Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

PENANAMAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN BERBAHASA INGGRIS SISWA SD PEDESAAN MELALUI KURSUS BAHASA INGGRIS INTENSIF Gabriel Fredi Daar
Jurnal Pasopati : Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Pengembangan Teknologi Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebijakan pemerintah yang tidak memasukan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib pada jenjang sekolah dasar menyebabkan siswa SD di pedesaan termasuk siswa SD di Desa Sambi Kecamatn Reok Barat NTT tidak mendapatkan ruang untuk mempelajari Bahasa Inggris. Keadaan ini menimbulkan dampak lanjutan yaitu siswa SD di desa Sambi mengalami kesulitan mempelajari bahasa Inggris saat berada di jenjang SMP. Selain itu, beberapa siswa SD yang dipercayakan mengikuti perlombaan tingkat kabupaten mengalami kesulitan mengerjakan soal-soal bahasa Inggris yang pada dasarnya tidak mereka pelajari di sekolah. Kegiatan PkM ini bertujuan untuk menanamkan dan memperkenalkan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Inggris kepada siswa SD Kelas 4-6 di desa Sambi dan mendorong terbentuknya Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat tempat masyarakat Desa Sambi mendapatkan pengetahuan Bahasa Inggris melalui pendidikan non formal yang berkelanjutan. Kegiatan kursus dilakukan dengan menggunakan metode ceramah, tanyajawab, simulasi, dialog practice, penggunaan permainan, bercerita, dan diskusi kelompok. Hasil yang dicapai dari kegiatan ini yaitu 1) siswa memiliki pengetahuan dasar dan kemampuan berbicara Bahasa Inggris sederhana, 2) Terbentuknya wadah Pusat Kegiatan belajar Masyrakat tempat siswa SD mempelajari Bahasa Inggris secara berkelanjutan. Kegiatan ini mendapat dukungan dari masyarakat desa Sambi yang diwujudkan dengan kerelaan masyarakat membentuk dan menyediakan tempat PKBM serta keterlibatan dalam kegiatan pembelajaran. Kata kunci: pengetahuan, keterampilan, bahasa Inggris, siswa SD, pedesaan
Penyuluhan Personal Hygiene dan Kebersihan Alat Reproduksi Kepada Remaja Putri di SMA Negeri 01 Lelak Rejeng Manggarai Heribertus Handi; Emilia Vialar Nafi; Epifania Lestari Mihen; Epifania Wakung; Gabriel Fredi Daar
Jurnal PADMA: Pengabdian Dharma Masyarakat Vol 2, No 4 (2022): PADMA
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jpdm.v2i4.24508

Abstract

Masa remaja merupakan salah satu periode dalam perkembangan manusia. Pada masa ini terjadi perubahan baik secara biologis, psikologis maupun sosial. Pada remaja putri perubahan yang terjadi ditandai dengan menarche (haid  pertama), perubahan pada dada, tumbuhnya rambut kemaluan dan juga pembesaran panggul. Masalah kesehatan yang sering terjadi di kalangan remaja putri adalah kurangnya menjaga kesehatan alat reproduksi. Remaja kurang memperhatikan kesehatan alat reproduksi karena umur yang relatif muda dan masih dalam bangku pendidikan. Kegiatan PKM ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan meningkatkan pengetahuan remaja putri tentang kesehatan dan kebersihan alat reproduksi. Kegiatan dilakukan kepada siswi SMA Negeri 01 Rejeng melalui penyuluhan kesehatan. Hasil yang dicapai dari kegiatan ini adalah terwujudnya kesadaran partisipatif remaja putri untuk selalu menjaga kesehatan dan kebersihan alat reproduksi yang dimulai dari diri sendiri. Ini terbukti dengan kehadiran remaja putri pada saat kegiatan penyuluhan dilaksanakan. Dengan adanya kesadaran remaja putri secara individu dapat mendorong kesadaran kolektif sehingga terciptanya remaja putri yang sehat dan terhindar dari penyakit karena kurangnya menjaga kesehatan dan kebersihan alat reproduksi.Kata Kunci: Organ Reproduksi, Pengetahuan, Penyuluhan, Remaja Putri Adolescence is a period in human development. At this time there are changes both biologically, psychologically and socially. In adolescent girls, the changes that occur are marked by menarche (first menstruation), changes in the chest, growth of pubic hair and also enlargement of the pelvis. The health problem that often occurs among young women is the lack of maintaining the health of the reproductive organs. Adolescents pay less attention to reproductive health because they are relatively young and still in education. This community service activity aims to provide understanding and increase knowledge of young women about reproductive health and hygiene. The activity was carried out for students of SMA Negeri 01 Rejeng through health counseling. The results achieved from this activity are the realization of participatory awareness of young women to always maintain the health and cleanliness of reproductive organs starting from themselves. This is evidenced by the presence of young women when the counseling activities are carried out. With the awareness of adolescent girls individually can encourage collective awareness so as to create healthy young girls and avoid disease due to lack of maintaining the health and hygiene of reproductive organs.Keywords: Reproductive Organs, Knowledge, Counseling, Teenage Girl
Promosi Kesehatan untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Lansia yang Produktif Aktif dan Sehat di Desa Lalang Manggarai Timur Heribertus Handi; Wilibrodus Sandri Mampur; Derfina Maria Bahagia Idu; Efram Igrenino Rahmat; Gabriel Fredi Daar
Jurnal Pengabdian Dharma Laksana Vol 5, No 2 (2023): JPDL (Jurnal Pengabdian Dharma Laksana)
Publisher : LPPM Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/j.pdl.v5i2.28094

