Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Penerapan Buku Saku “Peduli Stunting” Terhadap Tingkat Pengetahuan dan Sikap Ibu di Wilayah Pinggiran Sungai Kapuas Kota Pontianak Masmuri, Masmuri; Seprian, Dwin; Limansyah, Dodik; Rusnaini, Rusnaini
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 7 (2024): Volume 4 Nomor 7 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i7.14609

Abstract

ABSTRACT Stunting is one of the problems that exists in communities along the Kapuas River in West Kalimantan. Low levels of knowledge and inadequate attitudes or practices regarding the care of children with stunting are some of the causes of stunting. The characteristics of the people on the banks of the Kapuas River are generally people who are still very closely related to the culture they adhere to. This research aims to examine the effectiveness of implementing the "Peduli Stunting" pocketbook on the level of knowledge and attitudes of mothers with stunted children in the Kapuas River area, Pontianak City. Research method is a quantitative quasi-experiment with a pre-test and post-test with a control group approach with 100 respondents using Total Sampling which is divided into 2 groups (50 respondents in the intervention group and 50 respondents in the control group). The results of the analysis found differences in the level of knowledge and attitudes of mothers before and after intervention with the pocketbook media "Peduli Stunting" with a significant value of 0.000 (p < 0.05). In this study, mothers' knowledge and attitudes cannot be separated from the influence of culture held by marginalized communities Sungai Kapuas which believes that breastfeeding mothers should not give their babies first breast milk because it is thought to contain bacteria and spoiled milk and before they are six months old, babies are given additional food, such as banana "lothe" so that they do not fuss. This research concludes that the pocketbook "Peduli Stunting" increases the knowledge and attitudes of mothers on the Kapuas River in fulfilling and managing the nutrition of children with stunting. In areas where people live on the banks of rivers, there are still many myths and beliefs according to the culture held by the community about what foods can and cannot be given to toddlers. Most of these prohibited foods meet the nutritional needs of toddlers as they grow and develop. The mother's unfavorable attitude is influenced by the culture adopted based on the community's ethnicity. Education with the pocketbook "Peduli Stunting" can be applied Keywords: Stunting, Pocketbook, Knowledge, Attitude  ABSTRAK Stunting merupakan salah satu permasalahan yang ada pada masyarakat pinggiran sungai Kapuas di Kalimantan Barat. Tingkat pengetahuan yang rendah dan sikap atau praktik yang kurang memadai tentang perawatan anak dengan stunting adalah beberapa penyebab terjadinya stunting. Karakteristik masyarakat pinggiran sungai Kapuas juga pada umumnya ialah masyarakat yang masih sangat erat kaitannya dengan budaya yang dianutnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji efektivitas penerapan buku saku “Peduli Stunting” Terhadap Tingkat Pengetahuan dan Sikap pada Ibu dengan Anak Stunting Di Wilayah Pinggiran Sungai Kapuas Kota Pontianak. Metode Penelitian ini adalah kuantitatif quasy experiment dengan pendekatan pre-test post-test with control group dengan responden berjumlah 100 responden menggunakan Total Sampling yang dibagi menjadi 2 kelompok (50 responden kelompok intervensi dan 50 responden kelompok kontrol). Hasil analisis ditemukan perbedaan tingkat pengetahuan dan sikap ibu sebelum dan sesudah intervensi dengan media buku saku “Peduli Stunting” dengan nilai signifikan yaitu 0,000 (p < 0,05), pada penelitian ini pengetahuan dan sikap ibu tidak lepas dari pengaruh budaya yang dianut masyarakat pinggiran sungai Kapuas yang beranggapan bahwa ibu menyusui tidak boleh memberikan ASI pertama pada bayinya karena dianggap mengandung bakteri dan susu yang basi dan sebelum berusia enam bulan, bayi diberikan makanan tambahan, seperti "lothe" pisang, agar mereka tidak rewel. Kesimpulan dari penelitian ini adalah buku saku “Peduli Stunting” meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu pinggiran sungai kapuas dalam pemenuhan dan pengelolaan gizi anak dengan stunting. Pada wilayah lingkungan tempat tinggal yang berada di tepian sungai masih memiliki banyak mitos dan kepercayaan sesuai dengan kebudayaan yang dianut masyarakat tentang makanan apa yang boleh dan tidak boleh diberikan kepada balita. Sebagian besar makanan yang dilarang tersebut memenuhi kebutuhan nutrisi balita saat tumbuh kembangnya. Sikap ibu yang kurang baik dipengaruhi oleh budaya yang dianut berdasarkan suku masyarakat. Edukasi dengan buku saku “Peduli Stunting” dapat diterapkan Kata Kunci: Stunting, Buku Saku, Pengetahuan, Sikap
Edukasi dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Hidup Lansia di Puskesmas Kom Yos Sudarso Pontianak Seprian, Dwin; Rahman, Ainun Najib Febrya; Septiani, Haryati; Fahdi, Faisal Kholid; Putri, Triyana Harlia
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 3 (2025): Volume 8 No 3 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i3.17985

