Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

valuation of the Hospital Service Indicator Reporting Application at Hospital X Arifin, Ismail; Heltiani, Nofri; Khairunnisyah
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan (Health Information Management) Vol. 10 No. 1 (2025): Health Information and Management
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51851/jmis.v10i1.742

Abstract

Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number 24 of 2022 concerning Medical Records states that every health service must conduct electronic medical record activities, one of which is reporting hospital service indicators. Hospital X's reporting application has not been fully implemented and utilized. This is because it only provides menus for BOR and AvLOS indicators, resulting in calculations using the application differing from manual calculations. The purpose of this study was to evaluate the Hospital Service Indicator Reporting Application at Hospital X in 2024. This study was qualitative with a phenomenological approach. The subjects were medical records and IT staff, as well as the reporting application participants. The data used in this study were primary data, using interview guidelines and observation sheets. The data were then processed and analyzed univariately. The results of this study show that there is a difference in the number of beds between the BOR and AvLOS indicator menus in the reporting application and the Decree of the Director of Hospital X, resulting in differences in the calculation results of Hospital service indicators based on the 2006 Indonesian Ministry of Health which can result in errors in decision making, while the TOI and BTO indicator menus are not yet available so it is necessary to develop a Hospital reporting system design.
Physical Examination Results and Medical Supporting Evidence Affect the Accuracy of Pneumonia Diagnosis Codes in Hospitals Heltiani, Nofri; Arifin, Ismail; Khairunnisyah
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan (Health Information Management) Vol. 10 No. 1 (2025): Health Information and Management
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51851/jmis.v10i1.743

Abstract

The Ministry of Health of the Republic of Indonesia, Decree No. HK.02.02/Menkes/514/2015, states that pneumonia is one of the diseases frequently leading to medical disputes, resulting in losses for hospitals. Based on an initial survey of 10 pneumonia medical records, five files contained missing supporting examination results (chest x-ray), two files contained incomplete physical examinations, and three files contained complete records (chest x-ray, physical examination), leading to doubts about the pneumonia diagnosis codes written in the medical records. This study aimed to determine the accuracy of pneumonia diagnosis codes by examining the results of physical examinations and medical support at Hospital X in 2024. This study was a quantitative descriptive study with a population and sample of 96 medical records of pneumonia cases. The data used in this study were primary and secondary data, using interview guidelines and observation sheets. The data were then processed and analyzed univariately using frequency distribution. The results of the study revealed that the completeness of the physical examination results and medical support was 38 (39%), the accuracy of the physical examination results and medical support was 35 (36%), and the accuracy of the pneumonia diagnosis code was 47 (49%). It is hoped that the Head of Medical Records will conduct a medical record audit through qualitative analysis to minimize the occurrence of medical disputes.
Tracing Diabetes Mellitus Readmission Incidence Through Medical Records at Bhayangkara Hospital, Bengkulu Budiarti, Anggia; Heltiani, Nofri
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan (Health Information Management) Vol. 10 No. 1 (2025): Health Information and Management
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51851/jmis.v10i1.744

Abstract

Readmission can occur for all diseases, including diabetes mellitus. A preliminary survey showed an increase in readmission rates over the past three years. If readmissions occur more than once within a 30-day period, and within a short period of time, the hospital cannot claim funding. The BPJS (Social Security Agency) claims payment system for healthcare services is based on a per-case payment within a predetermined timeframe of ≤30 days. If the time limit is exceeded, the hospital bears the costs. The purpose of this study was to determine the incidence of diabetes mellitus readmissions at Bhayangkara Hospital, Bengkulu. This study was a descriptive quantitative study, with 25 medical records of inpatient diabetes mellitus readmissions collected from January to December 2023 as the population and sample. The data used in this study were secondary data using observation sheets. The data were then processed and analyzed univariately using frequency distribution. The results of the study showed that the incidence of readmission of diabetes mellitus was 100% with the majority being 48% in the 56 - ≥65 years age group, 64% female gender and 52% family history of the disease.
OPTIMALISASI PEMAHAMAN PETUGAS FILING DALAM MENDUKUNG UPAYA IMPLEMENTASI e-RETENSI Heltiani, Nofri; Khairunnisyah; Isamail Arifin
PAKDEMAS : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4 No 2 (2025): April
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58222/pakdemas.v4i2.411

