Claim Missing Document
Check
Articles

EDUKASI EMOSI REMAJA: TEKNIK REGULASI EMOSI BUTTERFLY HUG SEBAGAI SOLUSI MENINGKATKAN BELAS KASIH DIRI SISWA Ramadhani, Ayunda; Suhesty, Aulia; Handayani, Nanik; Firjatullah, Firjatullah; Nurdin, Nurafifah
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 6 (2024): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i6.26863

Abstract

Abstrak: Remaja banyak mengalami tekanan sosial dari lingkungan, tuntutan akademik dan adanya perubahan yang signifikan baik dari aspek fisik maupun psikologis. Keadaan yang demikian, ditambah dengan perubahan emosional yang dirasakan remaja dapat membuat remaja rentan melakukan hal-hal yang berisiko seperti self-harm. Untuk mengatasi emosi-emosi negatif, remaja terlebih dahulu harus memberikan kepedulian dan pemahaman pada diri sendiri saat menghadapi permasalahan dan tekanan yang terjadi melalui sikap belas kasih terhadap diri sendiri. Tujuan dari pengabdian ini ialah meningkatkan belas kasih diri siswa melalui Butterfly Hug. Kegiatan ini dilakukan di SMP Fastabiqul Khairat Samarinda dan diikuti 185 siswa, metode yang digunakan ialah pemaparan materi, praktek, uji pre-test dan uji post-test. Terdapat peningkatan signifikan belas kasih diri siswa dari hasil uji beda yang dilakukan sebesar 0.008 > 0.05. Perbedaan yang signifikan, menandakan bahwa teknik ini dapat membantu siswa mengelola emosi mereka dengan lebih baik dan dapat mengelola emosinya secara lebih adaptif.Abstract: Adolescents often experience social pressure from their environment, academic demands, and significant changes in both physical and psychological aspects. These circumstances, combined with the emotional changes that adolescents feel, can make them vulnerable to engaging in risky behaviors such as self-harm. To cope with negative emotions, adolescents must first cultivate self-care and understanding when facing problems and pressures, through self-compassion. The aim of this service project is to enhance students' self-compassion through the Butterfly Hug technique. This activity was conducted at SMP Fastabiqul Khairat Samarinda and involved 185 students. The methods used included material presentation, practice, pre-test, and post-test evaluations. There was a significant increase in students' self-compassion, as indicated by the results of the difference test, which showed a value of 0.008 > 0.05. The significant difference indicates that this technique can help students manage their emotions more effectively and adaptively.
Understanding Psychosocial Factors Influencing Subjective Well-Being in Perinatal Mothers: A Systematic Literature Review Nadya Novia Rahman; Ayunda Ramadhani; Aulia Ramdani
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 2 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i2.26206

