Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

KAJIAN HISTORIS TAREKAT QADIRIYAH NAQSYABANDIYAH AL-MANDHURIYAH TEMANGGUNG: Eksistensi dan Pengaruh Sosial Keagamaannya Husna Rosyadi, Muhammad; Fuadi, Moh. Ashif; Kusairi, Latif; Safitry, Martina; Mahanani, Qisthi Faradina Ilma
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 4 No. 1 (2023): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v4i1.7428

Abstract

Abstrak Penelitian ini menjelaskan tentang dinamika tarekat qodiriyah wa naqsyabandiyah di Temanggung yang disebarkan oleh K.H. Mandhur. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah, yakni pemilihan topik, pengumpulan sumber, verifikasi, interpretasi dan penulisan sejarah. Penulis menitikberatkan pada sumber primer berupa peninggalan catatan-catatan K.H. Mandhur, dan wawancara terhadap keturunan K.H. Mandhur serta data pendukung penelitian terdahulu dari sumber buku, artikel, atau berita online. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa: K.H. Mandhur merupakan seorang kiai yang berpengaruh di Temanggung, sehingga pesatnya perkembangan tarekat qodiriah wa naqsyabandiyah di Temanggung tak lain adalah karena perannya dalam menyebarkan tarekat tersebut. Adapun sanad tarekat K.H. Mandhur berasal dari Kiai Umar Payaman yang juga merupakan murid Syekh Zarkasi Berjan murid Syekh Abdul Karim al-Bantani. K.H. Mandhur mulai mengenalkan tarekat sebelum Indonesia merdeka yakni sekitar tahun 1920 di daerah Ngebel dan mulai berpindah tahun 1950 mengajarkan tarekat tersebut di pusat Kota Temanggung sampai wafatnya pada tahun 1980. Sepeninggal K.H. Mandhur, kepemimpinan tarekat diteruskan oleh putranya yaitu K.H. Ahmad Bandnudji sampai sekarang. Eksistensi TQN al-Mandhuriyah terbukti membawa dampak sosial-keagamaan dengan adanya interaksi sosial antar jamaah dari berbagai daerah dengan saling bersilaturahmi dan kegiatan para jamaah seperti manakiban, sewelasan, tawajjuhan, peringatan haul K.H. Mandhur, khalwat, selapanan badal. Kata Kunci: Tarekat, TQN al-Mandhuriyyah, K.H. Mandhur, Temanggung.
”GEJOLAK SINGGASANA SANG ADIPATI” Dinamika Suksesi Mangkunegara IX Tahun 1987-1993 Aryadito Fathurrohman; Latif Kusairi; Aly Mashar; Moh. Ashif Fuadi
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 01 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i01.12196

Abstract

Penelitian ini membahas dinamika suksesi di Pura Mangkunegaran, khususnya dalam pergantian kepemimpinan dari K.G.P.A.A. Mangkunegara VIII ke K.G.P.A.A. Mangkunegara IX pada periode 1987-1993. Pura Mangkunegaran memiliki sistem suksesi yang unik karena berada dalam struktur politik tradisional yang tetap bertahan di era modern. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui tahapan heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Sumber utama diperoleh dari dokumen arsip, literatur akademik, dan sumber primer terkait Pura Mangkunegaran, Monumen Pers Nasional Surakarta, dan Perpustakaan Reksa Pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suksesi Mangkunegara IX tidak berlangsung secara sederhana, melainkan melibatkan berbagai dinamika politik dan sosial yang berakar dari sejarah panjang Pura Mangkunegaran. Konflik internal dan perbedaan pandangan di antara anggota keluarga kerajaan menjadi faktor utama yang mempengaruhi jalannya transisi kepemimpinan. Selain itu, beberapa kebijakan yang diterapkan oleh Mangkunegara IX dianggap kontroversial oleh sebagian pihak sehingga menimbulkan ketegangan dalam lingkup internal keraton. Penelitian ini memberikan wawasan baru mengenai kompleksitas sistem suksesi di Pura Mangkunegaran serta bagaimana tradisi kerajaan tetap bertahan di tengah perubahan zaman. Studi ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi kajian sejarah, khususnya dalam memahami mekanisme suksesi dalam lingkungan politik tradisional di Indonesia. Kata Kunci: Suksesi; Pura Mangkunegaran; Mangkunegara IX.
Eksistensi Kapal Kyai Rajamala sebagai Alat Transportasi Tahun 1861-1893: Kajian Sejarah dan Memori Masyarakat Marfiah, Riki; Sucipto, Sucipto; Mahanani, Qisthi Faradina Ilma; Kusairi, Latif
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture Vol. 2 No. 1 (2026): Dampeng: Journal Art, Heritage and Culture
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/dampeng.v2i1.1008

