Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Penurunan Burnout Perawat Melalui Implementasi Relaksasi Autogenik Nur, Hirza Ainin; Pramudaningsih, Icca Narayani; Pujiati, Eny; Cahyanti, Luluk; Yuliana, Alvi Ratna; Ambarwati; Jamaludin; Fitriana, Vera
JURNAL KESEHATAN PRIMER Vol 9 No 2 (2024): JKP (Jurnal Kesehatan Primer)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31965/jkp.v9i2.1780

Abstract

Background: Burnout is prolonged stress that is often experienced by nurses due to work fatigue. Nurses who experience burnout can cause fatal problems such as the risk of suicide in nurses, as well as a decrease in the quality of service for patients. One action that can be used to reduce burnout symptoms is autogenic relaxation. Objective: This research aims to determine the effectiveness of autogenic relaxation measures on nurse burnout. Method: The research method used is pre-experimental design with one group pretest-posttest design. The total sample was 22 respondents. Autogenic relaxation was carried out once every day for 1 week in the morning with a duration of 20 minutes. Data collection used observation sheets, autogenic relaxation SOPs, the Maslach Burnout Inventory (MBI) instrument. Statistical analysis uses the Wilcoxon Rank Test. Results: This research shows that autogenic relaxation is effective in reducing nurse burnout with p-value of 0.000 for emotional exhaustion, 0.000 depersonalization, 0.000 personal accomplishment.
PENERAPAN BRISK WALKING EXERCISE UNTUK MENURUNKAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI Cahyanti, Luluk; Khoirunnisa, Fara; Yuliana, Alvi Ratna; Nur, Hirza Ainin; Putri, Devi Setya; Fitriana, Vera
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama Vol 14, No 3 (2025): Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jcu.v14i3.2991

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi terjadi berkaitan dengan beragam faktor risiko, baik yang tidak dapat diubah maupun dapat diubah. Faktor risiko yang tidak dapat diubah meliputi genetik, keadaan gizi, dan usia. Faktor risiko yang dapat diubah adalah kegemukan, diet, dan aktivitas fisik atau olahraga. Dilain pihak kegemukan disebabkan oleh konsumsi makanan berlebih dan aktivitas fisik atau olahraga kurang. Brisk Walking Exercise merupakan salah satu latihan fisik yang dapat dilakukan dengan menggunakan teknik berjalan lebih cepat dari kecepatan normal selama 20-30 menit. Tujuan: Untuk menggambarkan dan membuktikan bahwa penerapan Brisk Walking Exercise dapat menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif Pre-Experimental design dengan rancangan one group pretest-posttest design. Sample sebanyak 15 responden yang dipilih sesuai dengan kriteria inklusi. Pengumpulan data dilakukan bulan Juni 2025 menggunakan lembar observasi. Analisa data dilakukan secara deskriptif untuk melihat perubahan tekanan darah sebelum dan setelah intervensi Brisk Walking Exercise. Hasil: Setelah diberikan terapi Brisk Walking Exercise selama 4 hari berturut-turut, sebelum diberikan tindakan terapi Brisk Walking Exercise tekanan darah responden Kategori Normal Tinggi berjumlah 1 responden ( 6,67%), Kategori Hipertensi Ringan berjumlah 9 responden (60,00%), Kategori Hipertensi Sedang berjumlah 5 responden ( 33,33%), kemudian sesudah dilakukan intervensi normal berjumlah 1 responden (6,67%), Kategori normal tinggi berjumlah 9 responden (60,00%), Kategori Hipertensi Ringan berjumlah 5 responden (33,33%). Terapi Brisk Walking Exercise ini memberikan pengaruh positif khususnya dimasyarakat Desa Wergu Wetan terhadap penurunan tekanan darah. Hal ini menunjukkan ada penurunan tekanan darah setelah diberikan terapi Brisk Walking Exercise. Kesimpulan: Terapi Brisk Walking Exercise efektif dalam menurunkan tekanan darah. Terapi ini dapat dijadikan pendekatan keperawatan nonfarmakologi untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.Kata kunci : Hipertensi, Penurunan Tekanan Darah, Terapi Brisk Walking Exercis
EDUKASI PENERAPAN MEDITASI UNTUK MENINGKATKAN KESEHATAN MENTAL REMAJA Nur, Hirza Ainin; Pujiati, Eny; Ambarwati, Ambarwati; Jamaludin, Jamaludin; Pramudaningsih, Icca Narayani; Cahyanti, Luluk; Fitriana, Vera; Yuliana, Alvi Ratna
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 9, No 1 (2026): Jurnal Pengabdian Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v9i1.602

