Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Gambaran Gejala Depresi pada Penderita Parkinson Disease di RSI Ibnu Sina Padang Mubarak, M. Dzaky; Syafrita, Yuliarni; Nurhayati, Nurhayati; Liza, Rini Gusya; Syahrul, Muhammad Zulfadli
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i2.1153

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Penyakit Parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif kronik progresif yang ditandai dengan hilangnya sel saraf (neuron) dopaminergik pada bagian substansia nigra. Pada Penyakit Parkinson dapat ditemukan gejala non motorik seperti gejala psikiatri terutama depresi. Depresi pada penderita parkinson memiliki dampak yang sangat besar pada kualitas hidup karena mengakibatkan penurunan kualitas hidup. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penderita Penyakit Parkinson, distribusi terjadinya depresi pada parkinson, dan tingkatan depresi yang dialami pada penderita parkinson di RSI Ibnu Sina Padang. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif metode Cross Sectional dengan kuesioner Beck Depression Inventory. Pengambilan data penelitian berupa data primer dari semua penderita Parkinson yang berobat jalan pada bulan Maret 2023 hingga Mei 2023 di Poli Saraf RSI Ibnu Sina yang memenuhi kriteria dengan jumlah sampel 29 orang. Hasil: Hasil analisis data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian penderita Penyakit Parkinson lebih banyak ditemukan pada kelompok umur lansia dengan jenis kelamin perempuan dan paling banyak sudah tidak bekerja. Sebagian besar masih berstatus kawin dengan lama menderita sakit parkinson mayoritas selama ≥ 5 tahun dan terbanyak didapatkan pada stadium 3 Penyakit Parkinson. Kasimpulan: Mayoritas sebanyak 65,5% mengalami depresi dan paling banyak pada tingkat depresi sedang. Kata kunci: penyakit parkinson; depresi. Abstract Background: Parkinson's Disease is a progressive chronic neurodegenerative disease characterized by the loss of dopaminergic neurons in the substantia nigra. In Parkinson's Disease, non-motor symptoms such as psychiatric symptoms, especially depression, can be found. Depression in people with Parkinson's has a very large impact on quality of life because it results in a decrease in quality of life. Objective: This study aims to determine the characteristics of patients with Parkinson's Disease, the distribution of depression in Parkinson's, and the level of depression experienced in patients with Parkinson's at RSI Ibnu Sina Padang. Methods: This research is a descriptive study with a qualitative approach with a cross sectional method using the Beck Depression Inventory questionnaire. Retrieval of research data in the form of primary data from all Parkinson's patients who were on outpatient treatment from March 2023 to May 2023 at the Ibnu Sina Hospital who met the criteria with a sample size of 29 people. Result: The results of this study found that people with Parkinson's Disease were mostly elderly age group, female, and most were not working. Most were still married, had suffered from Parkinson's disease for 5 years and more, and most found in stage 3 Parkinson's Disease. Conclusion: The majority as much as 65.5% experienced depression and most were at moderate levels of depression) Keywords: parkinson's disease; depression
Efek Human Bone Marrow Mesenchymal Stem Cells Terhadap Deposisi Kolagen Pada Kulit Tikus Luka Bakar Full Thickness Diabetes Melitus Aljassri, Resti Karunia; Revilla, Gusti; Zulfadli Syahrul, Muhammad; Yerizel, Eti; Saputra, Deddy; Tofrizal, Tofrizal
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i1.1333

