Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

PELATIHAN TARI KREASI SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN PADA GENERASI MILENIAL DI PULAU LAKKANG Johar Linda; Faidhul Inayah; Dwi Wahyuni Hamka
Sureq: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berbasis Seni dan Desain Vol 2, No 2 (2023): Juli-Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/srq.v2i2.52860

Abstract

Kegiatan pelatihan Tari Kreasi pada generasi melenial bertujuan untuk melestarikan dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang tari kreasi yang ada di Sulawesi Selatan. Pembelajaran tari kreasi tersebut, diharapkan dapat memberikan hasil, bukan saja pada gerak tari kreasi, akan tetapi tentang cara dalam mengembangkan gerak tari kreasi tersebut. Selain itu diharapkan para siswa usia sekolah (kaum milaneal) menjadi lebih kreatif dalam mengembangkan gerak yang telah diberikan sebagai gerak dasar.Pelatihan ini menggunakan metode ceramah pada teori dan metode demonstrasi pada materi praktik. Sementara langkah-langkah yang ditempuh meliputi: 1. Tahap persiapan kegiatan, meliputi, a) observasi lokasi, b) mengurus surat izin, dan c. Menentukan jadwal pelaksanaan. 2. Pelaksanaan kegiatan, meliputi; a) memberikan materi teori, pengantar dasar-dasar tari kreasi Sul Sel, b) praktik tari kreasi dan c) evaluasi.Target luaran adalah peserta pelatihan dapat memperagakan gerakan tari kreasi yang telah di susun oleh peserta pelatihan (siswa) sesuai arahan dari instruktur dan mengembangkan atau mengkreasikan gerak serta menemukan gerakan-gerakan baru yang lebih kreatif, sehingga dapat memperagakan tari kreasi lebih kreatif lagi, dengan menggunakan iringan musik serta komposisi (pola lantai).
PELATIHAN TARI PATUDDU KUMBA SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN TRADISI LOKAL PADA GENERASI MILENIAL DI KEC. PAMBOANG, SULAWESI BARAT Johar Linda; Faidhul Inayah; Dwi Wahyuni Hamka; Asia Ramli; Andi Padalia
Sureq: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berbasis Seni dan Desain Vol 3, No 1 (2024): Januari-Juni
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/srq.v3i1.63036

Abstract

Kegiatan pelatihan Tari Patuddu Kumba sebagai upaya pelestarian pada generasi melenial bertujuan untuk melestarikan dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang tari tradisi yang ada di Sulawesi Barat. Pembelajaran tari tradisi tersebut, diharapkan dapat memberikan hasil, bukan saja pada gerak tari tradisi, akan tetapi tentang cara dalam mengembangkan gerak tari tradisi menjadi tari kreasi. Selain itu diharapkan para siswa usia sekolah (kaum milaneal) menjadi lebih kreatif dalam mengembangkan gerak yang telah diberikan sebagai gerak dasar. Pelatihan ini menggunakan metode ceramah pada teori dan metode demonstrasi pada materi praktik. Sementara langkah-langkah yang ditempuh meliputi: 1. Tahap persiapan kegiatan, meliputi, a) observasi lokasi, b) mengurus surat izin, dan c. Menentukan jadwal pelaksanaan. 2. Pelaksanaan kegiatan, meliputi; a) memberikan materi teori, pengantar dasar-dasar tari, b) praktik tari Patuddu Kumba dan c) evaluasi. Target luaran adalah peserta pelatihan dapat memperagakan gerakan tari Patuddu Kumba yang telah di susun oleh peserta pelatihan (siswa) sesuai arahan dari instruktur dengan menggunakan iringan musik serta komposisi (pola lantai)
Evaluasi Buku Kritik Seni untuk Mahasiswa pada Program Studi Pendidikan Seni Rupa Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar Yunus, Pangeran Paita; Izmi, Siti Asmaulul; Inayah, Faidhul
Seminar Nasional LP2M UNM SEMINAR NASIONAL 2023 : PROSIDING EDISI 9
Publisher : Seminar Nasional LP2M UNM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Forming the character of a student who has a critical nature towards various issues of art and how to understand, respond and provide comments on the works of art they encounter, can be started through Art Criticism courses taught at universities. Basically, the knowledge about art criticism obtained by students can be used as a bridge between artists as creators of works of art and critics as reviewers, so that a dialogue occurs between works of art created by artists and observers (appreciators). The Art Criticism course not only provides a theoretical basis for the concept of Art Criticism but shapes a student's attitudes, behavior and mindset. This is a capital investment to prepare students to start activities in their lives after studying at university. Through the integration of the experience, skills and knowledge they have acquired, students can develop themselves to become art observers or art critics. This research aims to evaluate the suitability of the Art Criticism textbook with the criteria for a good textbook prepared by the Ministry of Education and Culture. The product evaluated in this research is teaching material in the form of an Art Criticism textbook. The Art Criticism course is one of the mandatory courses for students of the Fine Arts Education study program, FSD Fine Arts Education study program, Makassar State University. This research evaluates the teaching materials of the Art Criticism textbook and then measures the appropriateness of the content, appropriateness of presentation, language and source material.  Keywords: art criticism, evaluation, textbook
Eksistensi Permainan Tradisional pada Siswa SD Negeri Mamajang 1 Makassar Inayah, Faidhul
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 7 No. 3 (2023): Desember 2023
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v7i3.11889

