Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Moderatio : Jurnal Moderasi Beragama

REKONSTRUKSI TAFSIR AYAT-AYAT BERPOTENSI TATHARRUF DENGAN PERSPEKTIF ISLAM WASATHIYAH DI ERA PANDEMI Maliki, Ibnu Akbar; Nasrudin, Muhamad; Mukti, Digdo Aji; Robiansyah, Robiansyah
Moderatio: Jurnal Moderasi Beragama Vol. 2 No. 1 (2022): Moderatio: Jurnal Moderasi Beragama
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat of Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A solid society based on nationalism is absolutely necessary for the Indonesian nation during the Pandemic. However, in reality there are still internal conflicts due to excessive religious practices (tatharruf) which are based on the verses of the Qur'an. The forms of tatharruf include the existence of a discourse on the basis of the state, acts of intolerance, and narrow interpretations of religious texts. This is certainly an obstacle in efforts to deal with the impact of the pandemic. Surah Al-Baqarah [2]: 143 confirms that the position of Islam is to be in the middle (wasatiyah), not to overdo it and not to underestimate it. This study will examine the reconstruction of verses that have the potential to be taharruf with the Islamic perspective of wasatiyah in the pandemic era. This research is the result of a descriptive qualitative literature review with an inductive approach. The results of the study show that wasatiyah Islam as an interpretive strategy is reflected in 'moderate' theology in the al-Asy'ariyyah doctrine which emphasizes two things, namely: a contextual approach by considering the context of space and time; and pay attention to aspects of benefit. As a tatharruf solution, Islam wasatiyah as an interpretation strategy provides the following views: On the issue of the basic discourse of the state, the caliphate is not a solution that can be applied in viewing the issue of government failure during a pandemic because it is prone to causing conflict in a multicultural society. On the issue of intolerance, Wasatiyah Islam recognizes the right for adherents of other religions to allow them to choose and carry out the guidance of their respective religions. Then on the issue of narrow religious interpretations about Covid-19, it is important for us to anticipate fear by considering the benefit, as stated in the MUI Fatwa.
LIVING HADIS ISLAM WASATHIYAH: Analisis Terhadap Konten Dakwah Youtube “Jeda Nulis” Habib Ja’far Maliki, Ibnu Akbar; Anam, Syariful; Prasetyo, Arif
Moderatio: Jurnal Moderasi Beragama Vol. 3 No. 1 (2023): Moderatio: Jurnal Moderasi Beragama
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat of Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/moderatio.v3i1.7041

Abstract

Abstrak: Islam wasathiyah menjadi tolak ukur normatif umat Islam dalam menjalankan moderasi beragama di tengah bangsa multikultural. Toleransi merupakan sikap yang mesti diterapkan dalam menghadapi kehidupan bangsa multi religi. Namun kenyataannya, hal tersebut sangat sulit diwujudkan akibat adanya penyebaran paham radikalisme dan ekstremisme secara masif di media sosial. Habib Ja’afar adalah salah satu pendakwah milenial yang sering melakukan dialog lintas agama di media sosial. Dialog tersebut dikemas dalam konten dakwah dan senantiasa mengedepankan prinsip Islam Wasathiyah. Artikel ini mengkaji nilai-nilai syiar Islam dalam konten Youtube “Jeda Nulis” milik Habib Ja’far dengan menggunakan pendekatan studi living hadith. Penelitian ini merupakan hasil kajian lapangan bersifat deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi dan observasi serta dianalisis dengan teknik content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis-hadis tentang Islam wasathiyah telah hidup dalam dakwah Habib Ja’far. Melalui media Youtube, Habib Jaa’far menghidupkan nilai-nilai hadist Islam wasathiyah melalui tiga tradisi. Pertama, tradisi lisan yakni melalui konten podcast dan ceramah. Kedua, tradisi tulisan yakni quotes bertajuk moderasi beragama. Ketiga, tradisi praktik yakni melalui dialog lintas agama dengan menghadirkan berbagai sudut pandang dan perspektif. Adapun kontribusi penelitian ini ialah sebagai ikhtiar dakwah Islam wasathiyah di era digital, terutama di platform media sosial Youtube. Kata Kunci: Islam Wasathiyah; Living Hadith; Jeda Nulis; Habib Ja’far
ARTIFICIAL INTELIGENCE UNTUK KEMANUSIAAN: Pengembangan Konsep Keberagamaan Melalui Chat-GPT sebagai Solusi Krisis Identitas Muslim Urban di Era Digital Maliki, Ibnu Akbar
Moderatio: Jurnal Moderasi Beragama Vol. 4 No. 1 (2024): Moderatio: Jurnal Moderasi Beragama
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat of Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/moderatio.v4i1.8913

Abstract

Krisis identitas adalah tantangan nyata yang dihadapi Muslim urban di era digital. Tuntan modernitas diiringi kebutuhan spiritual menyebabkan media digital menjadi sumber pemahaman keagamaan mereka. Sayangnya pola keagamaan yang dihasilkan dari interaksi media digital cenderung memperkeruh kondisi umat beragama yang ada dalam struktur masyarakat multikultural. Sebab, media digital kerap kali menjadi arena bagi penyebaran paham radikal dan ekstrem. Di sisi lain, keberadaan Artificial Intelligence (AI) sebagai bagian media digital dapat menjadi alternatif solusi melalui pengembangan pola keberagamaan yang inklusif dan adaptif bagi Muslim urban di era digital. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran ChatGPT sebagai bagian dari AI dalam mengembangkan pola beragama sebagai solusi terhadap krisis identitas yang dihadapi oleh Muslim urban dalam era digital. Metode penelitian menggunakan studi pustaka dengan dua jenis data. Sumber data primer berupa jawaban ChatGPT terhadap perintah yang diinginkan oleh penulis konsep beragama di era digital bagi Muslim urban. Sedangkan data sekunder diperloleh dari literatur terkait khususnya tentang kecerdasan buatan dan prinsip moderasi beragama di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola beragama yang tepat menurut ChatGPT di era digital melibatkan integrasi nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai dasar seperti integritas, penghormatan, tanggung jawab, dan keseimbangan menjadi landasan utama yang disertai dengan memperhatikan kredbilitas sumber pemahaman agama di media digital. Krisis identitas dapat diatasi dengan penguatan identitas keislaman, pengembangan pemikiran kritis, keterlibatan positif dalam masyarakat, dan pembentukan hubungan yang inklusif dengan berbagai kelompok. Konsep beragama tersebut memiliki relevansi dengan nilai-nilai moderasi beragama yang diidentifikasi melalui empat indikator, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan akomodatif terhadap kebudayaan lokal