Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

STUDI OBSERVASIONAL IDENTIFIKASI BAHAYA DAN RISIKO PADA PROSES LOADING KONTAINER DI OPEN YARD PT. X JAKARTA UTARA TAHUN 2024 CUT ALIA KEUMALA MUDA; FIERDANIA YUSVITA; DHEA JULIA ANDANI
Journal of Nursing and Public Health Vol 13 No 2 (2025)
Publisher : UNIVED Press, Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/jnph.v13i2.10001

Abstract

Suatu aktivitas loading unit mobil di area open yard ke dalam kontainer memiliki bahaya dan risiko yang melibatkan sumber daya manusia yang ahli, lingkungan kerja, proses, bahan, mengoperasikan alat pendukung pengangkatan serta pengangkutan berupa forklift. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bahaya dan risiko yang terjadi pada proses loading kontainer di open yard PT.X Jakarta Utara tahun 2024. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan desain studi observasional. Data dikumpulkan melalui kegiatan observasi, wawancara mendalam, dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahaya yang dominan muncul pada bahaya keselamatan yaitu operator tidak ahli serta alat yang digunakan tidak layak pakai dan tidak sesuai, sumber bahaya kesehatan yang sering terjadi yaitu posisi kerja tidak ergonomis dan debu kontainer. Risiko utama yang teridentifikasi meliputi menabrak operator lain, kerusakan alat, salah menggunakan alat, pekerjaan tertunda, paparan hawa panas pada operator, keluhanan MSDS, serta gangguan pernafasan dan juga pendengaran. Beberapa kendala yang dihadapi dalam proses loading meliputi cuaca ekstrim, tingginya aktivitas loading, kurangnya pengawasan, serta area loading dock yang terbatas. Selain itu, ditemukan bahwa manajemen risiko di PT.X belum diterapkan secara optimal sehingga belum dilakukan identifikasi bahaya dan penilaian risiko. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa Bahaya keselamatan yang sering terjadi yaitu perilaku tidak aman dan bahaya fisik. Bahaya kesehatan yang sering terjadi yaitu bahaya kimia dan bahaya ergonomi. Berdasarkan fakta diatas, diperlukan pihak manajemen dan unit K3 melakukan pengawasan secara rutin untuk mengurangi potensi kecelakaan, penyakit akibat kerja, dan meningkatkan keselamatan serta kesehatan kerja di area open yard.
Hubungan Pengetahuan dan Sikap terhadap Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Usia 6-59 Bulan di Kota Tangerang Rini Handayani; Ade Heryana; Deasy Febriyanty; Cut Alia Keumala Muda
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.23194

Abstract

ABSTRACT Exclusive breastfeeding can reduce infant morbidity and mortality, reduce the risk of chronic disease, and support infant development. Exclusive breastfeeding coverage in Tangerang City is 71,63%, which is still below the national targer of 80%. The aim of this reseach was to determine the relationship between knoeledge and attitudes toward exclusive breastfeeding practices in infants aged 6-59 months in Tangerang City. This study used a Cross-sectional design. The sample consisted of 96 mothers with infants aged 6-59 months in Tangerang City in 2022. Purposive sampling was used. The data collected were primary data. Univariate and bivariate analyses were performed using the Chi-square test. The result showed the highest proportions were found in not receiving exclusive breastfeeding, poor knowledge, and poor attitudes. The Chi-square test showed that knowledge and attitudes were related to exclusive breastfeeding behaviour. In conclusion, there is relationship between knowledge and attitudes toward exclusive breastfeeding practices in infants aged 6-59 months in Tangerang city. Keywords: Exclusive Breastfeeding, Knowledge, Attitudes, Behavior. ABSTRAK Pemberian ASI secara eksklusif dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi, mengurangi risiko penyakit kronis dan membantu perkembangan bayi. Cakupan ASI Eksklusif di Kota Tangerang adalah 71,63%, dimana angka ini masih berada dibawah target cakupan nasional yaitu 80%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap perilaku pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6-59 bulan di Kota Tangerang. Penelitian ini menggunakan desain studi Cross-sectional. Sampel penelitian adalah 95 ibu yang memiliki bayi berusia 6-59 bulan di Kota Tangerang tahun 2022. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Data yang dikumpulkan berupa data primer. Analisis yang dilakukan adalah univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Chi-square. Hasil analisis menunjukkan bahwa proporsi tertinggi terdapat pada tidak mendapatkan ASI Eksklusif, pengetahuan kurang baik dan sikap kurang baik. Uji Chi-square menunjukkan hasil pengetahuan dan sikap berhubungan dengan perilaku pemberian ASI eksklusif. Jadi, dapat disimpulkan ada hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap perilaku pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6-59 bulan di Kota Tangerang. Kata Kunci: ASI Eksklusif, Pengetahuan, Sikap, Perilaku.
Review of Active Fire Protection Compliance Based on National Fire Protection Association (NFPA) Standards in Building X, PT Y Nita, Widian; Cut Alia Keumala Muda; Fierdania Yusvita; Namira Wadjir Sangadji; Muhammad Rizky Jayana
Jurnal Kesehatan Masyarakat Perkotaan Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Kesehatan Masyarakat Perkotaan
Publisher : LPPM Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/jkmp.v6i1.3335

