Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Pengetahuan dan Efikasi Diri Mahasiswa Kesehatan dalam Perilaku Pencegahan Penularan Covid-19 Kartini, Kartini; Hastuti, Hera; Umara, Annisaa Fitrah; Azizah, Shieva Nur; Istifada, Rizkiyani; Wijoyo, Eriyono Budi
JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol. 5 No. 1 (2021): JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33006/ji-kes.v5i1.270

Abstract

Abstrak Mahasiswa merupakan kelompok yang memiliki mobilitas tinggi dalam aktivitas di luar rumah. Berbagai faktor mempengaruhi perilaku mahasiswa, salah satunya pengetahuan dan efikasi diri. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan hubungan pengetahuan dan efikasi diri mahasiswa dalam perilaku pencegahan penularan COVID-19 setelah satu tahun pandemi. Metode penelitian menggunakan studi kuantitatif dengan desain cross-sectional. Penelitian ini telah lolos uji etik dengan jumlah responden yang terlibat adalah 228 mahasiswa. Analisis data menggunakan tes chi-square. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan pengetahuan dan efikasi diri dengan perilaku mahasiswa dalam pencegahan penularan COVID-19 setelah satu tahun pandemi (p-value < 0,05). Akses informasi yang mudah didapat oleh mahasiswa berdampak pada peningkatan pengetahuan dan nilai efikasi diri. Oleh karena itu dibutuhkan dukungan dari berbagai lintas sektoral dan keluarga untuk mempertahankan pengetahuan dan motivasi positif mahasiswa dalam perilaku pencegahan COVID-19. Kata kunci: COVID-19, efikasi diri, mahasiswa, pengetahuan, perilaku  Abstract College students are a group that has high mobilization activity outside. Various factors influence college student behavior, one of which is knowledge and self-efficacy. The aim of this study was to describe the relationship between knowledge and self-efficacy of college students in preventing COVID-19 transmission behavior after one year of the pandemic. The research method used a quantitative study with a cross-sectional design. This research had passed the ethical test with the number of respondents involved are 228 college students. Data analysis used a chi-square test. The results showed a relationship between knowledge and self-efficacy with college student behavior in preventing COVID-19 transmission after one year of the pandemic (p-value <0,05). The information that is accessible for students has an impact on increasing knowledge and self-efficacy values. Therefore, it takes support from various sectoral and families to maintain positive knowledge and motivation of students in COVID-19 prevention behavior.Keywords: COVID-19, self-efficacy, college students, knowledge, behavior
Comprehensive Fall Risk Assessment in an Older Adult Male with Diabetes Mellitus, Hypertension, and a History of Transient Ischemic Attack Using the Morse Fall Scale and Berg Balance Test: A Case Report Ummi Malikal Balqis; Rizkiyani Istifada; Agnestria Winarto; Lailiyatul Munawaroh
Journal of Rural Community Nursing Practice Vol. 4 No. 1 (2026): March
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/jrcnp.v4i1.666

Abstract

Background: Fall risk in older adults is a multifactorial condition associated with balance impairment, muscle weakness, and chronic as well as neurological diseases, requiring a comprehensive assessment. Purpose: This case report aims to analyze fall risk in an older adult with chronic comorbidities using the Morse Fall Scale (MFS) and the Berg Balance Test (BBT). Method: A descriptive case study was conducted on a 70-year-old older adult male with a history of diabetes mellitus, hypertension, and a transient ischemic attack (TIA) in 2025, accompanied by left upper extremity weakness with a muscle strength of 4. Assessment was performed through direct clinical examination using the MFS and BBT instruments. Results: The patient scored 35 on the MFS, indicating a moderate fall risk, and 38 out of 56 on the BBT, indicating moderate balance impairment, particularly in dynamic activities. Conclusions: These findings suggest that the patient’s fall risk is influenced by a combination of post-TIA neurological factors, muscle strength imbalance, and chronic diseases. The combined use of the MFS and BBT provides a comprehensive overview of fall risk, serving as a basis for planning targeted and sustainable nursing interventions.
Comprehensive Fall Risk Assessment in an Older Adult Male with Diabetes Mellitus, Hypertension, and a History of Transient Ischemic Attack Using the Morse Fall Scale and Berg Balance Test: A Case Report Ummi Malikal Balqis; Rizkiyani Istifada; Agnestria Winarto; Lailiyatul Munawaroh
Journal of Rural Community Nursing Practice Vol. 4 No. 1 (2026): March
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/jrcnp.v4i1.666

Abstract

Background: Fall risk in older adults is a multifactorial condition associated with balance impairment, muscle weakness, and chronic as well as neurological diseases, requiring a comprehensive assessment. Purpose: This case report aims to analyze fall risk in an older adult with chronic comorbidities using the Morse Fall Scale (MFS) and the Berg Balance Test (BBT). Method: A descriptive case study was conducted on a 70-year-old older adult male with a history of diabetes mellitus, hypertension, and a transient ischemic attack (TIA) in 2025, accompanied by left upper extremity weakness with a muscle strength of 4. Assessment was performed through direct clinical examination using the MFS and BBT instruments. Results: The patient scored 35 on the MFS, indicating a moderate fall risk, and 38 out of 56 on the BBT, indicating moderate balance impairment, particularly in dynamic activities. Conclusions: These findings suggest that the patient’s fall risk is influenced by a combination of post-TIA neurological factors, muscle strength imbalance, and chronic diseases. The combined use of the MFS and BBT provides a comprehensive overview of fall risk, serving as a basis for planning targeted and sustainable nursing interventions.
Pemberdayaan Lansia Melalui Tari Toron Ka Sabeh untuk Mendukung Kekuatan Otot, Keseimbangan, dan Mobilitas di UPT PSTW Jember Ummi Malikal Balqis; Agnestria Winarto; Rizkiyani Istifada; Lailiyatul Munawaroh; Latifa Aini Susumaningrum; Rewanda Azizah Tri Indriyani; Akhvi Eka Julia
DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/djpm.v5i2.972

