Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola penggunaan ChatGPT dan dampaknya terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Universitas Islam Kuantan Singingi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penggunaan ChatGPT oleh mahasiswa sangat tinggi, namun didominasi oleh pola penggunaan yang pasif dan instan. Mahasiswa menggunakan ChatGPT untuk menyusun makalah, menjawab pertanyaan diskusi, serta memahami materi kuliah, tetapi mayoritas hanya menyalin jawaban tanpa melakukan proses analisis, evaluasi, maupun verifikasi dengan sumber lain seperti buku atau jurnal ilmiah. ChatGPT lebih berfungsi sebagai penyedia jawaban cepat daripada sebagai sarana pembelajaran reflektif. Temuan lain menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis mahasiswa masih tergolong rendah meskipun mereka menggunakan teknologi AI. Hal ini tampak dari lemahnya kemampuan menganalisis informasi, mengevaluasi argumen, serta menyusun argumentasi yang logis. Mahasiswa cenderung menerima jawaban dari ChatGPT secara utuh tanpa mempertanyakan validitas maupun relevansinya, sehingga tidak terjadi pengolahan informasi menjadi pemahaman yang lebih mendalam. Minimnya pemanfaatan kritis terhadap ChatGPT disebabkan oleh rendahnya literasi digital kritis, motivasi belajar yang kurang, serta terbatasnya arahan dari dosen mengenai penggunaan AI secara bijak dan bertanggung jawab. Mahasiswa lebih berorientasi pada penyelesaian tugas ketimbang proses berpikir mendalam. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa kehadiran ChatGPT belum mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa secara otomatis.