Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Peran guru bimbingan dan konseling islami dalam mendukung siswa neurodivergen di madrasah ibtidaiyah: systematic literature review Seliah Rindiani; M. Fahli Zatrahadi; Miftahuddin
Southeast Asian Journal of Technology and Science Vol. 7 No. 1 (2026): Southeast Asian Journal of Technology and Science
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education, and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/810708900

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) Islami dalam menangani siswa dengan gaya belajar neurodivergent di madrasah ibtidaiyah. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh dari berbagai artikel jurnal, buku, dan sumber ilmiah yang relevan mengenai bimbingan dan konseling Islam, pendidikan inklusif, serta karakteristik siswa neurodivergent. Hasil kajian menunjukkan bahwa siswa neurodivergent, seperti siswa dengan ADHD, disleksia, disgrafia, dan diskalkulia, memerlukan layanan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan belajarnya. Guru BK Islami berperan sebagai konselor, fasilitator, mediator, dan motivator dalam membantu siswa mengatasi hambatan belajar serta mengembangkan potensinya. Layanan yang diberikan meliputi identifikasi kebutuhan siswa, konseling individu maupun kelompok, kolaborasi dengan guru kelas dan orang tua, serta penguatan nilai-nilai Islam. Integrasi nilai-nilai keislaman dalam layanan BK terbukti mendukung perkembangan akademik, sosial, emosional, dan spiritual siswa. Oleh karena itu, guru BK Islami memiliki peran strategis dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang inklusif dan mendukung perkembangan optimal siswa neurodivergent di madrasah ibtidaiyah.
Tren global penelitian konseling bagi penyandang disabilitas: suatu tinjauan literatur sistematis Ika Nurbaiti Rifri Yanti; M. Fahli Zatrahadi; Miftahuddin
Southeast Asian Journal of Technology and Science Vol. 7 No. 1 (2026): Southeast Asian Journal of Technology and Science
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education, and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/810709700

Abstract

Penelitian ini menggunakan Systematic Literature Review (SLR) untuk memetakan tren global penelitian konseling bagi penyandang disabilitas selama periode 2015–2025. Dengan menganalisis publikasi dari basis data Scopus, ScienceDirect, SpringerLink, Taylor & Francis, Wiley Online Library, dan Google Scholar, kami mengidentifikasi 127 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Temuan menunjukkan peningkatan signifikan dalam publikasi penelitian disabilitas, khususnya dalam konteks konseling kejuruan dan kesejahteraan psikologis. Analisis mengungkapkan bahwa pendekatan person-centered counseling dan cognitive-behavioral therapy mendominasi intervensi bagi penyandang disabilitas. Penelitian didominasi oleh publikasi dari negara-negara berpenghasilan tinggi (Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia), sementara negara berkembang masih underrepresented. Tema dominan mencakup adaptasi sosial, self-efficacy, kualitas hidup, dan pemberdayaan psikosial. Meskipun terdapat kemajuan, terdapat research gap signifikan dalam konseling spiritual bagi penyandang disabilitas, aplikasi teknologi seperti telecounseling dan AI-assisted counseling, penelitian longitudinal, dan eksplorasi kompetensi multikultural konselor. Temuan ini mengakui kontribusi penelitian teoritis namun menekankan kebutuhan mendesak untuk penelitian empiris berbasis komunitas dan praktik klinis yang kontekstual. Studi ini menyarankan pengembangan framework integratif yang menggabungkan pendekatan rehabilitasi, person-centered values, dan competency-based training untuk meningkatkan aksesibilitas dan efektivitas layanan konseling bagi penyandang disabilitas.
Healthy lifestyle patterns and mental health among university students: a systematic literature review Eldi Pratama; M. Fahli Zatrahadi; Miftahuddin
Southeast Asian Journal of Technology and Science Vol. 7 No. 1 (2026): Southeast Asian Journal of Technology and Science
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education, and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/810710100

