Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Pelatihan Mobile JKN Untuk Peningkatan Akses Layanan Kesehatan di Puskesmas Wenang Rumayar, Adisti Aldegonda; Tucunan, Ardiansa A. T.; Musa, Ester Candrawati
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/spchq582

Abstract

Rendahnya pemanfaatan layanan kesehatan di Puskesmas Wenang, Kota Manado, menjadi permasalahan yang perlu segera diatasi karena dapat menghambat pencapaian derajat kesehatan masyarakat. Salah satu penyebab utama adalah rendahnya literasi digital masyarakat dalam memanfaatkan aplikasi Mobile JKN yang disediakan oleh pemerintah. Padahal, aplikasi ini dirancang untuk mempermudah akses layanan kesehatan seperti pendaftaran antrean online dan pengecekan status kepesertaan. Untuk menjawab permasalahan tersebut, dilakukan kegiatan pengabdian masyarakat berupa pelatihan penggunaan aplikasi Mobile JKN yang dilaksanakan pada 8 September 2025 dengan melibatkan 11 peserta. Metode yang digunakan adalah penyuluhan untuk meningkatkan pemahaman, dilanjutkan dengan demonstrasi dan praktik langsung untuk meningkatkan keterampilan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada keterampilan peserta, di mana rata-rata skor pre-test sebesar 45,5% meningkat menjadi 88,2% pada post-test. Sebanyak 90,9% peserta mampu secara mandiri mendaftar antrean online dan mengecek status kepesertaan setelah pelatihan. Temuan ini membuktikan bahwa pelatihan berbasis praktik langsung efektif meningkatkan literasi digital dan mendorong pemanfaatan layanan kesehatan berbasis teknologi, sehingga direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkala sebagai upaya memperluas akses dan kualitas pelayanan kesehatan di masyarakat.
The Acceptance of Covid-19 Vaccine in North Sulawesi Community: Prevalance and Risk Factor Nelwan, Jeini Ester; Sumampouw, Oksfriani Jufri; Ticoalu, Jansje Vera; Musa, Ester Candrawati; Ottay, Ronald Imanuel
International Journal of Natural and Health Sciences Vol. 2 No. 1 (2024): January 2024
Publisher : MultiTech Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59890/ijnhs.v2i1.1186

Abstract

Vaccination stands as the sole preventive measure against the transmission of COVID-19. The vaccination rollout in Indonesia comprises three stages: primary vaccinations 1 and 2, along with an additional 3rd or booster vaccination. However, certain regions still exhibit a stage 2 vaccination coverage below 70%. Various factors, including age and gender, impact the acceptance of the Covid-19 vaccine. The objective of this study was to scrutinize the association between age, gender, and the acceptance of Covid-19 vaccination in the jurisdiction of the Kawangkoan Barat Public Health Center. Conducted between February and July 2022, this correlational research involved 400 respondents aged 18 and above. The study variables encompassed age, gender, and vaccination acceptance, assessed through a fill-in sheet. Bivariate data analysis employed the chi-square test, revealing a significant correlation between age and vaccination acceptance. The prevalence ratio (PR) of 1.504 indicated that individuals aged 18-59 years were 1.504 times more likely to have incomplete vaccinations. However, gender did not exhibit a significant correlation with vaccination acceptance. In conclusion, age emerges as a correlated factor influencing the acceptance of Covid-19 vaccination
Hubungan antara riwayat pemberian ASI eksklusif dengan status gizi balita 6-23 bulan Telew, Christalia Renata Keren; Malonda, Nancy Swanida Henriette; Musa, Ester Candrawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1281

