Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Hubungan Jenis Kelamin, Usia Dan Jumlah Leukosit Pada Pasien Apendisitis Perforasi Dan Apendisitis Non Perforasi Bima, Irmayanti Johar; Syamsu, Rachmat Faisal; Pramono, Sigit Dwi; Purnamasari, Reeny; Juliani, Sri; Nasruddin, Hermiaty; Rizki Salsabilah R, Andi Fatihah
Wal'afiat Hospital Journal Vol 2 No 1 (2021): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.379 KB) | DOI: 10.33096/whj.v2i1.56

Abstract

Apendisitis adalah salah satu kasus kegawatdaruratan. Diagnosis ditegakkan dengan mengenal gejala penyakit ini sejak dini untuk menghindari perburukan dari apendisitis akut menjadi apendisitis perforasi. Mengetahui hubungan jenis kelamin, usia dan jumlah leukosit dengan pasien apendisitis non perforasi dan pasien apendisitis perforasi di RS.Ibnu Sina Makassar tahun 2014 – 2018. Penelitian ini dengan rancangan penelitian cross sectional yaitu pengambilan sampel total sampling dengan total 125 sampel. Analisis data menggunakan uji chi square dengan p value hubungan jenis kelamin dengan apendisitis : 0.01, hubungan usia dengan apendisitis : 0.02 dan hubungan jumlah leukosit dengan apendisitis : 0.00 menggunakan program SPSS. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar pada bulan September-November 2019. Hasil penelitian menunjukkan sampel apendistis perforasi pada laki-laki 39 orang (65%) sedangkan pada perempuan 21 orang (35%). Hasil análisis menggunakan uji Chi-Square nilai signifikan 0.01 (p kurang dari 0.05) yang secara statistik menunjukkan terdapat hubungan antara suhu tubuh dan jumlah leukosit pada pasien appendisitis Sampel apendisitis perforasi usia 0-11 8 orang (13.3%), pada usia 12-25 18 orang (30%), pada usia 26-45 13 (21.7%) dan pada usia ≥46 21 (35%). Hasil análisis menggunakan uji Chi-Square nilai signifikan 0.02 (p kurang dari 0.05) yang secara statistik menunjukkan terdapat hubungan antara suhu tubuh dan jumlah leukosit pada pasien appendisitis. Sampel apendisitis perforasi dan leukosit kurang dari 11.000 1 orang (1.3%) dan pada ≥11.000 59 orang (98.7%). Hasil análisis menggunakan uji Chi-Square nilai signifikan 0.00 (p kurang dari 0.05) yang secara statistik menunjukkan terdapat hubungan antara suhu tubuh dan jumlah leukosit pada pasien appendisitis. Terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian apendistis perforasi, terdapat hubungan antara usia dengan kejadian apendistis perforasi dan terdapat hubungan antara jumlah leukosit dengan kejadian apendistis perforasi.
Karakteristik Pasien Demam Tifoid Di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar Laode, Mardika Intan Setya Putri; Nasruddin, Hermiaty; Surdam, Zulfiyah; Nurelly, Nurelly; Syahril, Erlin
Wal'afiat Hospital Journal Vol 2 No 2 (2021): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/whj.v2i2.82

Abstract

Typhoid fever is an infectious disease caused by the bacterium Salmonella enterica serovar Typhi (S. Typhi). It is estimated that between 350-850 per 100,000 population per year. This disease attacks all ages, some studies argue that the male sex suffers from typhoid fever more because it is influenced by work, environment, and eating and drinking habits. This disease is an endemic disease that is still a health problem in Indonesia due to the lack of deep quality of personal hygiene and environmental sanitation. This study aims to determine, classify and describe the characteristics (age, gender, type of therapy, length of treatment) in typhoid fever patients at Ibnu Sina Hospital Makassar in 2019. This study is a descriptive observational study with a retrospective approach. The population in the study amounted to 490 samples. The sample of this study is secondary data, namely, by taking medical record data, sampling using purposive sampling method and the sample size is obtained as many as 82 samples. ie 15 – 24 years (39.0%), based on the type of therapy, namely type 1 therapy (92.7%) where this type of therapy used 1 type of antibiotic, based on the length of treatment 7 days (90.2%). The conclusion is that the number of typhoid fever sufferers is 82 people with the most gender being male, the highest age is 15-24 years, the most use of therapy using one type of antibiotic is accompanied by the longest length of treatment, which is an average of fewer than 7 days.
Hubungan Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Keluarga terhadap Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita di Puskesmas Mandai Kabupaten Maros Aprilia, Salsabila Tirta; Rijal, Syamsu; Wiriansya, Edward Pandu; Vitayani, Sri; Nasruddin, Hermiaty
Wal'afiat Hospital Journal Vol 5 No 1 (2024): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/whj.v5i1.135

