Claim Missing Document
Check
Articles

IMPLEMENTASI KOMPLEMENTER BEKAM UNTUK KEBUTUHAN RASA NYAMAN PADA KLIEN HIPERTENSI Diana Putri Ayu Pangestu; Wahyudi Widada
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v4i1.4750

Abstract

Hipertensi atau tekanan darah sistolik lebih besar atau sama dengan 140 mmHg atau tekanan darah diastolik lebih besar atau sama dengan 80 mmHg, atau sedang mengkonsumsi obat penurun tekanan darah tinggi. Tekanan darah tinggi adalah suatu kondisi medis kronis yang dapat menyebabkan komplikasi serius seperti stroke, gagal ginjal, dan penyakit jantung meskipun sering tidak menunjukkan gejala. Pasien hipertensi dengan gangguan rasa nyaman dapat diatasi dengan terapi komplementer bekam yang diharapkan dapat meningkatkan rasa nyaman pada pasien hipertensi. Implementasi dilakukan selama 2 kali dalam 2 minggu, dilakukan sejak tanggal 16 juni sampai dengan 24 juni 2024. Dari hasil evaluasi dari implementasi terapi komplementer bekam mampu meningkatkan rasa nyaman dibuktikan dengan evaluasi hari pertama keluhan tidak nyaman cukup menurun (4) dan hari terakhir keluhan tidak nyaman menurun (5).
EDUKASI NUTRISI JUS BAYAM PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENGALAMI GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI : STUDI KASUS Almaedah, Vina Agustin; Wahyudi Widada
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v4i1.4790

Abstract

Latar Belakang : Gagal Ginjal Kronik adalah kondisi dimana ginjal mengalami kerusakan yang berlanjut melebihi jangka waktu lebih dari 6 bulan. Gagal ginjal biasanya disertai dengan beberapa komplikasi, salah satunya ialah kekurangan nutrisi yang dimana hal ini menyebabkan penurunan kadar hemoglobin yang disebabkan karena ketidakmampuan ginjal membentuk hormone eritropoiten. Pasien gagal ginjal kronik dengan gangguan pemenuhan nutrisi dapat diatasi dengan pemberian jus bayam dengan edukasi nutrisi yang diterapkan dengan diet rendah protein. Tujuan : Untuk mengetahui Edukasi nutrisi pemberian Jus bayam pada pasien Gagal Ginjal Kronik yang mengalami Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi. Metode : menggunakan studi kasus pengumpulan dokumentasi dan angket hasil dari pemerikasaan diagnostic dan data lain yang relevan untuk mengeksplorasi masalah Edukasi nutrisi jus bayam pada pasien gagal ginjal kronik yang mengalami gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi. Hasil Evaluasi hasil dari Edukasi nutrisi jus bayam dalam waktu 3 x 24 jam mendapatkan hasil dari pengaruh pemberian jus bayam, dibuktikan bahwasannya pada hari pertama pasien mengatakan nafsu makan menurun dengan kadar hemoglobin 8,2 g/dl, hari terakhir edukasi nutrisi pada jus bayam pasien mengatakan nafsu makan meningkat dengan kadar hemoglobin 9. Kata Kunci :Gagal ginjal kronik, gangguan pemenuhan nutrisi, jus bayam ABSTRACT Background: Chronic Kidney Failure is a condition where the kidneys experience damage that continues beyond a period of more than 6 months. Kidney failure is usually accompanied by several complications, one of which is nutritional deficiency which causes a decrease in hemoglobin levels due to the inability of the kidneys to form erythropoiten hormone. Chronic renal failure patients with impaired nutritional fulfillment can be overcome by giving spinach juice with nutritional education applied with a low protein diet. Objective: To determine the nutritional education of giving spinach juice to Chronic Renal Failure patients who experience impaired fulfillment of nutritional needs. Methods: using case studies collecting documentation and questionnaires from diagnostic examinations and other relevant data to explore the problem of spinach juice nutrition education in patients with chronic renal failure who experience impaired fulfillment of nutritional needs. The results of the evaluation of the results of spinach juice nutrition education within 3 x 24 hours get the results of the effect of giving spinach juice, as evidenced that on the first day the patient said his appetite decreased with a hemoglobin level of 8.2 g / dl, the last day of nutritional education on spinach juice the patient said his appetite increased with a hemoglobin level of 9. Keywords: Chronic renal failure, nutritional fulfillment disorders, spinach juice
IMPLEMENTASI PENERAPAN GUIDED IMAGERY TERHADAP PERUBAHAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI DI RS KOESNADI BONDOWOSO Lestari, Rizky Dwi; Wahyudi Widada
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v4i2.4825