Abstract

The perinatal period represents a complex and vulnerable developmental transition characterized by substantial biological, psychological, social, and environmental changes. Maternal subjective well-being during this phase extends beyond the absence of mental disorders and encompasses life satisfaction, positive affect, perceived competence, and meaningful engagement in the maternal role. This study aimed to systematically synthesize psychosocial determinants influencing subjective well-being among perinatal mothers through a systematic literature review approach. Inclusion criteria comprised peer-reviewed English-language journal articles published between 2010 and 2026 that examined intrapersonal, relational, socioeconomic, and environmental determinants among pregnant and postpartum women. Following the PRISMA framework, 17 studies met the eligibility criteria and were included in the final analysis. The findings indicate that emotional regulation, maternal self-efficacy, risk perception, childbirth experience, sleep quality, social support, stigma, socioeconomic conditions, and environmental stressors are key interacting determinants shaping maternal subjective well-being. Furthermore, psychosocial interventions such as psychoeducation, cognitive-emotional regulation-based programs, and digital support platforms demonstrate promising potential in enhancing maternal resilience. The results underscore the importance of adopting an ecological framework integrating individual, relational, and structural dimensions to comprehensively understand maternal well-being. This review shifts the focus from a pathology-oriented perspective toward a strength-based and well-being-centered paradigm and provides important implications for maternal mental health policy development and preventive intervention strategies.Periode perinatal merupakan fase transisi perkembangan yang kompleks dan rentan, ditandai oleh perubahan biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan yang signifikan. Kesejahteraan subjektif ibu pada masa ini tidak hanya mencerminkan ketiadaan gangguan mental, tetapi juga mencakup kepuasan hidup, afek positif, rasa kompetensi, serta makna dalam menjalankan peran keibuan. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis secara sistematis faktor-faktor psikososial yang memengaruhi kesejahteraan subjektif ibu perinatal melalui pendekatan systematic literature review. Kriteria inklusi meliputi artikel jurnal peer-reviewed berbahasa Inggris yang diterbitkan antara 2010–2026 dan meneliti determinan intrapersonal, relasional, sosial ekonomi, serta lingkungan terhadap kesejahteraan subjektif ibu hamil dan postpartum. Proses seleksi mengikuti kerangka PRISMA dan menghasilkan 17 artikel yang memenuhi kriteria. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa regulasi emosi, self-efficacy maternal, persepsi risiko, pengalaman persalinan, kualitas tidur, dukungan sosial, stigma, kondisi sosial ekonomi, serta stresor lingkungan merupakan determinan utama yang saling berinteraksi dalam membentuk kesejahteraan subjektif. Selain itu, intervensi psikososial seperti psikoedukasi, cognitive-emotional regulation, dan dukungan berbasis digital terbukti berpotensi meningkatkan resiliensi maternal. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan ekologi yang mengintegrasikan faktor individual, relasional, dan struktural dalam memahami kesejahteraan ibu perinatal. Studi ini berkontribusi dengan menggeser paradigma dari pendekatan berbasis patologi menuju perspektif berbasis kekuatan dan kesejahteraan, serta memberikan implikasi bagi pengembangan kebijakan dan strategi promotif-preventif kesehatan mental maternal.
DARI KEBERSAMAAN BERUJUNG KECANDUAN: KONFORMITAS DAN KECENDERUNGAN ADIKSI JUDI ONLINE PADA DEWASA AWAL Mirna Yulianti; Ayunda Ramadhani
Jurnal Psikohumanika Vol 18 No 1 (2026): Jurnal Psikohumanika
Publisher : Program Studi S1 Psikologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/j.psi.v18i1.2962

Abstract

Kemajuan teknologi turut memicu perilaku berisiko seperti judi online pada dewasa awal. Pada fase ini, tekanan lingkungan dan dorongan mengikuti teman sebaya menjadi faktor yang mendorong keterlibatan dalam perjudian online. Penelitian ini mengkaji hubungan antara konformitas dan kecenderungan adiksi judi online pada dewasa awal dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang, dengan pengumpulan data dari N = 150 partisipan menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala berbasis kuesioner yang dimodifikasi untuk mengukur kecenderungan adiksi judi online (α = 0,822) dan konformitas (α = 0,968). Analisis dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson dalam SPSS 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif sangat kuat dan signifikan antara konformitas dengan kecenderungan adiksi judi online (r = 0,863; p 0,000 < 0,05). Temuan ini menegaskan bahwa dewasa awal perlu mengendalikan tekanan kelompok dan memperkuat kemandirian dalam mengambil keputusan agar tidak mudah terlibat dalam judi online. Penyedia layanan kesehatan dan pemerintah didorong untuk mengembangkan strategi yang lebih komrehensif di luar intervensi untuk mengurangi tingkat kecanduan perjudian online.
HUBUNGAN ANTARA KESEPIAN DENGAN KECENDERUNGAN KECANDUAN GAME ONLINE MOBILE LEGENDS PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR Nabilla Chairunnisa; Ayunda Ramadhani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12977

