Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Calvaria Medical Journal

Pendekatan Terapi Hyperbaric Oxygen Therapy pada Pasien dengan Polycystic Ovary Syndrome Nurdianto, Arif Rahman; Harnanik, Titut; Setiawan, Fery
Calvaria Medical Journal Vol 2 No 2 (2024): Edisi Desember 2024
Publisher : Institute for Research and Community Services (LPPM) of University of Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30742/cmj.v2i2.168

Abstract

Background: Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) is an endocrine disorder affecting around 5-10% of women of reproductive age. Symptoms of PCOS include menstrual irregularities, infertility, and elevated androgen levels. Various therapies have been explored to address these issues, one of which is Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT), known for its ability to enhance tissue healing, reduce inflammation, and improve hormonal balance. However, the effects of HBOT on PCOS patients require further investigation. Objective: This study aims to explore the effectiveness of Hyperbaric Oxygen Therapy in reducing PCOS symptoms and improving patients' quality of life. Method: This research employs a literature review methodology, collecting data from various relevant articles and journals on Hyperbaric Oxygen Therapy in PCOS patients. The sources were selected based on strict inclusion criteria, focusing on studies that examine the physiological and hormonal effects of HBOT on PCOS patients. Results: The reviewed studies suggest that HBOT shows potential in reducing PCOS symptoms, particularly in regulating menstrual cycles and lowering androgen levels. Other positive effects include improved insulin sensitivity and ovarian health. However, further research with larger sample sizes and long-term follow-ups is necessary to provide more consistent results. Conclusion: Hyperbaric Oxygen Therapy could be a potential adjunctive treatment for PCOS patients, though more research is needed to confirm its long-term benefits and underlying mechanisms
Analisis Kepatuhan Obat Antihipertensi, QoL, dan QALY pada Pasien PGK dengan Hipertensi di Hemodialisis di RSUD RT Notopuro Dyah Ayu Febiyanti; Issaura; Renny Nurul Faizah; Puguh Widagdo; Hari Purwoko; Nurdianto, Arif Rahman
Calvaria Medical Journal Vol 2 No 2 (2024): Edisi Desember 2024
Publisher : Institute for Research and Community Services (LPPM) of University of Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30742/cmj.v2i2.169

Abstract

Latar Belakang: Pasien gagal ginjal kronik (GGK) yang menjalani hemodialisis (HD) sering menghadapi tantangan yang dapat menurunkan kualitas hidup mereka. Kepatuhan terhadap pengobatan, termasuk terapi HD, merupakan faktor penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kepatuhan pengobatan antihipertensi dengan kualitas hidup (QoL) dan Quality Adjusted Life Years (QALY) pada pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK) dengan hipertensi yang menjalani hemodialisis di RSUD R.T Notopuro Sidoarjo. Metode: Data dikumpulkan secara prospektif melalui kuesioner, rekam medis, Sistim Informasi Manajemen (SIM) Apotek, dan SIM Rumah Sakit pada September-November 2024. Sampel terdiri dari 73 pasien yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Kriteria inklusi meliputi pasien GGK berusia ≥18 tahun yang menjalani HD, mengisi kuesioner lengkap, dan mampu berkomunikasi dengan baik. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner HillBone untuk mengukur kepatuhan obat dan European Quality of Life Five Dimension Five Level Scale (EQ5D5L) untuk menilai kualitas hidup. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman Rho, Mann-Whitney, Chi-Square, uji t independen, dan One Way Anova. Hasil: Mayoritas responden adalah laki-laki (61,65%) dengan usia 51-60 tahun (45,21%). Sebanyak 70 responden (95,89%) tidak patuh minum obat antihipertensi, dengan nilai rata-rata kualitas hidup 0,752, QALY 25,48, dan VAS 71,3. Hasil menunjukkan hubungan signifikan antara kepatuhan pengobatan dengan QoL dan utilitas dengan QALY (P=0,002), serta antara kepatuhan dan QoL (P=0,033). Kesimpulan: Sebagian besar pasien hemodialisis di RSUD RT. Notopuro Sidoarjo tidak patuh terhadap pengobatan antihipertensi, dengan korelasi positif antara nilai utilitas (EQ5D5L) dan QALY. Kepatuhan pengobatan mempengaruhi kualitas hidup pasien.
The Penyakit Dekompresi Tipe II pada Penyelam Rekreasi: Sebuah Laporan Kasus dan Penanganan dengan Terapi Oksigen Hiperbarik: - Devi, Anita; Himawan, Achmad Nurdin; Rini, Anis Dwi Anita; Hisnindarsyah, Hisnindarsyah; Harnanik, Titut; Pratiknya, Djatiwidodo Edi; Nurdianto, Arif Rahman
Calvaria Medical Journal Vol 3 No 1 (2025): Edisi Juni 2025
Publisher : Institute for Research and Community Services (LPPM) of University of Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30742/cmj.v3i1.191

Abstract

Latar Belakang: Menyelam SCUBA adalah rekreasi populer namun berisiko, salah satunya adalah Penyakit Dekompresi (DCS) yang disebabkan pembentukan gelembung gas inert akibat penurunan tekanan lingkungan. DCS dapat bermanifestasi ringan hingga berat, termasuk gejala neurologis. Penanganan cepat sangat penting. Tujuan: Melaporkan kasus Penyakit Dekompresi Tipe II pada penyelam rekreasi dan penanganannya dengan Terapi Oksigen Hiperbarik (TOHB). Presentasi Kasus: Dilaporkan kasus laki-laki 70 tahun dengan gejala pusing berputar, vertigo, gangguan keseimbangan, mual, muntah, parestesia, dan nyeri sendi setelah dua kali penyelaman. Pemeriksaan fisik menunjukkan Romberg test positif. Manajemen awal dengan oksigen normobarik dan obat simptomatik hanya memberikan sedikit perbaikan. Hasil: Pasien menjalani dua sesi TOHB (menggunakan Tabel 6 dan Tabel 5 US Navy). Setelah terapi, gejala pasien membaik signifikan, termasuk hilangnya pusing, mual, muntah, parestesia, dan nyeri sendi. Romberg test kembali negatif. Kesimpulan: Terapi Oksigen Hiperbarik adalah terapi standar emas yang efektif dalam meredakan gejala Penyakit Dekompresi Tipe II pada penyelam rekreasi.