Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Kearifan Lokal Simbol pada Jenis Ulos Batak Toba Damanik, Oleg Isuando; Sibarani, Robert; Tampubolon, Flansius; Sinulingga, Jekmen; Damanik, Ramlan
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ulos merupakan sejenis kain atau selendang yang memiliki makna istimewa dalam budaya suku Batak. Kain ini dianggap suci dan mempunyai nilai penting pada pelaksanaan berbagai upacara adat suku Batak, termasuk upacara pernikahan, upacara tujuh bulanan kehamilan, dan upacara kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai kearifan lokal yang terdapat pada ulos Batak Toba. Teori yang digunakan dalam menganalisis data merupakan teori kearifan lokal yang dikemukakan oleh Robert Sibarani. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Pada penelitian ini ditemukan hasil, nilai kearifan lokal pada Ulos Batak Toba antara lain: (1) pelestarian dan kreativitas budaya; (2) gotong royong; (3) rasa syukur; (4) kesopansantunan; (5) komitmen; (6) kerukunan dan penyelesaian konflik; (7) kesetiakawanan sosial; (8) pikiran positif; (9) pendidikan; dan (10) kejujuran.
Alih Kode Pada Interaksi Jual Beli di Pasar Tradisional Balige Kabupaten Toba Kajian : Sosiolinguistik Pasaribu, Eva; Purba, Asriaty R; Sinulingga, Jekmen; Damanik, Ramlan; Herlina, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berjudul Alih Kode Pada Interaksi Jual-Beli Di Pasar Tradisional Balige Kabupaten Toba: Kajian Sosiolinguistik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis alih kode, fungsi alih kode, dan faktor-faktor terjadinya alih kode dalam interaksi jual-beli di Pasar Tradisional Balige, Kabupaten Toba. Teori yang menjadi panduan dalam penelitian ini adalah teori sosiolinguistik yang dikemukakan oleh Suwito. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Hasil yang ditemukan dari penelitian ini adalah adanya variasi jenis alih kode intern: Alih kode dari bahasa Batak Toba ke bahasa Indonesia. Jenis alih kode ekstern: Alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Fungsi alih kode meliputi: Untuk menghormati penutur, untuk menegaskan atau meyakinkan suatu hal, untuk membuat percakapan lebih santai. Faktor terjadinya alih kode meliputi: Kehadiran orang ketiga, penutur, perubahan topik pembicaraan, lawan tutur, untuk sekedar bergensi, untuk membangkitkan rasa humor.
Upacara Adat Mangongkal Holi Etnik Batak Toba : Kajian Semiotika Simbolon, Selvi; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Warisman; Tampubolon, Flansius
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berjudul Upacara Adat Mangongkal Holi Etnik Batak Toba : Kajian Semiotika. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan teori semiotika yang dikemukakan oleh Charles Sander Peirce. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif berlokasi di Desa Parhabinsaran Janji Matogu, Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba. Hasil penelitian upacara adat mangongkal holi menjadi 3 tahapan. Tahapan pertama yaitu pra upacara adat mangongkal holi terbagi menjadi dua acara yaitu manopot angka hula-hula ni si ongkalon (menjumpai para marga dari pihak istri yang akan digali) dan martonggo raja (musyawarah tokoh adat Batak). Tahap kedua yaitu pelaksanaan mangongkal holi, terbagi dua acara yaitu acara penggalian tulang belulang (mangongkal holi), mata ni horja (pesta adat). Tahap ketiga, pasca mangongkal holi terbagi dua acara menguburkan kembali dan manambak (pesta tambak). Ada 25 simbol-simbol : Pinahan Lobu, Dekke Sitio-tio, Tambak : tugu, Gorga Simata Ni Ari, Gorga Ipon-Ipon, Gorga Gaja Dompak, Gorga Sompi-sompi, Ulos Ragidup, Gorga Jogia, Gorga Batu Assimun, Gorga Sigumang, Gorga Pinarhalak Boru, Gorga Pinarhalak Bawa, Gorga Lipan-Lipan, Ulos Sadum Panoropi, Uang, Air jeruk purut dan Kunyit, Ruma-ruma : Peti kecil, Demban Tiar, Sortali Boru, Sortali Bawa, Kerbau, Somba Marhula-Hula, Elek Marboru, Manat Mardongan Tubu
