Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

PENINGKATAN DISOLUSI ETIL P-METOKSISINAMAT MELALUI KOKRISTALISASI DENGAN ASAM TARTRAT: EVALUASI MULTI-PH UNTUK OPTIMALISASI BIOAVAILABILITAS ORAL Revika Rachmaniar; Rival Ferdiansyah; Fauzan Ahmad Mudzakkir; Nela Simanjuntak
Pharma Xplore : Jurnal Sains dan Ilmu Farmasi Vol 10 No 2 (2025): Pharma Xplore : Jurnal Sains dan Ilmu Farmasi
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/h8y2bs27

Abstract

Ethyl p-methoxycinnamate (EPMC) is a bioactive compound from Kaempferia galanga rhizome with potential anti-inflammatory and anticancer activities as a new drug candidate. However, the low solubility of EPMC (128.1 mg/L) classified as BCS class II limits its dissolution rate and bioavailability. This study aimed to increase the dissolution rate of EPMC through cocrystal formation with tartaric acid, and to determine the optimal coformer ratio and pH condition that provides the greatest dissolution enhancement. EPMC-tartaric acid cocrystals were prepared using solvent drop grinding method with stoichiometric ratios of 1:1, 1:2, and 1:3. Particulate dissolution testing was performed using type II dissolution apparatus in three buffer media (HCl pH 1.2; acetate pH 4.5; phosphate pH 6.8) at 37±0.5°C for 60 minutes (n=3). Cocrystal ratio 1:3 in HCl medium pH 1.2 provided the best result with dissolution enhancement up to 8.5-fold compared to pure EPMC (p<0.05). Significant improvements also occurred in all tested pH media. Cocrystallization with tartaric acid successfully increased EPMS dissolution significantly at all pH conditions, with potential to enhance oral bioavailability of EPMC as an anti-inflammatory drug candidate.
FORMULASI ACNE PATCH ETIL p-METOKSISINAMAT SEBAGAI ANTI JERAWAT MENGGUNAKAN BOX-BEHNKEN DESIGN Salma Ruhaimatul Badari; Wahyu Priyo Legowo; Adang Firmansyah; Adit Andriyannto; Revika Rachmaniar
Pharma Xplore : Jurnal Sains dan Ilmu Farmasi Vol 11 No 1 (2026): Pharma Xplore : Jurnal Sains dan Ilmu Farmasi
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/zsz7vd71

Abstract

Jerawat merupakan masalah kulit yang banyak dijumpai pada usia remaja hingga dewasa, dengan prevalensi 80–85% di Indonesia. Senyawa etil p-metoksisinamat (EPMS) yang diisolasi dari rimpang kencur (Kaempferia galanga L.) telah dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri terhadap Propionibacterium acnes, bakteri utama pemicu jerawat, dengan konsentrasi hambat minimum (KHM) sebesar 1,2%. Untuk meningkatkan efektivitas serta kenyamanan penggunaan, dikembangkan sediaan topikal inovatif berupa acne patch. Penelitian ini bertujuan menentukan formula optimum acne patch EPMS menggunakan Box–Behnken Design dengan tiga faktor, yaitu konsentrasi HPMC (3–6%), PVP (1–2%), dan durasi pengadukan (15–30 menit). Parameter respon yang dievaluasi meliputi ketebalan patch, daya lipat, dan daya lekat. Pembuatan sediaan dilakukan dengan melarutkan polimer dalam pelarut, kemudian dikeringkan hingga membentuk lembaran. Hasil optimasi menunjukkan formula optimum paling sesuai terdiri atas HPMC 3,213%, PVP 1,022%, dan waktu pengadukan 17,535 menit, dengan nilai desirabilitas 1,000. Evaluasi fisik menunjukkan ketebalan 0,2 ± 0 mm, daya lekat 810,667 ± 20,133 detik, daya lipat 207,333 ± 2,517 kali, pH 5,68 ± 0,168, serta kelembapan 29,4 ± 2,623%. Aktivitas antibakteri yang dihasilkan mencapai zona hambat 6,6 ± 0,736 mm, lebih besar dibandingkan EPMS tunggal. Temuan ini menegaskan bahwa acne patch yang dikembangkan memiliki karakteristik fisik yang baik dan aktivitas antibakteri yang efektif untuk aplikasi topikal, meskipun penyesuaian terhadap kadar kelembapan masih diperlukan untuk meningkatkan stabilitas sediaan.
Formulation of Ethyl p-Methoxycinnamate (EPMC) Clay Mask as an Anti-Acne Agent Using a Box–Behnken Design Andriyannto, Adit; Legowo, Wahyu Priyo; Firmansyah, Adang; Rachmaniar, Revika
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 13, No 2 (2026)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijpst.v13i2.68948