Abstract

Background: Nutritional problems such as underweight, stunting, wasting, and overweight are caused by a lack of exclusive breastfeeding. Breastfeeding during the first six months of life provides a source of energy and offers numerous benefits. Furthermore, breastfeeding can prevent nutritional problems in toddlers. Purpose: To determine the relationship between a history of exclusive breastfeeding and the nutritional status of toddlers aged 6-23 months. Method: This quantitative, observational, and analytical cross-sectional study was conducted from March to July 2025. The study population was toddlers aged 6-23 months living in Tounelet Village, Kaweng Village, and Paslaten Village. The sampling technique used was total sampling. The instruments used in this study were questionnaires and anthropometric measuring instruments. Data analysis used the chi-square statistical test with a significance level of p<0.05. Results: In this study, the majority of toddlers (53) were not exclusively breastfed and had normal nutritional status, as measured by weight/age (91.6%), height/age (88.4%), and weight/length (80.0%). Fisher's exact test yielded a p-value >0.05, indicating no significant association between a history of exclusive breastfeeding and the nutritional status of toddlers aged 6-23 months based on the weight/age, height/age, and weight/length indices. Conclusion: No significant association was found between a history of exclusive breastfeeding and nutritional status based on three indicators: weight/age, height/age, and weight/length in toddlers aged 6-23 months. However, mothers with toddlers should exclusively breastfeed for the first 6 months of life and regularly attend integrated health post.   Keywords: History of Exclusive Breastfeeding; Nutritional Status; Toddlers.   Pendahuluan: Masalah gizi yang terjadi seperti underweight, stunting, wasting, dan overweight salah satu penyebab terjadinya masalah gizi tersebut adalah kurangnya pemberian ASI eksklusif. Pemberian ASI selama 6 bulan kehidupan pertama merupakan sumber energi dan memiliki banyak manfaat. Selain itu, yang terpenting dapat mencegah terjadinya masalah gizi kepada balita. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara riwayat pemberian ASI eksklusif dengan status gizi balita 6-23 bulan. Metode: Penelitian kuantitatif yang bersifat obsevasional analitik dengan desain penelitian cross sectional study di laksanakan pada bulan Maret-Juli 2025. Populasi pada penelitian ini yaitu balita yang berdomisili di desa Tounelet, desa Kaweng dan desa Paslaten berusia 6-23 bulan, dengan teknik pengambilan sampel berupa total sampling. Instrumen yang digunakan pada pada penelitian ini berupa kuesioner alat pengukuran antropometri. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji statistik chi square dengan tingkat kemaknaan p<0.05. Hasil: Pada penelitian ini, sebagian besar balita tidak diberikan ASI secara eksklusif sebanyak 53 balita (55.8%), memiliki status gizi normal yang dilihat berdasarkan indikator/indeks BB/U (91.6%), PB/U (88.4%), dan BB/PB (80.0%). Hasil dari alternatif uji fisher’s exact test diperoleh nilai p >0.05, maka dinyatakan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara riwayat pemberian ASI eksklusif dengan status gizi balita 6-23 bulan berdasarkan indeks BB/U, PB/U, dan BB/PB. Simpulan: Tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara riwayat pemberian ASI eksklusif dengan status gizi berdasarkan 3 indikator, yaitu BB/U, PB/U, dan BB/PB pada balita dengan kelompok 6-23 bulan. Meskipun begitu ibu yang memiliki balita seharusnya dapat memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan dan secara rutin mengikuti kegiatan posyandu.   Kata Kunci: Balita; Riwayat Pemberian ASI Eksklusif; Status Gizi.
HUBUNGAN ASUPAN ZAT GIZI MAKRO DENGAN STATUS GIZI PADA REMAJA DI SMA NEGERI 1 TONDANO Rori, Aprillia Claudia; Musa, Ester Candrawati; Sanggelorang, Yulianty
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 4 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i4.48260