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup lansia yang produktif, aktif sehat, dan mendorong Warga Lansia untuk secara mandiri melakukan pola hidup sehat melalui senam lansia. Kegiatan ini dilakukan di Desa Lalang Kabupaten Manggarai Timur NTT. Kegiatan dilakukan dalam bentuk ceramah, roll mode, dan praktik. Berdasarkan hasil evaluasi melalui obervasi, ditemukan bahwa lansia sangat senang dan antusias mengikuti kegiatan penyuluhan senam lansia. Ini terlihat pada keaktifan dan partisipasi Lansia dalam mengikuti keseluruhan kegiatan diskusi dan dalam menjawab setiap pertanyaan yang diajukan pelaksana PKM. Dengan demikian dapat direkomendasikan bahwa kegiatan promosi kesehatan untuk meningkatan kualitas hidup lansia yang produktif aktif dan sehat, melalui senam lansia dan permainan memori dan penyuluhan kesehatan hendaknya selalu diimplementasikan dalam kegiatan mingguan di Puskesmas Lalang.
The off-Record Politeness Strategy and Cultural Values of the Belis Negotiation Speech Event: A Sociopragmatic Study Gabriel Fredi Daar; Ni Luh Sutjiati Beratha; I Made Suastra; Ni Wayan Sukarini
Indonesian Journal of Applied Linguistics Vol 12, No 3 (2023): Vol. 12, No.3, January 2023
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/ijal.v12i3.48746

Abstract

This study aims to find out the language politeness strategies applied by the tongka (spokesperson) and other parties involved in the belis negotiation speech event in the Manggarai community, the Pasat-Ruis dialect, Indonesia. This study used a phenomenological approach. Data were collected through in-depth interviews with five key informants with experience as spokespersons (tongka) and adequate knowledge of the Manggarai language and culture. Data were analyzed using the interactive model proposed by Miles and Haberman (1992). The study found that the off-record politeness strategy was applied in two patterns; (1) The use of metaphorical phrases to refine the speech. Knowledge and the ability to interpret the meaning of speech through metaphorical phrases is an important aspect that must be possessed by a tongka (spokesperson) by connecting the phrase with the context of its use so that it can be understood and fulfills the elements of Politeness. (2) The use of sopi while conveying speech. The patterns show Politeness and the distinctive and authentic characteristics of Manggarai culture. Meanwhile, the cultural values of the utterances of belis negotiations include kinship, brotherhood, responsibility, appreciation, and respect. Thus, the findings indicate that the spokespersons selected in the belis negotiation process need to consider the knowledge of Manggarai culture and the ability to use metaphorical phrases in cultural speech so that the belisnegotiation process runs smoothly according to the expectations of the two extended families.
Pencegahan Stunting melalui Parenting Class di Desa Sambi Gabriel Fredi Daar; Claudia Fariday Dewi; Jayanti Petronela Janggu
Jurnal Abdi Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22334/jam.v3i1.32