Abstract

ABSTRAK Tekanan darah sistolik di atas 140 mmHg dan tekanan darah diastolic di atas 90 mmHg, yang didapatkan dari dua kali pengukuran dalam keadaan tenang, didefinisikan sebagai hipertensi (Suciana et al., 2020). Menurut WHO, tekanan darah masih normal pada 140/90 mmHg, namun dikategorikan hipertensi jika mencapai 160/95 mmHg (Adam, 2019). Guided Imaginary pada penderita hipertensi dapat menurunkan tekanan darah walaupun penurunannya berbeda-beda. Hal lain yang dapat mempengaruhi perbedaan setiap individu yang bervariasi, serta tingkat pencapaian relaksasi yang berbeda beda dan umumnya tekanan darah akan naik seiring dengan betambahnya usia (Lannasari et al., 2023). Penelitian ini menggunakan metode wawancara mendalam (in depth interview) untuk menggali informasi secara mendalam mengenai fenomena yang diteliti. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus untuk mengeksplorasi masalah asuhan keperawatan Hipertensi di Ruang Teratai Rs. dr. H. Koesnadi Bondowoso. Standar Guided Imagery yaitu untuk menurunkan rasa cemas serta memberikan relaksasi kepada orang dewasa dan anak-anak. Selain itu, teknik ini efektif dalam mengurangi nyeri, masalah tidur, dan perubahan terhadap tekanan darah. Klien hipertensi akan mengalami perubahan tekanan darah sebagai hasil dari teknik ini, yang dilakukan selama tiga puluh menit setiap latihannya. Evaluasi hasil implementasi keperawatan selama 4x24 jam yaitu, pada hari terakhir setelah melakukan teknik guided imagery, tekanan darah pasien menurun dari 155/98 mmHg menjadi tekanan darah 150/100 mmHg. Hasil evaluasi tersebut menunjukkan bahwa masalah keperawatan pada Ny.M telah diselesaikan sesuai dengan tujuan dan kriteria hasil. Saran bagi keluarga sebaiknya dapat menerapkan Guided Imagery dirumah demi mencegah tekanan darah naik. Kata Kunci: Hipertensi, Guided Imagery ABSRACT Systolic blood pressure above 140 mmHg and diastolic pressure above 90 mmHg, obtained from two measurements in a calm state, are defined as hypertension (Suciana et al., 2020). According to WHO, blood pressure is still considered normal at 140/90 mmHg, but the diagnosis of hypertension is made if it reaches 160/95 mmHg (Adam, 2019). Guided Imagery in hypertensive patients can reduce blood pressure, although the decrease varies and the level of relaxation achieved differs from individual to individual and can increase with age (Lannasari et al., 2023). This study uses an in-depth interview method to explore phenomena related to the researched cases. This research uses a phenomenological approach to explore nursing issues in the Hypertension Room of the Teratai Ward at Rs. Koesnadi Bondowoso. Standard Guided Imagery, which aims to reduce stress, provide relaxation to adults and children. In addition to reducing anxiety, sleep problems, and changes in blood pressure. Hypertensive clients will experience changes in blood pressure as a result of undergoing this technique for thirty minutes each training session. Evaluation of the 4x24 hour period shows a decrease in the patient's blood pressure by 155/98 mmHg to 150/100 mmHg. The results of the evaluation show that the application of guided imagery can be completed in accordance with the expected objectives. The recommendation for the patient's family is to apply Guided Imagery at home to prevent blood pressure from rising. Keywords: Hypertension, Guided Imagery
IMPLEMENTASI TERAPI TOTOK PUNGGUNG TERHADAP PERUBAHAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI Reza Amelia Agustin; Wahyudi Widada
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v4i3.4831