Abstract

Jerawat merupakan gangguan kulit yang umum terjadi dan memengaruhi sekitar 80–85% remaja serta dewasa muda di Indonesia. Pada penelitian sebelumnya, ethyl p-methoxycinnamate (EPMC) merupakan senyawa utama dari rimpang kencur (Kaempferia galanga L.) yang memiliki aktivitas antibakteri dengan konsentrasi hambat minimum (KHM) sebesar 1,2% b/v terhadap Cutibacterium acnes, bakteri utama penyebab jerawat. Dalam upaya meningkatkan kemudahan penggunaan dan potensi terapinya, dikembangkan sediaan masker clay sebagai sistem penghantaran topikal yang inovatif. Penelitian ini bertujuan memperoleh formula masker clay yang teroptimasi menggunakan Desain Box–Behnken, dengan kaolin (15–30% b/b), bentonit (1–2% b/b), dan xanthan gum (0,5–1% b/b) sebagai faktor, serta respon yang dievaluasi meliputi pH, viskositas, dan waktu mengering. Optimasi menghasilkan formula optimum yang mengandung 26,925% b/b kaolin, 1,808% b/b bentonit, dan 0,854% b/b xanthan gum dengan nilai desirabilitas 1,000. Masker clay optimum memiliki pH 7,560 ± 0,0899, viskositas 20.583,33 ± 650,85 mPa·s, waktu mengering 25,58 ± 1,36 menit, daya sebar 4,038 ± 0,096 cm, daya lekat 8,80 ± 1,018 detik dan uji antibakteri menunjukkan zona hambat sedang sebesar 6,969 ± 0,896 mm, lebih besar dibandingkan EPMC murni. Secara keseluruhan, formula optimum masker clay EPMC menunjukkan sifat fisik yang baik serta aktivitas antibakteri dalam kategori sedang yang berpotensi mendukung terapi jerawat.
Tinjauan Komprehensif Jenis Dan Teknik Fabrikasi Microneedle Sebagai Sistem Penghantaran Obat Transdermal Rianingsih Dwi Astuti Mundandar; Hesti Riasari; Revika Rachmaniar
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1197

Abstract

Pendahuluan: Microneedle merupakan teknologi inovatif dalam sistem penghantaran obat transdermal yang berkembang pesat dalam dua dekade terakhir. Berbagai jenis dan metode fabrikasi telah dikembangkan, namun belum banyak kajian yang membandingkan keduanya secara terintegrasi. Tujuan: Artikel ini bertujuan mengulas tren penelitian, jenis, metode fabrikasi, serta aplikasi microneedle di bidang farmasi dan kosmetik dalam suatu kerangka analisis komparatif. Metode: Studi literatur sistematis dilakukan dengan penelusuran pada basis data PubMed, Scopus, dan Google Scholar menggunakan kata kunci “microneedle”, “microneedle types”, “microneedle fabrication”, dan “transdermal drug delivery”. Kriteria inklusi mencakup artikel penelitian dan tinjauan berbahasa Inggris yang dipublikasikan pada rentang 2000–2025 dan relevan dengan topik. Kriteria eksklusi meliputi artikel yang tidak tersedia secara penuh, duplikasi, dan studi yang tidak berfokus pada pengembangan microneedle. Berdasarkan proses seleksi diperoleh 65 artikel yang dianalisis secara komprehensif. Hasil: Dissolving microneedle merupakan jenis yang paling dominan dalam tren penelitian terkini, dengan perkembangan signifikan pada metode fabrikasi berbasis micromolding dan 3D printing. Kombinasi 3D printing untuk pembuatan master mold dan micromolding untuk replikasi massal teridentifikasi sebagai pendekatan paling prospektif. Teknologi microneedle menunjukkan potensi besar dalam aplikasi vaksin, terapi obat, dan kosmetik, meskipun masih menghadapi tantangan pada aspek regulasi dan skalabilitas produksi. Simpulan: Microneedle, khususnya jenis dissolving, memiliki prospek menjanjikan sebagai platform penghantaran obat yang efektif, aman, dan inovatif di masa depan.
Evaluasi Sistem Penghantaran Obat Transdermal Berbasis Microneedle: Tinjauan Karakterisasi, Farmakokinetik, Efikasi, Stabilitas, Dan Keamanan Kiki Kania; Revika Rachmaniar; Sani Nurlaela Fitriansyah
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1715