Abstract

Kurangnya pengetahuan dan pemahaman orang tua tentang cara mendidik, merawat, dan memberikan makanan bergizi kepada anak pada 1000 hari pertama kehidupan berdampak pada ketidakmampuan orang tua dalam memberikan pendidikan dan pengasuhan yang positif. Hal ini menyebabkan anak tidak tumbuh dan berkembang secara optimal bahkan menderita stunting. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk menambah ruang pemahaman orang tua tentang pendidikan dan pengasuhan anak pada 1000 hari pertama kehidupan di desa Sambi, yang diharapkan berkontribusi dalam menurunkan angka stunting. Kegiatan dilakukan melalui parenting class kepada wanita usia subur, wanita hamil dan orang tua yang memiliki anak usia PAUD. Penelitian pengabdian ini dilakukan dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dialog dan sharing praktik baik. Berdasarkan evaluasi lisan, hasil yang dicapai dari kegiatan ini adalah bahwa hampir semua orang tua siswa beranggapan faktor gizi merupakan satu-satunya faktor penyebab stunting pada anak di desa Sambi. Anggapan ini memperkuat kebiasaan menerapkan pola asuh negatif pada anak dan kebiasaan tidak memperhatikan pendidikan dan pengasuhan anak. Berdasarkan pengakuan orang tua, pengetahuan tentang pendidikan dan pengasuhan positif bagi anak merupakan informasi baru yang membantu mereka untuk memberikan pendidikan dan pengasuhan yang tepat sehingga anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang ideal sesuai dengan usianya. Pelaksanaan pendidikan dan pengasuhan positif kepada anak pada usia 1000 hari pertama kehidupan dan pada usia Paud secara konsisten, akan berkontribusi pada penurunan angka stunting di Sambi, NTT.
The sociopragmatic study of speech acts in Go’et Ira in the We’e Mbaru cultural rite Gabriel Fredi Daar
Studies in English Language and Education Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/siele.v10i2.26545

Abstract

We’e Mbaru is a cultural rite of entering a new house in the Manggarai speech community speaking the Pasat-Ruis dialect in Flores Island, East Nusa Tenggara Province, Indonesia. Ira is one of the phases in this cultural tradition. At this stage, a Tongka (spokesperson) and participant representatives conduct cultural interactions using go’et (expression or proverb). This study aimed to analyze the speech acts of go’et in the Ira phase. The study used a qualitative method with a phenomenological approach. Data were collected using in-depth interviews with seven key informants, taken purposively with the main criteria of having adequate knowledge of Manggarai culture, good ability to use go’et, and experience as a Tongka. The results showed that the speech acts of go’et in the Ira phase included representative and directive acts (illocutionary acts). The study also found that the expressive speech act of gratitude, prayers, and hopes, and the speech act of giving financial support are categorized as perlocutionary speech acts. The use of go’et by a Tongka and participant representatives is considered a language politeness strategy effective for refining the language used, especially for avoiding face-threatening acts. Tongka and participant representatives need to understand the context and situation of the speech so that the choice of go’et is appropriate and conveyed judiciously.
Speech Act Use in Jokowi Political Communication during The Press Conference of The State Visit in Moskow Gabriel Fredi Daar; Fransiskus Jemadi
LET: Linguistics, Literature and English Teaching Journal Vol 13, No 1 (2023)
Publisher : English Department of Faculty of Tarbiyah and Teacher Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/let.v13i1.9041

Abstract

Concern about global conditions due to war, famine, and disease prompted President Jokowidodo to make a state visit to Russia and Ukraine, the two largest exporters of fertilizer and wheat in the world. This study aims to analyze the speech act of Jokowidodo's press statement during a state visit to Moscow on June 30, 2022. This research is a qualitative descriptive study. The data was obtained by observing the video of Jokowi's press statement during a state visit to Moscow. The transcribed data were then grouped according to the order in which the press conference was delivered. The data were analyzed using Austin's speech act theory (1962) and Searle's (1979). Research shows that there are three types of speech acts in Jokowi's press statement, expressive speech acts, assertive speech acts (affirming and informing), and directive speech acts (influence, invite and convince). Although not explicitly stated, the speech act of Jokowi's press statement has a noble purpose and goal: to encourage countries that are in conflict to resolve conflicts by peaceful resolution.
PENGUATAN PENDIDIKAN KELUARGA MELALUI PARENTING CLASS UNTUK MENCEGAH DAN MENANGANI STUNTING DI DESA SAMBI, KECAMATAN REOK BARAT KABUPATEN MANGGARAI, NTT Gabriel Fredi Daar; Claudia Fariday Dewi; Jayanti Petronela Janggu
-
Publisher : UNIVERSITAS KHAIRUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/pengamas.v6i1.3274