Abstract

Academic pressure during the preparation of the final thesis and the lack of real social interaction in the campus environment are the background of this research. These operational problems trigger excessive emotional distress that encourages students to escape into uncontrolled cyber activities. The main focus of this scientific study is to dissect and empirically test the relationship between loneliness and the tendency to be addicted to the online game Mobile Legends in final year students. The steps of this quantitative descriptive correlational research path are operated through purposive sampling of 140 active respondents at Mulawarman University with the criteria of playing duration exceeding four hours per day. The field data collection procedure was collected through the distribution of standardized Likert scale questionnaires, which were then executed using the Pearson Product Moment correlation analysis technique assisted by SPSS software version 27. Quantitative data empirically revealed a positive and significant relationship with the achievement of a correlation coefficient value of r of 0.488 at a significance parameter p less than 0.05. The test results proved that the majority of subjects were in the very high addiction category reaching 66.4 percent and a very high level of loneliness at 50.7 percent. The main conclusion confirms that feelings of emptiness due to limited real-life social relationships have been shown to significantly accelerate virtual world addiction. Academic practitioners are recommended to draft consistent emotion regulation counseling strategies. ABSTRAK Tekanan akademik selama penyusunan tugas akhir skripsi serta minimnya interaksi sosial nyata di lingkungan kampus melatarbelakangi penelitian ini. Masalah operasional tersebut memicu timbulnya distres emosional berlebih yang mendorong mahasiswa melarikan diri ke aktivitas siber secara tidak terkontrol. Fokus utama kajian ilmiah ini adalah membedah dan menguji secara empiris hubungan antara kesepian dengan kecenderungan kecanduan game online Mobile Legends pada mahasiswa tingkat akhir. Langkah-langkah jalur riset kuantitatif deskriptif korelasional ini dioperasikan melalui penarikan sampel secara purposive sampling terhadap 140 responden aktif di Universitas Mulawarman dengan kriteria durasi bermain melebihi empat jam per hari. Prosedur pengumpulan data lapangan dihimpun lewat penyebaran kuesioner skala Likert terstandardisasi, yang selanjutnya dieksekusi menggunakan teknik analisis korelasi Product Moment Pearson berbantuan perangkat lunak SPSS versi 27. Data kuantitatif secara empiris menyingkap adanya hubungan positif dan signifikan dengan capaian nilai koefisien korelasi r sebesar 0,488 pada parameter signifikansi p kurang dari 0,05. Hasil pengujian membuktikan bahwa mayoritas subjek berada pada kategori kecanduan sangat tinggi mencapai 66,4 persen dan tingkat kesepian sangat tinggi sebesar 50,7 persen. Simpulan utama menegaskan bahwa perasaan hampa akibat keterbatasan relasi sosial nyata terbukti kuat mempercepat adiksi dunia virtual. Praktisi akademis direkomendasikan merancang draf strategi konseling regulasi emosi secara konsisten.    
Big Five Personality Traits as Predictors of Social Media Addiction in Young Adult Men Febian Satrio Nugraha; Ayunda Ramadhani; Aulia Suhesty; Aulia Ramdani
Jurnal Psikologi Perseptual Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Fakultas of Psychology, Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v11i1.16690

Abstract

Intensive social media use among young adults often develops into addictive behavior that disrupts daily functioning. However, susceptibility to this addiction varies between individuals, strongly suspected to be influenced by differences in personality characteristics. This study aims to examine the correlation between Big Five personality traits and social media addiction tendencies in young adult men (18–25 years old). The research method used a quantitative approach with a correlational design. The sample consisted of young adult men selected via purposive sampling. The results showed a significant negative correlation between conscientiousness and social media addiction (r = -0.216; p = .031). Furthermore, there was also a significant negative correlation between agreeableness and social media addiction (r = -0.203; p = .043). Finally, a significant positive correlation was found between neuroticism and social media addiction (r = 0.234; p = .019). These findings indicate that conscientiousness and agreeableness traits can be protective factors, while neuroticism can be a risk factor for social media addiction. This study confirms that the Big Five personality dimensions play an important role in explaining vulnerability and resilience to social media addiction in young adult men. Penggunaan media sosial yang intensif di kalangan dewasa muda sering kali berkembang menjadi perilaku adiktif yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Namun, kerentanan terhadap kecanduan ini bervariasi antarindividu, yang diduga kuat dipengaruhi oleh perbedaan karakteristik kepribadian. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji korelasi antara lima dimensi kepribadian (Big Five) dan kecenderungan kecanduan media sosial pada pria dewasa muda (usia 18–25 tahun). Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasi. Sampel terdiri dari pria dewasa muda yang dipilih melalui sampling purposif. Hasil menunjukkan korelasi negatif yang signifikan antara conscientiousness dan kecanduan media sosial (r = -0,216; p = 0,031). Selain itu, terdapat pula korelasi negatif yang signifikan antara agreeableness dan kecanduan media sosial (r = -0,203; p = 0,043). Terakhir, ditemukan korelasi positif yang signifikan antara neuroticism dan kecanduan media sosial (r = 0,234; p = 0,019). Temuan ini menunjukkan bahwa sifat-sifat kesadaran diri dan keramahan dapat menjadi faktor pelindung, sedangkan neurotisisme dapat menjadi faktor risiko kecanduan media sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa dimensi kepribadian Big Five memainkan peran penting dalam menjelaskan kerentanan dan ketahanan terhadap kecanduan media sosial pada pria dewasa muda.
Psikodrama: Budaya Kalimantan Timur Untuk Meningkatkan Literasi Budaya Pada Gen Milenial Ayunda Ramadhani; Yolanda Sonia Cindy Putri; Aditya Ramadhan; Sarah Maulida; Muhliansyah Muhliansyah
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 7, No 1 (2018): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v7i1.2394