Abstract

Mental health problems among university students have become a critical global public health concern. Unhealthy lifestyle behaviors are strongly associated with elevated psychological distress in this population. However, comprehensive synthesis examining the multidimensional relationship between healthy lifestyle patterns and student mental health remains limited. This systematic literature review aimed to (1) identify the most frequently studied components of healthy lifestyle in relation to university student mental health, and (2) synthesize evidence on the relationship between healthy lifestyle patterns and mental health outcomes, including psychological well-being, stress, anxiety, depression, and emotional well-being. A systematic search was conducted across PubMed, Scopus, Web of Science, and PsycINFO databases. Studies published between 2022 and 2025 were included. Inclusion criteria required empirical studies focusing on college or university students, healthy lifestyle components, and mental health outcomes. The PRISMA 2020 framework guided the review process, and thematic narrative synthesis was applied to analyze extracted data. Quality appraisal was conducted using JBI Critical Appraisal tools. Twenty peer-reviewed studies were included in the final synthesis. Six dominant lifestyle themes emerged: physical activity, sleep quality, diet and nutrition, social support, general health behaviors, and sedentary/screen time behavior. Physical activity and sleep quality were the most consistently studied components. Across RQ2, healthy lifestyle patterns demonstrated protective associations with psychological well-being, and significant inverse relationships with stress, anxiety, depression, and negative emotional states. Sleep quality emerged as the single most consistently influential factor across all mental health outcomes. Healthy lifestyle patterns, particularly regular physical activity, adequate sleep, balanced nutrition, and strong social support, are positively and consistently associated with better mental health outcomes among university students. Universities should integrate holistic health promotion programs addressing multiple lifestyle dimensions simultaneously.
Pola asuh otoriter dan kepercayaan diri mahasiswa: tinjauan literatur sistematis Novira Wadyah; M. Fahli Zatrahadi; Miftahuddin
Southeast Asian Journal of Technology and Science Vol. 7 No. 1 (2026): Southeast Asian Journal of Technology and Science
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education, and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/810710900

Abstract

elf-confidence merupakan kompetensi psikologis fundamental yang menentukan keberhasilan mahasiswa dalam menjalani proses pendidikan tinggi. Pola asuh otoriter, yang ditandai oleh kontrol tinggi dan kehangatan rendah, dihipotesiskan sebagai salah satu faktor keluarga yang berpengaruh terhadap pembentukan kepercayaan diri mahasiswa. Penelitian ini bertujuan mensintesis bukti empiris mengenai hubungan antara pola asuh otoriter dan kepercayaan diri mahasiswa serta mengidentifikasi karakteristik penelitian yang telah dilakukan pada topik tersebut. Systematic Literature Review dilakukan mengacu pada protokol PRISMA 2020 dan kerangka PICO. Penelusuran literatur dilakukan pada basis data internasional dan nasional. Skrining dan seleksi artikel dilakukan secara sistematis dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Kualitas studi dinilai menggunakan JBI Critical Appraisal Checklist. Sintesis dilakukan secara naratif tematik terhadap 21 studi yang memenuhi kriteria. Temuan menunjukkan bahwa pola asuh otoriter secara konsisten berkorelasi negatif dengan kepercayaan diri dan self-esteem mahasiswa. Self-esteem teridentifikasi sebagai mediator utama. Konteks budaya berfungsi sebagai moderator penting, khususnya perbedaan antara budaya kolektivis dan individualis. Dampak terhadap penyesuaian psikososial mencakup prokrastinasi akademik, stres, dan maladjustment. Bukti empiris yang tersedia mendukung hipotesis bahwa pola asuh otoriter berkontribusi terhadap rendahnya kepercayaan diri mahasiswa, namun dengan catatan moderasi budaya yang signifikan. Diperlukan penelitian longitudinal dan multi-budaya untuk memperkuat sintesis ini.
INTERAKSI POLA ASUH KELUARGA DAN LINGKUNGAN SOSIAL DALAM MEMBENTUK PERILAKU KRIMINAL REMAJA: KAJIAN LITERATUR REVIEW Dewi Sinta; M. Fahli Zatrahadi; Miftahuddin
SULTAN ADAM: Jurnal Hukum dan Sosial Vol 4 No 1 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/sultan.v4i1.1910