Abstract

Status gizi adalah suatu kondisi keadaan tubuh seseorang sebagai hasil dari asupan makanan yang dikonsumsi dengan keseimbangan kebutuhan tubuh dan pengeluaran akibat aktivitas. Masa remaja merupakan masa dimana banyak terjadi ketidakseimbangan antara asupan gizi dan kecukupan gizi yang dianjurkan sehingga menyebabkan permasalahan gizi. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara asupan zat gizi makro dengan status gizi pada remaja di SMA Negeri 1 Tondano. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif dengan desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional study. Subjek dalam penelitian ini adalah remaja yang ada di SMA Negeri 1 Tondano yang memiliki populasi yaitu 330 siswa dengan jumlah sampel 60 siswa yang diperoleh melalui teknik probability sampling dengan metode systematic random sampling. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2025 – April 2025 di SMA Negeri 1 Tondano, Kabupaten Minahasa. Instrumen dalam penelitian ini yaitu informed consent, tabel angka kecukupan gizi (AKG) permenkes 2019, formulir food recall 24 jam, buku foto makanan, timbangan berat badan, dan alat ukur tinggi badan (Microtoise seca). Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji statistik spearman rank, dengan hasil penelitian tidak terdapat hubungan antara asupan karbohidrat (p = 0,060; r = 244), protein (p = 0,188; r = 0,150), dan lemak (p = 0,114; r = 0,388) dengan status gizi pada remaja di SMA Negeri 1 Tondano. Kesimpulan dari penelitian ini tidak terdapat hubungan antara asupan zat gizi makro dengan status gizi pada remaja di SMA Negeri 1 Tondano.
The Correlation between Age and Work Stress in Ship Crew at Tumumpa Beach Fisheries Port, Manado City Jacobs, Rivald Semuel; Sumampouw, Oksfriani Jufri; Musa, Ester Candrawati
Journal of Midwifery History and Philosophy Vol. 1 No. 1 (2025)
Publisher : Yayasan Adra Karima Hubbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background. Work stress is the main indication that results in physical, mental and behavioral disruption of everyone, this is due to the inability of individuals to cope with stressors. Ship crew members are a vulnerable job and are at risk of work stress. Age is one of the triggering factors for work stress which as you get older, it will increase the risk of work stress. Purpose. The purpose of this study is to measure the relationship between age and work stress in the crew of the ship at the Tumumpa Beach Fisheries Port, Manado City. Method. This is an observational research with a cross sectional approach. This research was carried out at the Tumumpa Beach Fisheries Port in July-November 2023. The number of samples used in this study was 156 respondents. The variables of this study are divided into 2, namely age and work stress. Primary data collection was obtained directly from the distribution of questionnaires using the self-administered questionnaire method. Data analysis was carried out univariate and bivariate. Results. The results showed that the age of the respondents ranged from 17-64 years with an average age of 36.22 years. The results of this study show that the work stress score is in the interval of 90-119. The average work stress score was 107.23. In addition, the most respondents were distributed in the Medium category with 114 respondents (73.1%). The results of the analysis based on the Pearson Correlation test obtained a significance value of 0.311. This value shows that there is no significant relationship between age and work stress. Conclusion. It can be concluded that age is not related to work stress in crew members at Tumumpa Beach Fisheries Port, Manado City. Further analysis can be carried out in the next research to measure which variables are the factors causing work stress in crew members so that it can be the basis for policies for work stress control in crew members.
Hubungan antara kualitas tidur dengan status gizi pada pelajar Kewo, Dhea Virjinia; Musa, Ester Candrawati; Sanggelorang, Yulianty
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1719

