Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Jurnal Shanan

RADIKALISME AGAMA DALAM PERSPEKTIF ALKITAB DAN IMPLIKASINYA BAGI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN Yunardi Kristian Zega
Jurnal Shanan Vol. 4 No. 1 (2020): Maret
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.935 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v4i1.1765

Abstract

AbstrakRadikalisme agama merupakan paham atau aliran keras yang berasal dari suatu ajaran agama yang menimbulkan sikap intoleransi. Radikalisme agama dapat terjadi pada agama manapun, termasuk dalam memahami ajaran Kekristenan. Salah satu penyebab pada ajaran Kekristenan yaitu, pemahaman yang salah dalam menafsirkan ayat-ayat Alkitab dan para pendidik yang memberikan pendidikan agama Kristen tidak sesuai dengan ajaran Alkitab, atau juga dapat disebabkan oleh orang-orang Kristen yang memiliki kepentingan dengan mengatasnamakan ajaran agama. Untuk menjawab permasalahan tersebut, dalam penulisan ini metode yang digunakan adalah studi pustaka. Di mana penulis mencari sumber-sumber informasi baik dari jurnal, buku, Alkitab, tafsiran Alkitab, internet, kamus, dan sumber-sumber lainnya. Tujuan dari penulisan ini untuk menjawab pandangan Kekristenan berdasarkan perspektif Alkitab yang menolak tindakan radikalisme agama. Oleh karena itu, supaya tidak bertumbuhnya paham radikalisme agama di dalam Kekristenan. Hal ini menjadi tugas tanggung jawab bagi para pendidik, pendidik yang dimaksud ialah (orangtua, guru PAK, dan para pendeta) yang mengajarkan pendidikan agama Kristen kepada setiap naradidik baik di dalam keluarga, sekolah, maupun gereja.Kata Kunci: Radikalisme Agama, Perspektif Alkitab, Pendidikan Agama Kristen
Implementasi Metode Problem Solving dalam Meningkatkan Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Nova Ritonga; Juliandes Leonardo Trisno Mone; Mathan Yunip; Yunardi Kristian Zega
Jurnal Shanan Vol. 5 No. 1 (2021): Maret
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.799 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v5i1.2622

Abstract

Today's learning has used a student-centered learning model. In this learning, the teacher uses various learning methods which are certainly more interesting and involve students directly. This learning system is in accordance with the education standards and curriculum in 2013. Although the 2013 curriculum has implemented student-centered learning, until now there are still teachers including Christian religious education teachers who still use conventional methods (lectures) which cause the learning process is less interesting and tedious. Therefore, a breakthrough is needed that can improve Christian religious education learning in schools. Thus, the purpose of this study is to describe the implementation of problem solving methods in improving the learning process of Christian religious education in schools. The method used in this research is literature study with literature review using books, journals, dictionaries, and other sources to describe the implementation of problem solving methods in Christian religious education learning. The result of this research is that the implementation of problem solving methods can improve Christian religious education learning in schools because students are actively involved in the learning process.
Orangtua dan Guru Sebagai Pengembang Misi Melalui Pendidikan Agama Kristen Fredik Melkias Boiliu; Yunardi Kristian Zega
Jurnal Shanan Vol. 6 No. 1 (2022): Maret
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (745.546 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v6i1.3702

Abstract

Pemberian mandat dan tanggungjawab dari Allah kepada orang yang dipilih-Nya merupakan tugas misi Allah untuk umat manusia. Keluarga merupakan tempat misi Allah di dunia yang pertama dan utama dalam kehidupan orang percaya. Selain itu, guru juga mempunyai peran sebagai pengembang misi. Artinya bahwa, orang tua dan guru memiliki peran penting untuk mewariskan iman kepada generasi berikutnya. Dalam hal ini tidaklah mudah untuk mewariskan iman kepada generasi yang berbeda lokus dan abad. Oleh sebab itu dalam artikel ini, peneliti berusaha untuk menemukan cara yang tepat dalam menyampaikan misi Ilahi yang sesuai untuk generasi Kristen di era revolusi industri 4.0. Metode dalam penelitian ini adalah studi pustaka yang berisi teori-teori relevan terkait dengan masalah yang dibahas. Kajian pustaka merujuk pada kajian tentang konsep dan teori yang digunakan sesuai literatur yang ada, seperti artikel-artikel yang diterbitkan di berbagai jurnal ilmiah. Adapun hasil dari penelitian ini adalah orang tua dan guru di era revolusi industri 4.0 saat ini, harus dapat terbuka dengan perkembangan teknologi sehingga dapat mendidik anak/peserta didik secara relevan sesuai dengan zaman dan peradapan di mana mereka dilahirkan, contohnya seperti orang tua dan guru dapat memanfaatkan teknologi sebagai sarana dalam penyampaian misi Allah kepada anak-anak zaman sekarang.
Mentransformasi Generasi Kepemimpinan Kristen Berlandaskan Teori Perkembangan Iman Karya James W. Fowler Yunardi Kristian Zega; Hermina Sulistiawati; Otieli Harefa; Hendrik Bernadus Tetelepta
Jurnal Shanan Vol. 7 No. 1 (2023): Maret
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/shanan.v7i1.4671

