Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

PENGARUH LATIHAN FISIK TERHADAP KADAR ASAM URAT DAN KOLESTEROL PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO Muhammad Iradat Sakti; Badaruddin, Rahma; Fitriani, Junjun; Asrinawaty, Andi Nur; Akib, Muhammad Ihsan
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran Vol. 10 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/mtj.v10i1.1838

Abstract

Latar Belakang: Asam urat merupakan senyawa dari metabolisme purin dalam darah. Kolesterol adalah salah satu bentuk dari lipid yang diproduksi oleh tubuh melalui organ hati. Kadar asam urat dan kolesterol dapat dikontrol dengan melakukan gaya hidup sehat seperti konsumsi makanan dan olahraga atau latihan fisik. Latihan fisik (balke test) merupakan salah satu jenis olahraga yang membantu optimalisasi kerja organ jantung dan paru. Latihan fisik berupa balke test dapat bermanfaat menurunkan tingginya angka penderita penyakit tidak menular dengan faktor risiko seperti tingginya asam urat dan kolesterol dalam darah. Tujuan: Mengetahui pengaruh latihan fisik terhadap kadar asam urat dan kolesterol mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako. Metode: Penelitian ini yaitu penelitian eksperimental menggunakan metode penelitian pra eksperimental dengan one group pretest-posttest. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako dengan jumlah sampel sebanyak 33 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil: Analisis data menggunakan uji Shapiro-wilk menunjukkan nilai sig>0.05 yang artinya data terdistribusi normal kemudian dilanjutkan uji Wilcoxon dan uji Mann Whitney dengan hasil (p=0,000) yang menunjukkan terdapat pengaruh signifikan latihan fisik terhadap kadar asam urat dan kolesterol dalam darah. Kesimpulan: Terdapat pengaruh latihan fisik (balke test) terhadap kadar asam urat dan kolesterol
PENGARUH KEPATUHAN MINUM OBAT TERHADAP TEKANAN DARAH PASIEN HIPERTENSI PADA PESERTA PROLANIS DI PUSKESMAS KAMONJI SULAWESI TENGAH Wafiq Nadzifah Ahyani; Fitriani, Junjun; Syamsi, Nur; Badaruddin, Rahma; Nilawati
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran Vol. 10 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/mtj.v10i1.1912

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit tidak menular penyebab kematian utama di seluruh dunia. Diperkirakan setiap tahun ada 9,4 juta orang meninggal akibat hipertensi dan komplikasinya. Kepatuhan minum obat didefiniskan sejauh mana seseorang dalam mengkonsumsi obat, kepatuhan dapat menjadi faktor kunci dalam mengelola hipertensi. Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) merupakan sistem pelayanan kesehatan yang diadakan oleh BPJS Kesehatan salah satunya penderita hipertensi, untuk mencapai kualitas hidup yang optimal. Tujuan penelitian ini untuk Mengetahui Pengaruh Kepatuhan Minum Obat Terhadap Tekanan Darah Pasien Hipertensi Pada Peserta Prolanis di Puskesmas Kamonji Sulawesi Tengah. Metode penelitian ini bersifat analitik dengan metode pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 60 sampel. Penelitian ini menggunakan data primer yaitu kuisioner MMAS-8 dan kuisioner data karakteristik responden, dan data sekunder yaitu rekam medis pasien penderita hipertensi peserta prolanis di puskesmas kamonji sulawesi tengah. Hasil uji statistik Chi square didapatkan hasil hasil bahwa P value sebesar 0,327, artinya nilai P > dari =0,5 yang berarti H0 diterima dan H1 ditolak, tidak terdapat pengaruh antara kepatuhan minum obat terhadap tekanan darah pasien hipertensi. Kesimpulan Tidak ada pengaruh yang signifikan antara kepatuhan minum obat terhadap tekanan darah pasien hipertensi pada peserta prolanis di puskesmas kamonji sulawesi tengah. Kata kunci: Hipertensi, Kepatuhan Minum Obat, Prolanis, Tekanan Darah.
Evaluation of C-Reactive Protein, Neutrophil-To-Lymphocyte Ratio, and Absolute Neutrophil Count as Simple Diagnostic Markers for Spontaneous Bacterial Peritonitis Putri, Ayu Sekarani Damana; Supriono, Supriono; Tonowidjojo, Vera Diana; Fitriani, Junjun; Utama, Gede Nanda; Muthmainah, Andi Alfia; Asrinawati, Andi Nur
Journal of Health and Nutrition Research Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Media Publikasi Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56303/jhnresearch.v4i2.497

