi ukuran dan nyeri ulser pada pasien SAR tipe minor. Metode: Penelitian ini menggunakan metode eksperimental semu dengan desain randomized controlled trial (RCT) dan double blind pada 32 subjek yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok I menerima obat kumur kombinasi klorheksidin dan CPC, sedangkan kelompok II menerima obat kumur klorheksidin. Ukuran ulser diukur menggunakan periodontal probe dan tingkat nyeri dinilai dengan visual analog scale (VAS) pada hari ke-1, serta hari ke-3 dan ke-7 pascaintervensi. Hasil: Terdapat penurunan ukuran ulser dan tingkat rasa nyeri pada kedua kelompok dari hari ke-1 hingga hari ke-7 tanpa perbedaan yang signifikan antar kelompok (p>0,05). Namun, kelompok kombinasi klorheksidin dan CPC menunjukkan rata-rata ukuran ulser yang lebih rendah pada hari ke-7 dibandingkan kelompok klorheksidin. Simpulan: Penggunaan obat kumur klorheksidin dengan dan tanpa CPC memiliki efektivitas yang serupa dalam mengurangi ukuran ulser dan rasa nyeri pada pasien SAR tipe minor. 
Influence of sleep disturbances on temporomandibular disorders, somatic, and negative emotional symptoms in young adults: A cross-sectional study Marpaung, Carolina Carolina Marpaung; Dewi, Ni Luh; Pragustine, Yenny; Hanin, Isya; Yuliasari, Hani; rahmadini, Enrita dian
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 38, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v38i1.66392

Abstract

Introduction: While temporomandibular disorders (TMDs), sleep disturbances, and psycho-emotional symptoms are interrelated, it remains unclear whether sleep disturbances are a contributing factor to TMDs or a result of chronic pain and somatic symptoms. The objective of this study was to analyze the influence of sleep disturbances on TMD, somatic, and negative emotional symptoms in young adults. Methods: A cross-sectional study was conducted on young adults  from a private university in Indonesia. Sleep disturbances were assessed using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), TMD symptoms using the quintessential five TMD symptoms (5Ts), and somatic symptoms using the Patient Health Questionnaire-15 (PHQ-15). Psychological distress and coping strategies were measured using the Depression, Anxiety, Stress Scales-21 (DASS-21) and the Brief Coping Orientation to Problems Experienced Inventory (Brief-COPE). Data were analyzed using the Chi-square test, Kruskal-Wallis, Spearman correlation, and logistic regression (p=0.05). Results: Among the 456 participants (mean age 22.4 ± 1.5 years), 58.2% reported TMD symptoms. Participants with high sleep disturbance had significantly higher TMD pain, somatic symptoms, dysfunctional coping, and psychological distress compared to those with low sleep disturbance. Somatic symptoms and dysfunctional coping were moderately correlated with general distress, anxiety, and stress. Multivariate analyses indicated that the odds of sleep disturbance was increased by somatic symptoms (OR=1.18;95% CI=1.12-1.24) and stress (OR=1.10;95% CI=1.04-1.17). Conclusion: Sleep disturbances are not only linked to TMD but also contribute to increasing the severity of somatic symptoms and psycho-emotional symptoms. Pengaruh gangguan tidur terhadap gangguan temporomandibula, somatik, dan gejala emosional negatif pada dewasa muda: sebuah studi potong lintangPendahuluan: Gangguan temporomandibular (TMD), gangguan tidur, dan gejala psiko-emosional saling berkaitan, namun masih belum jelas apakah gangguan tidur merupakan faktor yang berkontribusi terhadap TMD atau justru merupakan akibat dari nyeri kronis dan gejala somatik. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruh  gangguan tidur terhadap gangguan temporomandibula, somatik, dan gejala emosional negative pada dewasa muda. Metode: Partisipan dari studi potong lintang ini merupakan dewasa muda yang direkrut dari sebuah universitas swasta di Indonesia. Gangguan tidur dinilai menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), gejala TMD dengan lima gejala utama TMD (5Ts), dan gejala somatik menggunakan Patient Health Questionnaire-15 (PHQ-15). Tekanan psikologis dan strategi koping diukur menggunakan Depression, Anxiety, Stress Scales-21 (DASS-21) dan Brief Coping Orientation to Problems Experienced Inventory (Brief-COPE). Analisis data dilakukan dengan uji Chi-square, Kruskal-Wallis, korelasi Spearman, dan regresi logistik (α=0,05). Hasil: Sebanyak 58,2% dari 456 partisipan melaporkan mengalami gejala TMD (usia rata-rata 22,4 ± 1,5 tahun). Partisipan dengan tingkat gangguan tidur yang tinggi menunjukkan tingkat nyeri TMD, gejala somatik, koping disfungsional, dan tekanan psikologis yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang memiliki gangguan tidur rendah. Gejala somatik dan koping disfungsional menunjukkan korelasi sedang dengan tekanan psikologis umum, kecemasan, dan stres. Analisis multivariat menunjukkan bahwa kemungkinan terjadinya gangguan tidur meningkat seiring dengan meningkatnya gejala somatik (OR = 1,18; 95% CI = 1,12–1,24) dan stres (OR = 1,10; 95% CI = 1,04–1,17). Simpulan: Gangguan tidur tidak hanya berkaitan dengan TMD, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan keparahan gejala somatik dan psiko-emosional.