Abstract

Today there is a leadership crisis, especially in Christian institutions. For example, the process of selecting church leaders or synods cannot be separated from elements of Corruption, Collusion and Nepotism (KKN). This shows that Christian leadership is experiencing moral and faith degradation. Therefore, the purpose of this study is to provide an overview of transforming generations of Christian leaders who are in accordance with the teachings of the Bible, based on James W. Fowler's 6 stages of faith development theory. For this reason, this research uses descriptive qualitative research with a literature approach. The results obtained include: First, at the age of 0-6 years, growing children's confidence and self-confidence. Second, at the age of 6-12 years, set an example regarding the morals and integrity of leadership. Third, At the age of 12-18 years, take care of the children's association and environment. Fourth, at the age of 18-25 years, provide religious teachers who can become role models in leadership. Fifth, at the age of 25-40 years, form an open point of view. Sixth, At the age of 40 and above, adjust to the views of others and see the truth from many points of view. With this in mind, cases that often occur in the Christian leadership environment will be minimized.
Metaverse dan Gereja di Era Digital: Revolusi, Tantangan, dan Implikasi bagi Pendidikan Agama Kristen Zega, Yunardi Kristian; Talizaro Tafonao
Jurnal Shanan Vol. 9 No. 1 (2025): Maret
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/shanan.v9i1.6643

Abstract

Perkembangan teknologi metaverse telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam gereja dan pendidikan agama Kristen. Metaverse membuka peluang baru bagi pelayanan gereja dan pembelajaran teologi, namun juga menghadirkan tantangan, seperti degradasi spirit persekutuan, meningkatnya individualisme, serta potensi penyalahgunaan dunia virtual. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan dan peluang metaverse bagi gereja serta implikasinya terhadap pendidikan agama Kristen. Penelitian ini menggunakan metode narrative review, dengan mengumpulkan, menganalisis, dan mensintesis berbagai studi terdahulu terkait topik ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metaverse dapat memperluas jangkauan penginjilan, menyediakan metode pembelajaran interaktif, serta mendukung ibadah dalam ruang digital. Namun, tantangan seperti menurunnya interaksi sosial yang nyata, krisis kepemimpinan akibat virtualisasi, serta risiko penurunan esensi komunitas iman perlu diantisipasi dengan strategi yang tepat. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa gereja dan institusi pendidikan Kristen perlu menerapkan pendekatan hybrid, yang menggabungkan teknologi digital dengan keterlibatan komunitas secara fisik. Dengan strategi yang bijak, metaverse dapat menjadi sarana yang mendukung pelayanan gereja dan pendidikan agama Kristen tanpa mengorbankan nilai-nilai teologis yang fundamental.
Co-Authors Agiana Her Visnhu Ditakristi Agustinus Kadja Allo, Bertha Padang Andrea Elfata Ratulangi Apriyanto J R Ato Aritonang, Titin Balduinus Jehaman Betaria Siahaan Binsasi, Irenius Fransiskus Boiliu, Fredik Melkias Charles Juntak Daniel Agustin Desi Sianipar Desi Sianipar Desy Doreni Napitupulu Djara Leba, Davidson Eben Saluran Halawa Efvi Noyita Ernawaty Simanjuntak Firiska Yulinata Fransiskus X Sasi Frilia Kartini Sipahutar Gaol, Mery Cristina Lumban Gea, Kariaman Harefa, Desetina Hasugian, Johanes Waldes Heeng, Go Hendrik Bernadus Tetelepta Hermina Sulistiawati Hia, Elvi Putri Jelita Hombing, Evraim Anggreini Br Hutabarat, Rahel Triastuti Iklasia Aprianti Kota Imayanti Nainggolan Indah Octaviani Laleb Ivan Ivan Jeanie D Luruk Bria Jenri Prada Sibarani Jhodi Huma Ismawan Allosau Job Sinaga Johanes Waldes Hasugian Josua Djami Juliandes Leonardo Trisno Mone Kelfinus Daya Kristiantoro Kristianus Jevrino Mozes Kristina Elabi Liston Sihombing Lubis, Ricardo Pandapotan Luterius Nehe Marianus R Bujang Mathan Yunip Mauta, Arjuna Nainggolan, Jhon Piter Nova Ritonga Nova Ritonga Novalita Tampubolon Otieli Harefa Pandie, Remegises Danial Yohanis Panide, Remegies Danial Yohanis Pasaribu, Jabes Polikarpus Seran Rismag Dalena Florentina Monica Br Manurung Ritonga, Nova Rohani Zalukhu Sabar Hutagalung Sairwona, Wellem Selestina Helena Bere Siahaan, Renson Sianipar, Desi Sianipar, Desi Sikri Adaya Mau Sipahutar, Frilia Kartini Situmeang, Tri Murni Sono, Marhendra Betzy Erlian Stanley Rambitan Supiyani Suzaya Bitia Silsilia Syaiful R M Nur Sylvia Natalia Tafonao, Talizaro Talizaro Tafonao Thobias Demetrius Asamai Tumanggor, Folorisde Feriany Ucia Unmehopa, Marthen Veithzal Rivai Zainal Viky George Lettu Radja Pono Wangko, Cynthia Renita Wellem Sairwona Wellem Sairwona Widjaja, Fransiskus Irwan Wilfridus Duli Marin Winda Sari Rumahorbo Wizaldy Fabiano Hilnicputro Yanti Secilia Giri Yeni Y C Ndun Yoan Huke