Abstract

Spontaneous bacterial peritonitis (SBP) is a serious complication of liver cirrhosis with high morbidity and mortality. Early diagnosis is crucial; however, ascitic fluid analysis is invasive and often yields a low culture positivity rate. This study aimed to evaluate the diagnostic performance of C-reactive protein (CRP), absolute neutrophil count (ANC), and neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR) as non-invasive markers for the early detection of SBP. A prospective observational study was conducted on 90 liver cirrhosis patients with ascites undergoing diagnostic paracentesis at Saiful Anwar Hospital, Indonesia. CRP, ANC, and NLR levels were compared between the SBP and non-SBP groups. Receiver operating characteristic (ROC) curves were used to assess diagnostic accuracy, and logistic regression identified independent predictors. NLR and ANC levels were significantly higher in SBP patients (p = 0.004 and p = 0.033, respectively), while the difference in CRP levels was not statistically significant (p = 0.372). NLR showed the best performance (sensitivity 81.8%, specificity 68.2%) at a cut-off of 6.8 and was independently associated with SBP (OR = 11.09, p = 0.019). ANC had similar sensitivity but lower specificity, while CRP demonstrated the weakest predictive value. In conclusion, NLR and ANC are emerging as promising, simple, and cost-effective non-invasive biomarkers for the early screening of SBP in cirrhotic patients, particularly in settings where paracentesis is not readily available. NLR, in particular, holds significant diagnostic value. Conversely, CRP may be less reliable in this patient population. Larger multicenter studies are needed to validate these findings
HUBUNGAN USIA, DURASI DAN LAMA KERJA TERHADAP KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH (NPB) PADA PENJAHIT KONVEKSI DI KOTA PALU Nilawati, Nilawati; Filatamar, Anggun; Fitriani, Junjun; Sulistiana, Ria; Rupawan, I Kadek; Akib, Muhammad Ihsan; Pratika, Mayabi
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.49983

Abstract

Nyeri Punggung Bawah (NPB) merupakan sindrom klinis yang ditandai dengan timbulnya gejala nyeri di sekitar punggung bawah (L5-S1) tanpa atau dapat disertai penularan ke ekstremitas inferior. NPB merupakan keluhan muskuloskeletal yang paling umum. Prevalensinya berkisar 20-33% pada seluruh penderita keluhan nyeri muskuloskeletal di seluruh dunia. Jumlah penderita nyeri punggung bawah di Indonesia belum diketahui secara pasti, namun diperkirakan antara 7,6% hingga 37%. NPB dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko seperti usia, durasi dan lama bekerja. Penjahit konveksi merupakan pekerjaan dengan risiko tinggi terjadinya keluhan NPB akibat paparan faktor risiko dalam melakukan pekerjaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia, durasi dan lama bekerja terhadap keluhan Nyeri Punggung Bawah (NPB) pada penjahit konveksi di Kota Palu. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah penjahit konveksi, ukuran sampel adalah 36 yang diambil dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner berdasarkan The Pain and Distress Scale. Uji chi square untuk analisis bivariat. Ada korelasi antara usia dan lama bekerja dengan keluhan NPB pada penjahit konveksi Kota Palu, sesuai dengan hasil, yang menunjukkan nilai p <0,05 untuk usia (p = 0,000) dan lama bekerja (p = 0,000). Namun, tidak ditemukan korelasi untuk durasi kerja (p = 0,148). Usia dan lama bekerja berhubungan, namun tidak ada korelasi antara durasi kerja dan keluhan NPB pada penjahit konveksi Kota Palu.
Peningkatan Peran Ibu Rumah Tangga Dalam Deteksi Dini Dan Pencegahan Sindrom Metabolik Sumarni, Sumarni; Junjun Fitriani; Nur Syamsi; Muhammad Rizqy Hanif
KOMUNITA: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 5 No 1 (2026): Februari
Publisher : PELITA NUSA TENGGARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60004/komunita.v5i1.418

Abstract

Sindrom metabolik merupakan kumpulan faktor risiko metabolik yang secara signifikan meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami penyakit jantung koroner, diabetes melitus tipe 2, dan komplikasi metabolik lainnya. Kondisi ini ditandai oleh obesitas sentral, peningkatan tekanan darah, hiperglikemia, kadar trigliserida tinggi, dan penurunan kolesterol tipe High Density Lipoprotein (HDL). Di Indonesia, prevalensi sindrom metabolik terus meningkat, termasuk di wilayah pedesaan seperti Desa Lolu, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan ibu rumah tangga dalam melakukan deteksi dini dan pencegahan sindrom metabolik melalui pendekatan partisipatif berbasis komunitas. Kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu persiapan, sosialisasi, edukasi, pelatihan pemeriksaan kesehatan sederhana, dan evaluasi. Evaluasi dilakukan dengan metode pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan peserta tentang pencegahan dan deteksi dini sindrom metabolik. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman ibu rumah tangga mengenai faktor risiko dan cara pencegahan sindrom metabolik. Pengabdian ini membuktikan bahwa pendekatan edukatif partisipatif mampu memberdayakan ibu rumah tangga sebagai agen perubahan dalam pencegahan penyakit tidak menular di tingkat keluarga dan masyarakat.
Efektivitas Gel Ekstrak 10% Rimpang Kunyit Putih (Curcuma zedoaria L.) Terhadap Penyembuhan Luka Sayat pada Tikus Putih (Rattus norvegicus L.) Galur Wistar Nur Rezky Amaliah; Asrawati Sofyan; Junjun Fitriani; Devi Oktafiani
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 3 (2026): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.3 (2026)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i3.1024

