Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Bat Coronavirus of Pteropus alecto from Gorontalo Province, Indonesia Wenty Dwi Febriani; Uus Saepuloh; Ellis Dwi Ayuningsih; R. Suryo Saputra; Azhari Purbatrapsila; Meis Jacinta Nangoy; Tiltje Andretha Ransaleh; Indyah Wahyuni; Safriyanto Dako; Rachmitasari Noviana; Diah Iskandriati; Ligaya ITA Tumbelaka; Joko Pamungkas
The International Journal of Tropical Veterinary and Biomedical Research Vol 3, No 2 (2018): Vol. 3 (2) November 2018
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.276 KB) | DOI: 10.21157/ijtvbr.v3i2.12359

Abstract

Bats have been known as natural reservoirs for potential emerging infectious viruses, such as Lyssaviruses, Coronaviruses, Ebola viruses, Nipah virus, and many others. Because of their abudance in population, wide distribution and mobility, bats have a greater risk as source for zoonotic transmission than other animals. Despite the facts of their role as reservoirs for many pathogens, not until an epidemic of Severe Acute Respiratory Coronavirus (SARS-CoV) in 2003 and Middle-East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV) in 2012, that people pay much attention about coronavirus in bats. SARS-like virus also found in bats with a higher prevalence rate. This study aims to detect the coronavirus of bats in Gorontalo province Indonesia, characterization at the molecular level of the coronavirus genome and determining the level of kinship (through trees filogenetic). This study was conducted as part of bigger PREDICT Indonesia project, in particular to examine coronavirus in bats from Gorontalo province, Indonesia.  As many as  95 rectal swab samples collected from flying foxes (Pteropus alecto) were analyzed in the laboratory using Consensus Polymerase Chain Reaction (PCR) technique to amplify the target sequence from RNA-dependent RNA Polymerase (RdRp) gene with 434 basepair product, resulted 24 samples determined as presumptive positive. Eight out of 24 presumptive positive samples by PCR were analyzed further by nucleotide sequencing and confirmed coronavirus positive. Phylogenetic tree analyses to the eight coronavirus confirmed-sequences were constructed with MEGA-6.0 . The conclusion was 24 out of 95 samples suggested as presumptive positive to Bat CoV. Eight out of 24 samples were analyzed further by nucleotide sequencing and have similarities in the kinship. Three samples had the 98% nucleotide identity to BatCoV from Indonesia and five samples were 85-88% nucleotide identity to BatCoV from Thailand.
Pendampingan Manajemen Reproduksi Ternak Pada Peternak Sapi Desa Batuputih Bitung Provinsi Sulawesi Utara Lomboan, Agustinus; Onibala, Jane; Nangoy, Meis Jacinta
The Studies of Social Sciences Vol. 6 No. 1 (2024): The Studies of Social Sciences
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35801/tsss.v6i1.52474

Abstract

Hingga saat ini Indonesia belum mandiri dalam penyediaan pangan yang bersumber dari daging sapi sehingga untuk memenuhi kebutuhan tersebut pemerintah mengimport ternak sapi. Salah satu faktor penyumbang ketidak mampuan tersebut yaitu pemeliharaan ternak sapi tanpa memperhatikan manajemen reproduksinya. Oleh karena itu tim produksi ternak sapi dan kesehatan ternak Fakultas Peternakan Universitas Sam Ratulangi telah melaksanakan Program kemitraan Masyarakat Pendampingan Peternak Sapi Desa Batuputih Bitung Propinsi Sulawesi dalam penerapan Manajemen Reproduksi. Kegiatan ini dilakukan menggunakan metode Focus Group Discussion, ceramah, dan praktek di lokasi yang melibatkan 10 peternak sapi. Topik pembahasan tentang tanda-tanda pubertas, birahi, bunting, beranak dan cara perawatan ternak pada setiap fase-fase pertumbuhan dan perkembangan. Waktu pelaksanaan kegiatan ini 6 (enam) bulan dengan tahap persiapan (penyiapan lokasi, materi, obat-obatan), pelaksanaan (Fokus Group diskusi, ceramah, dan praktek), publikasi, penyiapan keberlanjutan, dan pelaporan. Hasil dari kegiatan ini yaitu 30 (tiga puluh) ekor sapi telah diperiksa status reproduksinya dan 5 ekor yang mengalami silent heat telah dilakukan perbaikan pakan. Sepuluh peternak telah mampu mengenal tanda-tanda birahi dan merawat sapi bunting.
Pemberantasan Penyakit Rabies Desa Batuputih Bawah Tangkoko Bitung Sulawesi Utara Dengan Pendekatan One Health Nangoy, Meis; Onibala, Jane; Ransaleleh, Tiltje; Lapian, Hapry; Laatung, Sylvia; Koneri, Roni; Lomboan, Agustinus
The Studies of Social Sciences Vol. 6 No. 2 (2024): The Studies of Social Sciences
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35801/tsss.v6i2.58754