Abstract

Latar Belakang : Keadaan dimana tekanan darah sistole lebih dari maupun sama dengan 140 mmHg ataupun tekanan darah diastole lebih dari ataupun sama dengan 90 mmHg dikenal sebagai Hipertensi. Tujuan : untuk mengevaluasi pasien hipertensi yang menerima terapi komplementer yaitu Totok Punggung yang merupakan salah satu upaya untuk peningkatan kesehatan serta mengurangi sakit di punggung, totok punggung memberikan tekanan dan memberikan getaran area tertentu di punggung. Metode : Desain riset ini memakai riset permasalahan studi kasus observasi. Hasil : pasien tidak mengenali gimana cara gaya hidup sehat paling utama untuk penderita hipertensi. Responden kurang menjaga gaya makan sehingga menyebabkan tekanan darah tinggi kambuh dan menyebabkan nyeri kepala, tekanan darah awal 159/92 mmHg. Diagnosa yang ditemukan yakni manajemen kesehatan tidak efektif. Rencana tindakan keperawatan yang dilakukan adalah pendidikan kesehatan dengan memberikan ajaran perilaku hidup sehat. Tindakan keperawatan yang dilakukan selama 3 x 24 jam dengan edukasi kesehatan. Evaluasi keperawatan setelah diterapkan implementasi didapatkan hasil Responden sudah mengerti bagaimana gaya hidup sehat dan bagaimana menjaga gaya makan dan didapatkan tekanan darah dihari ketiga yaitu tekanan darah Responden normal yaitu 125/73 mmHg. Kesimpulan : Setelah dilakukan implementasi terapi totok punggung terhadap Responden didapatkan tekanan darah normal yaitu 125/73 mmHg. Kata Kunci : Hipertensi, Totok Punggung
IMPLEMENTASI UNTUK MENURUNKAN ANSIETAS PADA PASIEN DIABETES MELITUS DENGAN TEKNIK RELAKSASI OTOT PROGRESIF DI RUANG BOUGENVILLE RSUD Dr. H. KOESNADI BONDOWOSO Siska Aulia Sefani; Wahyudi Widada
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v4i3.4833

Abstract

Latar belakang : Pasien Diabetes Melitus yang mengalami Ansietas merupakan masalah tambahan yang harus dihadapi, apabila tidak ditangani dapat menyebabkan komplikasi. Ansietas pada pasien Diabetes melitus dapat diatasi dengan Implementasi Teknik Relaksasi Otot Progresif untuk menurunkan ansietas di ruang bougenville RSUD Dr H. Koesnadi Bondowoso. Tujuan dari studi kasus ini adalah implementasi untuk menurunkan Ansietas pada asien diabetes melitus dengan teknik relaksasi otot progresif diruang bougenvile RSUD Dr. H. Koesnadi Bondowoso. Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan bentuk studi kasus mendalam pada pasien Diabetes Melitus dengan masalah Ansietas. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumentasi serta pemberian asuhan keperawatan pada pasien Diabetes Melitus dengan menerapakan implementasi teknik relaksasi otot progresif. Asuhan keperawatan melakukan teknik relaksasi otot progresif di implementasikan selama 3 hari pada pagi hari jam 09.00 WIB, sore hari pukul 15.00. dilakukan sejak tanggal 28 Februari 2024 sampai 1 Maret 2024. Evaluasi dilaksanakan pada hari ketiga. Hasil implementasi menunjukkan bahwa sebelum diberikan asuhan keperawatan pada pasien Diabetes Melitus dengan teknik relaksasi otot progresif skor kecemasan pasien 28 dengan kecemasan berat, gula darah sewaktu 324 mg/dl. Implementasi Teknik relaksasi otot progresif dapat menurunkan ansietas pada pasien Diabetes Melitus hingga skor menjadi 14, setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam. Kata Kunci : Diabetes Melitus, Ansietas, Relaksasi Otot Progresif
PENGARUH RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP KUALITAS TIDUR PASIEN RAWAT INAP DI KLINIK PRATAMA NUSA MEDIKA AJUNG A Muhammad Fadil Nur; Wahyudi Widada; Sasmiyanto, Sasmiyanto
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v6i2.5210