Abstract

Penetitian ini dilakukan dengan tujuan ingin melihat eksistensi permianan tradisional ditengah maraknya permainan modern khususnya pada siswa sekolah dasar. Penelitian ini dilatar belakangi apakah permainan tradisional masih diminati siswa khususnya siswa sekolah yang berlokasi di tengah perkotaan dan apakah orang tua atau guru masih memiliki andil terhadap keberlangsungan pelestarian permainan tradisional. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas V SDN Mamajang 1 Makassar dengan metode deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa hamper setengah siswa sudah jarang memainkan permainan tradisional. Siswa yang sering bermain hanya memainkan permainan tradisional pada saat dirumah. Siswa bermain permainan tradisional disekolah hanya saat materi permaianan tradisional. Walaupun permainan tradisional sudah jarang dimainkan siswa akan tetapi dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa seluruh siswa lebih senang memainkan permainan tradisional jika dibandingkan dengan permainan modern karena dapat berinteraksi langsung Bersama teman sebaya, hal ini menunjukkan bahwa eksistensi permainan tradisional dapat meningkat karena masih banyak siswa yang berminat memainkannya.
Seni Grafis Teknik Cukil Kayu di Yogyakarta: Sebuah Kajian Produksi Sosial Pierre Bourdieu Hamka, Dwi Wahyuni; Inayah, Faidhul
Nuansa Journal of Arts and Design Vol 7, No 2 (2023): September
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/njad.v7i2.54221

Abstract

Di Yogyakarta, berbagai jenis kesenian khususnya seni rupa sangat berkembang bahkan signifikan dan popular baik itu di kalangan ekslusif maupun kalangan masyarakat umum, namun berbeda dengan popularitas seni grafis teknik konvensional di tengah masyarakat umum. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana habitus dan modal seniman grafis cukil kayu mempengaruhi praktik dominasi seni grafis cukil kayu dalam arena sosial seni rupa di Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara dan kajian pustaka. Teori yang digunakan yaitu teori arena produksi kultural oleh Pierre Bourdieu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa habitus seorang seniman terbentuk oleh lingkungan dalam institut seni ISI Yogykarta hingga selesai yang membentuk menjadi seniman profesional yang terintegritas dengan penguasaan konsep dan teknik secara baik, terintegrasi dengan kode estetik yang trend, namun kecilnya kapasitas kepemilikan modal dari seniman grafis cukil kayu dalam pertarungan praktik di arena tidak cukup kuat untuk menciptakan kelas dominan sehingga seni grafis cenderung berada pada kaum borjuasi kecil yang berjuang untuk mengumpulkan status simbolis profesi mereka. Adanya kepemilikan kapasitas modal yang kecil mengakibatkan seni grafis cukil kayu sulit untuk mendominasi (kelas bawah) yang mengakibatkan pada kurang munculnya wacana-wacana sehingga sulit untuk menjatuhkan wacana yang dominan, seperti seni Lukis.
Analisis Perkembangan Desain Baju Bodo Hingga Tahun 2023 di Sulawesi Selatan Inayah, Faidhul; Hamka, Dwi Wahyuni
Nuansa Journal of Arts and Design Vol 7, No 2 (2023): September
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/njad.v7i2.54308