Abstract

e-retensi merupakan salah satu bagian pengelolaan rekam medis elektronik yang memiliki peran penting dalam menjaga keutuhan dan ketersediaan data rekam medis. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui Rumah Sakit X Bengkulu masih menggunakan retensi konvensional, dimana data berkas rekam medis yang telah diretensi tidak dicatat dalam buku retensi, sehingga menyebabkan petugas filing memerlukan waktu cukup lama untuk ditelusuri berkas rekam medis pada saat pasien datang kembali berobat. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini bertujuan memberikan edukasi dan wawasan kepada petugas terkait pentingnya e-retensi di Rumah Sakit. Kegiatan ini dilaksanakan sebanyak 3 kali dengan metode sosialisasi dan diskusi interaktif mengenai pentingnya pemahaman petugas filing dalam mendukung upaya implementasi e-retensi. Dari hasil evaluasi, diketahui bahwa pemahaman petugas filing sebelum dan sesudah diberikan sosialisasi meningkat menjadi 70% dimana sebelum diberikan edukasi rerata pretest 56,00 dan setelah diberikan edukasi rerata nilai posttest menjadi 95,00. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya optimalisasi meningkatkan pemahaman petugas filing dalam meminimalisir rekam medis yang tidak tersimpan dalam e-retensi serta mendukung keberhasilan migrasi retensi konvensional ke elektronik.
Gambaran Pengelolaan Rekam Medis Tebal (Volumenious Bulky) di RSKJ Soeprapto Provinsi Bengkulu Heltiani, Nofri; Evendy, Nova; Budiarti, Anggia
Jurnal Rekam Medis & Manajemen Infomasi Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Universitas Nasional Karangturi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53416/jurmik.v2i2.95

Abstract

Rekam medis tebal (volumenious bulky) merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi pada penyimpanan dan penjajaran, diketahui terjadi peningkatan volumenious bulky setiap tahunnya ±10% dengan tingkat ketebalan yang berbeda antara 3,7 s.d 4,5 cm pada masing-masing rekam medis dengan kodisi map rekam medis yang mulai robek karena tidak mampu menopang isi rekam medis, hal ini disebabkan pasien gangguan jiwa sering kontrol rutin dan dirawat cukup lama, serta RSKJ Soeprapto Provinsi Bengkulu belum memiliki standar ketebalan rekam medis sebagai pedoman untuk memisahkan volumenious bulky. Dampak yang terjadi apabila volumenious bulky tidak dipecah menjadi beberapa bagian dapat mengakibatkan kerusakan map dan riwayat penyakit pasien tercecer/tidak utuh. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengelolaan volumenious bulky di RSKJ Soeprapto Provinsi Bengkulu. Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah 693 volumenious bulky dengan sampel sebanyak 87 yang diambil secara random sampling. Data yang digunakan adalah data primer dengan teknik pengumpulan data dilakukan secara observasi dan wawancara yang diolah secara univariat. Pengelolaan rekam medis tebal (volumenious bulky) di RSKJ Soeprapto Provinsi Bengkulu dilakukan dengan cara dipecah menjadi beberapa map rekam medis Bengkulu dan diberi identitas pasien (nama dan No.RM) yang sama dengan map sebelumnya akan tetapi tidak diberi keterangan volume/bagian pada map rekam medis sebanyak 62 (71,3%), penempatan volumenious bulky yang telah dipecah menjadi beberapa map rekam ditempatkan terpisah antara volume 1 dengan volume 2 sebanyak 78 (89,7%) dan penggunaan sarana pengganti (tracer) pada saat salah satu bagian volumenious bulky yang keluar dari rak penyimpanan sebanyak 61 (70,1%).
Redesain Map Rekam Medis di Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Provinsi Bengkulu tahun 2020 Heltiani, Nofri
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan (Health Information Management) Vol. 5 No. 2 (2020): Health Information and Management
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51851/jmis.v5i2.145

