Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

METAMIZOLE VERSUS KETOROLAK OF POSTOPERATIVE CLOSED FRACTURE PAIN MANAGEMENT AT dr. ISKAK TULUNGAGUNG HOSPITAL : A COST EFFECTIVENESS ANALYSIS Prasetyo, Eko Yudha; Kusumaratni, Dyah Ayu; Aditya Ayuning Siwi, Mayang
Journal Medicine And Clinical Pharmacy Vol. 2 No. 1 (2025): MedClip Vol 2 No 1, 2025
Publisher : Institut Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS.DR. Soepraoen Kesdam V/BRW

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47794/medclip.v2i1.11

Abstract

The pain that appears in postoperative patients is acute pain, but pain that is not properly managed will develop into chronic pain and have long-term negative effects  and also have financial impacts. Metamizole is commonly used in pain management, while ketorolac is currently positioned as an alternative option. The availability of various analgesic options must be accompanied by comparative data on effectiveness and cost assessment.This aim to compare the cost–effectiveness of two therapies for moderate and severe acute pain, Metamizole (3x1g) and Ketorolac (3x30mg) for closed fracture postoperative pain management.. This study is descriptive comparative research using a cross sectional design with retrospective data collection. The sample in this study was the medical records and financial records of BPJS class III closed fracture surgery patients. Cost estimation measured from the provider's perspective. The types of costs considered are all costs directly related to health care at the hospital. Costs are measured in Indonesian rupiah (IDR) currency units. This research is short-term research so the researcher did not analyze the discount rate(0%). The findings of this study showed that Metamizole is a drug with higher effectiveness (37.93%) than ketorolac (35.48%), with a total direct medical cost of metamizole of IDR. 21,990,051 and ketorolac IDR. 23,041,427. ACER value of metamizole IDR. 579,754 and ketorolac IDR. 649,420. Based on the calculation of these real numbers, Metamizole is more cost effective than ketorolac in postoperative fracture pain management. However, statistically the effectiveness and cost of the two therapies did not have a significant difference.
Rationality Of Analgesic-Antipyretic Use In Dengue Hemorrhagic Fever Patients Indah Sri Hartini; Eko Yudha Prasetyo; Dyah Ayu Kusumaratni; Arshy Prodyanatasari
Jurnal EduHealth Vol. 14 No. 04 (2023): Jurnal eduHealt, 2023, December
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dengue haemorrhagic fever (DHF) is a disease caused by acute dengue virus infection transmitted through the bite of the Aedes Aegepty mosquito. Data from the health department states that the increase in the Case Fatality Rate (CFR) of DHF in 2020 is 0.8% and in 2021 is 1.1% while the national target is <1%. DHF patients need proper treatment to minimize the occurrence of contraindications in patients. DHF patients generally experience initial symptoms of sudden high fever >38oC, headache or pain behind the eyeball, muscle and bone pain. Treatment of DHF patients to reduce the pain experienced is by giving the right antipyretic analgesic. Based on this, the researcher wants to examine the description of the use of analgesic-antipyretics to determine the rationality level of the use of analgesic-antipyretics in DHF patients. The rationality of analgesic-antipyretic use measured, including patient accuracy, drug accuracy, indication accuracy, and dose accuracy. The type of research conducted was non-experimental observational research with retrospective data collection and the sampling technique used was totality sampling. Data collection was carried out based on patient medical record data in the period January-August 2022. In accordance with WHO guidelines and the National Guidelines for Health Services for Dengue management, the provision of analgesic-antipyretic drugs in accordance with the drug of choice is paracetamol. Based on the data obtained, there were 74 DHF patients with 57% female patients and 43 male patients, and 42% of patients were children. The rationality of analgesic-antipyretic use in DHF patients is known to be 100% right patient; 37.84 right drug; 100% right indication; and 98.65% right dose.
ANALISA HUBUNGAN KARAKTERISTIK PASIEN TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT DAN KUALITAS HIDUP PASIEN HIPERTENSI PROLANIS DI PUSKESMAS SIDOMULYO Prasetyo, Eko Yudha; Kusumaratni, Dyah Ayu; Serang, Krisogonus Ephrino; Hariyani; Fatimah
JURNAL PHARMA BHAKTA Vol 3 No 2 (2023): November 2023
Publisher : FACULTY OF PHARMACY, INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Prevalensi penderita hipertensi selalu meningkat setiap tahunnya dan berdampak pada pembiayaan oleh pemerintah. Ketidakpatuhan minum obat pasien hipertensi dapat berdampak pada kualitas hidup penderitanya. Mengatasi hal tersebut pemerintah membuat program Prolanis dengan harapan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien penyakit kronis, termasuk pasien hipertensi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kepatuhan minum obat dan kualitas hidup pasien hipertensi serta menganalisa hubunganya dengan karakteristik sosio-demografi pasien hipertensi peserta Prolanis. Metode: Penelitian ini berjenis analisis observasional dengan desain potong lintang. Subjek penelitian adalah pasien hipertensi rawat jalan peserta Prolanis di Puskesmas Sidomulyo Kediri. Instrumen Pengukuran tingkat kepatuhan minum obat menggunakan MMAS-8 dan pengukuran kualitas hidup menggunakan kuisioner WHOQOL-Breef. Teknik analisa bivariat menggunakan uji chi square. Hasil: Kepatuhan minum obat antihipertensi peserta prolanis puskesmas Sidomulyo dengan tingkat kepatuhan rendah (50%) , sedang (30%), dan tinggi (20%). Sementara pasien dengan kualitas hidup buruk (36,66%), sedang (30%), dan tinggi (33,33%). Variabel “Jenis Kelamin” (p-value 0,53), “Usia” (p-value 0,41) dan “Tingkat Pendidikan” (p-value 0,47), “Jumlah Penyakit Komorbid” (p-value 0,02). Hasil uji korelasi tingkat kepatuhan terhadap kualitas hidup domain “Kesehatan Fisik” (p-value 0,77), “Psikiologis” (p-value 0,02) “Kehidupan Sosial” (p-value 0,92) dan “Lingkungan” (p-value 0,38). Simpulan: Karakteristik jumlah penyakit komorbid berhubungan signifikan terhadap tingkat kepatuhan minum obat pasien (p-value 0,02), sementara kepatuhan minum obat berkorelasi signifikan terhadap kualiatas hidup domain Psikologi (p-value 0,02) pasien hipertensi peserta prolanis Puskesmas Sidomulyo Kediri.
Edukasi Penggunaan Obat, Suplemen, Herbal Dan Bahaya Doping Pada Olahragawan Prasetyo, Eko Yudha; Kusumaratni, Dyah Ayu; Marhenta, Yogi Bhakti; Astutik, Widhi; Hartini, Indah Sri; Nugroho, Septiawan Adi
Journal of Community Engagement and Empowerment Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Institut Ilmu Kesehatah Bhakti Wiyata Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktivitas fisik yang dilakukan dalam olahraga selain berdampak pada kebugaran tubuh juga beresiko menimbulkan cidera. Pharmaceutical care di bidang olahraga berkontribusi dalam perkembangan olahraga modern. Besarnya manfaat tersebut juga dibarengi masalah penyalahgunaan dan penggunasalahan obat karena terbatasnya pemahaman. Pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan peserta tentang penggunaan obat, suplemen dan herbal pada olahragawan. Kegiatan pengabdian dilakukan dengan pendekatan penyuluhan kelompok dengan sasaran anggota komunitas olahraga. Kegiatan meliputi pengisian pre test, penyampaian materi, diskusi tanya jawab dan pengisian post test. Pre dan Post test berisi pertanyaan tentang pengetahuan DAGUSIBU peserta. Kegiatan pengabdian masyarakat ini memberi dampak pada peningkatan pengetahuan penggunaan obat, supplemen, dan herbal pada olahragawan. Peningkatan pengetahuan tertinggi terjadi pada domain cara mendapatkan dan menggunakan obat.
STUDI PENGGUNAAN STATIN TERHADAP PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA KEDIRI Anjani, Ade Giriayu; Anikasari, Erni; Pramasari, Nadia; Kusumaratni, Dyah Ayu; Handaru, Theo Aryaputra Cahya
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 1 (2026): MARET 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i1.48221

