Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Pemasaran Produk Berbasis Online Bagi Pengusaha Ritel Mandiri di Desa Pancasari, Buleleng I Made Astu Mahayana; I Gusti Ayu Agung Dian Susanthi; Ni Kd Sioaji Yamawati; I Wayan Budiarta; I Nyoman Mardika
Linguistic Community Services Journal Vol. 2 No. 2 (2021): LCSJ
Publisher : Warmadewa Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/licosjournal.2.2.2021.62-68

Abstract

New Normal life has again given hope to traders in Pancasari Village, Sukasada, Buleleng, Bali. The wheels of the economy are turning again, of course, by implementing health protocols, traders are allowed to reopen their businesses. This is a new challenge for retail owners; they had to think of various ways to restart a business that had been out of operation for several months. Online business is the latest solution in this era of society 5.0. Products or services advertised (marketed) online, of course, must be attractive so that they can be of interest to buyers. These products can be offered online through social media. This is a new experience for retail owners, especially in the village of Pancasari, Sukasada District, Buleleng which usually offers its merchandise conventionally. This PKM is carried out with the aim of helping independent retail entrepreneurs in Pancasari Village, Sukasada District, Buleleng Regency, who have never been familiar with online marketing. This PKM is carried out by recording partner knowledge, disseminating information to partners, providing training to partners, and monitoring partner business developments. Based on the results of the discussion above, two products, namely coffee drinks and food seasonings, have distinctive features in the choice of words used. In coffee drink products, the verbs chosen are enjoy, taste, and feel. While the selected adjectives are delicious, delicious, distinctive, and perfect. In seasoning/food products, the verbs chosen are try, taste, and taste. While the selected adjectives are delicious, delicious, distinctive, and best.
Pengabdian Kepada Masyarakat Kelompok Siswa SMK Puri Wisata Pancasari dalam Pelatihan English For Tour Guide di Desa Sukasada, Buleleng I Made Astu Mahayana; I Gusti Ayu Agung Dian Susanthi; I Gede Bagus Axel Putra Martana; Nyoman Ryan Ega Jayendra
Linguistic Community Services Journal Vol. 3 No. 2 (2022): LCSJ
Publisher : Warmadewa Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/licosjournal.3.2.2022.46-54

Abstract

Pancasari adalah desa di kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, Indonesia. Desa ini terletak 850 meter dari permukaan laut. Desa ini memiliki berbagai objek wisata yang berkembang yaitu diantaranya danau Buyan, danau Beratan, wisata petik strawberry, camping. Tujuan untuk membantu para pelaku wisata di sekitar desa Pancasari, Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng, yang belum pernah mendapatkan pelatihan bahasa Inggris Tour Guide dan mempromosikan objek wisata di Desa Pancasari secara online ataupu n offline. Metode wawancara mendalam (in depth interview) kepada pihak yang terlibat guna memperoleh data kualitatif. dan lainnya yang sangat menarik untuk dikunjungi. Ketika pemerintah menerapkan New Normal, roda perekonomian kembali berputar, pemandu wisata atau yang lebih dikenal dengan tour guide masih minim dan terbatas. Padahal kualitas SDM dalam hal tour guiding di desa tersebut berpotensi tinggi untuk dapat menjadi SDM yang unggul sehingga dapat mendatangkan income. Salah satu SDM yang berpotensi adalah para siswa SMK Puri Wisata Pancasari. Kehadiran siswa SMK Puri Wisata Pancasari mampu menjadi bantuan bagi para pelaku wisata untuk mempromosikan usaha wisatanya sehingga dapat menarik minat wisatawan kembali berkunjung. Sesuai dengan pemaparan di atas, PKM ini dilakukan dengan Memberikan pelatihan Bahasa Inggris selama kali dalam waktu tiga bulan, yaitu Februari-April. Masing-masing pertemuan berlangsung selama 90 menit. Pelatihan direncanakan sekali dalam seminggu. Kegiatan ini menggu-nakan metode blended learning. Dengan demikian program ini dapat menghasilkan bibit-bibit tour guide yang handal untuk memajukan sektor pariwisata.
Penelitian Bahasa Inggris dengan Metode Intensive dan Extensive Reading kepada Siswa SMA Negeri 1 Penebel I Ketut Subagia; I Made Astu Mahayana; I Made Mardika; Ida Ayu Ulan Antika Putri; Ni Luh Putri Jelitayanti
Linguistic Community Services Journal Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Warmadewa Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/licosjournal.5.1.2024.10-13

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pelatihan bahasa Inggris dengan metode Intensive Reading yang diselenggarakan oleh Tim PKM Fakultas Sastra Universitas Warmadewa kepada 30 siswa di SMA N 1 Penebel, Tabanan. Metode Intensive dan Extensive Reading dipilih sebagai fokus peningkatan pemahaman dan penguasaan kosakata bahasa Inggris. Pelatihan tiga minggu ini menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam kemampuan membaca dan memahami teks bahasa Inggris pada siswa.Sampel siswa terlibat dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI dengan karakteristik khusus yang melibatkan tingkat kemampuan bahasa Inggris yang beragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan dengan metode Intensive dan Extensive Reading secara efektif meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca dan memahami teks bahasa Inggris di tingkat SMA.
PKM Peningkatan Kemampuan E-Marketing Kepada Pelaku UMKM Arak Bali di Desa Datah, Karangasem I Made Astu Mahayana; Gde Deny Larasdiputra; Ni Luh Putri Jelitayanti; I Gede Deva Pratama; Ida Ayu Ulan Antika Putri; I Putu Arya Loka Aditya Gautama
Postgraduated Community Service Journal Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/pcsj.4.1.2023.17-25