Abstract

Map rekam medis adalah sampul dari kertas tebal yang menyatukan semua lembar seorangpasien sehingga menjadi satu riwayat utuh, melindung berkas rekam medis di dalamnya agartidak mudah rusak serta mempermudah penyimpanan dan pencarian dan pemindahan berkasrekam medis. Berdasarkan hasil survei di Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto ProvinsiBengkulu, map rekam medis belum sesuai dengan standar baik dari aspek anatomi maupunaspek fisik yang menyebabkan cenderung terjadinya kenaikan angka kerusakan map rekammedis dan kejadian misfile setiap harinya yang berdampak terganggunya pelayanan padapasien, sehingga untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan desain ulang pada map rekammedis. Tujuan penelitian ini adalah redesain ulang map rekam medis di Rumah Sakit KhususJiwa Soeprapto Provinsi Bengkulu. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian iniadalah deskriptif dengan menggunalan motode perancangan aplikasi corel draw. Subjekdalam penelitian ini adalah 4 orang petugas rekam medis di ruang penyimpanan dengan objekpenelitian adalah map rekam medis. Teknik pengumpulan data menggunakan metodeobservasional dan wawancara dengan pendekatan cross sectional. Intrument yang digunakandalam penelitiani ini adalah lembar observasi dan pedoman wawancara dengan menggunakandata primer yang diolah secara univariat. Hasil redesain map rekam medis di RSKJ SoperaptoBengkulu pada aspek fisik map rekam medis menggunakan bahan kertas duplex berbentuklandscape dengan ukuran 33x25 cm dan berwarna hijau cerah, pada aspek anatomi terdapatitem yang ditambahkan berupa heading (logo), introduction (kalimat perintah pengisian padamap rekam medis) dan type style (jenis huruf arial dengan font 14 dan 18). Sedangkan aspekisi terdapat tambahan item berupa identitas sarana pelayanan kesehatan, kalimat warning,kode warna pada nomor rekam medis dan tahun kunjungan serta tulisan vol ke … dari …
Gambaran Kinerja dan Motivasi Petugas dalam Pelaksanaan Sensus Harian Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Rafflesia Bengkulu Tahun 2019 Heltiani, Nofri
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan (Health Information Management) Vol. 4 No. 2 (2019): Health Information and Management
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51851/jmis.v4i2.167