Abstract

Kesehatan mental merupakan kondisi kesejahteraan psikis individu dalam menghadapi persoalan hidup dengan mengetahui kemampuan diri, dapat melaksanakan kegiatan dengan efektif, dan memberikan dampak yang baik pada masyarakat. Tanda dan gejala kesehatan mental yang terganggu meliputi stres, cemas, gelisah, susah tidur, sulit berkonsentrasi, dan kehilangan minta dalam hal apapun. Remaja yang mengalami gangguan mental dapat berakibat pada tindakan yang negatif seperti penyalahgunaan obat, minuman keras, kejadian kriminalitas, bahkan bunuh diri. Penatalaksanaan non farmakologis untuk meningkatkan kesehatan mental dapat dilakukan dengan meditasi. Banyak penelitian menyebutkan meditasi dapat mengatasi gangguan psikologis seperti cemas, stres, depresi, serta masalah tidur. Meditasi merupakan tindakan melatih pikiran dengan fokus dan kesadaran diri. Tindakan ini biasanya melibatkan teknik relaksasi pernafasan dan konsentrai pada pikiran. Kegiatan pengabdian kepada masyaraka ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan remaja dalam melakukan meditasi untuk meningkatkan kesehatan mental melalui edukasi kesehatan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan selama 1 hari di SMA N 2 Bae Kudus. Pelaksanaan kegiatan ini dengan pemberian edukasi kesehatan, simulasi meditasi, dan pendampingan pelaksanaan meditasi pada remaja. Evaluasi dilakukan dengan memberikan pertanyaan pada remaja terkait edukasi yang diberikan, serta ketepatan remaja saat melaksanakan praktik meditasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan remaja mengenai kesehatan mental dan meditasi, sehingga remaja dapat mengaplikasikan meditasi secara mandiri di rumah. Harapannya meditasi dapat direkomendasikan sebagai intervensi keperawatan komplementer dalam meningkatkan kesehatan mental remaja.
Penerapan Edukasi Relaksasi Benson terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah pada Pasien Diabetes Mellitus Cahyanti, Luluk; Pujiati, Eny; Ambarwati, Ambarwati; Jamaludin, Jamaludin; Pramudaningsih, Icca Narayani; Fitriana, Vera; Nur, Hirza Ainin; Yuliana, Alvi Ratna
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 9, No 1 (2026): Jurnal Pengabdian Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v9i1.601

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan jangka panjang dan berkesinambungan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Salah satu faktor yang berperan dalam ketidakstabilan kadar glukosa darah pada pasien DM adalah stres psikologis. Stres dapat memicu aktivasi sistem saraf simpatis dan meningkatkan sekresi hormon kortisol, yang berdampak pada peningkatan kadar glukosa darah. Oleh karena itu, diperlukan intervensi nonfarmakologis yang mampu membantu pasien dalam mengelola stres secara efektif. Relaksasi Benson merupakan salah satu intervensi keperawatan komplementer yang bertujuan menurunkan respon stres dan meningkatkan respon relaksasi tubuh melalui pengaturan pernapasan dan pemusatan perhatian.Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pasien Diabetes Mellitus dalam melakukan relaksasi Benson melalui metode edukasi kesehatan, serta mengevaluasi perubahan kadar glukosa darah setelah intervensi diberikan. Kegiatan dilaksanakan di Puskesmas Ngembal Kulon dengan pemberian edukasi kesehatan, demonstrasi, dan pendampingan praktik relaksasi Benson. Evaluasi dilakukan melalui pengukuran kadar glukosa darah sebelum dan setelah penerapan relaksasi Benson serta penilaian pemahaman peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai manajemen stres serta kecenderungan penurunan kadar glukosa darah setelah relaksasi Benson dilakukan secara mandiri. Edukasi relaksasi Benson dapat direkomendasikan sebagai intervensi keperawatan komplementer dalam pengelolaan Diabetes Mellitus di pelayanan kesehatan primer.Kata kunci: Diabetes Mellitus, Edukasi Kesehatan, Relaksasi Benson
Edukasi Bahaya Pergaulan Bebas dan Bahaya Merokok bagi Kesehatan Remaja di SMPN 1 Mejobo Kudus Jamaludin, Jamaludin; Pramudaningsih, Icca Narayani; Cahyanti, Luluk; Fitriana, Vera; Najwa, Rayya Sofichul; Rahmasari, Nia; Verensia, Anggun Berliantin; Saputri, Steviana Intan
Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Kesehatan Vol. 2 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Menara Science Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70109/jupenkes.v2i4.97