Abstract

ABSTRAK Lansia berada pada tahap akhir dari proses penuaan yang dimana memiliki resiko tinggi dalam masalah kesehatan. Pertambahan umur akan diikuti dengan penurunan fungsi tubuh, adanya penyakit, resiko jatuh, gangguan keseimbangan tubuh serta sistem kekebalan akan semakin berkurang. Hal ini menimbulkan masalah pada kualitas hidup. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan lansia tentang cara meningkatkan kualitas hidup. Hasil pengabdian kepada masyarakat didapatkan data tingkat pengetahuan tentang kualitas hidup sebelum diberikan edukasi yaitu kategori tinggi sebesar 13,3%, kategori sedang sebesar 23,3% dan kategori rendah sebesar 63,4%. Sedangkan setelah diberikan edukasi tentang diperoleh pengetahuan pada kategori tinggi yaitu 80% dan kategori sedang yaitu 20%. Edukasi mampu meningkatkan pengetahuan lansia tentang cara meningkatkan kualitas hidup. Kata Kunci: Edukasi, Kualitas Hidup, Lansia  ABSTRACT The elderly are at the final stage of the aging process and are at high risk of health problems. Increasing age will be followed by a decrease in body function, the presence of disease, the risk of falls, disturbances in body balance, and the immune system will decrease. This causes problems with quality of life. This community service activity aims to increase the elderly's knowledge about improving their quality of life. The results of community service obtained data on the level of knowledge about the quality of life before being given education, namely the high category at 13.3%, the medium category at 23.3%, and the low category at 63.4%. Meanwhile, after being given education about knowledge, knowledge was obtained in the high category, namely 80%, and in the medium category, namely 20%. Education can increase elderly people's knowledge about how to improve their quality of life Keywords: Education, Quality of Life, Elderly
Stres Akademik pada Mahasiswa Baru Program Studi S1 Keperawatan di Kota Pontianak Dwin Seprian; Muhammad Luthfi; Ainun Najib Febrya Rahman; Haryati Septiani
Sci-tech Journal Vol. 4 No. 2 (2025): Sci-Tech Journal
Publisher : MES Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56709/stj.v4i2.730

Abstract

Academic stress among nursing students is related to the demands of meeting competency achievements from both coursework and field practice. In reality, students’ abilities to fulfill these competencies vary. However, due to these demands, students are required to perform both academic activities and clinical practice. This study employs a descriptive quantitative research method with 60 respondents. The sampling method used is Accidental Sampling. The instrument used in this study is the Educational Stress Scale for Adolescents (ESSA) questionnaire, which consists of 16 statements related to academic activities, measured using a Likert scale. The results show that the majority of nursing students (75.5%) experience moderate academic stress. In this study, the moderate stress category among students is associated with their adaptation process to a new learning system and the demands of achieving both academic and practical competencies.
Asuhan Keperawatan pada Lansia TN. D dengan Diagnosa Medis Gout Arthritis Muhammad Luthfi; Dwin Seprian; Wulida Litaqia; Ainun Najib Febrya Rahman; Haryati Septiani
Sci-tech Journal Vol. 4 No. 2 (2025): Sci-Tech Journal
Publisher : MES Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56709/stj.v4i2.731