Abstract

Sensus Harian Rawat Inap (SHRI) adalah kegiatan penghitungan pasien rawat inap yangdilakukan setiap hari pada setiap ruang rawat inap. SHRI berisi tentang mutasi keluar masukpasien selama 24 jam mulai dari pukul 00.00 s.d 24.00. Berdasarkan survei awal di RumahSakit Rafflesia Bengkulu setiap ruang rawat inap telah melaksanakan sensus harian rawatinap dan memiliki SOP akan tetapi dalam pelaksanaan tidak sesuai dengan SOP. Hal inidisebabkan karena pengiriman SHRI dari ruang perawatan ke ruang rekam medis dilakukanpada akhir bulan sehingga menyebabkan petugas rekam medis di bagian pelaporanmengalami kendala dalam pembuatan laporan rumah sakit setiap bulannya. Tujuan penelitianini adalah mengetahui gambaran kinerja dan motivasi petugas dalam pelaksanaan SHRI. Jenispenelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif dengan metode observasioaldan wawancara. Populasi dalam penelitian ini adalah petugas rekam medis dengan sampelsebanyak 9 orang petugas rekam medis dengan teknik pengambilan sampel total populasi.Menggunakan data primer yang diolah dengan cara editing, coding, cleaning dan posecingserta dianalisis secara univariat. Hasil penelitian ini adalah kinerja petugas rekam medismemiliki kriteria baik dalam menyelenggarakan statistik dan pelaporan 77,8%, cukup dalammenyediakan formulir dan uraian tugas 44,4% serta kurang dalam mengambil SHRI danmerekapitulasi SHRI 33,3%. Sedangkan motivasi petugas rekam medis sebagian besarmemiliki motivasi tinggi dalam hal kesesuaian harapan dalam melaksanakan pekerjaan100%, suasana tempat kerja sesuai dengan pembagian tugas 77,8%, adanya pedomanpembagian tugas 77,8% dan interaksi antar sesama petugas 88,9%, namun masih ada yangmemiliki motivasi sedang dalam hal rasa keterpanggilan dan tuntutan untuk melaksanakantugas 44,4%, kesempatan meningkatkan pelayanan pengelolaan data rekam medis 66,7%, danfaktor fisik dan lingkungan 44,4%, bahkan masih ada yang memiliki motivasi rendah karenatidak adanya insentif yang diperoleh petugas setelah melaksanakan pekerjaan 66,7%.Sehingga diharapkan kepala rekam medis untuk melakukan monitoring dalam hal mengambildan/atau menerima sensus harian rawat inap setiap hari pada jam 8 pagi serta memberikaninsentif sesuai dengan hasil pekerjaan yang dilakukan
Analisis Ketepatan Koding Jantung Iskemik Stemi di RSUD Dr. M.Yunus Bengkulu tahun 2018 Heltiani, Nofri
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan (Health Information Management) Vol. 3 No. 2 (2018): Health Information and Management
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51851/jmis.v3i2.183

Abstract

Penyakit Jantung Iskemik STEMI merupakan suatu kondisi yang dapat berakibat kematiansel miosit jantung dan diderita semua usia dengan gejala tidak semua penderita mengalaminyeri dada dan memiliki kode I21.3. Berdasarkan data instalasi rekam medis RSUD Dr. MYunus Bengkulu penyakit jantung iskemik STEMI merupakan angka morbiditas danmengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2017 penyakit jantung iskemik STEMImenduduki peringkat pertama dari 10 penyakit tertinggi. Akan tetapi masih terdapatketidaktepatan dalam koding jantung iskemik STEMI. Hal ini disebabkan terdapat coretandiagnosis yang ditulis dokter tanpa diparaf pada salah satu berkas rekam medis, belum pernahdilakukannya audit coding dan kurang jelasnya informasi tentang coding yang disampaikanmelalui Standar Operasional Prosedur (SOP). Tujuan penelitian ini untuk mengetahuiketepatan koding jantung iskemik STEMI di RSUD Dr. M.Yunus Bengkulu Tahun 2018.Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi padapenelitian ini adalah berkas rekam medis pasien jantung iskemik STEMI sebanyak 202berkas dan sampel sebanyak 134 berkas dengan teknik pengambilan sampel randomsampling, menggunakan data primer dan sekunder yang diolah secara univariat. Hasilpenelitian ini adalah Pelaksanaan pengkodean di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu belummenggunakan ICD-10 Volume 2. Ketepatan koding penyakit jantung iskemik STEMIsebanyak 98 berkas (73%) dan tidak tepat sebanyak 36 berkas (27%). Faktor-faktor penyebabketidaktepatan koding penyakit jantung iskemik STEMI adalah: Man; petugas koding belummengikuti workshop/pelatihan kaidah koding, Material; terdapat 2 berkas rekam medis yangtidak diagnosa dan 1 berkas rekam medis yang tidak di koding, Method; SOP hanya berisikegiatan pengkodingan diagnosis secara manual (menggunakan ICD-10).
Analisis Average Length Of Stay Pasien Typhoid Fever di RSUD Harapan Doa Kota Bengkulu Heltiani, Nofri; Desmiany Duri, Iin; Ramadani, Niska
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan (Health Information Management) Vol. 6 No. 2 (2021): Health Information and Management
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51851/jmis.v2i6.274