Abstract

Latar Belakang: Kualitas tidur adalah karakteristik subjektif dan sering kali ditentukan oleh perasaan energik atau tidak setelah bangun. Kualitas tidur adalah perasaan puas setelah tidur, sehingga orang tersebut tidakmemperlihatkan perasaan lelah, mudah terangsang dan gelisah lesu dan apatis, kehitaman disekitar mata, kelopak mata bengkak, konjungtiva merah, perhatian terpecah, sakit kepala dan sering menguap ataumengantuk. Peningkatan pemenuhan kebutuhan tidur dapat dilakukan dengan mengajarkan cara-cara yangdapat menstimulus dan memotivasitidur. Salah satu cara yang dapat dilakukan terapi relaksasi, terapi ototprogresif dapat digunakan untuk pengobatan non farmakologis. Relaksasi otot progresif yaitu proses yangmelepaskan ketegangan dan mengembalikan keseimbangan baik pikiran maupun tubuh. Tujuan: Penelitian ini untuk mengidentifikasi perbedaan kualitas tidur sebelum dan sesudah diberikannya terapi rileksasi otot progresif di ruang rawat inap klinik Nusa Medika Ajung. Desain Penelitian: Desain penelitian menggunakanpra eksperiment dengan pendekatan pra test- post test one group design. Populasi pasien di ruang rawat inapsebanyak 68 pasien. Sampel yang digunakan sebanyak 68 responden. Sampling menggunakan non probabilty sampling dengan teknik total sampling. Pengumpulan data terapi rileksasi otot progresif menggunakan lembarSOP sedangkan kualitas tidur menggunakan lembar kuesioner. Analisis data menggunakan uji wilcoxon dengan tingkat signifikan (a=5% atau 0,05) apabila p value <0,05. Hasil: Hasil sebelum diberikannya terapi rileksasi otot progresif mayoritas dalam kategori kualitas tidur cukup sebanyak 41 orang dengan prasentase60.3%,dan sesudah diberikannya terapi rileksasi otot progresif kualitas tidur pasien mengalami peningkatan mayoritas kategori kualitas tidur baik sebanyak 51 orang dengan prasentase 75.0%. Kesimpulan: Adapengaruh relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur pasien rawat inap di klinik pratama nusa medikaajung.
PENGARUH TEKNIK PERNAPASAN BUTEYKO TERHADAP KEMAMPUAN FUNGSI PARU PADA LANSIA DENGAN RIWAYAT ASMA DI UPT PELAYANAN SOSIAL TRESNA WERDHA JEMBER Gedeon Putra Tandayu; Sasmiyanto, Sasmiyanto; Wahyudi Widada
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v6i5.5275

Abstract

Kemampuan fungsi paru mengalami gangguan fungsi paru umumnya terjadi karena adanya faktor individu, paru berfungsi untuk mencukupi kebutuhan oksigen. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh Teknik pernapasan Buteyko terhadap kemampuan fungsi paru pada lansia dengan riwayat Asma DI UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha Jember. Penelitian ini menggunakan penelitian pra eksperimen. Besar sampel penelitian berjumlah 27 responden lansia yang memiliki riwayat Asma di UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha Jember. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Proses intervensi menggunakan standar prosedur operasional teknik pernapasan Buteyko. Hasil ini menunjukkan pengaruh yang signifikan antara hasil sebelum melakukan teknik pernapasan Buteyko dengan pengukuran kemampuan fungsi paru, didapatkan zona merah bejumlah 24 orang 88,9% zona kuning 3 orang 11,1% dan setelah dilakukan intervensi didapatkan zona merah mengalami penurunan dengan total 18 orang 66,7% zona kuning 7 orang 25,9% dan zona hijau 2 orang 7,4%. Penelitian ini menggunakan uji statistik wilcoxon signed test p value sebesar 0,0001 dengan alpha 5%. Kesimpulan hasil penelitian ini, bahwa ada pengaruh teknik pernapasan Buteyko terhadap kemampuan fungsi paru pada lansia dengan riwayat Asma Di UPT Pelayanan Tresna Werdha Jember.
HUBUNGAN INTENSITAS NYERI DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN NYERI ABDOMEN DI PUSKESMAS NANGKAAN BONDOWOSO Onky Yusuf Syahputra Wahid; Wahyudi Widada; Asmuji, Asmuji
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v7i1.5309

Abstract

Pendahuluan: Nyeri merupakan campuran reaksi fisik, emosi, dan perilaku. Stimulus penghasil nyeri mengirimkan impuls melalui serabut syaraf perifer. nyeri abdomen dikatakan sebagai salah satu insiden rasa sakit tertinggi. Nyeri abdomen adalah gejala non-spesifik yang tiba-tiba. Peran perawat pada penatalaksaan nyeri abdomen yaitu mencakup pengkajian nyeri, memberikan tindakan mandiri atau manajemen keperawatan, kolaborasi dengan tenaga medis lainnya dan melakukan evaluasi nyeri. Metode: Desain penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini adalah korelasionaldengan pendekatan cross sectional, sampel adalah pasien dengan keluhan nyeri perut di puskesmas Nangkaan Bondowosoyang sudah di tetapkan oleh peneliti sejumah 44 responden. Diambil dengan menggunakan probability sampling dengan metode quota sampling. Analisis data mengunakan uji statistik Spearman rank. Hasil: penelitian diperoleh p value = 0,000 dengan nilai α = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara intensitas nyeri dengan tingkat kecemasan pada pasien nyeri abdomen di Puskesmas Nangkaan Bondowoso Diskusi: Diharapkan penelitian ini mampu menambah pengetahuan masyarakat pasien terkait tingkat nyeri dan tingkat kecemasan sehingga bisa mengurangi tingkat nyeri dan tingkat kecemasan bagi pasien yang sedang mengalami nyeri abdomen.
The Effects of Reciting Al-Qur’an (Ruqyah Syar’iyyah) on Sleep Quality of Elderly People Living in a Nursing Home Mardiyanti, Mardiyanti; Yuanita, Ita; Pratiwi, Sherly Mulya; Widada, Wahyudi
TSAQAFAH Vol. 20 No. 1 (2024): Tsaqafah Jurnal Peradaban Islam
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v20i1.9716