Abstract

Penyakit jantung koroner merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia, salah satu faktornya adalah dislipidemia. Statin adalah terapi lini pertama untuk menurunkan kadar kolesterol LDL. Dari beberapa penelitian diluar negeri disebutkan beberapa faktor yang dapat menyebabkan ketidakcapaian target terapi terhadap LDL-C diantaranya adalah gaktor regimen dosis yang tidak sesuai dan tingkat kepatuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik profil pasien dan ketepatan jenis, dosis, frekuensi penggunaan obat statin pada pasien PJK di RS Bhayangkara Kediri. Penelitian ini menggunakan deskriptif retrospektif berdasarkan data rekam medik pasien PJK rawat inap di RS Bhayangkara Kediri periode Januari–Desember 2024. Total sampel ada 80 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Data dianalisis secara univariat untuk melihat distribusi penggunaan statin dan kadar LDL. Penelitian ini menunjukkan Atorvastatin 20 mg merupakan jenis statin yang paling banyak digunakan pada 62 pasien (77,5%), Atorvastatin 40 mg sebanyak 17 pasien (21,3%) dan Simvastatin 10 mg 1 pasien (1,3%). Sebagian besar pasien memiliki kadar LDL >100 mg/dL berdasarkan satu kali pemeriksaan selama masa rawat inap. LDL yang masih tinggi tidak dapat langsung dikaitkan dengan efektivitas statin karena pemeriksaan lipid hanya dilakukan satu kali saat rawat inap. Karakteristik profil pasien PJK didominasi oleh pasien usia lanjut (>55 tahun) sebanyak 27 pasien (33,8%) dan mayoritas berjenis kelamin perempuan 45 pasien (56,3%), Pendidikan SMA/SLTA sebanyak 34 pasien (42,5%), Tidak Bekerja 48 pasien (60%). Penggunaan statin pada 80 pasien PJK di RS Bhayangkara Kediri menunjukkan tepat jenis obat (100%), tepat dosis 58 pasien (72,5%), dan tepat frekuensi (100%).
STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN BEDAH FRAKTUR KLAVIKULA DI RS MUHAMMADIYAH AHMAD DAHLAN KEDIRI DENGAN METODE ATC/DDD Dyah Ayu Kusumaratni; Eko Yudha Prasetyo; Irma Tristanti; Kumala Sari Poespita Dewi Wahyuni; Shofiatul Fajriyah
JURNAL PHARMA BHAKTA Vol 5 No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : FACULTY OF PHARMACY, INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56710/jpb.v5i1.124