Abstract

Latar Belakang: Kulit berfungsi sebagai pelindung tubuh manusia dan rentan mengalami kerusakan, salah satunya luka bakar. Luka bakar disebabkan oleh trauma panas atau dingin yang memiliki risiko morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Diabetes melitus dapat menghambat penyembuhan luka bakar dengan memperpanjang inflamasi, mengganggu proses re-epitelisasi, sintesis, dan proliferasi fibroblas. Human Bone Marrow Mesenchymal Stem Cells (hBM-MSCs) dapat mempercepat penyembuhan luka bakar pada kulit. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek hBM-MSCs terhadap deposisi kolagen pada penyembuhan luka bakar dengan diabetes melitus. Metode: Penelitian ini dilakukan secara post-test only control group design. Penelitian ini menggunakan 30 blok parafin yang berisikan jaringan kulit luka bakar full thickness tikus diabetes melitus yang diterminasi pada hari ke-3, ke-7, dan ke-14. Terdiri dari kelompok kontrol dan perlakuan. Jaringan kulit dibuatkan preparat histologis dengan pewarnaan Picro Sirius Red untuk menilai deposisi kolagen. Data dianalisis menggunakan uji T-Independent. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan deposisi kolagen pada kulit tikus luka bakar full thickness diabetes mellitus setelah diberikan hBM-MSCs. Analisis statistik deposisi kolagen pada hari ke-3 dan ke-7 tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan, sedangkan hari ke-14 terlihat peningkatan yang signifikan. Kesimpulan: hBM-MSCs berpotensi meningkatkan deposisi kolagen pada kulit luka bakar tikus diabetes melitus.
Risiko Mual Muntah Pasca Operasi pada Pasien Seksio Sesarea dengan Anestesi Spinal di RSIA Permata Bunda Solok Mashoed, Meyfiana Aisyah; Rustini , Rini; Vitresia , Havriza; Syahrul , Muhammad Zulfadli; Almurdi, Almurdi
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i3.1305

Abstract

Latar Belakang: Mual dan muntah pasca operasi (PONV) merupakan salah satu efek samping pada anestesi spinal pada pasien seksio sesarea. Faktor risiko dari kejadian mual muntah pasca operasi adalah usia, IMT, motion sickness, mual muntah pasca operasi sebelumnya, dan merokok. Tujuan: Mengetahui angka kejadian dan faktor risiko mual muntah pasca operasi pada pasien seksio sesarea di RSIA Permata Bunda Solok. Metode: Penelitian ini adalah deskriptif observasional yang dilakukan pada bulan November 2023 di Recovery Room RSIA Permata Bunda Solok. Sampel sebanyak 46 pasien yang menjalani operasi seksio sesarea dengan anestesi spinal diambil menggunakan teknik accidental sampling. Hasil: Didapatkan sebanyak 7 dari 46 pasien (15,22%) mengalami mual muntah pasca operasi. Berdasarkan usia, kejadian mual muntah pasca operasi terbanyak pada kelompok usia 26-35 tahun (10,87%). Berdasarkan kelompok IMT, kejadian mual muntah terbanyak pada IMT >27 (20%). Motion sickness dengan yang tidak ada Motion sickness tidak jauh berbeda angka kejadian mual muntah pasca operasi (22,22% dan 10,71%). Dari 7 pasien yang mengalami mual muntah pasca operasi semuanya memiliki riwayat tidak merokok dan riwayat tidak PONV sebelumnya (100%). Kesimpulan: Angka kejadian mual muntah pasca operasi yang tidak jauh berbeda dengan studi yang pernah dilakukan sebelumnya dan hal ini dipengaruhi oleh faktor risiko usia, IMT, Motion sickness, PONV sebelumnya dan riwayat merokok.
Peranan Skor SOFA dan Prokalsitonin dalam Memprediksi Luaran Mortalitas Sepsis di ICU: Sebuah Tinjauan Naratif Catherina, Felicia; Syahrul, Muhammad Zulfadli; Rustam, Erlina
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i3.1326