Abstract

Background: Nutritional problems arise from an imbalance between nutrient intake and the body's physiological needs. Adolescent nutritional status is an important indicator of health influenced by various factors, one of which is sleep quality. Poor sleep quality can affect the regulation of the hormones leptin and ghrelin, thus impacting appetite and the body's energy balance. Purpose: To analyze the relationship between sleep quality and nutritional status. Method: The study used a quantitative approach with a cross-sectional design, conducted from March to September 2025 at Tondano 2 State Senior High School. The entire student population, totaling 88 respondents, was included through a total sampling method. Data were collected using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire and Body Mass Index for Age (BMI/Age) measurements, then analyzed using the chi-square test. Results: The majority of students (51 respondents) had poor sleep quality, and 61 (69.3%) had poor nutritional status. The bivariate analysis yielded a p-value of 0.023 (p<0.05). This indicates a relationship between sleep quality and nutritional status. Conclusion: There is a relationship between sleep quality and nutritional status in respondents, as shown by the p-value of 0.023. Suggestion: Further research with a different design and the addition of other variables is needed to obtain a more comprehensive picture of the relationship between sleep quality and nutritional status.   Keywords: Nutritional Status; Sleep Quality; Students.   Pendahuluan: Masalah gizi timbul akibat ketidakseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan fisiologis tubuh. Status gizi remaja merupakan indikator penting kesehatan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kualitas tidur. Kualitas tidur yang buruk dapat memengaruhi regulasi hormon leptin dan ghrelin, sehingga berdampak pada nafsu makan dan keseimbangan energi tubuh. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara kualitas tidur dengan status gizi. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional, dilaksanakan pada Maret–September 2025 di SMA Negeri 2 Tondano. Seluruh populasi pelajar yang berjumlah 88 responden diikutsertakan melalui metode total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan pengukuran Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U), kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square.  Hasil: Sebagian besar pelajar memiliki kualitas tidur yang buruk, yaitu sebanyak 51 responden (58.0%), dan responden memiliki status gizi normal, yaitu sebanyak 61 responden (69.3%). Hasil analisis bivariat diperoleh p-value sebesar 0.023 (p<0.05). Hal ini menunjukkan terdapat hubungan kualitas tidur dengan status gizi. Simpulan: Terdapat hubungan antara kualitas tidur dan status gizi pada responden, ditunjukkan dengan hasil p-value 0.023. Saran: Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan desain berbeda dan penambahan variabel lain diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai hubungan kualitas tidur dengan status gizi.   Kata Kunci: Kualitas Tidur; Status Gizi; Pelajar.
Hubungan antara status gizi dengan tekanan darah pada pelajar Kapoh, Marshanda Meily Emanuela; Musa, Ester Candrawati; Sanggelorang, Yulianty
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 11 (2026): Volume 19 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i11.1717

Abstract

Background: High blood pressure or hypertension can be dangerous because it can damage the heart and blood vessels in the long term. One of the causes of hypertension is excessive nutritional status or obesity, which is often the result of a poor diet asnd lack of physical activity, thereby increasing the risk of hypertension in adolescents. Purpose: To determine the relationship between nutritional status and blood pressure among students. Method: This quantitative study used a cross-sectional approach. The population studied was all students of State Senior High School 2 Tondano. A sample of 88 respondents was selected using a total sampling technique. The instruments used were respondent identity sheets, a SECA microtoise for height measurement, a SECA digital scale for weight measurement, a GEA digital sphygmomanometer for blood pressure measurement, and batteries. Results: The majority of respondents' blood pressure was in the normal category (64.8%), while abnormal blood pressure included pre-hypertension (18.2%), stage 1 hypertension (9.1%), and stage 2 hypertension (7.9%). The majority of respondents had normal nutritional status 57 respondents (64.8%), while 13 respondents (14.8%) were overweight and 15.9% were obese. The bivariate analysis yielded a p-value of 0.004 (p<0.05), indicating a relationship between nutritional status and blood pressure in students. Conclusion: There is a significant relationship between nutritional status and blood pressure, with a p-value of 0.004 (p<0.05). Suggestion: Students with normal nutritional status and normal blood pressure should maintain a healthy lifestyle by consuming nutritious foods. Furthermore, they are encouraged to consume a balanced diet, exercise regularly, and regularly check their weight and blood pressure, followed by consultation with a healthcare professional.   Keywords: Adolescents; Blood Pressure; Nutritional Status.   Pendahuluan: Tekanan darah yang terlalu tinggi atau hipertensi, dapat berbahaya karena mampu merusak jantung dan pembuluh darah dalam jangka panjang. Salah satu penyebab hipertensi adalah status gizi yang lebih atau obesitas, hal tersebut sering kali merupakan hasil dari pola makan yang buruk dan kurangnya aktivitas fisik, sehingga dapat meningkatkan risiko hipertensi pada remaja. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan tekanan darah pada pelajar. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi yang diteliti adalah seluruh pelajar SMA Negeri 2 Tondano. Sampel yang digunakan sebanyak 88 responden yang dipilih melalui teknik total sampling. Instrumen yang digunakan yaitu lembar identitas responden, microtoise merek SECA untuk pengukuran tinggi badan, timbangan digital merek SECA untuk pengukuran berat badan, tensimeter digital merek GEA untuk pengukuran tekanan darah, dan baterai. Hasil: Sebagian besar tekanan darah responden dalam kategori normal sebanyak 64.8% dan tekanan darah tidak normal yang termasuk didalamnya yaitu, pre-hipertensi sebanyak 18.2%, hipertensi tingkat 1 sebanyak 9.1%, dan hipertensi tingkat 2 sebanyak 7.9%. Status gizi mayoritas normal sebanyak 57 responden (64.8%), sedangkan untuk status gizi lebih sebanyak 13 responden (14.8%) dan obesitas sebanyak 15.9%. Hasil analisis bivariat diperoleh p-value sebesar 0.004 (p<0.05), hal ini menunjukkan terdapat hubungan antara status gizi dengan tekanan darah pada pelajar. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan tekanan darah pada dengan hasil p-value sebesar 0.004 (p<0.05). Saran: Bagi pelajar dengan kategori status gizi tidak lebih dan kategori tekanan darah normal dapat mempertahankan gaya hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi. Selain itu, diharapkan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, berolahraga secara rutin, mengecek berat badan, dan tekanan darah secara berkala kemudian dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan.   Kata Kunci: Remaja; Status Gizi; Tekanan Darah.
Hubungan riwayat penyakit infeksi dengan stunting pada balita Kereh, Valenia Keren Natalniela; Sanggelorang, Yulianty; Musa, Ester Candrawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1718