Abstract

Gout arthritis is a form of joint inflammation caused by purine metabolism disorders, leading to elevated uric acid levels in the bloodstream (hyperuricemia). The accumulation of monosodium urate crystals in joint tissues due to this condition triggers acute inflammation and severe pain. Elderly individuals are particularly susceptible due to reduced metabolic function and decreased efficiency in uric acid excretion. This study aims to evaluate the nursing care provided to patients with gout arthritis, with a focus on pain management, sleep disturbances, and patient education regarding the disease and its management. This research employs a descriptive case study approach, emphasizing scheduled activity interventions for gout arthritis patients. Data collection was conducted through interviews, physical examinations, and observations, with findings presented in a descriptive case report format. The assessment revealed that the patient experienced severe pain in the metatarsophalangeal joint, with moderate to high pain intensity. Additionally, the patient struggled with sleep disturbances caused by pain and lacked awareness of the appropriate dietary measures for managing uric acid levels. Nursing interventions included pain management strategies, patient education on a low-purine diet, and supportive measures to enhance sleep quality. Effective nursing interventions for gout arthritis patients can significantly improve their quality of life by alleviating pain, enhancing sleep patterns, and increasing disease management awareness. Continuous patient education and adherence to therapy are essential in minimizing recurrence risks and preventing future complications.
Pengalaman Perawat Komunitas Dalam Melakukan Penanganan Kegawatdaruratan Psikiatri Pada Anak Dengan Child Maltreatment Hidayah, Nurul; Seprian, Dwin; Florensa, Ns.
MIDWIFERY JOURNAL Vol 2, No 1 (2022): Volume 2 nomor 1, Maret 2022
Publisher : Universitas Malahayati Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mj.v2i1.6225