Abstract

Average Length Of Stay (LOS) is an important indicator in determining the success of therapy for a disease and is also related to the cost of care incurred by the patient. the ideal value of AvLOS is 6-9 days. The level of AvLOS is influenced by the complications experienced by the patient. Typhoid fever is an endemic disease in Indonesia that knows no age and gender boundaries, and can cause various complications in the form of bleeding and intestinal perforation which can often lead to death. Based on the initial survey, the visit of typhoid fever patients in the last three years at Harapan Doa Hospital, Bengkulu City has increased, namely 2017 (11.02%), 2018 (13.47%) and 2019 (17.935) of the total visits/year, however, in 2020 it decreased (15.08%) due to the Covid-19 pandemic. This affects the AvLOS value and the cost received by the hospital. The purpose of this study was to determine the AvLOS value of typhoid fever patients at Harapan Doa Hospital, Bengkulu City. The type of research used is descriptive with a cross sectional approach. The sample of this study used a total population of 121 patients who were analyzed univariately using the AvLOS formula. The results of the univariate analysis, from the calculation results obtained that the total length of stay (LD) of typhoid fever patients was 395 days/year with AvLOS 3.18 days/year, the number of typhoid fever patients was out of life 124 (100%) patients, AvLOS of typhoid fever patients based on age group. The highest was found in the age group >1-5 years, namely 5.17 days compared to the age group >44-65 years, namely 3.43 days and >65 years, namely 3 days, where typhoid fever was accompanied by complications/companies. AvLOS of typhoid fever patients based on gender was found in female sex at 3.31 days with a total of 59 patients compared to male sex at 3.23 days with a total of 5 people. It is hoped that the hospital will formulate a clinical pathway for Typhoid Fever Treatment so that the quality of service for typhoid fever cases is in the efficientcategory.
Analisis Grafik Baber Jhonson Berdasarkan Sensus Harian Rawat Inap di Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu Dhaniesty Wijaya, Angga; Rikawati, Ade; Heltiani, Nofri
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan (Health Information Management) Vol. 6 No. 2 (2021): Health Information and Management
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51851/jmis.v2i6.275

Abstract

The daily inpatient census is a collection of patient data entering and leaving the inpatient room. The daily census data obtained from each treatment room will be processed, so that later it will get the parameters BOR (Bed Occupancy Rate), AvLos (Average Length Of Stay), TOI (Turn Over Interval), BTO (Bed Turn Over). Present in the formulir of Barber Johnson Graph. The purpose of this study was to determine the calculation of the Barber Johnson chart indicator based on the daily census of inpatients at RSKJ Soeprapto Bengkulu in 2017. The type of research used was descriptive observational with a cross-sectional design, the population in this study was inpatient data recorded at the SHRI. in January-March 2017, totaling 560 patients, with a total sample of the existing population, total sampling. Using secondary data, processed univariately. This research was conducted from July to August 2017 at the medical record unit of RSKJ Soeprapto Bengkulu. The results of univariate analysis, from the calculation of hospital service indicators, the BOR value of IPC room was (60.9%) according to standard, Rajawali (27.38%) not according to standard, Orchid (60.33%) according to standard. The AvLos value of IPC space (2.57 days) was according to the standard, Rajawali (5.52 days) was according to the standard, Orchid (14.22 days) was not up to the standard. BTO value of IPC room (18.8 times) was not up to standard, Rajwali (3.15 times) was not up to standard, Orchid (3.32 times) was not up to standard. TOI value of IPC room (1.9 days) was up to standard, Rajwali (24.57 days) is not up to standard, Orchid (11.42 days) is not up to standard. It is expected that health workers, especially medical records, fill out the Inpatient Daily Census (SHRI) form completely so that Barber Johnson charts can be made so that the efficiency of hospital management is known.