Abstract

Penurunan kekuatan otot, gangguan keseimbangan, dan berkurangnya mobilitas fungsional meningkatkan kerentanan lansia terhadap jatuh dan hilangnya kemandirian. Program pengabdian ini mengembangkan Tari Toron Ka Sabeh sebagai aktivitas fisik adaptif berbasis budaya lokal bagi lansia di UPT PSTW Jember. Kegiatan bertujuan mendukung kekuatan otot, keseimbangan, dan mobilitas fungsional sekaligus memperkenalkan aktivitas yang menyenangkan dan berpotensi diintegrasikan ke kegiatan rutin institusi. Program dilaksanakan dalam enam sesi yang terdiri atas satu pre-test, empat sesi tari, dan satu post-test. Setiap sesi intervensi menggunakan penjelasan interaktif, demonstrasi dan re-demonstrasi, praktik gerak terbimbing, refleksi, serta pemantauan fisik. Evaluasi berpasangan dilakukan pada 18 lansia dengan data pre-test dan post-test lengkap untuk skor komposit Manual Muscle Testing (MMT) 12 komponen, Berg Balance Test (BBT) 14 item, dan Timed Up and Go (TUG). Rata-rata MMT meningkat dari 53,44 menjadi 55,67 dan median dari 54,00 menjadi 57,50; 10 peserta meningkat, lima tetap, dan tiga menurun. Rata-rata TUG membaik dari 15,11 menjadi 14,33 detik dan median dari 14,50 menjadi 13,00 detik, walaupun respons individual heterogen. Pada BBT, rata-rata menurun dari 49,94 menjadi 47,44, sedangkan median meningkat dari 51,50 menjadi 53,00. Uji Wilcoxon eksploratif tidak menunjukkan perubahan berpasangan yang signifikan secara statistik (seluruh p > 0,05). Temuan ini lebih tepat dipahami sebagai bukti kelayakan penerapan dan sinyal awal perubahan fungsi, bukan bukti efektivitas kausal. Program perlu dilanjutkan dengan durasi lebih panjang, progresi gerak individual, pemantauan berulang, dan pengukuran proses yang lebih lengkap.
Pemberdayaan Lansia Melalui Tari Toron Ka Sabeh untuk Mendukung Kekuatan Otot, Keseimbangan, dan Mobilitas di UPT PSTW Jember Ummi Malikal Balqis; Agnestria Winarto; Rizkiyani Istifada; Lailiyatul Munawaroh; Latifa Aini Susumaningrum; Rewanda Azizah Tri Indriyani; Akhvi Eka Julia
DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/djpm.v5i2.972

Abstract

Penurunan kekuatan otot, gangguan keseimbangan, dan berkurangnya mobilitas fungsional meningkatkan kerentanan lansia terhadap jatuh dan hilangnya kemandirian. Program pengabdian ini mengembangkan Tari Toron Ka Sabeh sebagai aktivitas fisik adaptif berbasis budaya lokal bagi lansia di UPT PSTW Jember. Kegiatan bertujuan mendukung kekuatan otot, keseimbangan, dan mobilitas fungsional sekaligus memperkenalkan aktivitas yang menyenangkan dan berpotensi diintegrasikan ke kegiatan rutin institusi. Program dilaksanakan dalam enam sesi yang terdiri atas satu pre-test, empat sesi tari, dan satu post-test. Setiap sesi intervensi menggunakan penjelasan interaktif, demonstrasi dan re-demonstrasi, praktik gerak terbimbing, refleksi, serta pemantauan fisik. Evaluasi berpasangan dilakukan pada 18 lansia dengan data pre-test dan post-test lengkap untuk skor komposit Manual Muscle Testing (MMT) 12 komponen, Berg Balance Test (BBT) 14 item, dan Timed Up and Go (TUG). Rata-rata MMT meningkat dari 53,44 menjadi 55,67 dan median dari 54,00 menjadi 57,50; 10 peserta meningkat, lima tetap, dan tiga menurun. Rata-rata TUG membaik dari 15,11 menjadi 14,33 detik dan median dari 14,50 menjadi 13,00 detik, walaupun respons individual heterogen. Pada BBT, rata-rata menurun dari 49,94 menjadi 47,44, sedangkan median meningkat dari 51,50 menjadi 53,00. Uji Wilcoxon eksploratif tidak menunjukkan perubahan berpasangan yang signifikan secara statistik (seluruh p > 0,05). Temuan ini lebih tepat dipahami sebagai bukti kelayakan penerapan dan sinyal awal perubahan fungsi, bukan bukti efektivitas kausal. Program perlu dilanjutkan dengan durasi lebih panjang, progresi gerak individual, pemantauan berulang, dan pengukuran proses yang lebih lengkap.