Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Implikasi Paralelisme Janus dalam Filipi 3:9 Bagi Iman Percaya Masa Kini Candra Gunawan Marisi
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 5, No 2: Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i2.267

Abstract

Paul is a great writer. As a Pharisee is undoubtedly his skill as an interpreter and writer with the semistic style seen in parts of his writings. The basic point for understanding the epistles, however, is that in the Jewish and Pharisee backgrounds it remained an integral part of Paul. His identity as a Jew and his concern for his nation's heritage provide one side of dialogue that continues throughout the letter, an arch that runs back and forth across patterns. Likewise, in Paul's writings in Philippians 3:9, there is a central point of Paul's belief in God's justification. This research was conducted using a qualitative method with a semantic analysis approach, namely with the literary style of Janus parallelism and the polysemy parallelism approach to texts. There is a literary style of Janus's parallelism in Paul's writing style in Philippians 3:9. Through this method of parallelism Janus can look deeper into the meaning written by Paul of "the justification of God through the Faithfulness of Christ." This verse has similarities with what Paul wrote in Romans 1:17 and Galatians 2:16 and 3:11 regarding the believer's justification first of all because of "Christ's faithfulness" until death even to death on the cross. Paul had a firm conviction that believers are justified not because of the law, but believers are justified because of Christ's faithfulness which is the righteousness that God bestows upon believers.Keywords: janus parallelism; polysemy parelelism; Paul; pistis; Philippian’s letter AbstrakPaulus merupakan seorang penulis yang handal. Sebagai seorang Farisi tidak diragukan lagi keahliannya sebagai penafsir dan penulis dengan gaya semistik yang terlihat dalam bagian-bagian tulisannya. Poin dasar untuk pemahaman tentang surat-surat itu, bagaimanapun, adalah bahwa di latar belakang Yahudi dan Farisi tetap menjadi bagian integral dari Paulus. Identitas dirinya sebagai seorang Yahudi dan kepeduliannya terhadap warisan bangsanya memberikan satu sisi dialog yang berlanjut di seluruh surat, lengkungan yang berjalan bolak-balik di seluruh pola. Demikian juga terlihat dalam tulisan Paulus di surat Filipi 3:9 terdapat pusat keyakinan Paulus terhadap pembenaran Allah. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan pendekatan analisa semantik, yakni dengan gaya sastra paralelisme Janus dan pendekatan paralelisme polisemi terhadap teks. Terdapat gaya sastra paralelisme Janus pada gaya penulisan Paulus dalam teks Filipi 3:9. Melalui metode paralelisme Janus ini dapat melihat lebih dalam kepada makna yang dituliskan oleh Paulus tentang “pembenaran Allah melalui Kesetiaan Kristus.” Ayat ini memiliki kesamaan dengan apa yang Paulus tuliskan di dalam Roma 1:17 dan Galatia 2:16 dan 3:11 mengenai pembenaran orang percaya pertama-tama adalah karena “kesetiaan Kristus” sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib. Paulus memiliki keyakinan yang teguh bahwa orang percaya dibenarkan bukan karena melakukan hukum Taurat, melainkan orang percaya dibenarkan karena kesetiaan Kristus yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan kepada orang percaya.Kata kunci: paralelisme janus; parelelisme polisemi; Paulus; pistis; surat filipi
Pembinaan Warga Gereja dalam Menumbuhkan Spiritualitas Remaja-Pemuda di GEPKIM Kampung Bumi Permai Kota Batam Candra Gunawan Marisi; Yohanes Tarigan; Alexander Djuang Papay; Ferdinandes Petrus Bunthu; Anton; Ivan; Yesimeli; Efendy
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 3 No. 2.2 (2023): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara
Publisher : Cv. Utility Project Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (815.823 KB)

