Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Sulang-Sulang Pomparan Ethnic Batak Toba Study: Oral Tradition Nainggolan, Amoy Karamoii; Damanik, Ramlan; Sinaga, Warisman; Sinulingga, Sinulingga; Purba, Asriaty
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 9, No 3 (2025): JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan) (Juli)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jisip.v9i3.9035

Abstract

Sulang-sulang pomparan (tradition of feeding parents) is a family tradition carried out as a form of respect for both parents, usually when one of the parents is sick or critical. This study aims to describe the stages, performance (text, co-text and context) and values of oral tradition contained in the Sulang-sulang pomparan Ethnic Batak Toba. The theory used in this study is the theory of local wisdom proposed by Robert Sibarani (2014). The method used in the study is a qualitative method that is descriptive. The stages in the Sulang-sulang pomparan Ethnic Batak Toba are divided into two stages, namely the stages before which include: 1) The Sirarion Fellow (Discussion) between siblings and the stages of implementing the tradition which include: 1) Worship Event,2) Mampasahat Tudu-tudu Sipanganon Sian Sude Pomparan Event, 3) Manulangi Sian Sude Pomparan Event, 4) Mampasahat Dengke, Ulos, Dohot Manulangi Sian Hula-hula/Paraman Event. Performance in this tradition is divided into three parts, namely: 1) Text analysis, 2) Co-text analysis, and 3) Context analysis. The values in this tradition include: 1) Religious values / gratitude, 2) Cooperation values, 3) Art values, 4) Politeness values, 5) Social solidarity, 6) Gender management, 7) Harmony and conflict resolution attitudes, 8) Environmental care.
Jejak Genealogis dan Budaya: Mengungkap Kekerabatan Etnik Batak Toba dan Karo melalui Perspektif Linguistik Historis-Komparatif dan Antropologi Sitorus, Oliviya Sera; Damanik, Ramlan
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.30679

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji antara etnik Batak Toba dan etnik Batak Karo dari perspektif linguistik historis komparatif dan antropologi budaya. Kedua kelompok etnik ini merupakan bagian dari rumpun Batak di Sumatra Utara, namun menunjukkan variasi dalam aspek bahasa, adat istiadat, dan struktur sosial. Melalui pendekatan linguistik historis komperatif dan antropologi budaya ditemukan sejumlah korespondensi fonologis yang menunjukkan hubungan genealogis antara bahasa Batak Toba dan bahasa Batak Karo. Di sisi lain, kajian budaya mengungkap adanya kesamaan dalam sistem marga (clan), ritual adat, dan kosmologi, meskipun terdapat pula perbedaan signifikan yang mencerminkan proses divergensi kultural. Hasil penelitian ini bahwa kedua etnik berasal dari akar yang sama, namun mengalami perkembangan terpisah karena faktor geografis dan historis.
JUSTICE COLLABORATOR IN THE CRIMINAL ACT OF PREDICTIVE MURDER (Study Of The Decision Of The South Jakarta District Court) (Number: 798/Pid.B/2022/PN.Jkt.Sel) Ramlan Damanik; Mahmud Mulyadi; Rosmalinda
International Conference on Health Science, Green Economics, Educational Review and Technology Vol. 7 No. 1 (2025): 9th IHERT (2025): IHERT (2025) FIRST ISSUE: International Conference on Health
Publisher : Universitas Efarina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54443/ihert.v7i1.502

Abstract

Justice Collaborator (Cooperating Witness) is a suspect, defendant, or convict who cooperates with law enforcement to uncover a crime in the same case. Justice Collaborator has a big role in uncovering certain crimes. Justice Collaborator also played a role in uncovering the premeditated murder case against Victim NYH who was an aide to FS who served as Head of Propam Division of the National Police Headquarters. The initial chronology presented in the police report after the incident was not premeditated murder, but rather a shooting incident between the Victim and another aide, namely RE. However, thanks to RE's courage in volunteering as a Justice Collaborator, the premeditated murder crime that occurred has been uncovered. This study discusses the problem of how the practices of determining justice collaborators in Indonesia, how the determination of justice collaborators on behalf of RE in the crime of premeditated murder, and how the legal considerations of the Panel of Judges in imposing criminal sanctions on justice collaborators on behalf of RE. The research method in this thesis uses a research method with a normative research type with a descriptive analytical research nature and a qualitative data analysis method, by examining the Decision of the South Jakarta District Court Number: 798/Pid.B/2022/PN. Jkt.Sel and laws and regulations and other legal materials related to the determination of justice collaborators in premeditated murder. The practice of determining Justice Collaborators in Indonesia is carried out based on the provisions of laws and regulations, including Law Number 31 of 2014 and SEMA Number 4 of 2011 with the requirements for determining justice collaborators, namelyjustice collaboratoris one of the perpetrators of a particular crime or a particular criminal case that he committed, not the main perpetrator in the crime and provided information as a witness in the trial process. Then against the Justice collaborator on behalf of RE who is the executor in the crime of premeditated murder, was determined as a justice collaborator with the consideration that the crime of premeditated murder he committed met the qualifications of a "certain case" with the indicator being another crime that resulted in the position of the witness and victim being faced with a very life-threatening situation and the fulfillment of the requirement that the justice collaborator in this decision is not the main perpetrator. For his role as a justice collaborator, RE was given a light sentence with a prison sentence of 1 (one) year and 6 (six) months with one of the considerationsThe victim's family has forgiven the defendant.