Gorga Ruma Bolon Batak Toba di Kecamatan Sigumpar Kajian: Semiotika Simangungsong, Depi; Damanik, Ramlan; Herlina, Herlina; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini diberi judul ``Gorga Ruma Bolon Batak Toba di Kecamatan Sigumpar, Kajian Semiotika''. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagian-bagian Ruma Bolon, jenis-jenis Gorga, bentuk Gorga, fungsi dan makna Gorga pada masyarakat Batak Toba. Teori yang digunakan untuk analisis adalah semiotika.(Charles Sanders Peire) menggemukakan Semiotika adalah cabang ilmu yang mempelajari tentang tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku pada pengguna tanda. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Ada 12 bagian ruma bolon di Kecamatan Sigumpar. yaitu batu ojahan atau pondasi rumah, bahasi atau tiang rumah, rasang, balatuk atau tangga, jendela rumah, bara atau kolong rumah. sokkor, tartaring atau tempat masak, lantai rumah, dinding ruma bolon, pintu ruma bolon, dan atap ruma bolon, 2) terdapat 17 gorga beserta fungsi dan maknanya yaitu Gorga Siture -Ture, Gorga Boraspati, Gorga Adop- Adop atau Susu, Gorga Singa Singa, Gorga Ipon Ipon, Gorga Sompi, Gorga Mataniari atau Matahari, Gorga Desa Na Ualu atau delapan penjuru mata angin, Gorga Simarogung-ogung atau Gong, Gorga Ulupaung, Gorga iran-iran, Gorga Silintong, Gorga Sitangan-tangan, Gorga Simeol Eol, Gorga Dalihan Na Tolu, Gorga Gaja Dompak, Gorga jorngom atau jenggar. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Gorga merupakan ukiran atau ukiran tradisional yang biasa terdapat pada dinding luar rumah atau pada rumah adat atau disebut juga Gorga yang menjelaskan tentang bentuk, fungsi dan makna Gorga Ruma bolon. Hal ini menandakan mengandung unsur mistis. Terletak di Kecamatan Sigumpar.
Pengenalan Aksara Batak Simalungun bagi Siswa Sekolah Dasar Negeri 091311 Pargampualan Kecamatan Panombean Panei Kabupaten Simalungun Sinaga, Warisman; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R; Tampubolon, Flansius; Herlina, Herlina; Mulyani, Rozanna; Fadlin, Fadlin; Baharuddin, Baharuddin; Sembiring, Sugihana
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aksara Batak Simalungun memiliki bentuk yang unik dan berbeda dari aksara Latin yang biasa digunakan dalam sistem pendidikan nasional. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam membaca serta menulis aksara Batak Simalungun di kalangan generasi muda dapat mengancam keberlangsungan aksara ini. Aksara Batak Simalungun memiliki bentuk yang lebih kompleks dan artistik, dengan garis-garis yang lebih meliuk-liuk dan berpola. Kesan ornamen dan hiasan tampak jelas dalam aksara ini. Aksara ini digunakan dalam naskah-naskah adat, cerita rakyat, dan seni ukir oleh suku Simalungun. Aksara Simalungun hanya memiliki 19 huruf dan harus menggunakan 8 tanda bacanya dalam penulisan. Oleh karena itu, pengenalan dan pembelajaran aksara Batak Simalungun di sekolah dasar sangatlah penting. Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk mengenalkan aksara Batak Simalungun kepada siswa Sekolah Dasar Negeri 091311 Pargampualan., meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya melestarikan warisan budaya lokal., membekali siswa dengan keterampilan dasar membaca dan menulis aksara Batak Simalungun. Kegiatan ini sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Hasil Pengabdian ini yakni terdapat 19 induk surat. Dalam Pelaksanaan Pengabdian ini Mengenalkan Aksara Batak Simalungun kepada Siswa Sekolah Dasar Negeri 091311 Pargampualan, Meningkatkan Kesadaran Siswa Akan Pentingnya Melestarikan Warisan Budaya Lokal, Membekali Siswa dengan Keterampilan Dasar Membaca dan Menulis Aksara Batak Simalungun. Dengan pengabdian inidiharap mendapatkan dukungan dari pihak sekolah serta masyarakat, diharapkan siswa dapat mengenali, memahami, dan mencintai aksara Batak Simalungun sebagai bagian dari identitas mereka. Upaya ini tidak hanya akan memperkaya wawasan budaya siswa, tetapi juga menjaga keberlangsungan aksara Batak Simalungun di masa depan.