Abstract

Latar belakang: Fraktur adalah keadaan abnormal pada tulang yang ditandai dengan terputusnya kontinuitas jaringan tulang. Penanganan yang dilakukan untuk fraktur umumnya adalah prosedur pembedahan, sehingga membutuhkan antibiotik untuk mencegah infeksi. Penggunaan antibiotik berlebihan memicu resistensi antibiotik, sehingga dibutuhkan evaluasi dengan metode ATC/DDD. Tujuan: evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien bedah fraktur klavikula dalam satuan DDD/100 hari rawat. Metode: studi observasional dengan metode retrospektif pada pasien rawat inap periode Januari – Desember 2023 menggunakan data rekam medis pasien berusia 18-65 tahun yang mendapatkan antibiotik yang dilakukan secara cross sectional. Hasil: Penggunaan antibiotik pada pasien bedah fraktur klavikula di RS Muhammadiyah Ahmad Dahlan Kediri meliputi cefotaxime (87 DDD/100HR), cefuroxime (50,41 DDD/100HR), cefoperazone (29,9 DDD/100HR), ceftriaxone (1,49 DDD/100HR), levofloxacin (0,50 DDDD/100HR), amoxicillin (0,25 DDD/100HR), kuantitas penggunaan antibiotik pada terapi fraktur klavikula yang paling umum digunakan adalah cefotaxime dengan nilai 87 DDD/100 patient-days. Simpulan: antibiotik yang masuk ke dalam segmen DU 90% Sebagian besar golongan sefalosporin generasi ketiga yaitu cefotaxime, cefuroxime dan cefoperazone
POLA PENGOBATAN PASIEN DISPEPSIA (ICD 10 : K-30) RAWAT JALAN DI RSUD X Kumala Sari Poespita Dewi Wahyuni; Wika Admaja; Dyah Ayu Kusumaratni; Umul Farida; Widya Khusnul Khulukia
JURNAL PHARMA BHAKTA Vol 5 No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : FACULTY OF PHARMACY, INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56710/jpb.v5i1.128

Abstract

Pendahuluan: Data rekamedik pasien dispepsia rawat jalan di RSUD X pada tahun 2021 menunjukkan bahwa gejala yang paling umum adalah mual, nyeri, dan muntah. Untuk mengurangi atau menghilangkan gejala yang timbul, pasien diberikan terapi farmakologis dan non farmakologis. Tujuan : untuk mengetahui pola pengobatan pada pasien dispepsia rawat jalan di RSUD X tahun 2021. Metode : menggunakaan metode deskriptif observasional dengan pendekatan retrospektif. Populasi sebanyak 423 pasien. Tehnik sampling yang digunakan adalah teknik puposive sampling dengan besar sampel 81 pasien. Hasil : Dari 81 pasien dispepsia rawat jalan di RSUD X pada tahun 2021, sebagian besar adalah perempuan, yaitu 55 orang (67,9%), dan hampir setengahnya adalah dari kelompok usia 41 hingga 60 tahun, yaitu 30 orang (37,0%). Hampir semua responden mengalami dispepsia dengan keluhan tunggal, yaitu 74 orang (90,1%). Sebagian besar pasien menerima obat tunggal sebanyak 44 orang (54,3%) dengan peresepan golongan PPI, yaitu Lansoprazole sebanyak 20 orang (24,7%) dan obat golongan Blocker H2, yaitu Ranitidine sebanyak 24 orang (29,6%). Sedangkan pola peresepan kombinasi yang paling banyak adalah Lansoprazole 30 mg dan Sucralfat sirup, yaitu sebanyak 17 orang (21,0%).