Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Aceh Anthropological Journal

PALAWIK DALAM PASUNGAN KEMISKINAN: Relasi Patron Klien dalam Industri Perikanan Kepulauan Banyak, Aceh Singkil Fairusy, Muhajir al
Aceh Anthropological Journal Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v2i2.1160

Abstract

Discussion of maritime human life and fisheries, at least be an effort to reaffirm the existence of coastal society and culture. Moreover, if the people are in the geopolitical boundaries of Aceh, which is rarely touched the attention of social researchers. This study is an attempt to understand, and describe the portrait of fisherman life of the Pulau Banyak, Aceh Singkil, which is stuck in a patron-based client relationship. Interest to study coastal communities, as an effort to see the phenomenon of poverty of fisherman community of Pulau Banyak, which is termed palawik. Therefore, it is important to see thoroughly the dynamics of the life of the fishing industry that has been held by the fishermen community. This research is descriptive, with historiography approach, and phenomenology paradigm. Data collection techniques through Library Research, and in-depth interviews with informants to find the emic side. The results showed that the Pulau Banyak fisheries industry is the main livelihood of the island community. In order to seek social security, most fishermen establish patron-clientpatterned relationships with tauke. However, the patronage pattern of working relationships has trapped and locked fishermen into poverty.
MAKNA RITUAL KHANDURI BUNGONG KAYÉE DALAM MASYARAKAT LHOK PAWOH KEC. SAWANG KAB. ACEH SELATAN Subhi, Muhibbul; Al-Fairusy, Muhajir; Nasir, Muhammad
Aceh Anthropological Journal Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v5i2.5632

Abstract

Studi ini mendiskusikan ritual khanduri bungong kayée, tradisi yang berlangsung di tengah masyarakat Lhok Pawoh, Aceh Selatan. Tradisi ini bertujuan untuk meminta keberkahan bagi sang pencipta, guna menyuburkan tanaman yang sudah berbuah, dan selamat dari hama dan gangguan lain yang dapat menggugurkan bungong kayée (bunga kayu). Bunga kayu sebagai cikal buah dipandang pembawa manfaat oleh masyarakat tempatan. Penelitian ini beranjak dari pertanyaan, bagaimana prosesi ritual khanduri bungong kayée dalam masyarakat Lhok Pawoh dan apa makna simbolis terhadap prosesi ritual khanduri bungong kayée bagi masyarakat setempat. Penelitian ini menggunakan analis deskriptif, menganalisis fenomena sosial masyarakat Lhok Pawoh dalam ritual khanduri bungong kayée. Data diperoleh dari informan yang mengetahui tentang ritual khanduri bungong kayée; tokoh adat, tokoh agama, cendikiawan dan masyarakat biasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa khanduri ini melibatkan simbol-simbol agamam Islam, dimulai dengan membaca kitab suci al-Qur’an. Kemudian dilanjutkan dengan ritual shamadiyah yang dipimpin oleh agamawan setempat. Selain itu, dilakukan pula pembakaran kemenyan, dengan tujuan mengharumkan lokasi ritual. Tradisi ini ditutup dengan penyantunan pada anak yatim, yang dimaknai sebagai upaya meminta keberhakan melalui perantara anak yatim, sebagai kelompok manusia yang dianggap wajib untuk disantuni dalam ajaran Islam jika menginginkan keberkahan dan rezeki melimpah.
PALAWIK DALAM PASUNGAN KEMISKINAN: Relasi Patron Klien dalam Industri Perikanan Kepulauan Banyak, Aceh Singkil Muhajir al Fairusy
Aceh Anthropological Journal Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v2i2.1160