Abstract

This study aims to explore the relationship between the implementation of clean and healthy living behaviors (PHBS) in the family with the incidence of Acute Respiratory Infections (ARI) in toddlers at Puskesmas Mandai, Maros Regency. Using a quantitative approach with a correlation analytic method, this study involved 58 toddlers aged 0-5 years who were diagnosed with ARI. The results showed that 58.6% of respondents were male, with the largest age group 0-12 months (25.9%). 74.1% of the toddlers were not exclusively breastfed, and 80.9% were underweight. In addition, 75.7% of respondents did not have the habit of washing hands with soap, and 94.8% lived in an environment with active smokers. Bivariate analysis showed a significant association between the PHBS variables and the incidence of ARI, with P values less than 0.05 for all variables. These results suggest that the implementation of exclusive breastfeeding, routine weighing of toddlers, hand washing with soap, and not smoking in the house play an important role in reducing the incidence of ARI. Therefore, health centers are advised to increase the socialization of PHBS and education about the dangers of smoking, as well as encourage the community to apply clean living behavior in everyday life. This study is expected to be the basis for improving health programs at Puskesmas Mandai and increasing public awareness about the importance of PHBS in preventing ARI.
Hubungan Penggunaan Masker Terhadap Kejadian Akne Vulgaris Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia Angkatan 2021 Ali, Yaumil Mutmainnah; Dahliah, Dahliah; Idrus, Hasta Handayani; Vitayani, Sri; Nasruddin, Hermiaty
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 6 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Memakai masker telah menjadi kebiasaan baru dalam kehidupan sehari-hari bahkan di periode pasca-pandemi. Penggunaan masker dalam waktu yang lama memiliki efek negatif terhadap kulit waja, salah satunya adalah timbulnya akne vulgaris. Penggunan masker secara terus menerus dapat menyebabkan iritasi pada kulit wajah akibat dari gesekan dan tekanan berulang dari masker. Akne yang dicetuskan akibat penggunaan masker dikenal dengan maskne atau mask induced acne. Maskne merupakan timbulnya akne pada bagian wajah yang tertutup masker yaitu dagu, pipi dan hidung. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan penggunaan masker dengan kejadian akne vulgaris. Metode: Metode penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Hasil: Hasil penelitian diperoleh yakni penggunaan masker rutin (p=0,266) terhadap kejadian akne pertama kali dan (p=0,407) terhadap kondisi akne yang memberat, durasi penggunaan masker (p=0,504) terhadap kejadian akne pertama kali dan (p=0,140) terhadap kondisi akne yang memberat, jenis masker (p=0,496) terhadap kejadian akne pertama kali dan (p= 0,760) terhadap kondisi akne yang memberat, frekuensi mengganti masker (p=0,648) terhadap kejadian akne pertama kali dan (p=0,769) terhadap kondisi akne yang memberat. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan masker dengan kejadian akne vulagaris
Angka Kejadian Anemia Pada Remaja di Indonesia Nasruddin, Hermiaty; Faisal Syamsu, Rachmat; Permatasari, Dinda
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 1 No. 4 (2021): Cerdika : Jurnal ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v1i4.66

Abstract

Menurut data hasil Riskedas tahun 2013 remaja putri mengalami anemia yaitu 37,1%, mengalami peningkatan menjadi 48,9% pada Riskesdas 2018, dengan proporsi anemia ada di kelompok umur 15-24 tahun dan 25-34 tahun. Faktor yang menyebabkan tingginya angka kejadian anemia pada remaja diantaranya rendahnya asupan zat besi dan zat gizi lainnya misalnya vitamin A, vitamin C, folat, riboflavin dan vitamin B12, kesalahan dalam konsumsi zat besi misalnya konsumsi zat besi bersamaan dengan zat lain yang dapat mengganggu penyerapan zat besi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode review article. Sumber data penelitian ini berasal dari literatur yang diperoleh melalui internet berupa hasil penelitian dari publikasi jurnal. Berdasarkan hasil dari article review yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa terjadinya peningkatan angka terjadinya anemia pada remaja disebabkan oleh karena kurangnya edukasi tentang asupan gizi yang seimbang.
GAMBARAN STATUS GIZI PADA PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS TAMANGAPA Syamsu, Rachmat Faisal; Dahliah, Dahliah; Palloge, Salahuddin Andi; Nasruddin, Hermiaty; Indarwati, Rezky Putri; Makmun, Armanto; Bahar, Burhanuddin; Nurdin, Abbas Zavery; Fatimah, Fatimah; Nurfadhilah, Nadiyah; Zahiyah, Azzah
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 1 (2026): MARET 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i4.54271