Abstract

Background: Proper and fast handling of emergency conditions is the key to patient safety. Emergency conditions are conditions where there is a sudden disruption of physiological or psychological integrity and can threaten safety. As a primary health care provider, you are not only required to be alert and ready to face physical emergencies, but also psychiatric emergencies. Psychiatric emergency conditions are as important as other physical emergency conditions, prompt and appropriate treatment can save patients from conditions that threaten their life safety. Some psychiatric emergency conditions include conditions of attempted suicide, restlessness, panic attacks, aggressive behavior changes to disturb the surrounding conditions and the environment. Psychiatric emergency conditions can occur in all service units, understanding of the handling of psychiatric emergencies must be understood holistically by all officers, especially nurses in primary health care facilities. Objective: to explore the life experiences of community nurses in handling psychiatric emergencies in children with child maltreatment in primary health care facilities in Pontianak city. Methods: This research design uses a qualitative descriptive approach with a descriptive phenomenological approach. The population in this study is Community Nurses in Primary Health Facility Services in Pontianak City. The number of participants was determined through purposive sampling technique. The nurse's experience was explored through in-depth interviews and data analysis using the Colaizzi method. The target output of this research is expected to be published in national journals. Results: This study provides an overview of the experience of community nurses in handling psychiatric emergencies in children with child maltreatment in primary health care facilities in the city of Pontianak. The nurse's experience is described in 2 themes: 1) Handling that is not comprehensive and cross-sectoral collaboration and 2) The lack of competence of human resources and facilities and infrastructure. Conclusion: There is still a lack of trained personnel, infrastructure facilities are also still lacking, from the process of handling psychiatric emergencies Child Maltreatment in Primary Health Facility Services still does not follow the management concept of implementing a puskesmas that provides comprehensive services. Suggestion: It is hoped that policy makers will be able to issue SK or regional regulations related to the implementation of handling child maltreatment psychiatric emergencies in primary health care facilities and further improve efforts to develop and supervise implementation in handling psychiatric emergencies child maltreatment in primary health care facilities. Keywords:Children,Emergency,Psychiatry ABSTRAK Penanganan kondisi gawat darurat yang tepat dan cepat menjadi kunci keselamatan pasien. Kondisi gawat darurat adalah kondisi dimana terjadi gangguan integritas fisiologis atau psikologis secara mendadak dan dapat mengancam keselamatan. Sebagai penyedia layanan kesehatan primer tidak hanya dituntut untuk sigap dan siap menghadapi kondisi kegawat daruratan fisik, namun juga kondisi kegawatdaruratan psikiatri. Kondisi kegawat daruratan psikiatri sama pentingnya dengan kondisi gawat darurat fisik lainnya, penanganan yang cepat dan tepat dapat menyelamatkan pasien dari kondisi yang mengancam keselamatan jiwanya.Beberapa kondisi gawat darurat psikiatrik meliputi kondisi percobaan bunuh diri, gaduh gelisah, serangan panik, perubahan tingkah laku yang agresif hingga mengganggu kondisi sekitar dan lingkungan. Kondisi gawat darurat psikiatri dapat terjadi di seluruh unit pelayanan, pemahaman mengenai penanganan gawat darurat psikiatri harus dipahami secara holistik oleh seluruh petugas khusunya perawat di fasilitas pelayanan Kesehatan primer. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengeksplorasi pengalaman hidup Perawat Komunitas Dalam Melakukan Penanganan Kegawatdaruratan Psikiatri Pada Anak dengan child maltreatment  Di Pelayanan Fasilitas Kesehatan Primer Di Kota Pontianak. Rancangan penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif. Populasi dalam penelitian yaitu Perawat Komunitas Di Pelayanan Fasilitas Kesehatan Primer Di Kota Pontianak. Jumlah partisipan ditentukan  melalui teknik purposive sampling. Pengalaman perawat digali melalui wawancara mendalam dan analisa data menggunakan metode Colaizzi.Target luaran penelitian ini diharapkan dapat dipublikasin pada jurnal nasional. Hasil penelitian ini memberikan gambaran mengenai Pengalaman Perawat Komunitas Dalam Melakukan Penanganan Kegawatdaruratan Psikiatri Pada Anak Dengan Child Maltreatment  Di Pelayanan Fasilitas Kesehatan Primer Di Kota Pontianak. Pengalaman perawat tersebut digambarkan dalam 2 tema : 1)Penanganan yang belum komperhensif dan kerjasama lintas sektor serta 2) Minimnya kompetensi SDM serta sarana dan prasarana.  Kata Kunci :Anak ,Gawat Darurat,Psikiatri  
Efektifitas Model Terapi Modalitas dan Komplementer Seft terhadap Penurunan Tingkat Stres Pasca Bencana Pada Remaja Penyintas Bencana Gempa Bumi di Ponpes Minhajul Karomah Kabupaten Cianjur Hidayah, Nurul; Florensa, Florensa; Seprian, Dwin; Nisma, Nisma; Fathudin, Yogasliana
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.13234

Abstract

Bencana alam, salah satunya adalah gempa bumi, biasanya terjadi dengan cepat dan tanpa peringatan sebelumnya. Gempa yang telah terjadi di Cianjur pada Senin, 21 November 2022 kekuatan 5,6 Magnitudo berdampak merusak, sampai ratusan orang meninggal dan ribuan bangunan hancur. Cianjur salah satu wilayah di Jawa Barat yang terkena musibah di tahun ini, dan menambah daftar panjang bencana yang terjadi di Jawa Barat pada 2022. Kondisi ini dapat membuat korban bencana menjadi lebih rentan mengalami trauma. Penyitas bencana memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengalami masalah kesehatan fisik dan psikologis. Masalah ini dapat terjadi karena terbatasanya sumber-sumber dukungan sosial, material, dan personal. Penelitian ini bertujuan untuk Untuk mengetahui efektifitas terapi SEFT dalam menurunkan tingkat stres pasca bencana pada remaja penyintas bencana gempa bumi di Ponpes Minhajul Karomah Kabupaten Cianjur. Penelitian ini menggunakan one group pretest posttest design. Analisa data menggunakan paired t-test.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi SEFT mampu menurukan tingkat stres pasca bencana remaja penyintas bencana gempa bumi.
Pendampingan Penerapan Model Terapi Modalitas Dan Komplementer Seft (Spiritual Emotional Freedom Tecnique) Dengan Pendekatan Manajemen Stres Hidayah, Nurul; Seprian, Dwin; Nisma, Nisma; Jamil, Nurul; Wati, Kurnia; Fathudin, Yogasliana
Journal of Comprehensive Science Vol. 3 No. 1 (2024): Journal of Comprehensive Science (JCS)
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v3i1.604