Abstract

This study examines the Kyai Rajamala Ship as a form of royal river transportation and political symbolism in the Surakarta Kasunanan Palace during the1861-1893. Previous studies on Javanese transportation history have mainly focused on trade and colonial infrastructure, while the relationship between river transportation, collective memory, and royal symbolism remains underexplored. Using Maurice Halbwachs’ theory of collective memory and historical research methods, this study analyzes archival sources, oral traditions, palace narratives, and visual documentation related to the Kyai Rajamala Ship. The findings show that the ship functioned not only as a means of royal mobility and diplomacy, but also as a symbol of political legitimacy, spiritual authority, and Javanese cosmology. Furthermore, collective memory regarding the ship has been reproduced through oral traditions, cultural narratives, and heritage discourse in Surakarta society. This study contributes to Southeast Asian maritime history by positioning river transportation as part of inland maritime culture and collective memory formation in nineteenth-century Java. [Penelitian ini mengkaji Kapal Kyai Rajamala sebagai bentuk transportasi sungai kerajaan dan simbolisme politik di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta pada tahun 1861-1893. Kajian sebelumnya mengenai sejarah transportasi di Jawa umumnya lebih berfokus pada perdagangan dan infrastruktur kolonial, sementara hubungan antara transportasi sungai, memori kolektif, dan simbolisme kerajaan masih jarang dibahas. Dengan menggunakan teori memori kolektif Maurice Halbwachs dan metode penelitian sejarah, penelitian ini menganalisis sumber arsip, tradisi lisan, narasi keraton, dan dokumentasi visual yang berkaitan dengan Kapal Kyai Rajamala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapal ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana mobilitas dan diplomasi kerajaan, tetapi juga sebagai simbol legitimasi politik, otoritas spiritual, dan kosmologi Jawa. Selain itu, memori kolektif mengenai kapal ini terus direproduksi melalui tradisi lisan, narasi budaya, dan diskursus warisan budaya dalam masyarakat Surakarta. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap sejarah maritim Asia Tenggara dengan menempatkan transportasi sungai sebagai bagian dari budaya maritim pedalaman dan pembentukan memori kolektif di Jawa abad ke-19.]
Perubahan Perubahan Ekologi dan Bencana” Banjir Bandang di Gunung Wilis dan dampaknya bagi Masyarakat Desa Pucangan Tulungagung, 1976. Latif Kusairi; Andriyanto
Keraton: Journal of History Education and Culture Vol 6 No 2 (2024): December
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/keraton.v6i2.6414

Abstract

The increasing population has led to excessive exploitation of natural resources, particularly through forest exploration, which serves as an environmental buffer. As a result, the risk of natural disasters, such as floods, has risen in several regions of East Java, especially in Kediri and Tulungagung. High rainfall and ecosystem changes due to human activities have worsened the situation, causing flash floods that damage infrastructure and residential areas. Both local and central governments have implemented various mitigation efforts, including direct inspections, aid distribution, and transmigration programs. However, long-term solutions require a more comprehensive approach, encompassing environmental conservation and sustainable spatial planning policies. One significant flood event occurred in Pucangan Village, Tulungagung Regency, which resulted in numerous casualties and environmental destruction. Keywords: Flood, Forest Exploration, Disaster Mitigation, Pucangan