Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

GONG BETINO DAN GONG JANTAN: KONSTRUKSI GENDER PADA ALAT MUSIK GONG BULUH KERINCI Amor Seta Gilang Pratama; Masvil Tomi; Dwi Rahariyoso
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 22 No. 2 (2022)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v22i2.4673

Abstract

This research focuses on the relationship between the cultural structure of Kerinci, and the Gong Buluh traditional music. What is being explored is how material culture is, also seen in treating the reed gong as a traditional musical instrument in Kerinci. The method used in this research is a qualitative method with a case study approach. The process of collecting data is by conducting ethnographic interviews. Ethnographic interview is a type of interview that is not too formal, friendly, but inserts ethnographic questions, such as questions that are descriptive, structural, and contrast. There are two stages of data analysis technique. The first stage is to codify the data that has been obtained. The second stage is to carry out an analysis between data, to see the relationship between the structure of the kerinci culture and Gong Buluh, using the theory or concept that has been referred to. The results of the study show that epistemologically, the structure of the reed gong is divided into two parts, namely the gong betina and the gong jantan. Gong betina have a higher sound intensity than gong jantan. The terms betina and jantan in the context of the gong become a duality related to the structure of the Kerinci culture. The Kerinci tribe adheres to a materiallineal system, in which women (ninik mamak, inner child) are the highest customary authority holders. The structure of the gong reed thus has a similarity to the construction of the Kerinci culture which is the basis and convention in rituals traditions, especially Kenduri Sko.
Pemetaan Pertumbuhan Dan Persebaran Kesenian Di Kawasan Transmigran Sungai Bahar Kabupaten Muaro Dennys Pradita; Hanif Risa Mustafa; Inda Lestari; Nugrahadi Mahanani; Amor Seta Gilang Pratama; Septi Utami
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 11 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v11i1.7897

Abstract

Kecamatan Sungai Bahar memiliki fenomena budaya yang menarik, khususnya kehadiran seni dan budaya transmigran yang telah berkembang sejak terbentuknya wilayah tersebut. Namun, di tengah kemajuan teknologi, generasi muda Sungai Bahar menunjukkan tanda-tanda kehilangan keterikatan pada akar budaya mereka. Generasi muda mulai kehilangan pemahaman tentang budaya lokal, termasuk seni dan budaya transmigran yang berkembang di lingkungan mereka. Studi ini bertujuan untuk memetakan potensi seni dan budaya transmigran di Sungai Bahar dan memvisualisasikannya sebagai bentuk upaya pelestarian. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif, etnografi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya empat desa yang masih mempertahankan kegiatan seni dan budaya, meskipun berada dalam keadaan tidak aktif secara terus-menerus. Penelitian menyumpulkan bahwa pemetaan dan visualisasi budaya dapat menjadi langkah pertama dalam mendukung upaya pelestarian dan penguatan identitas budaya masyarakat transmigran dari kaca mata kronologi.