Abstract

Desa Batuputih Bawah Tangkoko Bitung merupakan salah satu desa destinasi ekowisata di Propinsi Sulawesi Utara. Pada tahun 2024 desa ini telah ditetapkan sebagai salah satu dari 50 (lima puluh) desa wisata terbaik di Indonesia. Di sisi lain kebanyakan masyarakat desa ini mempunyai kebiasaan memelihara anjing secara lepas. Oleh karena itu di desa ini telah dilakukan kegiatan Program Kemitraan Masyarakat pemberantas penyakit Rabies oleh Tim Universitas Sam Ratulangi agar wisatawan tidak kawatir ketika datang ke desa ini. Pelaksanaan kegiatan ini sebagai implementasi kerja sama Fakultas Peternakan Universitas Sam Ratulangi dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara serta Centre Global Field Study University of Washington yang didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Sam Ratulangi. Pada awal pelaksanaan kegiatan telah dilakukan penyediaan materi edukasi dan vaksin Rabies. Materi edukasi tersebut terkait Bahaya Rabies, Pencegahan Rabies dan Penanganan Kasus Gigitan Anjing. Selain itu dilakukan juga kegiatan kaderisasi vaksinator Rabies. Sasaran kegiatan ini yaitu peningkatan kapasitas Aparat Desa, Petugas Kesehatan Desa, Masyarakat dalam menangani anjing secara baik dan benar. Tim pelaksana kegiatan terdiri atas 7 orang dosen dan 2 orang mahasiswa Fakultas Peternakan serta 1 orang mahasiswa Darmasiswa dari USA. Adapun hasil kegiatan ini yaitu tereduksikasinya 20 orang Masyarakat, terlatihnya 5 orang masyarakat sebagai vaksinator, dan tervaksinnya sejumlah anjing.
Molecular characteristics of endemic animal viruses: Insights from ecology, evolution, and case studies Lapian, H.F.N.; Nangoy, M.J.; Laatung, S.
ZOOTEC Vol. 46 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/zot.46.1.2026.66576