Simbol Pada Abit Sabe-Sabe Etnik Batak Angkola/Mandailing : Kajian Semiotika Siagian, Anggi Novita; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Warisman; Herlina, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul Simbol Pada Abit Sabe-Sabe Etnik Batak Angkola/Mandailing Kajian Semiotika. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan apa saja simbol motif yang terdapat pada abit sabe-sabe, apa saja fungsi simbol yang terdapat pada abit sabe-sabe, apa saja makna yang terdapat pada abit sabe-sabe. Penulis menggunakan teori semiotika yang dikemukakan oleh Charles Sander Peirce. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif, dan lokasi penelitian ini di Desa Paranjulu, Kecamatan Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa motif simbol pada abit sabe-sabe etnik Batak Angkola/Mandailing di Kabupaten Tapanuli Selatan Sipirok terdiri dari 18 motif yaitu rambu, manik-manik simata, sirat, pusuk robung, luslus, tutup mumbang, iran-iran, jojak mata-mata, yok yok mata pune, ruang, sijobang, singap, horas tondi madingin sayur matua bulung, bunga, suri-suri, dalihan natolu, tugu. Bentuk dari motif simbol pada Abit Sabe-sabe Batak Angkola/Mandailing ialah berbentuk geometris dan dekoratif. Sumber inspirasi dari motif tenun simbol pada abit sabe-sabe etnik Batak Angkola/Mandailing ialah makhluk hidup dan lingkungan sekitar. Makna konotasi dan makna denotasi yang terkandung dalam motif tenun Abit Sabe-sabe etnik Batak Angkola/Mandailing yaitu berupa nasehat, harapan, dan doa serta silsilah keluarga Masyarakat Batak Angkola/Mandailing.
Panaek Bungkulan Pada Etnik Batak Angkola/Mandailing: Kajian Kearifan Lokal Gultom, Pelix Gabriel; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Warisman; Purba, Asriaty R.
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berjudul “Panaek Bungkulan Pada Etnik Batak Angkola/Mandailing: Kajian Kearifan Lokal”. Adapun tujuan dari artikel ini adalah untuk mendeskripsikan tahapan pada panaek bungkulan, dan mendeskripsikan nilai kearifan lokal pada panaek bungkulan. Dalam penulisan artikel ini, metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Teori yang digunakan dalam artikel ini adalah teori kearifan lokal yang dikemukakan oleh Robert Sibarani. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa tahapan dalam pelaksanaan panaek bungkulan yang dimulai dari musyawarah kaum kerabat, megundang pihak dalihan natolu(pihak mora,kahanggi an boru),peletakan batu pertama,mengoleskan santan ke bubungan kayu, membungkus bubungan kayu dengan ulos abit godang, menaikkan bubungan kayu, menaikkan pisang, menaikkan tebu, menaikkan kelapa, menaikkan kundur, menanam pohon pisang, dan makan bersama. Dan terdapat 11 nilai kearifan lokal pada panaek bungkulan yaitu kesopansantunan, kesetiakawanan sosial, komitmen, rasa syukur, kerja keras, disiplin, pelestarian dan kreativitas budaya, dan peduli lingkungan.
Psikosastra Legenda Pangulu Balang Pada Masyarakat Batak Toba di Desa Huta Godang Kecamatan Muara Kabupaten Tapanuli Utara Tambunan, Wati; Damanik, Ramlan; Sinaga, Warisman; Sinulingga, Jekmen; Tampubolon, Flansius
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang Legenda yang ada di Desa Huta Godang, Kecamatan. Muara, Kabupaten. Tapanuli Utara. Pendeskripsian legenda Pangulu Balang dengan menggunakan kajian psikosastra berdasarkan teori Sigmund Freud. Adapun unsur intrinsik yang di dapat dari legenda ini adalah tema, alur, latar, tokoh dan penokohan, sudut pandang, dan amanat serta id, ego, superego. Serta keperibadian tokoh yaitu, empati, emosional, bersifat keras, tidak tenang, suka menolong, pantang menyerah, ingatan baik, teliti, muda mengerti, dan lain sebagainya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini tentang sejarah Legenda Pangulu Balang dalam masyarakat. Dalam legenda maupun dalam masyarakat masing-masing memiliki struktur yang menjaga sistem yang selalu seimbang untuk menjaga untuk menjaga kenyamanan masyarakat. Legenda ini menceritakan sebuah patung Pangulu Balang yang merupan sebuah patung penjaga kampung dan antar marga, demi kenyamana masyarakata yang ada di kampung tersebut patung ini menjadi penolong bagi masyarakat yang ada di Desa Huta Godang, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara. Legenda Pangulu Balang juga memberikan nilai yang positif bagi masyarakat serta mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam melakukan segala hal didalam kampung tersebut.