Abstract

Perilaku kriminal remaja merupakan permasalahan sosial serius yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama pola asuh keluarga dan lingkungan sosial teman sebaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis pola pengaruh kedua faktor tersebut terhadap perilaku kriminal remaja berdasarkan sintesis literatur terdahulu. Pendekatan yang digunakan adalah literature review sistematis dengan menganalisis 15 penelitian yang terpilih dari database Google Scholar, SINTA, dan Garuda, yang diterbitkan antara tahun 2014 hingga 2024. Hasil sintesis mengidentifikasi tiga temuan utama: pertama, pola asuh orang tua merupakan prediktor primer kenakalan remaja, di mana pola asuh autoritatif berfungsi protektif sedangkan pola asuh permisif dan otoriter meningkatkan risiko; kedua, pengaruh teman sebaya sebaya devian secara signifikan memperbesar risiko kenakalan dengan odds ratio 1,73; dan ketiga, interaksi antara kedua faktor tersebut beroperasi melalui dua model, yaitu model penyangga (buffering model) dan model kumulatif (cumulative risk model). Model penyangga aktif ketika pola asuh autoritatif membangun kapasitas internal remaja sebelum terpapar pengaruh devian, sedangkan model kumulatif aktif ketika kelemahan pola asuh dan paparan teman sebaya devian berlangsung bersamaan. Temuan ini memiliki implikasi penting bagi desain program intervensi pencegahan kenakalan remaja berbasis keluarga dan komunitas.
Quarter Life Crisis Mahasiswa: Analisis Kecemasan Eksistensial dan Pendekatan Konseling Islam Muhammad Arya Ghifari; M. Fahli Zatrahadi; Miftahuddin
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.7112

Abstract

Fenomena quarter life crisis pada mahasiswa menjadi isu yang semakin meningkat di era digital akibat tekanan akademik, tuntutan sosial, ketidakpastian karier, dan budaya perbandingan sosial di media digital. Kondisi tersebut sering memunculkan kecemasan eksistensial, ketidakstabilan emosional, kebingungan arah hidup, dan krisis identitas diri pada mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk kecemasan eksistensial yang dialami mahasiswa pada fase quarter life crisis serta mengkaji relevansi pendekatan konseling Islam dalam mengatasi permasalahan psikologis tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) melalui desain systematic literature review. Data diperoleh dari jurnal ilmiah, buku, dan publikasi akademik yang relevan dengan tema quarter life crisis, kecemasan eksistensial, kesehatan mental, dan konseling Islam yang diterbitkan pada tahun 2020–2025. Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang mengalami quarter life crisis cenderung mengalami kecemasan berlebihan, overthinking, rasa takut gagal, rendahnya kepercayaan diri, kebingungan identitas, dan ketidakpastian masa depan. Media sosial juga ditemukan berkontribusi dalam memperkuat budaya perbandingan sosial dan tekanan psikologis mahasiswa. Selain itu, kecemasan eksistensial mahasiswa berkaitan dengan hilangnya makna hidup dan ketidakstabilan spiritual. Pendekatan konseling Islam melalui nilai tawakal, syukur, sabar, muhasabah, dan penguatan spiritual dinilai mampu membantu mahasiswa membangun penerimaan diri, resiliensi emosional, dan ketenangan batin. Kesimpulannya, konseling Islam memiliki relevansi penting sebagai pendekatan psikospiritual dalam membantu mahasiswa mengatasi kecemasan eksistensial pada fase quarter life crisis.
BIMBINGAN KONSELING ISLAM SEBAGAI DUKUNGAN PSIKOSOSIAL BAGI KESEHATAN MENTAL SISWA DARI KELUARGA PRASEJAHTERA: TINJAUAN LITERATUR Ghozali Nurfauzi; M. Fahli Zatrahadi; Miftahuddin
Welvaart: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 7 No. 1 (2026): EDISI JUNI
Publisher : Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/welvaart.v7i1.147