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan utama yang prevalensinya terus meningkat dan menjadi faktor risiko penting penyakit kardiovaskular. Salah satu faktor yang berperan dalam terjadinya hipertensi adalah status gizi, yang umumnya dinilai menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT). Kelebihan berat badan dan obesitas dapat memicu peningkatan tekanan darah melalui mekanisme resistensi insulin, aktivasi sistem saraf simpatis, dan retensi natrium. Di Indonesia, perubahan pola makan dan gaya hidup menyebabkan meningkatnya jumlah pasien hipertensi dengan status gizi tidak normal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status gizi pada pasien hipertensi di Puskesmas Tamangapa. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif observasional. Populasi penelitian adalah seluruh pasien hipertensi yang tercatat di Puskesmas Tamangapa tahun 2025. Sampel penelitian berjumlah 25 pasien hipertensi yang diambil menggunakan metode total sampling. Variabel penelitian adalah status gizi pasien hipertensi yang diukur menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT). Alat pengumpulan data berupa data sekunder yang meliputi berat badan dan tinggi badan pasien. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menyajikan distribusi frekuensi berdasarkan kategori IMT menurut kriteria WHO Asia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien hipertensi memiliki status gizi normal sebanyak 16 orang (64%), diikuti kategori overweight sebanyak 8 orang (32%), dan obesitas kelas I sebanyak 1 orang (4%). Kesimpulan penelitian ini mayoritas pasien hipertensi di Puskesmas Tamangapa memiliki status gizi normal hingga overweight. Pemantauan dan pengendalian status gizi tetap diperlukan sebagai bagian penting dalam upaya pengelolaan dan pencegahan komplikasi hipertensi.
Gambaran perilaku pencegahan penyakit tidak menular pada masyarakat di Indonesia: Literature review Putri, Fadila Ananda; Nasruddin, Hermiaty; Hawaidah, Hawaidah; Syamsu, Rachmat Faisal; Susanto, Ham Fransiskus
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2094

Abstract

Background: Non-communicable diseases (NCDs), such as hypertension, diabetes mellitus, cardiovascular disease, and cancer, remain the leading causes of illness and death in Indonesia. Purpose: To describe how Indonesians perceive and practice NCD prevention and to identify key factors influencing their preventive behavior. Method: A narrative literature review was conducted using articles published between 2019 and 2024 from PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar. Studies focusing on lifestyle modification, health screening, or health promotion were analyzed descriptively. Results: Most studies indicate that preventive behavior remains inconsistent and is strongly influenced by education level, socioeconomic status, and health literacy. Urban populations generally demonstrate higher awareness and participation than rural populations. Digital and community-based health programs have been effective in increasing knowledge and promoting healthier lifestyles, although disparities remain in areas with limited resources. Conclusion: Strengthening community participation, integrating culturally appropriate education, and promoting digital-based health literacy are crucial for improving NCD preventive behavior in Indonesia. Sustainable health promotion and multisectoral collaboration are needed to build a sustainable culture of prevention.   Keywords: Health Literacy; Health Promotion; Indonesia; Non-Communicable Diseases; Preventive Behavior.   Pendahuluan: Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit kardiovaskular, dan kanker, masih menjadi penyebab utama penyakit dan kematian di Indonesia. Tujuan: Untuk menggambarkan bagaimana masyarakat Indonesia memandang dan mempraktikkan pencegahan PTM dan untuk mengidentifikasi faktor-faktor utama yang memengaruhi perilaku pencegahan mereka. Metode: Penelitian narrative literature review dengan menggunakan artikel yang diterbitkan antara tahun 2019-2024 dari data PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar. Studi yang berfokus pada modifikasi gaya hidup, skrining kesehatan, atau promosi kesehatan yang dianalisis secara deskriptif. Hasil: Sebagian besar studi menunjukkan bahwa perilaku preventif masih belum konsisten dan sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, status sosial ekonomi, dan literasi kesehatan. Penduduk perkotaan umumnya menunjukkan kesadaran dan partisipasi yang lebih tinggi dibandingkan masyarakat pedesaan. Program kesehatan digital dan berbasis masyarakat telah efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan mendorong gaya hidup yang lebih sehat, meskipun masih terdapat kesenjangan di daerah dengan sumber daya yang terbatas. Simpulan: Penguatan partisipasi masyarakat, integrasi pendidikan yang sesuai budaya, dan promosi literasi kesehatan berbasis digital sangat penting untuk meningkatkan perilaku preventif PTM di Indonesia. Promosi kesehatan berkelanjutan dan kolaborasi multisektoral diperlukan untuk membangun budaya pencegahan yang berkelanjutan.   Kata Kunci: Indonesia; Literasi Kesehatan; Penyakit Tidak Menular; Perilaku Preventif; Promosi Kesehatan.