Abstract

Pendidikan Agama Kristen Keluarga perlu dilaksanakan oleh setiap orang tua Kristen agar dapat membina dan mengajar anak-anak mereka hidup dalam kebenaran, khususnya bagi kaum remaja pemuda supaya mengalami pertumbuhan spiritualitas yang baik, meski diperhadapkan dengan berbagai tantangan yang ada di era digital saat ini. Oleh sebab itu, Program Studi Magister Teologi, Sekolah Tinggi Teologi Real Batam telah melakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat untuk memberikan pembinaan kepada para orang tua Kristen. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan para orang tua dalam mempersiapkan generasi remaja-pemuda yang berkarakter Kristus. Kegiatan ini telah diikuti oleh 43 orang dari para orang tua dan remaja jemaat GEPKIM Kampung Bumi Permai Kota. Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini adalah menghasilkan para orang tua yang memiliki pengetahuan dan kreatifitas yang dapat meningkatkan spiritualitas remaja-pemuda yang seturut dengan ajaran iman Kristen.
Kepemimpinan Pendeta Gereja Suku di Zaman Modern: Sebuah Studi di Kecamatan Moro’õ, Kabupaten Nias Barat Hendrik Bernadus Tetelepta; Candra Gunawan Marisi; Famati Waruwu; Nestilina Gulo
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 2: Juni 2023
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55884/thron.v4i2.67

Abstract

Reading the leadership of the Pastor at the Suku church in Moro'o District, West Nias plays an important role that must be understood, considering that they are genuine 'Ono Niha' who grew up and were brought up with the cultural values of traditional leadership. This study used a descriptive qualitative research methodology with a descriptive approach. The study results show that the leadership of Pastors in modern times is influenced by traditional leadership so that they do not lose their cultural identity in modern times. This leadership becomes a form of negotiating space mutually tug-of-war with modern leaders. This gives everyone an understanding that even though the Pastor has acquired modern knowledge mobilized by Christian religious higher education, traditional leadership is still being absorbed and maintained in modern times.  AbstrakMembaca kepemimpinan Pendeta di gereja Suku di Kecamatan Moro'o, Nias Barat meme-gang peranan penting yang harus dipahami, mengingat mereka adalah ‘Ono Niha’ asli yang tumbuh dan dibesarkan dengan nilai-nilai budaya kepemimpinan tradisional. Dalam penelitian ini, digunakan metodologi penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukan kepemimpinan Pendeta di zaman modern dipengaruhi oleh kepemimpinan tradisional agar mereka tidak kehilangan identitas budaya mereka di zaman modern. Kepemimpinan ini menjadi sebentuk ruang negosiasi yang saling tarik ulur dengan kepemimpin modren.  Ini memberikan pemahaman kepada siapa pun bahwa meskipun Pendeta telah memperoleh pengetahuan modern yang dimobilisasi oleh pendidikan tinggi keaagamaan Kristen, namun kepemimpinan tradisi tetap diserap dan dipertahankan di zaman modern.  
Modifikasi Pemuridan dalam Mempersiapkan Generasi Digital Menghadapi Tantangan Zaman: Analisis Pemuridan dalam Perjanjian Lama Didimus Sutanto B Prasetya; Candra Gunawan Marisi
TEMISIEN: Jurnal Teologi, Misi, dan Entrepreneurship Vol 3, No 2: September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9876/temisien.v3i2.80

Abstract

Generasi digital memiliki tantangan tersendiri dalam menghadapi kemajuan zaman yang sarat dengan kecanggihan teknologi. Kemajuan teknologi ini berdampak pada ketakutan dan kekuatiran generasi digital dalam menghadapi persaingan dunia kerja sekaligus mengalami disrupsi akan spiritualitas keimanannya. Hal ini merupakan ironi yang melanda generasi digital. Gereja sebagai mandataris Allah, harus dapat menjawab tantangan ini dalam mempersiapkan generasi yang takut akan Tuhan tetapi juga kompeten dalam bidang keahliannya. Tulisan ini bertujuan untuk merumuskan suatu metode atau model pemuridan yang relevan untuk generasi masa kini sehingga dapat menghadapi tantangan zaman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui riset literatur dan metode induktif melalui analisis pemuridan Musa dan Elia dalam Perjanjian Lama. Pemuridan vokasional menjadi salah satu model pemuridan yang dapat menjawab kebutuhan generasi saat ini dengan memilih murid; profesionalitas; melibatkan dan mendelegasikan.
Case Study Of Mawe Tradition: The Theology Study Of Spirit Summoning Rituals In Buru Island, Maluku Candra Gunawan Marisi; Didimus Sutanto B Prasetya; Riski Tasijawa
Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia Vol 4, No 2 (2023): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46445/jtki.v4i2.707