Abstract

Pendahuluan: Luka sayat merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi tinggi di Indonesia dan berisiko menimbulkan infeksi serta keterlambatan penyembuhan bila tidak ditangani dengan tepat. Indonesia memiliki potensi besar tanaman obat, salah satunya kunyit putih (Curcuma zedoaria L.) yang mengandung kurkuminoid, flavonoid, tanin, alkaloid, dan minyak atsiri dengan efek antiinflamasi, antibakteri, dan antioksidan yang berperan dalam penyembuhan luka. Namun, penelitian mengenai efektivitas ekstrak kunyit putih terhadap penyembuhan luka masih terbatas, sehingga diperlukan penelitian ini untuk membuktikan potensinya sebagai terapi alternatif berbasis bahan alam. Metode: Penelitian eksperimental dengan rancangan post test with control group menggunakan 18 ekor tikus putih galur wistar jantan yang dibagi menjadi tiga kelompok: kontrol negatif (basis gel), kontrol positif (gel bioplacenton®), dan perlakuan (gel ekstrak 10% kunyit putih). Parameter yang diamati adalah panjang luka dan rata-rata waktu penyembuhan. Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis. Hasil: Rata-rata waktu penyembuhan luka sayat pada kelompok kontrol positif adalah 5,5±0,54 hari, kontrol negatif 7,5±1,22 hari, dan perlakuan 5,1±1,32 hari. Uji Kruskal-Wallis menunjukkan perbedaan bermakna antar kelompok (p=0,009). Pembahasan: Efektivitas gel ekstrak 10% rimpang kunyit putih dalam menyembuhkan luka sayat dikaitkan dengan kandungan metabolit sekunder seperti kurkumin, flavonoid, polifenol, tanin, alkaloid, dan terpenoid yang berperan sebagai antiinflamasi, antioksidan, dan antibakteri. Simpulan: Gel ekstrak 10% rimpang kunyit putih efektif terhadap penyembuhan luka sayat pada tikus putih galur wistar.
THE EFFECT OF NBF (Neutral Buffered Formalin) 10% EARLY FIXATION ON UTERINE MESENCHYMAL CELL MORPHOLOGY IN A SIMPLE LABORATORY Rahmi, Mawar; Hutasoit, Gina Andyka; Fitriani, Junjun; Basry, Amirah
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran Vol. 11 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/f5710y30

Abstract

An unoptimal duration of tissue fixation can cause degradation of cell morphology and reduce the accuracy of histopathological diagnosis. This study examined the effect of fixation duration using 10 percent Neutral Buffered Formalin on the morphology of uterine mesenchymal cells. The objective was to identify and compare their morphological characteristics after fixation for less than 2 weeks and more than 2 weeks and determine the optimal duration. A quasi-experimental design used 56 uterine leiomyoma samples divided into 2 fixation groups and processed with standard histopathology procedures using hematoxylin eosin staining. Morphological quality was evaluated based on nuclear color, cytoplasm, and cell membrane clarity using a 6-level assessment. Data were analyzed with descriptive statistics and a nonparametric comparative test. The group fixed for less than 2 weeks showed higher morphological values than the group fixed for more than 2 weeks, demonstrating clearer smooth muscle fibers, nuclei, and cytoplasm, while prolonged fixation produced shrunken nuclei and denser cytoplasm with reduced clarity. These findings indicate that fixation duration significantly influences the morphological quality of uterine mesenchymal cells, and fixation for less than 2 weeks yields superior morphology. This emphasizes the importance of appropriate fixation duration for producing reliable histopathological preparations.
Histopathological Study of Wistar Rat Liver Infected with Schistosoma japonicum David Pakaya; Varel Bramantio Gagola; Christin Rony Nayoan; Junjun Fitriani; Vera Diana Towidjojo
WMJ (Warmadewa Medical Journal) Vol 9 No 2 (2024): November 2024
Publisher : Warmadewa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmj.9.2.10203.64-69