Abstract

Balinese Arak is an intangible cultural heritage that has been established by the Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia. The Community Partnership Program (PKM) in Datah Village, Karangasem Regency aims to help partners in the economic sector, namely the Bali Arak UMKM. There are 2,285 Balinese wine craftsmen in Karangasem Regency. The increasing number of Balinese wine SMEs, Balinese wine craftsmen are demanded to be active and creative in promoting and making the right marketing strategy. For this reason, the PKM team targeted Balinese wine SMEs in Banjar Lebah, Datah Karangasem Village. There are two problems found, namely the lack of public awareness and knowledge in product marketing through the use of social media and the less optimal use of attractive, informative and persuasive advertising language in uploaded content. The implementation method used is to collect partners' knowledge about e-commerce platforms and media facilities used, socialize the benefits of social media, and use interesting language in e-commerce, provide training and monitor partner business developments online. The PKM team is assisted by students in providing assistance regarding designs and attractive language choices using online methods. The outputs of the PKM implementation are in the form of articles published in PCS journals, publications in counter mass media and publications on Youtube, and increased understanding of partners in the use of good advertising language in creating promotional content and understanding e-marketing sales strategies.
Pemberdayaan Kelompok Pedagang Pasar Seni Wisata Guwang dalam Menggalakkan Wisata Sehat dan Strategi Peningkatan Pendapatan di Era Pandemi Covid-19 Putu Indah Budi Apsari; Widhidewi Ni Wayan; Ketut Hari Mulyawan; I Made Astu Mahayana
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 1 No. 3 (2022): September 2022
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmmj.1.3.2022.76-84

Abstract

Sejak pandemi COVID-19 menghantam industri pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia. Hal ini pun berdampak pada masyarakat yang bekerja di sektor pariwisata salah satunya adalah pasar seni Guwang, menyebabkan penurunan jumlah pendapatan pedagang di pasar seni guwang. Kami melakukan pengabdian bagi kelompok pedagang pasar seni guwang dengan memanfaatkan inovasi teknologi yang berperan penting dalam mendukung tren pariwisata yang bergeser di tengah pandemi, salah satunya dengan pemasaran atau marketplace secara online. Kami juga melatih para pedagang menggunakan aplikasi peduli lindungi untuk mewujudkan wisata sehat sehingga diharapkan dapat menarik minat para wisatawan untuk berbelanja. Hasil pengabdian didapatkan peningkatan pengetahuan peserta dalam mewujudkan wisata sehat dan peningkatan keterampilan peserta dalam menggunakan media online serta ecomerce dalam meningkatkan jumlah penjualan barang dagangan.
Pengajaran ESP Bagi Polisi Pariwisata Di Sekolah Tinggi Polda Bali I Gusti Ayu Agung Dian Susanthi; I Made Astu Mahayana; Ni Nyoman Kertiasih
Community Service Journal (CSJ) Vol. 2 No. 2 (2020)
Publisher : Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/csj.2.2.2020.67-74

Abstract

Penelitian ini berfokus pada fungsi bahasa yang digunakan dalam pengajaran polisi pariwisata di Sekolah Polisi Negara Polda Bali. Bahasa yang digunakan diklasifikasikan ke dalam beberapa fungsi. Menurut (Leech, 1993), fungsi bahasa diklasifikasikan menjadi lima fungsi, yaitu: fungsi informatif, ekspresif, direktif, estetik, dan fatik. Sedangkan menurut (Blundell, Higgens, & Middlemiss, 1978) ekspresi dapat berupa 'salam', 'perkenalan', 'bertanya', dan sebagainya. Namun berdasarkan percakapan polisi parwisata, teori harus disajikan berdasarkan pada prosedur yang diterapkan selama percakapan polisi pariwisata, sehingga bisa diterapkan dalam praktik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan beberapa langkah berdasarkan prosedur yang diterapkan oleh polisi pariwisata di lapangan. Pengajarn bahasa Inggris dimulai dari perkenalan diri, percakapan di lalu lintas (menunjuk arah), menerangkan rambu-rambu lalu lintas, dan pelayanan SIM, dengan menggunakan prosedur-prosedur yang diterapkan dalam penelitian ini, ekspresi dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsi-fungsi bahasa. Pengajaran bahasa Inggris ESP kepada calon polisi pariwisata perlu diberikan, mengingat calon polisi pariwisata akan berhadapan langusng dengan wisatawan asing di lapangan. Pengenalan terhadap bahasa Inggris ESP masih sangat jarang untuk diberikan. Sehingga, dianggap perlu untuk diberikan pengenalan yang lebih sering dengan cara memberikan pelatihan awal kepada calon polisi pariwisata tersebut. Hal ini diharapkan dapat membantu calon polisi pariwisata yang awalnya hanya memperoleh pelajaran bahasa Inggris umum dapat berkembang dengan materi ESP khusus calon polisi pariwisata.
Pengajaran Kosakata Bahasa Inggris Kepada Siswa SD 1 Ubud Melalui Permainan dan Lagu I Made Astu Mahayana; Made Sani Damayanthi Muliawan; Ni Kd Sioaji Yamawati
Community Service Journal (CSJ) Vol. 4 No. 2 (2022)
Publisher : Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/csj.4.2.2022.180-186