Abstract

Cultural traditions in Indonesia are very diverse, including the Mawe tradition on Buru Island, Maluku which is believed to be able to provide clues to uncover cases or problems that often occur. Uniquely, this tradition uses the spirits of deceased ancestors, which is a ritual led by traditional elders to provide clues that can explain a problem. This study uses a qualitative method with a case study approach and analysis of supporting Bible verses. As a result, from the theological studies conducted, it is known that rituals of seances have also been carried out in the biblical tradition, but it is clear that this tradition is contrary to the Bible. The Christian theological view is very clear that believers are not justified under any circumstances to perform seances because it is a form of syncretism.
Inkarnasi Yesus Kristus: Sebagai Langkah Interupsi Praktek Bully di Kalangan Siswa Abad 21 Evarisman Nehe; Esron Sibuea; Etaprida Zai; Candra Gunawan Marisi
Pietas: Jurnal Studi Agama dan Lintas Budaya Vol. 1 No. 1 (2023): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah, Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/pj.v1i1.29-50

Abstract

Masalah utama dialami oleh para pelaku pedagogi abad 21 ini adalah memudarnya nilai – nilai karakter peserta didik diantaranya terkait perundungan siber atau cyberbullying. Praktek Bully menimbulkan rasa malu, sakit secara fisik, terhina, terancam, dan bila terus berulang berdampak pada psikologis korban. Oleh karenannya masalah yang dirumuskan adalah Apakah itu inkarnasi dalam bingkai kristologi? dan Bagaimanakah persoalan Bully yang terjadi di kalangan siswa abad 21 ini? Dan tujuan penelitian hendak mengkaji makna inkarnasi Yesus Kristus dalam bingkai kristologi dan bagaimana integrasinya dalam menginterupsi praktek bully dalam sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan tafsir biblikal dengan mengeksegese Injil Yohanes 1:1,14 diharapkan diperoleh penjelasan teologis tentang dasar kristologi yang kuat dan mampu memberi solusi praktis menginterupsi praktek bully di kalangan siswa abad 21. Hasil kajian penelitian ini mengusung suatu konsep baru bagi penanganan praktek bully di sekolah yang mengajak guru berkolaborasi dan siswa untuk menghidupi makna Inkarnasi Yesus Kristus yang memandang kelemahan dan kekurangan bahkan kehinaan manusia dengan tindakan kasih yang nyata, memulihkan, bukan justru membuly. Konsep inilah yang saya bahasakan sebagai inkarnasi menginterupsi bully.
Menyingkap Kristologi dalam Bingkai Nusantara (Batak Parmalim) dan Integrasinya dalam Pendidikan Agama Kristen Viktor Deni Siregar; Yohana br Tarigan; Teti Tri Pujianti Gea; Candra Gunawan Marisi
Pietas: Jurnal Studi Agama dan Lintas Budaya Vol. 1 No. 1 (2023): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah, Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/pj.v1i1.51-66

Abstract

Kristologi menjadi bagian fundamental bagi penganut ajaran kekristenan di seluruh dunia. Menjadikan kristologi sebagai pusat central pengajaran tentu memberikan polemik tersendiri dalam cakupan suku dan ras. Kristologi kontekstual juga harus hadir untuk menjadi jembatan yang akan menjangkau atau menerobos batasan-batasan sehingga adanya capaian tujuan dalam penyampaian injil dan penuaian jiwa-jiwa bagi Tuhan, baik itu berbentuk nilai dan juga pendidikan karakter. Kajian ini bertujuan untuk memberikan penyingkapan kristologi kontekstual yang ada dalam batak parmalim dan tentunya mengintegrasikannya dalam pendidikan agama kristen (PAK), pasti memiliki nilai keluhuran yang dapat diterapkan. Manfaat yang ditemukan bahwa kristologi kontekstual dapat menyentuh jauh kepada suku dan menarik nilai yang ada pada suku tersebut untuk diintegrasikan pada PAK baik itu pada Sekolah, Keluarga, Gereja, dan Masyarakat. Pentingnya dilakukan penelitian ini tentu untuk menyingkap kristologi yang terdapat dalam kontekstual yang dilakukan sehingga terlihat bahwa kristologi dapat di kontekstualisasikan dalam kebudayaan batak parmalim. Metodologi penelitian yang digunakan dalam kajian ini menggunakan metode literature review atau tinjauan kepustakaan. Dengan mengumpulkan data-data primer melalui buku, artikel jurnal, majalah, bahkan wawancara dan lain sebagainya yang kemudian dianalisis dan berikan argumen sehingga mendapatkan simpulan melalui hasil analisis yang dilakukan. Hasil yang ditemukan bahwa dalam batak parmalim telah dilakukan kontekstualisasi kristologi untuk memenangkan suku batak parmalim dan kontekstualisasinya dapat diintegrasikan dalam PAK.
Pemuridan yang Berpusat pada Yesus bagi Generasi Z dalam Menghadapi Tantangan Relativisme Marisi, Candra Gunawan; Silaen, Upa; Simanjuntak, Fredy
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 10, No 2: Juni 2024
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v10i2.133