Tobus Huning dalam Upacara Marhajabuan Etnik Batak Simalungun : Kajian Kearifan Lokal Malau, Sarah Porman Hatioan Marcelina; Tampubolon, Flansius; Purba, Asriaty R; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas tentang “Tobus Huning Dalam Upacara Marhajabuan Etnik Batak Simalungun: Kajian Kearifan Lokal.” Adapun tujuan dari penulisan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tahapan pada tobus huning dan mendeskripsikan nilai kearifan lokal pada tobus huning. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kearifan lokal yang dikemukakan oleh Robert Sibarani. Berdasarkan hasil dari penelitian, terdapat beberapa tahapan dalam pelaksanaan tobus huning yang dimulai dari manririt, martondur, mangangkat poldung, mambere tanda hata, marlasa-lasa, pajabu parsahapan, manurduk demban ruttas talun, manurduk demban bona niandar, manurduk demban ruttas dinding, manurduk demban dob das, manurduk demban sisei, manurduk demban buha sahap, manurduk demban panungkunan, manurduk demban hombar-hombar, manungkun hubani sipartunangan, manghorjahon parriahan, manurduk demban parhombaran, pattapei parsahapan, manurduk demban dob tappei parsahapan, manurduk demban pamuhuman, mangondoshon partadingan, manguge partadingan, manjujung partadingan, mambere boras tenger, manimpan partadingan, manurduk demban bangal, tobus huning, dan terdapat 11 nilai kearifan lokal pada tradisi tobus huning yaitu kesopansantunan, kejujuran, kesetiakawanan sosial, kerukunan dan penyelesaian konflik, komitmen, pikiran positif, rasa syukur, disiplin, pengelolaan gender, pelestarian dan kreativitas budaya, dan peduli lingkungan.
Kearifan Lokal Simbol pada Jenis Ulos Batak Toba Damanik, Oleg Isuando; Sibarani, Robert; Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen; Damanik, Ramlan
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ulos merupakan sejenis kain atau selendang yang memiliki makna istimewa dalam budaya suku Batak. Kain ini dianggap suci dan mempunyai nilai penting pada pelaksanaan berbagai upacara adat suku Batak, termasuk upacara pernikahan, upacara tujuh bulanan kehamilan, dan upacara kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai kearifan lokal yang terdapat pada ulos Batak Toba. Teori yang digunakan dalam menganalisis data merupakan teori kearifan lokal yang dikemukakan oleh Robert Sibarani. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Pada penelitian ini ditemukan hasil, nilai kearifan lokal pada Ulos Batak Toba antara lain: (1) pelestarian dan kreativitas budaya; (2) gotong royong; (3) rasa syukur; (4) kesopansantunan; (5) komitmen; (6) kerukunan dan penyelesaian konflik; (7) kesetiakawanan sosial; (8) pikiran positif; (9) pendidikan; dan (10) kejujuran.