Abstract

Fire remains a global problem with a significant impact on life safety and economic losses. Data from the National Fire Protection Association shows that in 2023, there were approximately 1,389,000 fires in the United States, including 470,000 building fires, resulting in fatalities and billions of dollars in losses. Office buildings have a high fire risk due to the intensity of activity and the use of electrical installations, requiring fire protection systems that adhere to National Fire Protection Association (NFPA) standards. In 2025, a fire occurred on the first floor of Building X, South Jakarta, triggered by a short circuit due to an air conditioning drainage leak and unprotected cables. This study aimed to assess the compliance of fire extinguishers (APAR), hydrants, sprinklers, detectors, and fire alarms with NFPA standards. The method used was qualitative with a narrative design through observation using the NFPA checklist, measuring installation distances, documenting equipment, and reviewing documents, which were then analyzed chronologically (restorying). The results showed that 35.7% of fire extinguishers did not comply with NFPA 10, 13.3% of fire hydrants did not comply with NFPA 14, and 25% of sprinklers did not comply with NFPA 13. All detectors and alarms were 100% compliant with NFPA 72. Installation improvements, increased maintenance, and regular monitoring in accordance with NFPA standards are recommended to minimize fire risk.
Pelatihan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) di UPTD SDN Mekarjaya 11 Depok Fierdania Yusvita; Desyawati Utami; Cut Alia Keumala Muda
IJECS: Indonesian Journal of Empowerment and Community Services Vol. 3 No. 2 (2022): IJECS: Indonesian Journal of Empowerment and Community Services
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/ijecs.v3i2.2875

Abstract

Risiko kecelakaan dan berbagai kondisi darurat dapat terjadi di mana saja dan menimpa siapa saja, termasuk para siswa/i di sekolah dasar (SD) sehingga meningkatkan pengetahuan dan memberdayakan setiap warga sekolah untuk dapat melakukan pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan dan kondisi darurat di sekolah penting untuk dilakukan. Kegiatan pengabdian masyarakat yang berupa pemberian edukasi dan pelatihan P3K pada siswa/I sekolah dasar ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa/I tentang bahaya dan risiko keselamatan di sekolah, mengenal kecelakaan yang dapat terjadi di sekolah serta meningkatkan kemampuan siswa/I SD dalam memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). Kegiatan ini dilaksanakan melalui kegiatan ANR-Minerva goes to school yang diselenggarakan oleh Minerva.Cons dan ANR pada Bulan Oktober 2022 dengan Tema “Pelatihan P3K-Dokcil di UPTD SDN Mekarjaya 11”. Sasaran kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah siswa/I SDN Mekarjaya 11, dengan jumlah peserta sebanyak 31 orang siswa/i. Evaluasi pelaksanaan kegiatan abdimas menunjukkan terjadinya peningkatan pengetahuan sebesar 26% pada siswa/I tentang jenis bahaya dan kecelakaan yang ada di sekolah dan keterampilan siswa/I dalam  melakukan P3K pada luka di kepala dan tangan dengan menggunakan mitela/ kain segitiga. Diharapkan kegiatan P3K ini akan berlangsung secara kontinyu dan bertahap pada jenis P3K lainnya yang dapat dilakukan jika terjadi kecelakaan di sekolah.
Edukasi Kesehatan Kerja Tentang Gangguan Ginjal Akut Pada Pekerja PT. Andalan Utama Transportasi Otomotif Tahun 2024 Fierdania Yusvita; Cut Alia Keumala Muda; Namira Wadjir Sangadji
IJECS: Indonesian Journal of Empowerment and Community Services Vol. 5 No. 1 (2024): IJECS: Indonesian Journal of Empowerment and Community Services
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/ijecs.v5i1.5088