Abstract

Bencana merupakan kejadian yang dapat mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang dapat disebabkan oleh faktor alam dan/atau non alam, sehingga timbul korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta, dan dampak psikologis. Penyitas bencana memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengalami masalah kesehatan fisik dan psikologis. Masalah ini dapat terjadi karena terbatasanya sumber- sumber dukungan sosial, material, dan personal. Pelaksanaan pengabdian ini bertujuan untuk menurunkan Tingkat Stres Pada Remaja Penyintas Bencana serta meningkatkan pengetahuan remaja penyintas bencana dalam melakukan terapi modalitas dan komplementer SEFT.Hasil Pre test dengan menggunakan Kessler Psychological Distress Scale menunjukan bahwa 9 dari 15 remaja mengalami stres ringan dengan skore 20-24, dan setelah diberikan pelatihan SEFT menunjukan 15 orang remaja penyintas bencana dapat melakukan terapi SEFT dengan menerapkan 5 kunci yakni Yakin, Khusyu, Ikhlas, Pasrah dan Syukur, hal ini membuktikan bahwa SEFT ini mempunyai peranan dalam mengatasi berbagai masalah fisik maupun psikologis, terutama untuk penurunan trauma pada korban bencana seperti gempa bumi dan hasil pre test dari kegiatan ini dengan menggunakan alat ukur yang sama yakni Kessler Psychological Distress Scale menunjukan 15 orang remaja rata -rata memperoleh skore dibawah 20 yakni tidak mengalami stress setelah melakukan terapi SEFT.
Gambaran Kesehatan Jiwa Relawan Remaja dalam Penanggulangan Bencana Hidayah, Nurul; Florensa, Florensa; Seprian, Dwin; Fathudin, Yogasliana
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 6 (2023): Volume 3 Nomor 6 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.104 KB) | DOI: 10.33024/mahesa.v3i6.10486