Abstract

Background: Stunting is a problem related to child nutrition in Indonesia that remains unresolved. Stunting can be caused by multiple factors, one of which is infectious disease, a disease caused by pathogenic microorganisms. Common infectious diseases in children, such as acute respiratory infections, diarrhea, and worm infestations, can impact metabolic processes, disrupting nutrient absorption and growth. Purpose: To determine the relationship between a history of infectious diseases and stunting in toddlers. Method: This quantitative, analytical, observational study used a cross-sectional approach. It was conducted in the Pineleng Community Health Center working area from March to September 2025. A sample of 100 respondents was selected using a probability sampling technique with simple random sampling. The instruments used were the 2022 Indonesian Nutritional Status Survey questionnaire and height-for-age (H/A) measurements. Data were analyzed using the ch-square test and Fisher's exact test. Results: Regarding infectious disease history, the majority of toddlers (66 respondents) had no history of infectious diseases. Regarding stunting incidence, 12 toddlers (12.0%) experienced stunting, while 88 toddlers (88%) experienced normal growth. The chi-square test showed a p-value of 0.329, which is greater than the significance level of 0.05. This indicates that there is no relationship between a history of infectious diseases and stunting in toddlers. Conclusion: There is no relationship between a history of infectious diseases and stunting in toddlers (p-value = 0.329). Although this study still found toddlers with infectious diseases, there are indications that proper management of infectious diseases does not significantly impact stunting. Suggestion: Parents are expected to pay more attention to their toddlers' health by maintaining a balanced nutritional intake, ensuring a clean environment, and immediately taking their children to a health facility if they experience symptoms of an infectious disease.   Keywords: Infectious Diseases; Stunting; Toddlers.   Pendahuluan: Stunting merupakan masalah yang berkaitan dengan gizi anak di Indonesia yang masih belum teratasi sepenuhnya. Stunting dapat disebabkan oleh multifaktor, salah satunya adalah penyakit infeksi, yakni sebuah penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme pathogen. Penyakit infeksi yang sering diderita anak, seperti ISPA, diare, dan kecacingan dapat memberikan pengaruh terhadap proses metabolisme yang menyebabkan terganggunya penyerapan nutrisi dan pertumbuhan anak. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan riwayat penyakit infeksi dengan stunting pada balita. Metode: Penelitian kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Pineleng pada bulan Maret – September 2025. Sempel yang digunakan sebanyak 100 responden yang dipilih menggunakan teknik probability sampling dengan metode simple random sampling. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 dan pengukuran tinggi badan menurut umur (TB/U), kemudian analisis data menggunakan uji statistik ch-square dan fisher’s exact test. Hasil: Ditinjau dari riwayat penyakit infeksi, Sebagian besar balita tidak pernah memiliki riwayat penyakit infeksi sebanyak 66 responden (66%).  Pada status kejadian stunting, responden yang mengalami stunting sebanyak 12 balita (12.0%) dan sebagian besar normal sebanyak 88 balita (88%). Hasil uji chi-square menunjukan nilai p= 0.329 yang berarti lebih besar dari nilai signifikansi 0.05. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan riwayat penyakit infeksi dengan stunting pada balita. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara riwayat penyakit infeksi dengan stunting pada balita (p-value = 0.329). Meskipun dalam penelitian ini, masih ditemukan balita yang mengalami penyakit infeksi, namun terdapat indikasi bahwa penangan terhadap penyakit-penyakit infeksi dilakukan secara baik, sehingga tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian stunting. Saran: Diharapkan orang tua lebih memperhatikan kesehatan balita dengan menjaga asupan gizi yang seimbang, memastikan kebersihan lingkungan, dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala penyakit infeksi.   Kata Kunci: Balita; Penyakit Infeksi; Stunting.
Gambaran Status Gizi Pada Pelajar di SMA Negeri 1 Airmadidi Minahasa Utara Lalo, Samuel; Musa, Ester Candrawati; Punuh, Maureen Irinne
KESMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Vol. 14 No. 4 (2025): KESMAS, Oktober - Desember
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Status gizi merupakan salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap derajat kesehatan dan kesejahteraan seseorang. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan pada pada 30 pelajar di SMA Negeri 1 Airmadidi, sebanyak 23 siswa (77%) dengan status gizi baik, 6 siswa (20%) dengan status gizi lebih, dan 1 siswa (3%) dengan status gizi obesistas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mengenai status gizi pada pelajar di SMAN 1 Airmadidi. Jenis penelitian yang akan digunakan adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian Cross sectional study (studi potong lintang). Lokasi penelitian ini bertempat di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Airmadidi. Hasil penelitian menggambarkan status gizi responden sebagian besar memiliki status gizi baik, yaitu sebanyak 56 orang (88%). Responden dengan status gizi lebih berjumlah 7 orang (10%), dan hanya 1 orang (2%) yang mengalami obesitas. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pelajar di SMA Negeri 1 Airmadidi kelas sebanyak 56 orang (88%) memiliki status gizi baik, sebanyak 7 orang (10%) memiliki status gizi lebih, dan 1 orang (2%) memiliki status gizi obesitas. Secara keseluruhan, sebagian besar pelajar di SMA Negeri 1 Airmadidi Minahasa Utara termasuk dalam kategori status gizi normal.
Determinan Obesitas Pada Remaja di Kabupaten Minahasa Musa, Ester Candrawati; Nelwan, Jeini Ester; Tahulending, Jane
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2276