Abstract

Artikel ini bertujuan mengkaji Bimbingan Konseling Islam sebagai dukungan psikososial bagi kesehatan mental siswa dari keluarga prasejahtera. Kajian ini dilatarbelakangi oleh kerentanan siswa prasejahtera yang tidak hanya menghadapi keterbatasan ekonomi, tetapi juga tekanan psikologis berupa rendah diri, kecemasan masa depan, keterbatasan dukungan belajar, dan kurangnya ruang aman untuk mengekspresikan emosi. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur dengan pendekatan kualitatif-deskriptif. Literatur yang dianalisis terdiri atas 22 sumber berupa artikel jurnal ilmiah dan buku akademik yang relevan dengan Bimbingan Konseling Islam, kesehatan mental siswa, dukungan psikososial, tekanan sosial-ekonomi, dan pendampingan spiritual. Hasil kajian menunjukkan bahwa Bimbingan Konseling Islam dapat berfungsi sebagai dukungan psikososial melalui penguatan spiritual, pengelolaan emosi, penerimaan diri, pembentukan resiliensi, dukungan sekolah, dan kolaborasi keluarga. Kajian ini menegaskan bahwa Bimbingan Konseling Islam perlu dikembangkan sebagai layanan yang empatik, profesional, kontekstual, dan peka terhadap kondisi sosial-ekonomi siswa, bukan sekadar nasihat keagamaan yang bersifat normatif.
Efikasi Diri dan Regulasi Diri Mahasiswa dalam Menghadapi Distraksi Pembelajaran Digital: Tinjauan Perspektif Konseling Islami Irma Jumida Yanti; M.Fahli Zatrahadi; Miftahuddin
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7306

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mengubah sistem pembelajaran menjadi lebih mandiri, namun juga menimbulkan tantangan berupa distraksi digital yang dapat menurunkan konsentrasi dan hasil belajar mahasiswa. Studi ini bermaksud guna menganalisa efikasi diri dan regulasi diri mahasiswa dalam menghadapi distraksi pembelajaran digital serta mengkaji perannya dalam perspektif konseling Islami. Dengan meninjau sejumlah artikel jurnal ilmiah yang relevan dengan subjek yang dibahas, studi ini menerapkan metodologi studi literatur. Mengacu temuannya, dua faktor internal-efikasi diri dan pengaturan diri-sangat penting untuk mengendalikan pembelajaran seseorang dalam lingkungan digital. Rasa efikasi diri yang kuat dikaitkan dengan peningkatan kepercayaan diri, berkurangnya penundaan, serta berkurangnya kemungkinan dalam menyerah. Sementara itu, regulasi diri membantu mahasiswa dalam mengatur waktu, mengontrol perilaku, dan menjaga fokus belajar. Distraksi digital, terutama dari penggunaan media sosial, terbukti berdampak negatif terhadap konsentrasi dan hasil belajar. Dalam perspektif konseling Islami, konsep mujahadah an-nafs berperan dalam memperkuat pengendalian diri melalui nilai-nilai spiritual. Oleh karena itu, integrasi aspek psikologis dan spiritual menjadi penting dalam menghadapi tantangan pembelajaran di era digital
Pola Asuh Demokratis dalam Mendukung Perkembangan Anak: Tinjauan Literatur Diky Alwali FA; M. Fahli Zatrahadi; Miftahuddin
DZURRIYAT : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Vol. 4 No. 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/dz.v4i2.7360