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan yang terjadi pada baju Bodo hingga tahun 2023. Penelitian ini ingin melihat pada baju-baju Bodo yang sering digunakan oleh Masyarakat dan berkembang hingga saat ini. Focus penelitian adalah elemen-elemen apa saja yang dipertahankan untuk memperlihatkan ciri dari baju Bodo, juga ingin melihat elemen-elemen apa yang dikembangkan pada baju Bodo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Analisis digunakan dengan melihat literatur yang berhubungan dengan baju Bodo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen yang masih dipertahankan ialah bentuk baju Bodo yang longgar dan tanpa kerah. Sementara bentuk yang berkembang adalah penggunaan jenis, penambahan motif dan penambahan kerutan pada bagian lengan dan salah satu sisi bagian bawah, perubahan tidak sama pada baju Bodo yang satu dengan baju Bodo lainnya, akan tetapi disesuaikan dengan pengguna baju.
PKM Lokakarya Perencanaan Berbasis Data Program Sekolah Penggerak di Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah Fitriana, Fitriana; Inayah, Faidhul; Ristiana, Evi; Hamka, Dwi Wahyuni; Sahnir, Nurachmy
Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat SEMINAR NASIONAL 2024:PROSIDING EDISI 9
Publisher : Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan lokakarya ditujukan bagi pengawas, kepala sekolah dan guru pada Tingkat Taman Kanak- Kanak untuk memupuk keterampilan dalam Menyusun perencanaan berbasis data pada kurikulum Merdeka Belajar yang tergabung dalam program sekolah penggerak Angkatan 2. Metode pelaksanaan pengabdian dilakukan secara luring selama tiga hari, satu hari pra lokakarya dan dua hari untuk pelaksanaan lokakarya. Pengabdian dilakukan selama 8 JP atau 360 menit dengan metode pembelajaran orang dewasa dengan jumlah peserta 28 orang. Pengabdian dilaksanakan di kabupaten Banggai Sulawesi Tengah. Materi pelatihan di hari pertama atau pra lokakarya diisi dengan pembagian modul serta perkenalan pemateri dan peserta pengabdian, Pada hari lokakarya diisi dengan pemaparan materi oleh pengabdi untuk memahami siklus peningkatan kualitas layanan satuan Pendidikan, Menyusun RKT dan RKAS berdasarkan laporan Pendidikan. Sementara hari terakhir diisi dengan penyusunan profil pendidikan, rapor pendidikan, perencanaan berbasis data di satuan pendidikan dan platform teknologi secara berkelompok. Pada akhir lokakarya peserta diharapkan dapat memahami prinsip, tujuan dan metode perencanaan berbasis data.
Tradisi Appabottingeng (Pesta Perkawinan) Masyarakat Suku Bugis Sulawesi Selatan: Perspektif Teori Perubahan Sosial Alvin Boskoff Fatimah, Andi Fauziyah Hijrina; Inayah, Faidhul; Suyudi, Muhammad; Hasbi, Hasbi; Rasul, Rasul
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 8 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v8i2.38617

Abstract

The Bugis ethnic group in South Sulawesi is known for various traditional customs, one of which is the traditional wedding ceremony known in Bugis language as "Appabottingeng". Appabottingeng in Bugis society represents highly upheld cultural values, involving numerous processions and rituals rich in symbolism and hereditary traditions. While it serves important functions in maintaining social harmony, family solidarity, social strata, and continuity of Bugis community traditions, Appabottingeng currently faces socio-cultural change challenges. Therefore, this research examines the changes occurring in the Appabottingeng tradition (wedding ceremony) within the Bugis community in South Sulawesi using Alvin Boskoff's perspective, focusing on external factors (inter-cultural contact) and internal factors (drive for change from within the community). This study aims to analyze the factors causing changes in the Appabottingeng tradition and explore community reactions to these changes. One finding indicates that the shifting mindset of younger generations, who view this procession as complicated, expensive, and less relevant to the modern era, has become one of the driving factors for change. The results of this study provide insights into how the Appabottingeng cultural tradition can adapt and survive amid the flow of social change. Abstract Beragam adat istiadat terkenal yang dimiliki oleh masyarakat Suku Bugis di Sulawesi Selatan salah satunya adalah adat upacara adat pernikahan atau dikenal dalam Bahasa Bugis “Appabottingeng”. Appabottingeng di masyarakat Bugis menunjukkan nilai budaya yang sangat dijunjung tinggi, dengan melalui banyaknya prosesi serta ritual yang penuh dengan simbolisme dan tradisi secara turun-temurun, serta memiliki fungsi penting dalam menjaga harmonisasi sosial, solidaritas keluarga, strata sosial, dan kontinuitas tradisi masyarakat Bugis, namun tradisi Appabottingeng saat ini menghadapi tantangan perubahan sosial budaya. Sehingga, penelitian ini mengkaji tentang perubahan yang terjadi pada tradisi Appabottingeng (upacara perkawinan) dalam masyarakat suku Bugis di Sulawesi Selatan dengan menggunakan perspektif dari Alvin Boskoff yang fokus peneilitan ini pada faktor eksternal (kontak antar-budaya) dan internal (dorongan perubahan dari dalam masyarakat). Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan perubahan pada tradisi Appabottingeng serta mengeksplorasi reaksi masyarakat terhadap perubahan tersebut. Salah satu temuan menunjukkan bahwa pergeseran pola pikir generasi muda yang menganggap prosesi ini rumit, mahal, dan kurang relevan dengan era modern menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya perubahan. Hasil penelitian ini memberikan pemahaman tentang bagaimana sebuah tradisi budaya Appabottingeng dapat beradaptasi dan bertahan di tengah arus perubahan sosial.
Food Diversification of Moringa Plants into Chips as a Healthy Snack for the Community: Diversifikasi Pangan Tanaman Kelor Menjadi Keripik Sebagai Camilan Sehat Untuk Masyarakat Andi Asmawati; Karim, Hilda; Muhammad Junda; Ristiana, Evi; Inayah, Faidhul
Jurnal Sipakatau: Inovasi Pengabdian Masyarakat Volume 2 Issue 1 December 2024: Jurnal Sipakatau
Publisher : PT. Lontara Digitech Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61220/jsipakatau.v1i6.2453

