Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

UJI AKTIFITAS MUKOLITIK GRANUL SEREH DAPUR (Cymbopogon citratus) DAN TEMU IRENG (Curcuma aeruginosa Roxb) SEBAGAI ALTERNATIF PENGOBATAN TUBERKULOSIS Rahmatullah, St.; Rahmasari, Khusna Santika; Irnawati, Irnawati; Permadi, Yulian Wahyu; Munaya, Arinal; Rahmadhani, Aulia
JFM (Jurnal Farmasi Malahayati) Vol 9, No 1 (2026)
Publisher : Jurnal Farmasi Malahayati (JFM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jfm.v9i1.23570

Abstract

Sereh (Cymbopogon citratus) dan temu ireng (Curcuma aeruginosa Roxb.) merupakan tanaman obat tradisional yang digunakan untuk mengatasi keluhan pernapasan. Keduanya mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid dan alkaloid yang berpotensi sebagai agen mukolitik. Pada penderita tuberkulosis (TBC), keluhan dahak kental dan kepatuhan obat yang rendah menjadi masalah yang sering muncul, sehingga diperlukan bentuk sediaan alternatif yang lebih praktis, salah satunya sediaan granul. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas mukolitik dan mutu fisik granul sereh dan temu ireng yang diformulasi melalui metode granulasi basah. Pengujian mukolitik dilakukan secara in vitro menggunakan mukus usus sapi sebagai model lendir manusia. Pengukuran viskositas dilakukan dengan viskometer digital pada konsentrasi 200 mg/mL untuk tiga formula: sereh tunggal, temu ireng tunggal, dan kombinasi sereh–temu ireng (1:1), serta dibandingkan dengan kontrol positif asetilsistein 0,1%. Uji mutu fisik granul meliputi organoleptik, waktu alir, sudut diam, kadar air, dan bulk density. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memenuhi mutu fisik granul dengan waktu alir 7,9–9,6 detik, sudut diam 26,5–30,1°, kadar air 5,8–6,2%, dan bulk density 0,43–0,46 g/mL. Aktivitas mukolitik terlihat dari penurunan viskositas mukus: sereh 190 ± 6 cP (26,9%), temu ireng 168 ± 5 cP (35,4%), dan kombinasi 138 ± 3 cP (46,9%), mendekati asetilsistein 120 ± 4 cP (53,8%)Disimpulkan bahwa kombinasi sereh–temu ireng memberikan efek mukolitik paling tinggi dan berpotensi  dikembangkan sebagai sediaan herbal pendukung terapi batuk pada penderita TBC.
Peran Pengawas Menelan Obat dalam Meningkatkan Kepatuhan Minum Obat Pasien Tuberkulosis di Puskesmas Kedungwuni I: The Role of Treatment Supporter in Improving Medication Adherence of Tuberculosis Patients at Kedungwuni I Public Health Center Handayani, Novita; Ningrum, Wulan Agustin; Rahmatullah, St.; Permadi, Yulian Wahyu; A’yun, Qurrata
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2026): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v8i1.2584

Abstract

Pulmonary tuberculosis remains a major health problem in Indonesia, including at the Kedungwuni I Community Health Center, which recorded 114 cases in 2024. Patient adherence to medication is a crucial factor in successful therapy, while the role of the Medication Observer (PMO) is to improve patient discipline. This study aims to analyze the relationship between the role of the PMO and adherence to tuberculosis patients at the Kedungwuni I Public Health Center. The research design used observational analysis with a cross-sectional approach on 45 tuberculosis patients selected by total sampling. Data were collected using a PMO role questionnaire and the MMAS-8 instrument, and analyzed using Spearman's rho test. The results showed that all patients had a PMO, mostly from their families, with high adherence at 62.2%. There was a significant positive correlation between the role of the PMO and medication adherence (r=0.326; p=0.030). The PMO plays a crucial role in improving compliance and supporting the success of the DOTS program. Keywords:          adherence, medication swallowing supervision, tuberculosis   Abstrak Tuberkulosis paru masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia, termasuk di Puskesmas Kedungwuni I yang mencatat 114 kasus pada tahun 2024. Kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat menjadi faktor penting keberhasilan terapi, sedangkan pendampingan Pengawas Menelan Obat (PMO) berperan dalam meningkatkan disiplin pasien. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan peran PMO dengan kepatuhan pasien tuberkulosis di Puskesmas Kedungwuni I. Desain penelitian menggunakan observasional analitik dengan pendekatan cross sectional pada 45 pasien tuberkulosis yang dipilih secara total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner peran PMO dan instrumen MMAS-8, dianalisis dengan uji Spearman’s rho. Hasil menunjukkan seluruh pasien memiliki PMO, mayoritas dari keluarga, dengan kepatuhan tinggi sebesar 62,2%. Terdapat hubungan positif signifikan antara peran PMO dan kepatuhan minum obat (r=0,326; p=0,030). PMO berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan dan mendukung keberhasilan program DOTS. Kata Kunci:         kepatuhan, pengawas menelan obat, tuberkulosis
Peningkatan Pengetahuan Penanganan Henti Jantung melalui Pendidikan Kesehatan bagi Pegawai Puskesmas Tondano Kota Pekalongan Irnawati, I; Fety, Yulli; Maududi, Abul Ala Al; Rahmatullah, St.
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 22nd University Research Colloquium 2026: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Henti jantung merupakan kondisi gawat darurat yang dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat apabila tidak segera ditangani dengan pertolongan pertama yang tepat. Pegawai Puskesmas memiliki peran penting sebagai penolong awal, namun tingkat pengetahuan tentang penanganan henti jantung masih bervariasi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan pegawai Puskesmas Tondano Kota Pekalongan mengenai penanganan henti jantung melalui pendidikan kesehatan. Metode yang digunakan adalah pendidikan kesehatan dengan pendekatan ceramah interaktif, diskusi, dan demonstrasi, yang diikuti oleh 30 pegawai Puskesmas. Pengukuran tingkat pengetahuan dilakukan sebelum dan sesudah kegiatan menggunakan kuesioner. Hasil menunjukkan bahwa sebelum pendidikan kesehatan, skor pengetahuan peserta berada pada kategori rendah hingga sedang, yaitu 30-60. Setelah kegiatan dilaksanakan, skor meningkat menjadi kategori tinggi dengan rentang 70-80. Peningkatan ini menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan efektif dalam meningkatkan pemahaman pegawai Puskesmas tentang penanganan henti jantung. Kegiatan ini diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan kesiapsiagaan tenaga kesehatan primer dalam memberikan pertolongan pertama pada kasus henti jantung di masyarakat.