Nilai Nilai Budaya dalam Permainan Tradisional Simalungun Damanik, Ramlan; Mulyani, Rozanna; Fadlin, Fadlin; Sibarani, Tomson
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis nilai-nilai budaya yang terkandung dalam permainan tradisional Simalungun. Melalui studi literatur dan pengamatan langsung terhadap masyarakat Simalungun, penelitian ini berusaha untuk mengungkapkan bagaimana permainan tradisional tersebut berfungsi sebagai media transmisi nilai-nilai budaya dari generasi ke generasi. Data penelitian diperoleh melelui observasi partisipatif, wawancara dan dokumentasi. Pengolahan data dianalisis dengan menggunakan teori ni Luh Sustiawati. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman yang lebih mendalam tentang kekayaan budaya Simalungun serta memberikan rekomendasi untuk pelestarian permainan tradisional sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya bangsa. Permainan tradisional yang dianalisis sebanyak 5 buah antara lain: marlubuk’ congkak’, marsitengka’engklek’, marjalengkat’ egrang’,margalah’gobak sodor’, dan pattuk lele’ patok lele. Dan setiap permainan dijumpai nilai nilai budaya seperti nilai kebersamaan, nilai sportifitas, nilai estetika dan kreatifitas, nilai disiplin dan nilai hiburan dan olahraga.
" Upaya Membina Keharmonisan dan Tinggalkan Perundungan (Bullying)" dalam Penyuluhan bagi Siswa Sekolah Dasar 091323 di Desa Merek Raya Kecamatan Raya Kabupaten Simalungun Sinaga, Warisman; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen; Herlina, Herlina; Tampubolon, Flansius; Purba, Asriaty R; Mulyani, Rozanna; Naiborhu, Torang; Fadlin, Fadlin; Sibarani, Tomson
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bullying merupakan masalah serius yang dapat mengganggu perkembangan sosial dan emosional anak. Penelitian ini mengkaji upaya pencegahan bullying melalui program penyuluhan yang komprehensif di Sekolah Dasar 091323 Desa Merek Raya. Program ini melibatkan siswa, guru, orang tua, dan komunitas sekolah dalam menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif. Dengan menggabungkan kegiatan edukasi, pelatihan keterampilan sosial, dan dukungan psikologis, diharapkan dapat tercipta suasana sekolah yang harmonis dan bebas dari bullying." Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas program penyuluhan yang melibatkan seluruh komponen sekolah dalam upaya menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang siswa. Penelitian ini bertujuan juga untuk mengukur efektivitas program penyuluhan dalam membina keharmonisan dan mencegah bullying di kalangan siswa Sekolah Dasar 091323 Desa Merek Raya, Kabupaten Simalungun. Melalui pendekatan yang menekankan pada pembentukan karakter positif, empati, dan kemampuan berkomunikasi yang efektif, diharapkan siswa dapat membangun relasi yang sehat dan menghindari perilaku perundungan. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan interaktif, role-playing, dan diskusi kelompok. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam sikap positif siswa terhadap teman sebaya serta penurunan insiden bullying. Sekolah Dasar 091323 Desa Merek Raya menjadi sasaran penelitian ini dengan fokus pada pencegahan bullying. Program penyuluhan yang dilaksanakan meliputi sosialisasi, pelatihan, dan pembentukan kelompok dukungan sebaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan aktif semua pihak sangat penting dalam menciptakan perubahan positif dan mengurangi kejadian bullying di sekolah."