Abstract

Schistosoma, including Schistosoma japonicum (S. japonicum), can live with an intermediate host, such as rats, and infect mammals, such as humans and rats. We can use a rat model to understand the pathophysiology of Schistosoma. The aim of this study is to describe the histopathological changes of Wistar rat liver infected with S. japonicum. This is a quasi-experimental study that employs a descriptive qualitative approach. The samples were 8-week-old male Wistar rats with an average weight of 250 to 350 g. The whole sample was made up of 16 rats that were given S. japonicum cercaria intraperitoneally. The rats were then split into 4 groups: the control group (C) ended on day 0, the T1 group ended on day 14, the T2 group ended on day 42, and the T3 group ended on day 60. We necropsied the liver, examined it histopathologically using hematoxylin eosin staining, and conducted a qualitative analysis. In the control group, we observed normal liver structure; in the T1 group, we observed hepatocyte degeneration, dilatation of liver sinusoids, and accumulation of inflammatory cells; in the T2 group, we observed similar conditions to the T1 group, including hepatocyte apoptosis; in the T3 group, we observed hepatocyte degeneration, hepatocyte necrosis, infiltration of inflammatory cells (PMNs), and thickening of connective tissue. In conclusion, there was gradual liver damage over the period of time in animal models, and the worst is in chronic conditions, which are dominated by fibrotic tissue, but no granulomas have been found.
Peningkatan Peran Tenaga Kesehatan dan Kader Desa dalam Skrining Kaki Diabetik melalui Program DIGI-FOOT Care Ayu Sekarani Damana Putri; Vera Diana Towidjojo; Christin Rony Nayoan; Junjun Fitriani; Nur Syamsi; Ryfial Azhar
Jurnal Abdimas Indonesia Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34697/jai.v5i4.2429

Abstract

Komplikasi kaki diabetik merupakan salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap kecacatan dan amputasi pada penderita diabetes melitus. Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui deteksi dini menggunakan pemeriksaan monofilamen dan Ankle Brachial Index yang berperan penting dalam mengurangi risiko komplikasi lanjutan. Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan serta kader desa dalam melakukan skrining kaki diabetik menggunakan teknologi sederhana melalui implementasi program DIGI-FOOT Care di Puskesmas Kayuwou, Kabupaten Donggala. Metode kegiatan meliputi sesi pelatihan, workshop interaktif, praktik lapangan, pendampingan langsung dalam skrining, hingga penyerahan sarana pemeriksaan kepada pihak puskesmas. Hasil pelaksanaan menunjukkan peningkatan yang bermakna pada pengetahuan dan keterampilan peserta, yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata pre-test sebesar 52,3 meningkat menjadi 84,6 pada post-test. Selama kegiatan, dilakukan skrining terhadap 57 pasien diabetes, di mana 18% teridentifikasi mengalami neuropati perifer dan 7% berisiko penyakit arteri perifer. Kegiatan ini memberikan dampak positif berupa peningkatan kualitas pelayanan primer, penguatan peran kader desa, serta perluasan akses deteksi dini bagi pasien. Secara keseluruhan, program DIGI-FOOT Care terbukti relevan sebagai model kemitraan berbasis masyarakat dalam mendukung pencegahan komplikasi diabetes di layanan kesehatan tingkat pertama.
Kadar Glukosa Darah Setelah Konsumsi Madu Pada Kelompok Dewasa Muda Riska Yanti; Haerani Harun; Ressy Dwiyanti; Junjun Fitriani; Christin Rony Nayoan; Muh Azzam Faaz; Nihayatul Khoiriyah Rachmat; Darent Aditya Nasario Hermanto
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57832

Abstract

Konsumsi berlebihan karbohidrat terutama gula sederhana dapat menyebabkan fluktuasi glukosa darah hingga peningkatan tinggi glukosa yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan Risiko resistensi insulin. Mengonsumsi pemanis alami seperti madu semakin meningkat, namun data mengenai respons glikemik akut pada individu sehat masih terbatas. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi apakah asupan madu memberikan perubahan yang signifikan terhadap respons glikemik. Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimental dengan pengambilan sampel pretest-posttest pada 41 subjek dewasa muda sehat. Subjek penelitian menjalani puasa selama 8-10 jam, kemudian dilakukan pengukuran glukosa darah puasa (GDP), dilanjutkan dengan konsumsi satu sendok makan madu. Pengukuran kadar glukosa darah dua jam postprandial (GD2PP) dilakukan setelah intervensi. Perbedaan GDP dan GD2PP dianalisis menggunakan uji T berpasangan dan dianggap bermakna bila nilai p<0.05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar GDP adalah 92.24 9.62 mg/dL sedangkan kadar GD2PP adalah 88.76 8.33 mg/dL. Terdapat penurunan kadar glukosa darah yang bermakna secara statistik (p = 0,010) setelah satu sendok konsumsi madu. Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi satu sendok makan madu tidak meningkatkan kadar glukosa pada dewasa muda yang sehat, bahkan cenderung menurun.