Abstract

Kurangnya pengetahuan dan pemahaman orang tua tentang cara mendidik, merawat, dan memberikan makanan bergizi kepada anak pada 1000 hari pertama kehidupan berdampak pada ketidakmampuan orang tua dalam memberikan pendidikan dan pengasuhan yang positif, yang pada akhirnya anak tidak tumbuh dan berkembang secara optimal bahkan menderita stunting. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk menambah ruang pemahaman orang tua tentang pendidikan dan pengasuhan anak pada 1000 hari pertama kehidupan di desa Sambi, yang diharapkan berkontribusi dalam menurunkan angka stunting di desa tersebut. Kegiatan yang dilakukan berupa parenting class dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dialog dan sharing praktik baik. Berdasarkan evaluasi lisan, hasil yang dicapai dari kegiatan ini adalah bahwa hampir semua orang tua siswa beranggapan faktor gizi merupakan satu-satunya faktor penyebab stunting pada anak di desa Sambi. Anggapan ini memperkuat kebiasaan menerapkan pola asuh negatif pada anak dan kebiasaan tidak memperhatikan pendidikan dan pengasuhan anak. Berdasarkan pengakuan orang tua, pengetahuan tentang pendidikan dan pengasuhan positif bagi anak merupakan informasi baru yang membantu mereka untuk memberikan pendidikan dan pengasuhan yang tepat sehingga anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang ideal sesuai dengan usianya. Namun sebagian dari mereka mulai menerapkan pendidikan dan pengasuhan positif setelah mendapat informasi yang disampaikan oleh pelaksana dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini. Pelaksanaan pendidikan dan pengasuhan positif kepada anak pada usia 1000 hari pertama kehidupan dan pada usia Paud secara konsisten, akan berkontribusi pada penurunan angka stunting di Sambi, NTT.
Social Campaign Signs in Ruteng, Flores Eastern Indonesia (A Case Study on Jendral Ahmad Yani Street) Gabriel Fredi Daar; I Nyoman Suparwa; Anak Agung Putu Putra

Publisher : Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Sambi Poleng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Outdoor sign of social campaign is needed to increase awareness and knowledge of the viewer and foster positive perceptions and behaviours. Social campaigns signs can be made by the government or private parties concerned about human living and usually placed in public places. This study aims to analyse social campaign outdoor signs’ verbal and visual grammar. The data were collected through photographic techniques by documenting the outdoor signs using a digital camera. The data were obtained from social campaign outdoor signs placed in the street of Jenderal Ahmad Yani as one of the main streets in Ruteng, Flores, Indonesia. The results showed that the government provides the outdoor signs of a social campaign to change people’s behaviour. The outdoor signs use local language in verbal signs. It represents an effort to facilitate the viewer to obtain the meaning of information given by the sign easily. It is also found that the social campaign outdoor signs use social language that tends to be more formal, and verbal signs are used dominantly. They are placed at the centre of the sign and are the most salient elements. However, other participants are as salient as the main element and are considered to reduce the viewer’s attention to focus more on the main element of the sign. Thus, it is recommended that the next study focuses on analysing the producer (government) motive to use more verbal signs in social campaign outdoor signs in Jenderal Ahmad Yani Street in Ruteng, Indonesia.
Speech Act Use in Jokowi Political Communication during The Press Conference of The State Visit in Moskow Gabriel Fredi Daar; Fransiskus Jemadi
LET: Linguistics, Literature and English Teaching Journal Vol. 13 No. 1 (2023)
Publisher : English Department of Faculty of Tarbiyah and Teacher Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/let.v13i1.9041

Abstract

Concern about global conditions due to war, famine, and disease prompted President Jokowidodo to make a state visit to Russia and Ukraine, the two largest exporters of fertilizer and wheat in the world. This study aims to analyze the speech act of Jokowidodo's press statement during a state visit to Moscow on June 30, 2022. This research is a qualitative descriptive study. The data was obtained by observing the video of Jokowi's press statement during a state visit to Moscow. The transcribed data were then grouped according to the order in which the press conference was delivered. The data were analyzed using Austin's speech act theory (1962) and Searle's (1979). Research shows that there are three types of speech acts in Jokowi's press statement, expressive speech acts, assertive speech acts (affirming and informing), and directive speech acts (influence, invite and convince). Although not explicitly stated, the speech act of Jokowi's press statement has a noble purpose and goal: to encourage countries that are in conflict to resolve conflicts by peaceful resolution.