Abstract

Background: Sepsis is a dysregulated host response to infection that leads to life-threatening organ dysfunction. SOFA score is used to assess the degree of organ dysfunction and is currently used in the latest sepsis definition. PCT is a biomarker which increases in inflammation and sepsis. Objective: to analyze the role of SOFA score and procalcitonin in predicting sepsis mortality outcome in ICU. Methods: Literature review discusses primary literature searched through PubMed and ScienceDirect databases, selected based on predetermined inclusion and exclusion criteria. Results: A total of 15 articles were included in this review. In studies evaluated a single SOFA score were found that the mean/median SOFA score in non-survivors were significantly higher than in survivors. In studies evaluated SOFA score data serially also showed the ability of SOFA score to predict mortality outcomes. One-time PCT measurements were performed in 93% studies in this review. The results obtained were that the mean/median initial PCT levels measured at admission or after sepsis diagnosis in non-survivors were higher than in survivors in 13 studies, but statistically significant differences were only found in 5 studies. Serial PCT measurements were only measured in 1 study, it found changes in PCT values on ICU admission and fifth day are significantly related to mortality. Conclusion: SOFA score is a good parameter for predicting sepsis mortality outcome in ICU, and in general, one-time PCT measurements do not play a significant role in predicting sepsis mortality outcome in ICU.
Hubungan Pemakaian Obat Antiinflamasi Nonsteroid (OAINS) dengan Derajat Keparahan Dispepsia pada Pasien Osteoartritis di Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji Kota Padang Muhammad Fadli; Rustam, Erlina; Syahrul, Muhammad Zulfadli; Usman, Elly; Miro, Saptino; Kadri, Husnil
Majalah Kedokteran Andalas Vol. 48 No. 4 (2025): MKA October 2025
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/mka.v48.i4.p373-382.2025

Abstract

Latar Belakang: Di layanan primer, OA sering ditangani dengan OAINS, namun efek samping gastrointestinal seperti dispepsia kerap menurunkan kualitas hidup. Objektif: Menilai hubungan pemakaian OAINS dan durasinya dengan derajat keparahan dispepsia pada pasien OA di wilayah kerja Puskesmas Kuranji, Kota Padang. Metode: Studi potong lintang menggunakan data primer melalui wawancara terstruktur terhadap 101 pasien OA yang sedang menjalani terapi OAINS. Analisis menggunakan uji chi square. Hasil: Mayoritas responden berusia >60 tahun 54,5 persen, perempuan 79,2 persen. Natrium Diklofenak merupakan OAINS tersering 84,2 persen, dengan durasi penggunaan >3 bulan 56,4 persen. Terdapat hubungan pemakaian OAINS dengan dispepsia p=0,000, dan hubungan durasi penggunaan OAINS dengan derajat keparahan dispepsia p=0,001. Kesimpulan: Pada pasien OA di layanan primer, pemakaian dan durasi OAINS berkaitan dengan dispepsia dan tingkat keparahannya. Temuan ini menegaskan pentingnya skrining gejala cerna, edukasi pasien, serta peninjauan regimen analgesik yang lebih aman. Pertimbangkan gastroproteksi dan pemantauan berkala pada kelompok berisiko tinggi secara klinis.
Original Research The Effect of Yoga or Nonpharmacotherapy on Dysmenorrhore in Medical Students of Andalas University, Indonesia Wardah Astarini, Rifqah; Syahrul, Muhammad Zulfadli; Nour, Mustafa; Indra, Beni; Aladin, Aladin; Irramah, Miftah
Jurnal sosial dan sains Vol. 4 No. 9 (2024): Jurnal Sosial dan Sains
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jurnalsosains.v4i9.1522

Abstract

Background: Dysmenorrhea is a menstrual pain that is often experienced by young women, with a global prevalence of 16.8-81%. In Indonesia, the prevalence reaches 54.89%, with adolescent girls being the largest group. Treatment generally uses analgesics, but it has side effects. Yoga as a non-pharmacological therapy can reduce pain through muscle relaxation. Purpose: Analyzing the effect of yoga therapy on the intensity of the degree of dysmenorrhea in female students of the Class of 2018 Undergraduate Medical Education Study Program, Faculty of Medicine, Andalas University. Methods: This research uses a pure experimental design with a pre-test, post-test, and only group design, with a sample size of 32 people. The research instrument used in the study was a pre-test and post-test questionnaire, which contained VAS scores and guidelines regarding yoga movements. The questionnaire contains a Visual Analog Scale (VAS), which consists of a vertical scale from 0 to 10 cm. Results:  The results showed there were no differences related to age. As many as 18% of respondents usually took analgesics, while 81.3% did not take analgesics to treat dysmenorrhea before yoga therapy. Meanwhile, after yoga therapy, 5 out of 6 respondents who usually consumed analgesics in previous menstrual cycles no longer consumed analgesics, and one respondent still consumed analgesics. Bivariate analysis showed a value of p=0.00 (p<0.05), which means there is a relationship between the provision of yoga therapy and the degree of dysmenorrhea. Where providing yoga therapy can reduce the intensity of pain in respondents who experience dysmenorrhea. Conclusion: This research concludes that there is a significant relationship between the provision of yoga therapy and the degree of dysmenorrhea.
Perbandingan Metode Boiling Dan Kit Komersial Untuk Ekstraksi DNA TB, Tinjauan Dari Aspek Kualitas, Kuantitas, Dan Integritas DNA. Taufiqulhakim, Muhammad Rafi; Linosefa; Syahrul, Muhammad Zulfadli; Putra, Andani Eka
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i4.1399