Abstract

Obesitas pada remaja merupakan isu kesehatan masyarakat yang terus meningkat dan terkait dengan pola makan serta aktivitas fisik. Bukti lokal diperlukan untuk merancang intervensi berbasis sekolah di Minahasa. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan obesitas pada remaja. Rancangan studi analitik potong lintang dilakukan di SMP Negeri 2 Pineleng dan SMA Negeri 1 Tondano selama Maret–November 2025 dengan total 137 responden. Variabel meliputi status obesitas, kesesuaian asupan makronutrien (protein, lemak, karbohidrat), dan tingkat aktivitas fisik. Data disajikan secara deskriptif dan dianalisis bivariat menggunakan uji Chi-kuadrat dengan α=0,05; ukuran asosiasi dilaporkan sebagai odds ratio (OR) dengan CI 95%. Prevalensi obesitas sebesar 27,7%. Ketidaksesuaian asupan cukup tinggi: protein 65,0%, lemak 70,8%, dan karbohidrat 67,2%; sementara 73,7% responden tergolong aktif secara fisik. Secara bivariat, asupan lemak (p=0,013) dan aktivitas fisik (p=0,009) berhubungan bermakna dengan obesitas; remaja yang tidak aktif memiliki peluang obesitas 2,873 kali lebih besar dibanding yang aktif (95% CI: 1,279–6,455). Asupan protein (p=0,061) dan karbohidrat (p=0,066) tidak menunjukkan hubungan bermakna. Disarankan program sekolah memprioritaskan perbaikan kualitas asupan, khususnya lemak, serta penguatan aktivitas fisik terstruktur.