Abstract

Pola asuh demokratis merupakan pendekatan pengasuhan yang menekankan kehangatan emosional, komunikasi dua arah, kebebasan yang bertanggung jawab, arahan yang jelas, serta kontrol orang tua yang konsisten. Topik ini penting karena perkembangan anak tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan biologis, tetapi juga oleh kualitas relasi keluarga, pola komunikasi, keteladanan, dan pendampingan yang diberikan orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pola asuh demokratis dalam mendukung perkembangan anak melalui tinjauan literatur. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur dengan pendekatan kualitatif-deskriptif. Data diperoleh dari artikel jurnal nasional yang relevan terbit pada tahun 2021–2026 dan buku akademik terbitan tahun 2017–2026. Literatur dipilih berdasarkan relevansi topik, keterbaruan terbitan, kejelasan identitas akademik, keterlacakan sumber, serta keterkaitan dengan pola asuh demokratis, pendidikan keluarga, dan aspek perkembangan anak. Data dianalisis menggunakan analisis isi melalui identifikasi literatur, seleksi sumber, pengelompokan tema, perbandingan temuan, dan sintesis naratif. Hasil kajian menunjukkan bahwa pola asuh demokratis mendukung perkembangan anak pada aspek sosial-emosional, bahasa dan komunikasi, kemandirian, tanggung jawab, disiplin, kepercayaan diri, karakter, serta perilaku sosial. Pola asuh demokratis bekerja melalui empat mekanisme utama, yaitu komunikasi dua arah yang mendorong anak menyampaikan gagasan, kehangatan emosional yang memperkuat rasa aman dan percaya diri, kebebasan bertanggung jawab dengan batasan yang jelas yang mendukung kemandirian dan disiplin, serta keteladanan orang tua yang konsisten dalam membentuk karakter dan perilaku sosial. Kajian ini menyimpulkan bahwa pola asuh demokratis relevan sebagai pendekatan pengasuhan keluarga untuk membangun lingkungan yang dialogis, aman, mendidik, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.
Bimbingan kelompok sebagai intervensi untuk meningkatkan kemandirian anak asuh di lembaga kesejahteraan sosial anak Kamilatul Maulidah; Listiawati Susanti; Miftahuddin; Rahmad; Suhaimi
Southeast Asian Journal of Technology and Science Vol. 7 No. 1 (2026): Southeast Asian Journal of Technology and Science
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education, and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/810711200

Abstract

Kemandirian merupakan kompetensi kritis bagi remaja di lembaga kesejahteraan sosial anak (LKSA) untuk mempersiapkan transisi menuju kehidupan mandiri di masyarakat. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas layanan bimbingan kelompok dalam meningkatkan kemandirian multidimensional anak asuh. Desain penelitian menggunakan one-group pretest-posttest dengan melibatkan 15 anak asuh berusia 15-18 tahun dari LKSA As-Shohwah Pekanbaru yang dipilih melalui purposive sampling. Intervensi terdiri dari enam sesi bimbingan kelompok yang mengintegrasikan diskusi kelompok, refleksi diri, dan peer learning untuk mengembangkan tiga dimensi kemandirian: emotional autonomy, behavioral autonomy, dan value autonomy. Data dikumpulkan menggunakan instrumen skala Likert dengan 23 item sebelum dan sesudah intervensi. Analisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test karena data posttest tidak memenuhi asumsi normalitas. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemandirian anak asuh (Z = −2.714, p = 0.007) dengan ukuran efek besar (r = 0.701). Rerata skor kemandirian meningkat dari 92.13 pada pretest menjadi 98.00 pada posttest. Temuan ini mengindikasikan bahwa bimbingan kelompok yang terstruktur mampu menjadi strategi intervensi yang efektif dan praktis untuk mengembangkan kemandirian pada anak asuh di LKSA. Implikasi praktis mencakup integrasi bimbingan kelompok dalam program pengasuhan rutin, pengembangan kapasitas fasilitator, dan kolaborasi lintas institusi untuk mendukung persiapan transisi anak asuh menuju kehidupan mandiri. Penelitian ini memberikan bukti empiris pada literatur tentang intervensi psikoedukatif berbasis kekuatan untuk anak-anak yang mengalami deprivasi keluarga.