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan tingkat literasi budaya pada mahasiswa psikologi Universitas Mulawarman. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa psikologi angkatan 2017 Universitas Mulawarman dengan jumlah sampel 32 mahasiswa yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data yang didapat dianalisis dengan bantuan program Statistical Package for Social Sciences (SPSS) 21.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ada perbedaan tingkat literasi budaya setelah diberikan perlakuan psikodrama dengan t hitung = -5,762 < t tabel = 2,042 dan ? = 0,000 (? > 0.05). (2) tidak ada perbedaan tingkat literasi budaya pada post test dan follow up setelah diberikan perlakuan berupa psikodrama dengan t hitung = 1,017 < t tabel =2,042 dan ? = 0,325 (? > 0.05). (3) ada perbedaan tingkat literasi budaya setelah diberikan perlakuan berupa mendengarkan rekaman suara psikodrama dengan t hitung = 4,267 > t tabel = 2,042 dan ? = 0,000 (? > 0.05). (4) ada perbedaan tingkat literasi budaya post test dan follow up diberikan perlakuan berupa mendengarkan rekaman suara t hitung = -0,328 < t tabel =2,042 dan ? = -0,188 (? < 0.05). (5) tidak ada perbedaan tingkat literasi budaya pada post test antara perlakuan berupa psikodrama dan mendengarkan rekaman suara dengan t hitung = 1,230 < t tabel = 2,042 dan ? = 0,228 (? > 0.05). (6) tidak ada perbedaan tingkat literasi budaya pada post test antara perlakuan berupa psikodrama dan mendengarkan rekaman suara dengan t hitung = 1,119 < t tabel = 2,042 dan ? = 0,272 (? > 0.05).
Hubungan antara Stress Akademik dengan Kecenderungan Kecanduan Game Online Mobile Legends pada Mahasiswa Tingkat Akhir Rafif Rizkullah; Ayunda Ramadhani
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.13785

Abstract

Mahasiswa tingkat akhir menghadapi tekanan akademik yang tinggi sehingga rentan mengalami stresakademik, sementara di sisi lain tingginya penggunaan game online seperti Mobile Legends dimanfaatkansebagai bentuk pelarian yang berpotensi menimbulkan kecanduan. Namun, penelitian sebelumnya masihterbatas karena belum secara spesifik mengkaji mahasiswa tingkat akhir serta belum mendalami peran stresakademik sebagai faktor yang memengaruhi kecanduan game online. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui hubungan antara stres akademik dengan kecenderungan kecanduan game online Mobile Legendspada mahasiswa tingkat akhir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional.Subjek penelitian adalah 140 mahasiswa tingkat akhir Universitas Mulawarman yang dipilih menggunakanteknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan skala Likert, sedangkan analisis datamenggunakan teknik Pearson Correlation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hipotesis diterima, yaituterdapat hubungan positif yang signifikan antara stres akademik dengan kecenderungan kecanduan gameonline dengan nilai r = 0,637 dan p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti semakin tinggi stres akademik, makasemakin tinggi pula kecenderungan kecanduan game online Mobile Legends pada mahasiswa tingkat akhir.