Abstract

The philosophy of relativism has infiltrated Z-generation through various media to provide its views so that it is accepted by this generation, the way of thinking and lifestyle of Z-generation in the postmodern era has undergone significant changes in many aspects. His main complaint is that there is no absolute truth, Jesus Christ is not the only savior, the Bible is considered outdated, meaningless, monotonous, authoritarian, and difficult to understand. This study aims to examine how effective discipleship for Z-generation is to counteract relativism and its implementation for the church today. A qualitative research method with a descriptive approach to formulate findings about the Z-generation situation and re-develop the propositions of an effective discipleship model. It can be found that vocational and personal discipleship who share their lives as teachers, friends, and trainers effectively shape Z-generation Christian spirituality. This discipleship can be applied to Z-generation discipleship with adjustments from various sides to form strong Christian spirituality to counteract the influence of relativism philosophy on Z-generation. Abstrak Filsafat relativisme telah menyusupi generasi Z melalui berbagai platform media sosial untuk memberikan pandangannya agar diterima oleh generasi ini, cara berpikir dan gaya hidup generasi Z di era postmodern telah mengalami perubahan besar dalam banyak aspek. Keluhan utamanya adalah tidak ada kebenaran yang absolut, Yesus Kristus bukan satu-satunya juruselamat, Alkitab dianggap ketinggalan zaman, tidak bermakna, monoton, otoriter, dan sulit dipahami. Penelitian ini bertujuan menemukan model pemuridan yang efektif bagi generasi Z guna menangkal relativisme dan implementasinya bagi gereja masa kini. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk memformulasikan temuan tentang situasi generasi Z dan melakukan pengembangan ulang proposisi model pemuridan yang efektif. Hasil penelitian, ditemukan bahwa pemuridan vokasi dan personal yang berbagi hidup sebagai guru, sahabat dan pelatih, efektif membetuk spiritualitas Kristen generasi Z. Pemuridan ini dapat diterapkan kepada pemuridan generasi Z dengan penyesuaian diberbagai sisi untuk membentuk spiritualitas kristen yang kuat guna menangkal pengaruh filsafat relativisme bagi generasi Z.
RESOLUSI KONFLIK: MEMAKNAI PENGAMPUNAN DALAM MATIUS 6:12, 14-15 DAN IMPLIKASINYA Marisi, Candra Gunawan; Hariyanto, Henok
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.349

Abstract

Konflik adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan manusia khususnya dalam konteks kemajemukan masyarakat di Indonesia. Konflik interpersonal dan antar kelompok tidak bisa dihindari dalam kehidupan manusia khususnya dalam masyarakat majemuk. Dampak negatif tersebut diantaranya retaknya hubungan interpersonal atau antar kelompok, kehancuran harta benda, aksi kekerasan dan bahkan sampai hilangnya nyawa seseorang. Penelitian ini bertujuan menganalisa petisi kelima Doa Bapa Kami tentang makna pengampunan secara vertikal dan horizontal dalam Matius 6:12, 14-15 sebagai resolusi konflik. Metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, serta dengan analisis dan tinjauan pustaka untuk meneliti sejarah bagaimana konteks sosio-politik-ekonomi pembaca pertama Injil Matius pada abad pertama. Hasil yang ditemukan adalah manusia dapat mengampuni dosa dan hutang sesamanya, karena telah terlebih dahulu mengalami pengampunan dari Tuhan, dan yang kedua adalah resolusi konflik bukan untuk mendapatkan, menerima atau mencari keuntungan, melainkan rela untuk berkorban, memberi, sebagaimana Allah memberikan Anak-Nya yang Tunggal untuk melakukan pendamaian (resolusi konflik).
Merefleksi Konsep Tuhan Menurut Ulangan 6:4 dan Implikasinya dalam Pemahaman Trinitas Marisi, Candra Gunawan; Papay, Alex Djuang; Silaen, Upa; Pasaribu, Jabes
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 7, No 2: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i2.557