Abstract

Pendahuluan: Microneedle merupakan sistem penghantaran obat transdermal inovatif yang menggunakan jarum berukuran mikro (150–1500 µm) untuk menembus stratum corneum secara minimal invasif. Meskipun teknologi ini telah berkembang sejak akhir 1990-an, panduan terintegrasi mengenai parameter evaluasi yang harus dilakukan dalam pengembangan microneedle masih terbatas, sehingga menyulitkan standardisasi metode dan komparasi hasil antar studi. Tujuan: Review ini bertujuan menyusun kerangka sistematis parameter evaluasi yang perlu dilakukan dalam karakterisasi dan pengembangan sediaan microneedle, yang mencakup enam domain utama: karakterisasi struktur dan sifat fisik, evaluasi sediaan, profil farmakokinetik, efikasi, stabilitas, dan keamanan. Metode: Penelusuran literatur secara naratif-sistematis dilakukan pada basis data PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar terhadap publikasi periode 2018–2025 menggunakan kata kunci microneedle yang dikombinasikan dengan operator Boolean AND/OR. Kriteria inklusi meliputi artikel penelitian asli berbahasa Inggris pada microneedle berbasis polimer yang dimuat zat aktif dan melaporkan minimal satu parameter evaluasi. Hasil: Identifikasi literatur menghasilkan enam domain evaluasi yang harus dilakukan: (1) karakterisasi struktur melalui Scanning Electron Microscopy (SEM), pengukuran kekuatan mekanik (rentang 0,22–32 N), dan ketebalan patch (38 µm–1 mm); (2) evaluasi sediaan melalui insertion test (kedalaman penetrasi 200–600 µm), drug loading (38–99%), uji disolusi (1,5–20 menit), uji difusi Franz cell, dan kadar kelembapan (2,25–3,8%); (3) studi farmakokinetik in vivo yang ditunjukkan pada patch microneedle cannabidiol dengan bioavailabilitas relatif 144,70% dibandingkan injeksi subkutan; (4) evaluasi efikasi yang disesuaikan dengan indikasi terapeutik (antikanker, antidiabetes, antiinflamasi, antihipertensi, antibakterial, dan dermatologi); (5) uji stabilitas mengacu pada pedoman ICH Q1A (R2) dengan kondisi dipercepat, intermediet, dan jangka panjang; serta (6) evaluasi keamanan melalui uji iritasi Draize dengan parameter Primary Irritation Index (PII) yang menunjukkan iritasi ringan dan reversibel. Simpulan: Pengembangan sediaan microneedle yang berkualitas mensyaratkan pelaksanaan keenam domain evaluasi secara terpadu. Kerangka sistematis ini dapat menjadi acuan standar bagi peneliti dan pengembang microneedle di Indonesia, sekaligus mendorong harmonisasi metode evaluasi dengan pedoman internasional untuk memfasilitasi translasi klinis dan registrasi produk domestik.
Pemberdayaan Siswa Melalui Edukasi dan Skrining Talasemia Berbasis Sekolah untuk Mendukung Deteksi Dini Yefi Ardyanti; Revika Rachmaniar; Adang Firmansyah
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27699

