Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

The Relationship between Education Level and Age with Compliance in Reporting Needlestick Injuries Among Healthcare Workers at Hospital X Putri, Amilah Eka; Nadia Muthia Hanifah Amrin; Ummu Kamilah; Rendhar Putri Hilintang; A Ferina Herbourina Bonita
Jurnal EduHealth Vol. 16 No. 03 (2025): Jurnal EduHealt, Edition July - September , 2025
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Needlestick injuries are one of the most common occupational accidents among healthcare workers and carry the risk of transmitting bloodborne diseases such as HIV, HBV, and HCV. The reporting rate of these incidents remains low, influenced by various factors including individual characteristics such as education level and age. To determine the relationship between education level and age with compliance in reporting needlestick injury incidents among healthcare workers at Hospital X. This study used an observational analytic design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 70 healthcare workers who had experienced or were at risk of experiencing needlestick injuries, selected based on inclusion criteria. Data were collected using a structured questionnaire that had been tested for validity and reliability, then analyzed univariately and bivariately using the Chi-Square test with a significance level of p < 0.05. The majority of respondents held a bachelor's degree (57.1%) and were aged 20–29 years (61.4%). The highest reporting compliance was found in the bachelor's degree group (90%) and the 20–29 age group (81.4%). Chi-Square test results showed a significant relationship between education level and reporting compliance (p = 0.042) and between age and reporting compliance (p = 0.031). The main reason for not reporting was the perception of low infection risk (55.7%). Education level and age are significantly related to compliance in reporting needlestick injuries. Interventions to improve compliance should focus on continuous education, ease of reporting procedures, and strengthening the culture of occupational safety.
Kesiapsiagaan Civitas Akademika dalam menghadapi Bencana Gempa Bumi di Sekolah Menengah Kejuruan Nusantara Kota Palu syahrir, sabri; Miftahul Haerati Sulaiman; Ummu Kamilah; Putra Pratama Ramadhan
Health Safety Environment Vol 4 No 1 (2025): Health Safety Environment Journal (Maret 2025)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: The earthquake incident on September 28th 2018 in Central Sulawesi resulted in 2,256 people dying and the loss figure from this disaster reached 13.82 trillion rupiah. So it is necessary to create a preparedness system to minimize deaths and losses due to earthquakes. This research investigates the preparedness of the school members in facing earthquake disasters at SMK Nusantara, Palu City. Method: The type of research used is quantitative with a descriptive observational method. The sampling technique applied is total sampling, resulting in a total of 37 samples. The collected data were then statistically analyzed using univariate analysis. Results: The research results illustrate the preparedness of the school members workers at SMK Nusantara Kota Palu based on several variables. In the variable of knowledge and attitude towards disasters, the majority of the school members falls into the good category, with a percentage of 83.8%. In the variables of responding to the early warning system and resource mobilization, they fall into the prepared category, each with a percentage of 51.4%. Meanwhile, in the variable of emergency response planning, they are categorized as unprepared, with a percentage of 62.2%. Conclusion: The majority of the school members at SMK Nusantara Kota Palu falls into the prepared category regarding knowledge and attitude, early warning systems, and resource mobilization. However, they are not yet prepared in emergency response planning, which is one of the indicators of preparedness. Keywords: School Members; Earthquake; Preparedness; School
BODY SHAMING SEBAGAI STRESOR: PENILAIAN STRESS DAN COPING PADA REMAJA PEREMPUAN DI PALU Khairunnisaa Khairunnisaa; Ummu Kamilah; Rendhar Putri Hilintang; Amilah Ekaputri; Rifka Haristantia; Sahrul Sahrul; Nur Azizah Azzahra
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 7 No. 1: FEBRUARY 2026
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v7i1.48722