Abstract

Moringa-based food product development can provide significant nutritional and economic benefits to the community. The manufacturing process includes plucking and boiling moringa leaves, followed by mashing together garlic and shallots. The dough is mixed with wheat flour, starch, margarine, eggs, and moringa water, then kneaded until evenly distributed. Moringa noodles are molded according to taste using a noodle maker, then fried in hot oil until golden brown. Once cooled, packaged. This opportunity not only increases the nutritional value of food products, but also provides great economic potential for local farmers and housewive. Abstrak Pengembangan produk pangan berbasis kelor dapat memberikan manfaat nutrisi dan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Proses pembuatan mencakup memetik daun kelor, diikuti dengan penghalusan bersama bawang putih dan bawang merah. Adonan dicampur dengan tepung terigu, tepung kanji, margarin, telur, dan air kelor, kemudian diuleni hingga merata. Adonan dicetak sesuai selera, kemudian digoreng dalam minyak panas hingga berwarna golden brown. Setelah dingin, keripik kelor dapat dimasukkan kedalam kemasan. Peluang ini tidak hanya meningkatkan nilai gizi produk pangan, tetapi juga memberikan potensi ekonomi bagi petani dan ibu rumah tangga.
Analisis Ikonografi Kain Tenun Donggala Bermotif “Buya Bomba” Inayah, Faidhul; Fatimah, Andi Fauziyah Hijrina
SOCIETIES: Journal of Social Sciences and Humanities Vol 5, No 1 (2025): SOCIETIES: Journal of Social Sciences and Humanities
Publisher : SOCIETIES: Journal of Social Sciences and Humanities

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/societies.v5i1.73950

Abstract

Abstrak. Kain Tenun Donggala merupakan kain tradisional yang berasal dari Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah. Kain tenun yang berkembang sejak abad ke 4 pada masa kerajaan Banawa, dimana kehadirannya tidak lepas dari pengaruh sosial, politik, ekonomi, agama dan budaya masyarakat Donggala. Salah satu kain yang paling populer di Sulawesi Tengah, khususnya di wilayah Donggala, hingga saat ini adalah kain tenun bermotif buya bomba. Meski kain tradisional ini cukup populer dan masih dipertahankan hingga saat ini, belum ada penelitian yang meneliti makna-makna yang terkandung di dalam kain tradisional tersebut. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini menggunakan metode ikonografi ikonografi untuk menemukan makna pola pada kain yang menjadi sarana komunikasi verbal, sesuai dengan keadaan masyarakat, lingkungan dan pengaruh budaya berbeda yang menetap di wilayah Donggala. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kain tenun Donggala mengandung makna keagungan, kekuatan, cinta, kemuliaan dan ketabahan hati yang merupakan identitas masyarakat Donggala. Keywords: Kain Tenun Donggala, Tradisi, Makna