Abstract

Endemic animal viruses represent a critical but often underappreciated dimension of global virology and One Health. Persisting within specific wildlife reservoirs, these viruses typically cause little pathology in their natural hosts, yet they harbor molecular traits that enable adaptation, immune evasion, and, under the right ecological circumstances, cross-species transmission. Advances in high-throughput sequencing and molecular characterization have revealed the genomic plasticity, receptor-binding versatility, and immune-modulatory strategies that underpin viral persistence and pathogenic potential. This critical review synthesizes current knowledge of the molecular characteristics of endemic viruses, focusing on three representative families with significant implications for livestock, wildlife, and human health: Orthomyxoviridae (avian influenza viruses in waterfowl), Paramyxoviridae (henipaviruses in bats), and Herpesviridae (malignant catarrhal fever viruses in wild ruminants). We employed a structured literature search to identify key molecular determinants, such as polymerase adaptations, glycoprotein receptor usage, and latency mechanisms, that contribute to ecological fitness and spillover potential. The review integrates these molecular findings with ecological perspectives, emphasizing how factors such as habitat encroachment and wildlife–livestock interfaces amplify risks. By bridging molecular virology with ecology, we advocate for a comprehensive One Health approach to understanding endemic animal viruses. Keywords: Endemic animal viruses; Molecular virology; Paramyxoviridae; Orthomyxoviridae; Herpesviridae.
Tata laksana pemeliharaan ternak babi binaan PT Maeras Soputan Mining (MSM) Likupang Sudarmanto, H.; Nangoy, M.J.; Lapian, M.T.R.; Podung, A.J.; Onibala, J.S.I.T.; Soputan, J.E.M.
ZOOTEC Vol. 46 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/zot.46.1.2026.66367

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tata laksana pemeliharaan ternak babi pada peternak binaan PT Meares Soputan Mining (MSM) di Desa Winuri, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara. Penelitian menggunakan metode deskriptif melalui observasi langsung dan wawancara terstruktur untuk memperoleh gambaran sistem pemeliharaan yang diterapkan. Aspek yang diamati meliputi manajemen kandang, pemberian pakan, serta manajemen kesehatan dan sanitasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pemeliharaan telah berjalan cukup terstruktur, terutama pada aspek kandang dan keteraturan pemberian pakan. Formulasi ransum secara umum telah memenuhi kebutuhan nutrisi fase pertumbuhan, meskipun masih memerlukan penyesuaian lebih presisi. Penerapan sanitasi rutin telah dilakukan, namun penguatan biosekuriti dan pengelolaan limbah masih diperlukan. Secara keseluruhan, manajemen pemeliharaan berada pada kategori cukup baik, tetapi peningkatan pada aspek kesehatan dan biosekuriti menjadi prioritas untuk mendukung produktivitas dan keberlanjutan usaha ternak babi. Kata kunci: Ternak Babi, Tata Laksana Pemeliharaan, Manajemen Kandang, Kesehatan Ternak.
Houseflies (Musca spp.) in Pig Farming Systems: Implications for Health and Environmental Management in Tropical Indonesia Manitik, Quinthia Amanda; Nangoy, Meis Jacinta; Kaunang, Wulan Pingkan Julia; Onibala, Jane Silvana Iriane; Mamahit, Juliet Merry Eva; Tahulending, Jane Maria Fransiska
Asian Journal of Environmental Research Vol. 3 No. 1 (2026): Available online
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/ajer.v3i1.691

Abstract

Houseflies (Musca spp.) are common synanthropic insects in pig farming systems and are widely recognized for their potential role in the mechanical transmission of pathogens, particularly in tropical endemic settings. In Indonesia, pig farming is frequently conducted in close proximity to residential areas, where inadequate environmental management may increase risks to animal and public health. This study aimed to examine the presence and potential role of houseflies in pig farming systems and to assess their implications for health and environmental management in tropical Indonesia. A cross-sectional observational study was conducted in selected pig farming areas. Houseflies were collected using standardized trapping techniques from pig housing, waste accumulation sites, and surrounding environments. Microbiological analyses were performed to detect pathogenic bacteria associated with gastrointestinal and zoonotic diseases, while environmental management practices, including waste handling, sanitation, and biosecurity measures, were assessed through structured observations and interviews. The findings revealed high housefly density in areas characterized by poor waste management and suboptimal sanitation conditions. Pathogenic bacteria of public health significance were identified on the external surfaces of collected houseflies, indicating their potential role as mechanical vectors. Farms implementing better environmental management practices showed lower fly abundance and reduced levels of microbial contamination. These results underscore the importance of integrated health and environmental management in pig farming systems. Improving waste management, sanitation, and fly control measures is essential to reduce disease transmission risks and to support sustainable and health-oriented livestock production in tropical regions of Indonesia.