Abstract

Discussion of maritime human life and fisheries, at least be an effort to reaffirm the existence of coastal society and culture. Moreover, if the people are in the geopolitical boundaries of Aceh, which is rarely touched the attention of social researchers. This study is an attempt to understand, and describe the portrait of fisherman life of the Pulau Banyak, Aceh Singkil, which is stuck in a patron-based client relationship. Interest to study coastal communities, as an effort to see the phenomenon of poverty of fisherman community of Pulau Banyak, which is termed palawik. Therefore, it is important to see thoroughly the dynamics of the life of the fishing industry that has been held by the fishermen community. This research is descriptive, with historiography approach, and phenomenology paradigm. Data collection techniques through Library Research, and in-depth interviews with informants to find the emic side. The results showed that the Pulau Banyak fisheries industry is the main livelihood of the island community. In order to seek social security, most fishermen establish patron-clientpatterned relationships with tauke. However, the patronage pattern of working relationships has trapped and locked fishermen into poverty.
MAKNA RITUAL KHANDURI BUNGONG KAYÉE DALAM MASYARAKAT LHOK PAWOH KEC. SAWANG KAB. ACEH SELATAN Muhibbul Subhi; Muhajir Al-Fairusy; Muhammad Nasir
Aceh Anthropological Journal Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v5i2.5632

Abstract

Studi ini mendiskusikan ritual khanduri bungong kayée, tradisi yang berlangsung di tengah masyarakat Lhok Pawoh, Aceh Selatan. Tradisi ini bertujuan untuk meminta keberkahan bagi sang pencipta, guna menyuburkan tanaman yang sudah berbuah, dan selamat dari hama dan gangguan lain yang dapat menggugurkan bungong kayée (bunga kayu). Bunga kayu sebagai cikal buah dipandang pembawa manfaat oleh masyarakat tempatan. Penelitian ini beranjak dari pertanyaan, bagaimana prosesi ritual khanduri bungong kayée dalam masyarakat Lhok Pawoh dan apa makna simbolis terhadap prosesi ritual khanduri bungong kayée bagi masyarakat setempat. Penelitian ini menggunakan analis deskriptif, menganalisis fenomena sosial masyarakat Lhok Pawoh dalam ritual khanduri bungong kayée. Data diperoleh dari informan yang mengetahui tentang ritual khanduri bungong kayée; tokoh adat, tokoh agama, cendikiawan dan masyarakat biasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa khanduri ini melibatkan simbol-simbol agamam Islam, dimulai dengan membaca kitab suci al-Qur’an. Kemudian dilanjutkan dengan ritual shamadiyah yang dipimpin oleh agamawan setempat. Selain itu, dilakukan pula pembakaran kemenyan, dengan tujuan mengharumkan lokasi ritual. Tradisi ini ditutup dengan penyantunan pada anak yatim, yang dimaknai sebagai upaya meminta keberhakan melalui perantara anak yatim, sebagai kelompok manusia yang dianggap wajib untuk disantuni dalam ajaran Islam jika menginginkan keberkahan dan rezeki melimpah.
Fungsi Komunikasi Lintas Budaya dalam Konflik Agama Masyarakat Perbatasan Aceh Muji Mulia; Muhajir Al-Fairusy; Zulfatmi Zulfatmi; Zakki Fuad Khalil
Aceh Anthropological Journal Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v6i2.8116