Alih Kode Pada Interaksi Jual Beli di Pasar Tradisional Balige Kabupaten Toba Kajian : Sosiolinguistik Pasaribu, Eva; Purba, Asriaty R; Sinulingga, Jekmen; Damanik, Ramlan; Herlina, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berjudul Alih Kode Pada Interaksi Jual-Beli Di Pasar Tradisional Balige Kabupaten Toba: Kajian Sosiolinguistik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis alih kode, fungsi alih kode, dan faktor-faktor terjadinya alih kode dalam interaksi jual-beli di Pasar Tradisional Balige, Kabupaten Toba. Teori yang menjadi panduan dalam penelitian ini adalah teori sosiolinguistik yang dikemukakan oleh Suwito. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Hasil yang ditemukan dari penelitian ini adalah adanya variasi jenis alih kode intern: Alih kode dari bahasa Batak Toba ke bahasa Indonesia. Jenis alih kode ekstern: Alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Fungsi alih kode meliputi: Untuk menghormati penutur, untuk menegaskan atau meyakinkan suatu hal, untuk membuat percakapan lebih santai. Faktor terjadinya alih kode meliputi: Kehadiran orang ketiga, penutur, perubahan topik pembicaraan, lawan tutur, untuk sekedar bergensi, untuk membangkitkan rasa humor.
Upacara Adat Mangongkal Holi Etnik Batak Toba : Kajian Semiotika Simbolon, Selvi; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Warisman; Tampubolon, Flansius
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berjudul Upacara Adat Mangongkal Holi Etnik Batak Toba : Kajian Semiotika. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan teori semiotika yang dikemukakan oleh Charles Sander Peirce. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif berlokasi di Desa Parhabinsaran Janji Matogu, Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba. Hasil penelitian upacara adat mangongkal holi menjadi 3 tahapan. Tahapan pertama yaitu pra upacara adat mangongkal holi terbagi menjadi dua acara yaitu manopot angka hula-hula ni si ongkalon (menjumpai para marga dari pihak istri yang akan digali) dan martonggo raja (musyawarah tokoh adat Batak). Tahap kedua yaitu pelaksanaan mangongkal holi, terbagi dua acara yaitu acara penggalian tulang belulang (mangongkal holi), mata ni horja (pesta adat). Tahap ketiga, pasca mangongkal holi terbagi dua acara menguburkan kembali dan manambak (pesta tambak). Ada 25 simbol-simbol : Pinahan Lobu, Dekke Sitio-tio, Tambak : tugu, Gorga Simata Ni Ari, Gorga Ipon-Ipon, Gorga Gaja Dompak, Gorga Sompi-sompi, Ulos Ragidup, Gorga Jogia, Gorga Batu Assimun, Gorga Sigumang, Gorga Pinarhalak Boru, Gorga Pinarhalak Bawa, Gorga Lipan-Lipan, Ulos Sadum Panoropi, Uang, Air jeruk purut dan Kunyit, Ruma-ruma : Peti kecil, Demban Tiar, Sortali Boru, Sortali Bawa, Kerbau, Somba Marhula-Hula, Elek Marboru, Manat Mardongan Tubu
Gorga Ruma Bolon Batak Toba di Kecamatan Sigumpar Kajian: Semiotika Simangungsong, Depi; Damanik, Ramlan; Herlina, Herlina; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini diberi judul ``Gorga Ruma Bolon Batak Toba di Kecamatan Sigumpar, Kajian Semiotika''. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagian-bagian Ruma Bolon, jenis-jenis Gorga, bentuk Gorga, fungsi dan makna Gorga pada masyarakat Batak Toba. Teori yang digunakan untuk analisis adalah semiotika.(Charles Sanders Peire) menggemukakan Semiotika adalah cabang ilmu yang mempelajari tentang tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku pada pengguna tanda. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Ada 12 bagian ruma bolon di Kecamatan Sigumpar. yaitu batu ojahan atau pondasi rumah, bahasi atau tiang rumah, rasang, balatuk atau tangga, jendela rumah, bara atau kolong rumah. sokkor, tartaring atau tempat masak, lantai rumah, dinding ruma bolon, pintu ruma bolon, dan atap ruma bolon, 2) terdapat 17 gorga beserta fungsi dan maknanya yaitu Gorga Siture -Ture, Gorga Boraspati, Gorga Adop- Adop atau Susu, Gorga Singa Singa, Gorga Ipon Ipon, Gorga Sompi, Gorga Mataniari atau Matahari, Gorga Desa Na Ualu atau delapan penjuru mata angin, Gorga Simarogung-ogung atau Gong, Gorga Ulupaung, Gorga iran-iran, Gorga Silintong, Gorga Sitangan-tangan, Gorga Simeol Eol, Gorga Dalihan Na Tolu, Gorga Gaja Dompak, Gorga jorngom atau jenggar. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Gorga merupakan ukiran atau ukiran tradisional yang biasa terdapat pada dinding luar rumah atau pada rumah adat atau disebut juga Gorga yang menjelaskan tentang bentuk, fungsi dan makna Gorga Ruma bolon. Hal ini menandakan mengandung unsur mistis. Terletak di Kecamatan Sigumpar.