Abstract

Mengingat pentingnya penguasaan Bahasa Inggris, maka pengenalannya sejak dini kepada anak-anak sangatlah penting. Pada pelaksanaannya, bahasa Inggris bukanlah bahasa yang mudah untuk diajarkan kepada siswa Sekolah Dasar. Terdapat tiga alasan utama bahasa Inggris sulit untuk diajarkan, salah satunya adalah kata maupun kalimat dalam bahasa Inggris sukar untuk diucapkan karena berbeda antara penulisan dan pelafalannya. Penerapan pelajaran bahasa Inggris sejak dini pada siswa SD sangatlah bermanfaat. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk memberikan pengajaran kepada para siswa SD Negeri 1 Ubud dengan metode permainan (games) serta media pembelajaran berupa lagu. Pengabdian ini dilakukan di SD Negeri 1 Ubud yang merupakan salah satu SD yang terletak di kawasan Kelurahan Ubud. Proses pembelajaran yang dilakukan adalah mengajarkan kosakata bahasa Inggris yang benar dengan menggunakan metode permainan untuk anak siswa kelas 2 SD, yang dilanjutkan pembelajaran dengan media lagu. Kegiatan ini mendorong para siswa agar tertarik dan senang dalam belajar Bahasa Inggris. Dengan metode tersebut, siswa akan merasa bersemangat dan antusias dalam mengikuti pembelajaran di kelas.
Impoliteness Found in I Care a Lot Movie Made Susini; Ni Ptu Eka Meilinda Yanti; I Made Astu Mahayana
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 11 No 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v11i1.2781

Abstract

The Impoliteness in movies serves as a narrative device to develop characters, create conflict, and reflect real-life social interactions. Applying Culpeper’s impoliteness strategies, this research analyses the strategies, functions, and implications of impoliteness in I Care a Lot movie. The data were taken from the film scripts. The results show that five strategies of impoliteness are found in this movie. They include bald on record impoliteness, positive impoliteness, negative impoliteness, sarcasm or mock politeness, and withhold politeness. Positive impoliteness is the most dominant strategy found in the movie (41.2%). This strategy targets someone's approving face, showing disrespect for something in the interaction. Due to the functions, the most frequent function of impoliteness is coercive impoliteness (58,82%). This indicates that the impolite utterances found in the movie are used to pressure, control, or coerce the interlocutor. The findings suggest that impoliteness in movies is essential in establishing power dynamics and character development. This research contributes to socio-pragmatics by providing insights into how strategies of impoliteness can be applied in communication, including film, to create conflict and tension.
Taboo Word “Jancuk” Analysis On Youtube Video “Kata Jancuk Berasal dari … - Jawa Jawa Jawa eps. 8” By Comedy Sunday Ahmad Taufiqurrahman; I Made Astu Mahayana; Sabinus Charles U.H. Lujuwara
Journal Scientific of Mandalika (JSM) e-ISSN 2745-5955 | p-ISSN 2809-0543 Vol. 7 No. 5 (2026)
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/10.36312/vol7iss5pp698-704

Abstract

This sociolinguistic study examines the taboo word “jancuk” (also spelled “jancok” or “dancok”) as represented in the YouTube video KATA JANCUK BERASAL DARI … - JAWA JAWA JAWA EPS. 8, a segment from a series dedicated to exploring Javanese language and culture. Drawing on Wardhaugh’s (2006) classification of taboo expression epithets, profanity, vulgarity, and obscenity, and Battistella’s (2005) analysis of linguistic form in relation to societal norms and power structures, the research classifies “jancuk” primarily as obscenity and vulgarity due to its etymological roots in sexual connotations (derived from “di-encuk,” meaning intercourse in Javanese). Despite its inherently taboo nature, the word shows pragmatic versatility in East Javanese contexts, particularly among the “Arek” community in Surabaya, where it functions as a language for expressing frustration or anger, a marker of regional identity, and even a term of solidarity in informal, in-group interactions. The video’s educational approach highlights sociolinguistic dynamics, including code-switching between the rude (ngoko kasar) and polite dialects, regional variation across Java, and the word’s shift from purely negative to multifunctional in simultaneous use. Findings show that the role of taboo words in supporting cultural identity amid globalization and digital propaganda, while also addressing misuse and politeness violations across diverse social contexts. This analysis contributes to broader understandings of taboo language in multilingual Bahasa Indonesia, offering insight for language education, media representation, and intercultural communication