Abstract

Remaja merupakan kelompok usia yang memiliki kerentanan tinggi terhadap perilaku berisiko, termasuk pergaulan bebas dan kebiasaan merokok, yang berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan fisik, psikologis, dan sosial. Rendahnya tingkat pengetahuan dan pemahaman remaja menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap munculnya perilaku tersebut. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa mengenai bahaya pergaulan bebas serta dampak merokok terhadap kesehatan. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui edukasi kesehatan dengan pendekatan ceramah interaktif, diskusi, dan pemanfaatan media leaflet kepada siswa SMPN 1 Mejobo Kudus. Evaluasi kegiatan dilaksanakan secara deskriptif kualitatif melalui tanya jawab terstruktur dan observasi partisipasi siswa setelah penyampaian materi. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa siswa mampu menjawab lima pertanyaan evaluasi dengan benar serta secara aktif mengajukan dua pertanyaan yang relevan dengan materi yang disampaikan. Temuan tersebut mengindikasikan adanya peningkatan pemahaman dan ketertarikan siswa terhadap materi edukasi kesehatan. Simpulan kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan berbasis sekolah dengan pendekatan interaktif efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja untuk menghindari pergaulan bebas dan kebiasaan merokok.
Implementasi Terapi Bermain Mewarnai sebagai Intervensi Keperawatan Nonfarmakologis dalam Menurunkan Kecemasan Anak Usia Prasekolah Selama Hospitalisasi Setya, Mochammad Ilham; Yuliana, Alvi Ratna; Cahyanti, Luluk; Fitriana, Vera; Ardiyanti, Yulia
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 13, No 1 (2026): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v13i1.247

Abstract

Hospitalization can be an anxiety-provoking experience for preschool children due to unfamiliar hospital environments, medical procedures, and separation from parents. If not appropriately managed, anxiety may affect children’s comfort, emotional adaptation, and cooperation during the care process. Therefore, applicable non-pharmacological nursing interventions are required, one of which is coloring play therapy.This study aimed to evaluate the implementation of coloring play therapy in helping reduce anxiety levels among hospitalized preschool children. A pre-experimental design with a descriptive applied approach was used, consistent with the characteristics of vocational nursing education (Diploma in Nursing). The participants consisted of 15 hospitalized children aged 3–6 years. Anxiety levels were assessed using the Face Image Scale (FIS) before and after a single session of coloring play therapy lasting 15–30 minutes.The results showed that prior to the intervention, all participants experienced moderate to severe anxiety, with 9 children (60.0%) classified as having severe anxiety and 6 children (40.0%) moderate anxiety. Following the implementation of coloring play therapy, a clinical reduction in anxiety was observed, indicated by the absence of severe anxiety and a shift toward milder anxiety categories, where 12 children (80.0%) were classified as very not anxious, not anxious, or mildly anxious.Conclusion: Coloring play therapy can be applied as a clinically effective non-pharmacological nursing intervention to help reduce anxiety among hospitalized preschool children and support practice-based pediatric nursing care.
PENGARUH AROMA TERAPI LAVENDER TERHADAP PENURUNAN SKALA NYERI PADA PASIEN POST ORIF DI RSI SUNAN KUDUS Listyarini, Anita Dyah; Hindriyastuti, Sri; Fitriana, Vera; Yuliana, Alvi Ratna; Aslikhatin, Hanik
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 13, No 1 (2026): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v13i1.241

Abstract

Latar belakang : Fraktur terjadi karena adanya benturan langsung ketika tulang mengalami fraktur maka struktur disekitarnya akan mengalami gangguan. Penanganan fraktur salah satunya yaitu dengan dilakukannya pembedahan Open Reduction and Internal Fixation (ORIF). Pasca dilakukan tindakan operatif pasien akan merasakan nyeri yang menimbulkan ketidaknyamanan. Tatalaksana pada pasien dengan nyeri dengan non farmakologi seperti menggunakan aromaterapi lavender. Terapi ini dapat mengurangi keluhan nyeri hal ini karena lavender memiliki kegunaan untuk menambah kemampuan otot, kesehatan psikologis, dan menenangkan pikiran. Metode : Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Rancangan penelitian menggunakan metode eksperimen one group Pretest-Posttest Design yang dilakukan terhadap satu kelompok tanpa adanya kelompok kontrol. Sampel sebanyak 26 pasien dengan metode accidental sampling. Pengukuran nyeri menggunakan VAS (Visual Analogue Scale). Hasil : Rata-rata skala nyeri responden sebelum diberikan aromaterapi lavender adalah 5,23 setelah diberikan aromaterapi lavender menjadi 3,88. Ada 24 responden yang mengalami penurunan skala nyeri serta ada 2 responden yang nyerinya tetap. Hasil uji statistik wilcoxon didapatkan nilai P value = 0,000 maka dapat disimpulkan ada perbedaan skala nyeri sebelum dan sesudah pemberian. Simpulan : Ada pengaruh aroma terapi lavender terhadap penurunan skala nyeri pada pasien post ORIF di RSI Sunan Kudus