Abstract

ABSTRACT Mental health is a good emotional and psychological state, in which individuals can utilize their cognitive and emotional abilities, function in their communities, and meet their daily needs. The essence of mental health itself is more about the existence and maintenance of a healthy mentality. Disaster conditions will have various physical and psychological impacts for each individual, including disaster volunteers. This study aims to determine the description of mental health which includes emotional mental disorders, namely depression, anxiety and PTSD in adolescent volunteers in carrying out disaster management. This type of research is a descriptive research type, taking this sample using a total sampling technique. The research respondents were youth volunteers who were involved in flood disaster management in Melawi Regency who were members of the TSR-PMI and youth volunteers who were members of the West Java HIPGABI volunteer team who were directly involved in the Cianjur earthquake disaster management. The sample instrument is in the form of a digital questionnaire (Google Form) which is distributed through the Whatsapp Group communication network. The questionnaire used was a translated SelfReporting Questionnaire 29 questionnaire. The proportion of poor mental health was greater in the female sex (57%) compared to the male sex (44%). Furthermore, the proportion of poor mental health is greater in those aged 17-19 years (57%) compared to those aged 20-21 years (44%).The symptoms experienced by youth volunteers when they were involved in disaster management were the emergence of 3 complaints with the highest percentage not sleeping well (46%), getting tired easily (43%) and finding it difficult to make decisions (38%). Keywords: Mental Health, Adolescents, Disaster  ABSTRAK Kesehatan jiwa merupakan suatu keadaan emosional dan psikologis yang baik, dimana individu dapat memanfaatkan kemampuan kognisi dan emosi, berfungsi dalam komunitasnya, dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Inti dari kesehatan mental sendiri adalah lebih pada keberadaan dan pemeliharaan mental yang sehat. Kondisi bencana akan memberikan berbagai dampak fisik maupun psikologis bagi setiap individu tidak terkecuali pada relawan bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesehatan jiwa yang meliputi gangguan mental emosional yakni depresi, kecemasan dan PTSD pada relawan remaja dalam melakukan penanggulangan bencana. Jenis penelitian ini ialah jenis penelitian deskriptif, pengambilan sampel ini menggunakan teknik total sampling. Responden penelitian ialah relawan remaja yang terlibat dalam penanggulangan bencana banjir di Kabupaten Melawi yang tergabung dalam TSR-PMI dan relawan remaja yang tergabung dalam Tim relawan HIPGABI Jawa Barat yang terlibat langsung dalam penanggulangan bencana gempa Cianjur. .Instrumen sampel berupa kuesioner digital (Google Form) yang disebar melalui jejaring komunikasi Whatsapp Group. Kuesioner yang digunakan merupakan kuesioner SelfReporting Questionneire 29 yang sudah diterjemahkan. Proporsi kesehatan mental yang buruk lebih besar terdapat pada jenis kelamin perempuan (57%) dibandingkan dengan jenis kelamin laki-laki (44%). Selanjutnya proporsi kesehatan mental yang buruk lebih besar terdapat pada usia 17-19 Th (57%) dibandingkan dengan usia 20- 21 Th (44%).Gejala yang dialami relawan remaja saat terlibat dalam penanggulangan bencana yakni munculnya 3 keluhan dengan persentase tertinggi adalah tidak tidur dengan nyenyak (46%), mudah lelah (43%) dan merasa sulit untuk membuat keputusan (38%). Kata Kunci: Kesehatan Mental,Remaja, Bencana 
Penyuluhan dan Edukasi Psychological Well-Being untuk Meningkatkan Pengetahuan Masyarakat Pesisir di Desa Temajuk Kabupaten Sambas Seprian, Dwin; Hidayah, Nurul; Masmuri, Masmuri; Fakhruddin, Muhammad Syafri
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 4 (2024): Volume 7 No 4 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i4.13789

Abstract

ABSTRAK Psychological Well-Being diasosiasikan dengan kemampuan untuk beradaptasi terhadap kebutuhan perawatan penyakit yang dialami, mempertahankan hubungan sosial dan kemampuan mencegah komplikasi dimasa depan. Tujuan pengabdian kepada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat pesisir Desa Temajuk tentang Psychological Well-Being. Metode pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat adalah penyuluhan dan edukasi tentang Psychological Well-Being. Hasil pengabdian kepada masyarakat didapatkan data tingkat pengetahuan sebelum diberikan penyuluhan yaitu kategori tinggi sebesar 10%, kategori sedang sebesar 33,3% dan kategori rendah sebesar 56,7%. Sedangkan setelah diberikan penyuluhan dan edukasi tentang Psychological Well-Being diperoleh pengetahuan pada kategori tinggi yaitu 76,6% dan kategori sedang yaitu 23,3%. Penyuluhan dan edukasi Psychological Well-Being mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat pesisir di Desa Temajuk. Kata Kunci: Penyuluhan Psychological Well-Being, Psikologis Masyarakat Pesisir  ABSTRACT Psychological Well-Being is associated with the ability to adapt to the treatment needs of the illness experienced, maintain social relationships and the ability to prevent future complications. The aim of community service is to increase the knowledge of coastal communities in Temajuk Village about Psychological Well-Being. The method for implementing community service is counseling and education about Psychological Well-Being. The results of community service obtained data on the level of knowledge before being given counseling, namely the high category was 10%, the medium category was 33.3% and the low category was 56.7%. Meanwhile, after being given counseling and education about Psychological Well-Being, knowledge was obtained in the high category, namely 76.6% and in the medium category, namely 23.3%. Psychological Well-Being counseling and education can increase the knowledge of coastal communities in Temajuk Village. Keywords: Psychological Well-Being Counseling, Psychology of Coastal Communities
Dukungan Kesehatan Jiwa Bersama Teman Sebaya melalui Program Duta Kesehatan Jiwa Sekolah Putri, Triyana Harlia; Ulfah, Ridha; Asseggaf, Syarifah Nurul Yanti Rizki Syahab; Zakiah, Mistika; Luthfi, Muhammad; Rahman, Ainun Najib Febrya; Seprian, Dwin; Septiani, Haryati; Priyono, Djoko
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 11 (2024): Volume 7 No 11 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i11.17522