Abstract

Abstract: This study discussed socio-religious events at the Aceh border. The border is defined as the boundary line between Aceh which uphold Islam as its identity with the neighboring province which has multiculturalism as its identity. The border is a melting pot for various ethnic and religious groups which formed their distinctive identity. Cross-cultural communication is become necessary to reduce religious conflict that has emerged for a long time. This study asks this question: why cross-cultural communication is important for Acehnese border communities. This study used a qualitative method with an ethnographic approach to understanding the identity awareness of people who have diverse identities. Strengthening cross-cultural communication can be categorized as a form of social engineering in the context of the integration of Acehnese border communities. The study showed that religious conflicts on the Aceh border, especially at the Singkil Regency, which have occurred since 1979 and peaked in 2015 were triggered by the state of identity politics. Religious theological nuances were massively involved in the conflict and contestation, this attitude showed the legitimacy of political interests. Historically, the people of Singkil came from one ancestor with the same clan. Community integration can only be done through culture-based communication as the glue of social relations. Cross-cultural forms of communication could be found in public spaces such as traditional markets and local community weddings.Abstrak: Studi ini mendiskusikan peristiwa sosial keagamaan di perbatasan (border) Aceh. Perbatasan mengandung makna garis batas, antara Aceh yang menjunjung Islam sebagai identitas dengan provinsi tetangga yang multikultur. Kawasan ini menjadi titik pertemuan ragam etnis dan agama yang membentuk identitas tersendiri. Komunikasi lintas budaya dalam rangka meredam konflik agama yang telah lama muncul menjadi keniscayaan. Studi ini beranjak dari pertanyaan mengapa komunikasi lintas budaya penting bagi masyarakat perbatasan Aceh. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi untuk memahami kesadaran identitas masyarakat yang memiliki identitas beragam. Penguatan komunikasi lintas budaya dapat dikategorikan sebagai bentuk rekayasa sosial dalam konteks integrasi masyarakat perbatasan Aceh. Hasil penelitian menunjukkan jika konflik agama di perbatasan Aceh, khususnya Kabupaten Singkil yang terjadi sejak tahun 1979 dan puncaknya pada tahun 2015 dipicu oleh keadaan politik identitas. Nuansa teologis keagamaan dilibatkan secara masif dalam konflik dan kontestasi tersebut, sikap ini menunjukkan adanya legitimasi kepentingan yang bersifat politis. Realitas sejarah, masyarakat Singkil berasal dari satu nenek moyang dengan marga yang sama. Integrasi masyarakat hanya bisa dilakukan melalui komunikasi berbasis budaya sebagai perekat hubungan sosial. Bentuk komukasi lintas budaya dapat ditemui di ruang publik seperti pasar tradisional dan acara pesta perkawinan masyarakat setempat.
Tradisi Berguru dalam Budaya Pernikahaan Adat Gayo Hamda, Erna Fitriani; Kintan TH, Sri; Lasri, Lasri; Al-Fairusy, Muhajir
Aceh Anthropological Journal Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v7i2.12347

Abstract

Custom is a habit that cannot be separated from the daily life of humans or individuals who live in certain areas or tribes. One of the traditions developed in Gayo is the procedure for getting married, starting with studying before the bride is brought to the mosque or KUA to accept consent. Studying plays an important role in providing guidance to the bride and groom in building a sakinah, mawaddah wa rahmah household. This study uses a qualitative method with a descriptive approach. This approach aims to find out and describe things found in the field. The research process was carried out by observing, interviewing and studying literature, in order to collect and analyze references related to the research problem. The results of this study indicate that berguru is the final momentum before the wedding event which is called berguru/ejer angry, namely giving advice to remind the values and principles of Islamic teachings to the prospective bride and groom. The most important subject matter includes matters of faith, worship and shariah as well as structured physical and spiritual needs. The Gayo Traditional Council is an autonomous institution and partner of the Regional Government in carrying out and administering traditional life. This is so that the culture or customs that exist in the Gayo community are always maintained and maintained and practiced in people's lives. The Gayo Traditional Council plays a role in maintaining this berguru custom.Abstrak: Adat merupakan kebiasaan yang tidak lepas dari keseharian manusia atau individu yang tinggal didaerah atau suku tertentu. Adat yang di kembangkan di Gayo salah satu dalam tata cara menikah adalah dimulai dengan berguru sebelum mempelai di bawa ke masjid atau KUA untuk mengijab qabul. Berguru sangat berperan penting dalam memberikan bimbingan kepada calon pengantin dalam membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pendekatan tersebut bertujuan untuk mengetahui dan menjabarkan hal yang ditemukan di lapangan. Proses penelitian ini dilakukan dengan adanya observasi, wawancara dan studi kepustakaan, guna mengumpulkan serta menganalisis referensi-referensi yang berkaitan dengan masalah penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berguru merupakan momentum terakhir menjelang acara pernikahan yang disebut berguru/ ejer marah yaitu memberi nasehat mengingatkan nilai dan prinsip ajaran Islam kepada calon mempelai laki-laki dan perempuan. Materi pelajaran yang paling penting antara lain mengenai akidah, ibadah dan syariah serta kebutuhan jasmani dan rohani secara terstruktur. Majelis Adat Gayo adalah lembaga otonom dan mitra Pemerintah Daerah dalam menjalankan dan menyelenggarakan kehidupan adat. Hal ini dimaksudkan agar budaya atau Adat Istiadat yang ada dalam masyarakat Gayo tetap selalu terpelihara dan terjaga serta dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat. Majelis Adat Gayo berperan dalam mempertahankan adat berguru ini.