Abstract

Latar Belakang: Tuberculosis (TB) merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Prevalensi penyakit tuberkulosis pada tahun 2023 meningkat dari tahun 2022, hal ini juga disebabkan karena lamanya diagnosis dari penyakit tuberkulosis. Polymerase Chain Reaction (PCR) merupakan salah satu teknologi molekular yang berkembang untuk mendiagnosis penyakit tuberkulosis. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan ekstraksi DNA TB dengan menggunakan metode boiling dan kit komersial, yang ditinjau dari aspek kualitas, kunatitas, dan integritas DNA. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik. Penelitian ini dilakukan di Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang pada periode bulan Juli 2023 - Maret 2024. Hasil: Pada aspek kualitas DNA, ekstraksi DNA dengan menggunakan metode boiling memiliki rata-rata sekitar 1.47 dan kit komersial memiliki rata-rata sekitar 1.79. Pada aspek kuantitas DNA, ekstraksi DNA dengan menggunakan metode boiling memiliki rata-rata 7.1 ng/µl dan kit komersial memiliki rata-rata sekitar 17.1 ng/µl. Pada aspek integritas DNA metode boiling dapat memvisualisasikan 28 sampel positif  dan kit komersial 22 sampel positif. Kesimpulan: pada penelitian ini terdapat perbedaan yang signifikan antara metode boiling dan kit komersial pada aspek kualitas dan kuantitas DNA, dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara metode boiling dan kit komersial pada aspek integritas DNA. Kata kunci:  Mycobacterium tuberculosis, Ekstraksi, DNA, Boiling, PCR  
Profile of Trichoepithelioma Patients at Hospital for the Period of 2016-2021 Fauziah Hannum; Ennesta Asri; Muhammad Zulfadli Syahrul
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 6 No 6 (2024): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v6i6.3802

Abstract

Trichoepithelioma is a rare benign tumor of the skin adnexa, of the pilosebaceous unit, especially of the hair follicle. This tumor is characterized by the appearance of lesions in the form of papules or nodules that are the color of the skin, with a size of 2-8 mm which can have solitary or multiple distribution. Trichoepithelioma has a psychosocial impact for sufferers, because trichoepithelioma lesions are often found on the face so that many sufferers feel embarrassed. This study is a retrospective descriptive study with a cross-sectional design that aims to determine the profile of trichoepithelioma based on age, gender, clinical picture, predilection site, duration before therapy, histopathological examination, treatment modality, and recurrence after therapy. From the 15 samples studied, it was found that the age group 11-19 years was the age group with the most trichoepithelioma patients (66.7%) with the highest gender being female (66.7%). All patients had clinical features of multiple trichoepithelioma (100%) with the greatest predilection for the nose (34.1%). Most of the patients had the same family history as the patient (66.7%). The duration of most patients 6 years (53.3%). Most of the patients did not perform histopathological examination (53.3%). The modality of therapy given to all patients was electrocautery with curettage (100%). Most of the patients did not follow up again regarding their recurrence (60%). Meanwhile, the most patients who did follow-up related to recurrence were &lt;1 year (33.3%).