Abstract

Latar Belakang: Body shaming merupakan stresor sosial yang kerap dinormalisasi dalam relasi dekat dan berpotensi memicu distress serta coping berisiko pada remaja perempuan usia 18–24 perempuan. Tujuan: Penelitian ini mengeksplor body shaming sebagai stresor pada remaja perempuan di Kota Palu melalui proses primary–secondary appraisal, strategi coping, dan dampak psikologisnya. Metode: Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus menggunakan kerangka Transactional Model of Stress and Coping. Informan berjumlah 17 remaja perempuan usia 18–24 tahun yang pernah mengalami body shaming, direkrut secara purposive dan snowball sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dianalisis dengan analisis tematik. Hasil: Body shaming dialami sebagai stresor relasional yang berulang, terutama dari teman sebaya dan keluarga. Pada primary appraisal, pengalaman awal dimaknai sebagai candaan namun berkembang menjadi ancaman terhadap harga diri ketika terjadi berulang. Secondary appraisal menunjukkan keterbatasan sumber daya coping, sehingga strategi yang digunakan didominasi emotion-focused coping, dengan sebagian informan melakukan problem-focused coping berupa kontrol tubuh pada spektrum adaptif hingga maladaptif. Dampak yang muncul meliputi distress berkelanjutan, ruminasi, gangguan tidur dan pola makan, serta penarikan sosial. Kesimpulan: Body shaming berfungsi sebagai stresor sosial persisten yang membentuk lintasan appraisal coping menuju luaran psikologis merugikan. Perlunya intervensi promotif-preventif melalui penguatan norma anti–body shaming serta dukungan sebaya dan konseling ramah remaja guna mendorong coping adaptif.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERILAKU KESELAMATAN BERKENDARA SISWA SMAN 3 PALOPO Ummu Kamilah; Asti Hardianti; Muhammad Fandi Ahmad; Andi Mifta Farid Panggeleng
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 6 No. 3: OCTOBER 2025
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v6i3.47378

Abstract

Latar Belakang: Keselamatan berkendara pada remaja merupakan isu penting mengingat tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar sebagai pengguna sepeda motor. Tujuan: Mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap dengan perilaku keselamatan berkendara pada siswa SMA Negeri 3 Palopo. Metode: Pendekatan kuantitatif dengan desain analitik cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 165 responden yang dipilih secara random sesuai kriteria inklusi. Instrumen penelitian berupa kuesioner terstruktur yang terdiri dari item pengetahuan dengan pilihan jawaban benar-salah, serta item sikap dan perilaku dengan skala Likert. Pengumpulan data dilakukan menggunakan google form, dan hasilnya dianalisis dengan analisis univariat serta uji chi-square untuk analisis bivariat. Hasil: Hasil menunjukkan mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan cukup, sikap positif, dan perilaku keselamatan berkendara kategori cukup. Uji Chi-Square membuktikan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku (p= 0,000), serta sikap dengan perilaku keselamatan berkendara (p= 0,000). Kesimpulan: Temuan ini menegaskan bahwa semakin baik pengetahuan dan semakin positif sikap siswa, semakin aman pula perilaku berkendara yang ditunjukkan. Penelitian ini berkontribusi dalam memberikan gambaran pentingnya edukasi keselamatan berkendara di lingkungan sekolah dan keluarga, serta dapat menjadi dasar intervensi untuk menekan risiko kecelakaan pada remaja.
Edukasi Kesiapsiagaan Bencana Melalui Video Kepada Warga Sekolah MTs Sis Aljufri Tatura Palu Salmawati, Lusia; Pertiwi, Pertiwi; Kamilah, Ummu; Bonita, A. Ferina; Ekaputri, Amilah
JURNAL KESEHATAN TROPIS INDONESIA Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia
Publisher : PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63265/jkti.v3i4.124

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kerentanan bencana yang tinggi karena kondisi geografis, geologis, dan klimatologisnya. Kota Palu termasuk wilayah dengan risiko bencana besar, seperti gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi, yang menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan di lingkungan sekolah. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah memberikan edukasi kesiapsiagaan bencana melalui media video kepada warga sekolah MTs SIS Aljufri Tatura Palu. Kegiatan dilaksanakan pada 11 Agustus 2025 dengan melibatkan 30 peserta yang terdiri dari siswa, guru, dan staf sekolah. Metode yang digunakan meliputi tahap persiapan (koordinasi, penyusunan materi, dan pembuatan video), pelaksanaan (pemutaran video, penjelasan tambahan, serta diskusi interaktif), dan evaluasi (observasi serta tanya jawab untuk menilai pemahaman peserta). Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta antusias mengikuti pemutaran video, mampu mengulang kembali langkah-langkah dasar menghadapi bencana, dan aktif dalam diskusi terkait jalur evakuasi maupun peran guru saat darurat. Dokumentasi kegiatan memperlihatkan keterlibatan peserta yang tinggi, sehingga media video terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran mengenai kesiapsiagaan bencana. Namun, evaluasi masih terbatas pada tanya jawab sehingga belum dapat mengukur peningkatan pengetahuan secara kuantitatif. Kesimpulannya, penggunaan media audiovisual dapat menjadi strategi efektif dalam membangun budaya siaga bencana di sekolah serta menjadi langkah awal untuk memperkuat kapasitas kesiapsiagaan yang selanjutnya perlu dilengkapi dengan simulasi praktis dan evaluasi terukur.