Pengenalan Aksara Batak Simalungun bagi Siswa Sekolah Dasar Negeri 091311 Pargampualan Kecamatan Panombean Panei Kabupaten Simalungun Sinaga, Warisman; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R; Tampubolon, Flansius; Herlina, Herlina; Mulyani, Rozanna; Fadlin, Fadlin; Baharuddin, Baharuddin; Sembiring, Sugihana
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aksara Batak Simalungun memiliki bentuk yang unik dan berbeda dari aksara Latin yang biasa digunakan dalam sistem pendidikan nasional. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam membaca serta menulis aksara Batak Simalungun di kalangan generasi muda dapat mengancam keberlangsungan aksara ini. Aksara Batak Simalungun memiliki bentuk yang lebih kompleks dan artistik, dengan garis-garis yang lebih meliuk-liuk dan berpola. Kesan ornamen dan hiasan tampak jelas dalam aksara ini. Aksara ini digunakan dalam naskah-naskah adat, cerita rakyat, dan seni ukir oleh suku Simalungun. Aksara Simalungun hanya memiliki 19 huruf dan harus menggunakan 8 tanda bacanya dalam penulisan. Oleh karena itu, pengenalan dan pembelajaran aksara Batak Simalungun di sekolah dasar sangatlah penting. Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk mengenalkan aksara Batak Simalungun kepada siswa Sekolah Dasar Negeri 091311 Pargampualan., meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya melestarikan warisan budaya lokal., membekali siswa dengan keterampilan dasar membaca dan menulis aksara Batak Simalungun. Kegiatan ini sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Hasil Pengabdian ini yakni terdapat 19 induk surat. Dalam Pelaksanaan Pengabdian ini Mengenalkan Aksara Batak Simalungun kepada Siswa Sekolah Dasar Negeri 091311 Pargampualan, Meningkatkan Kesadaran Siswa Akan Pentingnya Melestarikan Warisan Budaya Lokal, Membekali Siswa dengan Keterampilan Dasar Membaca dan Menulis Aksara Batak Simalungun. Dengan pengabdian inidiharap mendapatkan dukungan dari pihak sekolah serta masyarakat, diharapkan siswa dapat mengenali, memahami, dan mencintai aksara Batak Simalungun sebagai bagian dari identitas mereka. Upaya ini tidak hanya akan memperkaya wawasan budaya siswa, tetapi juga menjaga keberlangsungan aksara Batak Simalungun di masa depan.
Simbol Pada Abit Sabe-Sabe Etnik Batak Angkola/Mandailing : Kajian Semiotika Siagian, Anggi Novita; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Warisman; Herlina, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul Simbol Pada Abit Sabe-Sabe Etnik Batak Angkola/Mandailing Kajian Semiotika. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan apa saja simbol motif yang terdapat pada abit sabe-sabe, apa saja fungsi simbol yang terdapat pada abit sabe-sabe, apa saja makna yang terdapat pada abit sabe-sabe. Penulis menggunakan teori semiotika yang dikemukakan oleh Charles Sander Peirce. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif, dan lokasi penelitian ini di Desa Paranjulu, Kecamatan Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa motif simbol pada abit sabe-sabe etnik Batak Angkola/Mandailing di Kabupaten Tapanuli Selatan Sipirok terdiri dari 18 motif yaitu rambu, manik-manik simata, sirat, pusuk robung, luslus, tutup mumbang, iran-iran, jojak mata-mata, yok yok mata pune, ruang, sijobang, singap, horas tondi madingin sayur matua bulung, bunga, suri-suri, dalihan natolu, tugu. Bentuk dari motif simbol pada Abit Sabe-sabe Batak Angkola/Mandailing ialah berbentuk geometris dan dekoratif. Sumber inspirasi dari motif tenun simbol pada abit sabe-sabe etnik Batak Angkola/Mandailing ialah makhluk hidup dan lingkungan sekitar. Makna konotasi dan makna denotasi yang terkandung dalam motif tenun Abit Sabe-sabe etnik Batak Angkola/Mandailing yaitu berupa nasehat, harapan, dan doa serta silsilah keluarga Masyarakat Batak Angkola/Mandailing.