Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : J-CEKI

Upaya Penanggulangan Tindak Pelarian Narapidana untuk Meningkatkan Keamanan di Lapas Kelas IIA Abepura Chrisostomus P.A. Kirwelakubun; Lauditta Indahdewi
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 3 No. 6: Oktober 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v3i6.5695

Abstract

This study examines the efforts to prevent inmate escapes at Class IIA Abepura Correctional Facility to enhance security. The research highlights the importance of correctional institutions not only in rehabilitating inmates but also in maintaining security and order. Despite the implementation of various rehabilitation programs, security challenges, particularly inmate escapes, persist. The study aims to evaluate current security measures, identify factors contributing to security weaknesses, and propose strategies for improving the prevention of inmate escapes at Class IIA Abepura. Using qualitative methods, the research gathers primary data through in-depth interviews with key personnel and inmates, alongside secondary data from relevant regulations and literature. The analysis provides insights into the effectiveness of current prevention efforts and suggests improvements in security systems, staff training, and operational protocols to ensure a safer correctional environment.
Peran Intelijen Pemasyarakatan dalam Mencegah Kerusuhan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIb Lubuk Pakam Gebi Ardinata Siagian; Lauditta Indahdewi
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 1: Desember 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i1.7276

Abstract

Intelijen pemasyarakatan merupakan bagian dari penyelenggaraan badan intelijen negara yang melakukan serangkaian kegiatan intelijen dalam konteks lembaga pemasyarakatan. Dalam Undang Undang Nomor 22 Tahun 2022 Tentang Pemasyarakatan, penyelenggaraan pengamanan dan pengamatan didukung dengan kegiatan intelijen. Melalui Permenkumham Nomor 7 Tahun 2023, Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Lubuk Pakam telah menyelenggarakan fungsi Intelijen Pemasyarakatan mulai dari penyelidikan, pengamanan, dan penggalangan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana peran intelijen pemasyarakatan dalam mencegah kerusuhan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Lubuk Pakam serta apa saja faktor penghambat yang dialami. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Penelitian ini menggunakan Teori Dasar Intelijen (SunTzu) dan teori peran. Hasil penelitian yang ditemukan digunakan untuk menganalisis peran intelijen pemasyarakatan dalam mencegah kerusuhan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Lubuk Pakam menggunakan dimensi penyelidikan, pengamanan, dan pengamatan. Peran intelijen pemasyarakatan dalam mencegah kerusuhan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Lubuk Pakam sudah berjalan dengan baik. Namun dalam penyelenggaraannya masih ditemukan beberapa hambatan seperti kurangnya pelatihan kepada petugas, sarana prasarana yang kurang memadai, kondisi Lapas yang padat dan belum adanya perlindungan terhadap unit intelijen pemasyarakatan
Collaborative Governance dalam Pembinaan Kemandirian Mebel di Lapas Kelas IIA Binjai Yoshep Ferdinand Sitompul; Lauditta Indahdewi
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 1: Desember 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i1.7278

Abstract

Pembinaan kepada narapidana ditujukan untuk memberikan bekal untuk meningkatkan kualitas hidup narapidana. Sehingga lembaga pemasyarakatan wajib memberikan fasilitas terhadap narapidana untuk mengembangkan potensi salah satunya dengan memberikan pelatihan kerja kepada narapidana. Agar pelatihan kerja kepada narapidana berjalan optimal maka diperlukan kerja sama antara lembaga pelatihan kerja maupun pemerintah atau sektor swasta yang terkait. Permasalahan dalam penelitian ini mengenai penerapan serta faktor – faktor yang menjadi penghambat dalam penerapan collaborative governance pada pembinaan kemandirian mebel di Lapas Kelas IIA Binjai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan serta faktor – faktor yang menjadi penghambat dalam penerapan collaborative governance pada pembinaan kemandirian mebel di Lapas Kelas IIA Binjai. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalam teori collaborative governance. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui sumber data primer dan sekunder yang terdiri dari wawancara, observasi, dan studi dokumen. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil Penelitian ini adalah dilog tatap muka antara Lapas Kelas IIA Binjai dengan Balai Latihan Kerja dan Yayasan Srikandi; lapas membangun kepercayaan dengan pihak terkait; komitmen secara tertulis antara lapas dengan pihak terkait; adanya pemahaman bersama antara ketiga pihak; narapidana yang mampu membuat karya mebel yang sesuai standar pasar
Optimalisasi Strategi Penjualan Budidaya Ayam Petelur Melalui Pendekatan Matriks Boston Consulting Group (BCG) di Lapas Narkotika Kelas IIA Jakarta Tessalonica Siahaan; Lauditta Indahdewi
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 1: Desember 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i1.7281

