Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Cost-Effectiveness Antara Telepsychiatry Dan Perawatan Tatap Muka Pada Layanan Kesehatan Mental: Tinjauan Sistematis Mutakin Sambas, Jenal; Nadjib, Mardiati
Jurnal Dunia Kesmas Vol 15, No 1 (2026): Volume 15 Nomor 1
Publisher : Persatuan Dosen Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jdk.v15i1.23999

Abstract

Gangguan kesehatan mental merupakan masalah global dengan prevalensi yang terus meningkat, sementara akses terhadap layanan psikiatri masih terbatas akibat kendala geografis, kekurangan tenaga ahli, dan tingginya biaya layanan. Telepsychiatry dan intervensi digital berbasis telemedicine muncul sebagai pendekatan untuk memperluas jangkauan layanan kesehatan mental. Tinjauan sistematis ini bertujuan menganalisis efektivitas klinis dan cost-effectiveness telepsychiatry dibandingkan layanan tatap muka. Pencarian literatur dilakukan pada PubMed/MEDLINE, Scopus, dan ScienceDirect untuk periode 2021–2025 dan dilaporkan sesuai dengan PRISMA 2020. Dari 172 artikel yang diidentifikasi, delapan studi memenuhi kriteria inklusi, terdiri atas randomized controlled trials dan evaluasi ekonomi yang membandingkan telepsychiatry atau intervensi digital (iCBT, blended CBT, eHealth, dan iSMI) dengan layanan tatap muka. Hasil kajian menunjukkan bahwa intervensi digital berbasis telepsychiatry umumnya menghasilkan efektivitas klinis yang sebanding dengan layanan tatap muka. Dari perspektif ekonomi, sebagian besar studi melaporkan biaya total yang lebih rendah atau probabilitas cost-effective yang lebih tinggi, dengan variasi hasil yang dipengaruhi oleh karakteristik populasi, tingkat dukungan profesional, dan perspektif analisis yang digunakan.
Hemophilia in Indonesia: A Cost of Illness Analysis Using National Health Insurance Data (2022–2023) Zahra, Adelia Pramesti; Permanasari, Vetty Yulianty; Nadjib, Mardiati; Nugraha, Erfan Chandra
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 13, No 1 (2026): Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia
Publisher : Lambung Mangkurat University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpkmi.v13i1.25233

Abstract

Hemophilia is one of the highest contributors to catastrophic costs in the National Health Insurance (NHI) program. This study aims to estimate the Cost of Illness (COI) of NHI participants with hemophilia from a payer and partial productivity loss perspective, using secondary data from BPJS Kesehatan to examine direct medical costs from the perspective of a third-party payer, and average hourly wages by province in Indonesia to assess patient productivity loss. The research method is a cross-sectional study using a quantitative design. The findings indicate that the average COI per participant was IDR 728,832,232. After applying sampling weights to estimate the national population, the total COI for hemophilia during 2022–2023 was IDR 3.02 trillion, with 99% attributable to direct medical costs. These findings indicate that although hemophilia affects a relatively small number of participants, it imposes a substantial financial burden on the NHI system. Significant differences in COI medians were observed across age, gender, length of stay, special drug usage, membership segmentation, ward class, hospital region, hospital type, treatment type, and severity. Hemophilia, as a high-cost, low-frequency condition, requires careful management to avoid further strain on NHI funding.
Hubungan Faktor Sosial dan Akses Pelayanan Kesehatan terhadap Swamedikasi Antibiotik pada Masyarakat: Literature Review Azzahra, Andi Liza; Nadjib, Mardiati
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 15 No. 03 (2026): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v15i03.4559

Abstract

Resistensi antimikroba menjadi salah satu tantangan utama kesehatan masyarakat global yang dipicu oleh penggunaan antibiotik secara tidak rasional, termasuk praktik swamedikasi antibiotik di masyarakat. Swamedikasi antibiotik meliputi penggunaan antibiotik tanpa resep tenaga kesehatan, penggunaan sisa obat, serta konsumsi berdasarkan pengalaman pengobatan sebelumnya. Praktik ini tidak hanya berkaitan dengan perilaku individu, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor sosial dan keterbatasan akses pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor sosial dan akses pelayanan kesehatan yang berhubungan dengan praktik swamedikasi antibiotik pada masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan penelusuran artikel pada basis data PubMed dan Google Scholar periode tahun 2015–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa praktik swamedikasi antibiotik masih ditemukan secara luas di berbagai negara dengan prevalensi yang relatif tinggi. Faktor individu seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan pengalaman penggunaan antibiotik sebelumnya berperan dalam perilaku swamedikasi. Namun, faktor sosial ekonomi dan sistem pelayanan kesehatan memiliki pengaruh yang lebih kuat, terutama terkait keterbatasan akses fasilitas kesehatan, tingginya biaya pengobatan, kepemilikan asuransi kesehatan, serta kemudahan memperoleh antibiotik tanpa resep. Praktik ini berkontribusi terhadap peningkatan risiko resistensi antimikroba, kegagalan terapi, dan efek samping obat. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengendalian swamedikasi antibiotik melalui pendekatan komprehensif yang menitikberatkan pada penguatan sistem pelayanan kesehatan, regulasi distribusi antibiotik, dan peningkatan literasi masyarakat.