Abstract

ABSTRAK Masalah kesehatan jiwa yang muncul pada remaja dapat menganggu perkembangan remaja. Peran teman sebaya untuk menerima dan merangkul teman yang lainnya merupakan salah satu faktor penting seorang remaja untuk merasa diterima dilingkungan sosialnya. Dukungan teman sebaya dapat berkontribusi dalam mengidentifikasi masalah kesehatan jiwa pada kelompok remaja. Oleh sebab itu diperlukan dukungan kesehatan jiwa dan psikososial (DKJPS) yang didapatkan oleh teman sebaya melalui duta kesehatan jiwa sekolah. Tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah meningkatkan kesiapsiagaan sekolah melalui dukungan kesehatan jiwa dengan program duta kesehatan jiwa sekolah. Kegiatan diawali dengan pembagian pernyataan Pre-Test pengetahuan mengenai peran serta sebagai duta kesehatan jiwa, lalu memberikan desiminasi ilmu berupa masalah kesehatan jiwa pada remaja, duta kesehatan jiwa, serta peran dan fungsinya. Selanjutnya, membuka sesi diskusi, dan yang terakhir memberikan Post-Test pengetahuan. Pengetahuan siswa terkait dengan peran duta kesehatan jiwa dengan rerata pengetahuan sebelum (4,51 SD=2,23) dan sesudah (9,08 SD=1,51) dengan hasil analisa t-test sebesar p=0,001 yakni terdapat pengaruh desiminasi ilmu dalam meningkatkan pengetahuan serta meningkatkan peran duta sebagai dukungan teman sebaya. Duta kesehatan jiwa dapat berperan dengan maksimal agar masalah kesehatan jiwa di sekolah dapat diidentifikasi dan mendapatkan penanganan yang tepat. Kata kunci: Duta, Kesehatan Jiwa, Remaja   ABSTRACT Mental health problems that arise in adolescents can interfere with adolescent development. The role of peers to accept and embrace other friends is one of the important factors for an adolescent to feel accepted in their social environment. Peer support can contribute to identifying mental health problems in adolescent groups. Therefore, mental health and psychosocial support (DKJPS) is needed which is obtained by peers through school mental health ambassadors. The purpose of implementing this activity is to improve school readiness through mental health support with the school mental health ambassador program. The activity began with the distribution of Pre-Test statements of knowledge regarding the role of mental health ambassadors, then providing dissemination of knowledge in the form of mental health problems in adolescents, mental health ambassadors, and roles and functions. Furthermore, opening a discussion session, and finally providing Post-Test knowledge. Student knowledge related to the role of mental health ambassadors with an average knowledge before (4.51 SD = 2.23) and after (9.08 SD = 1.51) with the results of the t-test analysis of p = 0.001, namely there is an influence of dissemination of knowledge in increasing knowledge and increasing the role of ambassadors as peer support. Mental health ambassadors can play a maximum role so that mental health problems in schools can be identified and receive appropriate treatment. Keywords: Adolescents; Ambassadors; Knowledge