Abstract

Elderly are at risk of having poor sleep quality due to chronic illness, emotional distress, anxiety, environment, malnutrition and low physical activities. Evidence showed religious therapy effectively improve mental health, reduce anxiety and depression. However, the use of ruqyah syar’iyyah for managing sleep disturbance has not been studied well, therefore this research aimed to investigate the effectiveness of ruqyah therapy on sleep quality of elderly people. This study used Quasi Experimental with one group Pre-test Post-test design approach. Elderly in the nursing homes were selected based on their Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) score. Seventeen elderly with PSQI> 5, Muslim and followed all the study program were participated in this study analysis.  The intervention was done by reciting selected Surah in the Qur’an once a day for three nights. The post-test was held on the last day of data collection by measuring PSQI. The age of respondents range from 61-82 years old with the majority in the elderly age (60- to 74-year-old with 76,5%), most of the education level of the respondents were elementary school (64,7%). The PSQI mean score was 14,88 ± 2,09 (pre-test) vs 9.12 ± 1,6 (post-test) P-value<0.05. Ruqyah syar’iyyah improves the elderly quality of sleep by significantly reduces the PSQI score. Ruqyah therapy may help elderly managing psychological issues that interfere their sleep latency and sleep duration. However, the study does not differentiate the group base on the cause of poor sleep   quality. Therefore, it is suggested to study the effect of ruqyah therapy based on the cause of poor sleep quality of the elderly. Nurses and other heathcare providers are suggested to use Ruqyah therapy for intervening poor sleep quality among elderly
Therapeutic Effect of Hijamah (Cupping Therapy) on Lipid Profiles and Apolipoprotein in Hypercholesterolemic Patients Pelawati, Ratna; Widada, Wahyudi; Wulandari, Endah; Mardiyanti, Mardiyanti; Samsiah, Samsiah
Jurnal Keperawatan Soedirman Vol 17 No 2 (2022): Jurnal Keperawatan Soedirman (JKS)
Publisher : Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.49 KB) | DOI: 10.20884/1.jks.2022.17.2.5692

Abstract

Hijamah or cupping therapy has a therapeutic effect on cholesterol. However, there is still a lack of studies that investigate the potential effect of cupping in managing apolipoprotein B as a proatherogenic agent and apolipoprotein A-1 as an anti-proatherogenic agent. This study aims to explore the effect of cupping therapy on lipid profiles and apolipoproteins in hypercholesterolemic patients. A pre-post experimental design without controls were used. Consecutive sampling was applied to 40 dyslipidemia respondents. The lipid profiles and plasma apolipoproteins A-I (ApoA-I) and apolipoproteins B (ApoB) were measured after the respondents fasted for 12 hours before cupping therapy and 24 hours after cupping therapy. The Wilcoxon sign-rank test was used for the data analysis. The following results were found: average lipid profile (mg/dL) and apolipoprotein (µg/mL) pre vs post cupping: Total Cholesterol (Pre-test vs Post-test) 328 vs 283 (P-value 0.003); TG 238 vs 204 (P- value 0.007); HDL 78.5 vs 85 (P- value 0.000); LDL 195 vs 158 (P- value 0.001); ApoA-1 0.07 vs 0.67 (P-value 0.000); ApoB 2.04 vs 1.82 (P-value 1.000); ApoB/ApoA-1 ratio 30.22 vs 2.93 (P- value 0.000); cholesterol/HDL ratio 4.06 vs 3.08 (P- value 0.332); TG/HDL ratio 3.01 vs 2.83 (P- value 0.104); LDL/ApoB ratio 90.75 vs 83.82 (P- value 0.0837). In conclusion, cupping therapy reduces total cholesterol, TG, LDL, and apoB/ApoA-1 ratio and increases HDL significantly in dyslipidemic patients. Nurses are suggested to include cupping therapy (hijamah) in their intervention for reducing hypercholesterolemia in dyslipidemic patients.