Abstract

ABSTRAK Talasemia sebagai kelainan genetik dengan konsekuensi kesehatan jangka panjang memerlukan strategi pencegahan yang tidak hanya berorientasi pada penanganan penderita, tetapi juga pada peningkatan literasi kesehatan, deteksi dini pembawa sifat (carrier), dan penguatan dukungan tindak lanjut pada kelompok remaja. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa mengenai talasemia sekaligus memperluas partisipasi dalam deteksi dini melalui integrasi edukasi, skrining, dan pendampingan berbasis sekolah. Kegiatan dilaksanakan pada delapan satuan pendidikan tingkat SMA, SMK, dan MA di Provinsi Jawa Barat dengan sasaran edukasi sebanyak 1.860 siswa. Evaluasi kegiatan melibatkan 350 siswa melalui kuesioner, sedangkan skrining talasemia diikuti oleh 309 siswa dengan mempertimbangkan ketersediaan perangkat dan kapasitas pemeriksaan. Hasil skrining menunjukkan terdapat 27 siswa yang memerlukan perhatian dan tindak lanjut lebih lanjut terkait kemungkinan status pembawa sifat talasemia. Hubungan antara edukasi, kesadaran, dan partisipasi skrining dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS), yang menunjukkan koefisien jalur positif edukasi terhadap kesadaran sebesar β = 0,451, edukasi terhadap partisipasi skrining sebesar β = 0,486, dan kesadaran terhadap partisipasi skrining sebesar β = 0,435. Temuan tersebut menunjukkan bahwa edukasi memiliki posisi penting dalam membangun kesadaran dan mendorong keterlibatan siswa dalam deteksi dini, sedangkan pendampingan memperkuat kesinambungan program melalui keterlibatan siswa, keluarga, tenaga kesehatan, dan organisasi terkait talasemia. Program ini menunjukkan bahwa integrasi edukasi, skrining, dan pendampingan dapat menjadi pendekatan promotif dan preventif berbasis sekolah yang relevan untuk memperkuat deteksi dini talasemia. Pengembangan program selanjutnya perlu diarahkan pada perluasan cakupan skrining, penguatan sistem rujukan, peningkatan keterlibatan keluarga, serta penguatan jejaring layanan kesehatan agar proses tindak lanjut berlangsung secara berkelanjutan. Kata Kunci: Talasemia, Edukasi Kesehatan, Deteksi Dini, Skrining, Carrier, Remaja, Pemberdayaan Berbasis Sekolah.  ABSTRACTThalassemia, as a genetic disorder with long-term health consequences, requires preventive strategies that extend beyond the treatment of affected individuals to include improving health literacy, early detection of thalassemia carriers, and strengthening follow-up support among adolescents. This community service program aimed to improve students’ understanding and awareness of thalassemia while increasing participation in early detection through an integrated school-based approach combining education, screening, and mentoring. The program was implemented in eight senior high schools, vocational high schools, and Islamic senior high schools in West Java Province, involving 1,860 students as the target population for health education. Program evaluation involved 350 students through questionnaires, while thalassemia screening was conducted among 309 students, taking into account the availability of screening equipment and examination capacity. The screening results identified 27 students who required further attention and follow-up regarding the possibility of being thalassemia carriers. The relationships among education, awareness, and screening participation were analyzed using Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS). The analysis showed positive path coefficients from education to awareness (β = 0.451), education to screening participation (β = 0.486), and awareness to screening participation (β = 0.435). These findings indicate that education plays an important role in developing awareness and encouraging student participation in early detection, while mentoring strengthens program continuity through the involvement of students, families, healthcare professionals, and thalassemia-related organizations. The program demonstrates that integrating education, screening, and mentoring can serve as a relevant school-based promotive and preventive approach to strengthening early thalassemia detection. Future program development should focus on expanding screening coverage, strengthening referral systems, increasing family involvement, and reinforcing healthcare service networks to ensure sustainable follow-up. Keywords: Thalassemia, Health Education, Early Detection, Screening, Carrier, Adolescents, School-Based Empowerment.