Abstract

The views of certain groups within Christianity include the arguments of Arius (Jehovah's Witnesses), who asserts that although Jesus possesses a special nature, He remains human and therefore should not be regarded as more than merely a "creation," like any other human. There is also a belief known as Jesus Only or Oneness, which resembles the heretical teachings of Sabellianism in a new form. Additionally, Islamic perspectives challenge the Christian belief in the Trinity by suggesting that Christians believe in three gods and interpreting the concept of the Trinity as a practice of tritheism. Deuteronomy 6:4 serves as the primary commandment that requires total commitment from the nation of Israel on a personal level, as well as for contemporary believers in Jesus Christ. The purpose of this research is to analyze Deuteronomy 6:4 to reflect on the meaning of the oneness of God. Through this research, it can also be affirmed that the LORD is the God worthy of worship by every believer, and that only God, and no other gods, deserve human worship. The research is conducted using a qualitative method with an inductive approach, specifically through exegesis and lexical and grammatical analysis of the studied verse, which is then reflected upon with other biblical verses, journals, or books to support the research findings. The results indicate that the doctrine of the Trinity affirms the unity of God in three persons, which is not a contradiction: God has one essence and three persons. The Bible affirms both the oneness of God and the divinity of the Father, the Son, and the Holy Spirit. The Trinity provides boundaries for human speculation about the nature of God. The oneness of God is expressed as His essence or existence, while His diversity is expressed in three persons. In the context of conveying God's laws, the oneness of God has several important implications: 1) When God speaks, there is no one else who can contradict Him. 2) When God promises, there is no one else who can retract it. 3) When God punishes disobedience, there is no one else who can protect against it. 4) The LORD is the only true God, not a god among other gods. Keywords: God is one; Trinity; the only true God; concept of LordAbstrak Pandangan beberapa kalangan umat ‘kristen’ mencakup argumen Arius (saksi Yehuwa) yang menyatakan bahwa meskipun Yesus memiliki sifat yang istimewa, Ia tetap merupakan manusia dan oleh karena itu tidak seharusnya dianggap lebih dari sekadar "ciptaan," seperti halnya manusia lainnya, ada juga pemahaman yang dikenal sebagai Jesus Only atau Oneness, yang menyerupai ajaran sesat Sabelianisme dalam bentuk yang baru. Selain itu, pandangan dari Islam menyerang keyakinan Kristen mengenai Allah Tritunggal dengan anggapan bahwa Kristen meyakini adanya tiga Allah, serta menafsirkan bahwa konsep Tritunggal adalah praktik triteisme. Ulangan 6:4 merupakan hukum utama yang mengharuskan komitmen total dari bangsa Israel secara personal demikian juga bagi orang percaya Yesus Kristus masa kini. Tujuan penulisan penelitian ini adalah untuk menganalisa Ulangan 6:4 untuk merefleksikan makna Tuhan itu esa, melalui penelitian ini juga dapat menegaskan bahwa TUHAN adalah Allah yang layak disembah oleh setiap orang percaya, hanya Tuhan dan allah yang lain tidak layak mendapatkan penyembahan dari manusia. Penelitian dilakukan dengan Metode Kualitatif dengan pendekatan induktif yakni, eksegesa dan analisa ayat secara leksikal dan gramatikal dari ayat yang diteliti, selanjutnya direfleksikan dengan ayat Alkitab yang lain, jurnal atau buku yang lain untuk mendukung hasil penelitian.  Hasil yang ditemukan, doktrin Trinitas meneguhkan kesatuan Allah di dalam tiga pribadi, bukan merupakan kontradiksi: Allah memiliki satu esensi dan tiga pribadi. Alkitab meneguhkan baik keesaan Allah dan keilahian Bapa, Anak dan Roh Kudus. Trinitas memberikan batasan kepada spekulasi manusia tentang natur Allah. Keesaan dari Allah dinyatakan sebagai esesnsiNya atau keberadaanNya, sedangkan keragamanNya diekspresikan dalam tiga pribadi. Dalam konteks penyampaian hukum-hukum Allah, keesaan Allah mempunyai beberapa implikasi yang penting: 1, Kalau Allah berfirman, tidak ada yang lain yang dapat menolaknya. 2, Kalau Allah berjanji, tidak ada yang lain yang dapat menariknya. 3, Kalau Allah menghukum ketidaktaatan, tidak ada yang lain yang dapat melindungi. 4, TUHAN adalah satu-satunya Allah yang benar, bukan Tuhan diantaran tuan yang lain.Kata kunci: Esa; Trinitas; satu-satunya Tuhan; konsep Tuhan