Abstract

Artikel ini membahas optimalisasi strategi penjualan budidaya ayam petelur melalui pendekatan matriks boston consulting group (BCG) di Lapas Narkotika Kelas IIA Jakarta. Strategi Penjualan yang diterapkan oleh Lapas belum mencapai nilai optimal dan produksi yang belum maksimal. Hal ini menjadi suatu masalah karena Lapas Narkotika Jakarta keterbatasan investasi dalam pengembangan usaha, regulasi yang ketat terkait dengan penjualan produk perikanan dari lapas, dan terdapat persaingan dari produsen ayam petelur lainnya baik didalam maupun di luar Lapas yang membuat sulit guna mempertahankan atau meningkatkan pangsa pasar lapas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi penjualan hasil produk budidaya ayam petelur melalui matris BCG, dan apa saja faktor yang menghambat dalam pelaksanaan penjualan hasil produk Lapas. Melalui pemahamam yang mendalam tentang masalah ini, artikel ini diharapkan dapat berkontribusi dalam menentukan strategi penjualan dari tulisan yang dibuat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deksriptif dengan tujuan agar dapat memahami fenomena dengan terjun langsung ke lapangan, sehingga dapat dideskripsikan dengan rinci tentang kondisi yang sebenarnya terjadi. Pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara dengan 7 narasumber, melalui proses observasi dan studi dokumentasi. Sedangkan pengolahan data dilakukan dengan pengumpulan data, analisis data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Evaluasi Pelaksanaan Kebijakan Sistem Penilaian Pembinaan Narapidana pada Lembaga Pemasyarakatan Pemuda Kelas IIA Tangerang Ponso Jayaman Gultom; Lauditta Indahdewi
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 1: Desember 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i1.7282

Abstract

Undang-Undang No. 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan yang merupakan wujud dari revitalisasi penyelenggaraan pemasyarakatan. Untuk membantu Narapidana meningkatkan kualitas dirinya, maka perlu dilakukannya program pembinaan kepribadian maupun kemandirian. Pelaksanaan pembinaan tidak bisa terlepas dari peran Wali Pemasyarakatan yang berkontribusi penting bagi kelancaran dari jalannya pembinaan Narapidana. Dalam pelaksanaan pembinaan, Permenkumham RI Nomor: M.01. PK.04.10 Tahun 2007 menjelaskan mulai dari awal masuk lembaga pemasyarakatan sampai selesai menjalani wali pemasyarakatan berperan penuh dalam pendampingan pembinaan yang selanjutnya nanti akan membuat laporan tentang perkembangan pembinaan narapidana dan anak. Melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Pemasyarakatan Nomor: Pas-10.OT.02.02 Tahun 2021 tentang Sistem Penilaian Pembinaan Narapidana, dokumen ini dijadikan pesdoman bagi wali pemasyarakatan dalam menilai perubahan sikap narapidana. Penelitian ini menggunakan teori Evaluasi Model CIPP (Context, Input, Process and Product) pertama kali dikenalkan oleh Stufflebeam dan Shinfield. Evaluasi model ini terdiri dari empat dimensi, yaitu: Context, Input, Process dan Product, sehingga model evaluasinya diberikan nama CIPP. Penelitian dengan jenis kualitatif deskriptif yang digunakan untuk mendeskripsikan kondisi nyata berupa fakta lapangan terkait evaluasi pelaksanaan kebijakan Sistem Penilaian Pembinaan Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Pemuda Kelas IIA Tangerang yang berjalan baik namun dengan keadaan kurangnya pegawai yang menjadi Wali Pemasyarakatan, membuat segi kualitas program pembinaan dari segi narapidana, serta dari segi sarana dan fasilitasnya yang ada terlihat kurang maksimal. Dari berbagai hambatan yang ada hal itu jelas menjadikan hal yang menghambat dalam proses pembinaan itu sendiri karena hambatan yang ada itu sangat berpengaruh sehingga pegawai yang menjadi Wali Pemasyarakatan harus mampu mengerjakan tugasnya sebagai Wali Pemasyarakatan dengan kondisi yang ada.
Implementasi Pendekatan Client Centered Teraphy dalam Pelaksanaan Pembinaan Kepribadian Kerohanian Kristen di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tanjung Balai Saragih, Figel Enro; Indahdewi, Lauditta
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i2.12319

Abstract

Penelitian ini membahas implementasi pendekatan Client-Centered Therapy (CCT) dalam pembinaan kepribadian kerohanian Kristen di Lapas Kelas IIB Tanjung Balai. Pendekatan ini diterapkan untuk memberikan pembinaan yang lebih personal, empatik, dan non-judgmental kepada narapidana Kristen, dengan tujuan membentuk pribadi yang lebih baik dan meningkatkan potensi diri mereka selama menjalani masa pidana. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi, melibatkan petugas pembinaan, narapidana Kristen, dan pihak ketiga seperti pendeta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi CCT melalui prinsip penerimaan tanpa syarat, keaslian, pemahaman empatik, dan sikap tidak menghakimi membantu narapidana merasa dihargai, terbuka, dan mampu merefleksikan diri secara spiritual. Hambatan dalam penerapan CCT di antaranya keterbatasan sumber daya, waktu, serta kondisi psikososial narapidana yang bervariasi. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kapasitas petugas pembinaan agar pendekatan CCT dapat dijalankan secara konsisten sehingga pembinaan kerohanian dapat berdampak lebih optimal dalam rehabilitasi dan reintegrasi narapidana ke masyarakat.