Abstract

Gangguan Ginjal Akut merupakan kerusakan secara mendadak pada ginjal yang terjadi karena penyumbatan urin saat melalui ginjal. Hal ini dapat dialami oleh setiap populasi termasuk pekerja di sektor logistik sehingga perlu dilakukan edukasi tentang kesehatan kerja terkait gangguan ginjal akibat kerja. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan pengetahuan pekerja tentang pentingnya penerapan kesehatan kerja di tempat kerja khususnya berkaitan dengan masalah gangguan ginjal akut akibat kerja. Pengabdian Masyarakat ini dilaksanakan pada Bulan Januari 2024 pada 21 orang perwakilan pekerja. Hasil kegiatan ini berupa terjadinya peningkatan pengetahuan peserta, diukur berdasarkan perbedaan nilai rata-rata hasil pre-test dan post-test peserta abdimas. Nilai rerata pre-test adalah sebesar 46,71 sedangkan nilai rerata saat post-test adalah sebesar 75,23 sehingga dapat disimpulkan terjadi peningkatan sebesar 28,52%. Disarankan kepada perusahaan untuk meningkatkan frekuensi kegiatan edukasi dan promosi secara reguler, setidaknya per 2-3 bulan khususnya berkaitan dengan topik kesehatan kerja sehingga derajat kesehatan pekerja dapat tercapai dengan optimal.
Hubungan Pengawasan & Pengetahuan terhadap Perilaku Penggunaan Alat Pelindung Diri PT. Kajima Indonesia PCG Central Java Industrial Project Tahun 2025 Ayu Widyani; Eka Cempaka Putri; Cut Alia Keumala Muda; Desyawati Utami
Sehat Rakyat: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2025): Agustus 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Penelitian Pengabdian Algero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54259/sehatrakyat.v4i3.5543

Abstract

Work accidents in the construction sector are often triggered by workers' risky behavior in using personal protective equipment (PPE). This research aims to determine the relationship between knowledge and supervision and the behavior of using PPE in construction workers. The research method uses a quantitative approach with a cross sectional design. The number of respondents was 50 workers selected through total sampling. Data was collected using questionnaires and observations, then analyzed using the Chi-Square test. The research results showed that there was a significant relationship between knowledge and PPE use behavior (p < 0.05) and between supervision and PPE use behavior (p < 0.05). Workers with low knowledge tend to be undisciplined in the use of PPE. Consistent supervision contributes to increased worker discipline. This research confirms that knowledge and supervision influence the behavior of using PPE. Companies need to improve their PPE provision and storage mechanisms, increase the effectiveness of supervision, develop risk-based work procedures according to the type of work, involve senior workers, and enforce administrative sanctions to curb risky behavior and prevent workplace accidents.
ANALISIS TINGKAT RISIKO POSTUR KERJA MENGGUNAKAN METODE REBA PADA ANGGOTA KASSA STERIL DI INSTALASI CSSD RUMKITAL Dr. MINTOHARDJO JAKARTA PUSAT CUT ALIA KEUMALA MUDA; JANO DAMANIK; DESYAWATI UTAMI; MIRTA DWI RAHMAH RUSDY
Journal of Nursing and Public Health Vol 13 No 1 (2025)
Publisher : UNIVED Press, Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/jnph.v13i1.8517

Abstract

Pendahuluan: Postur kerja yang dikemukakan oleh Tarwaka adalah posisi tubuh yang diterapkan pada saat seseorang melakukan pekerjaannya. Postur kerja terbagi menjadi 2 yaitu postur netral adalah postur yang baik, karena keadaan seluruh bagian tubuh berada dalam posisi yang wajar atau semestinya ketika melakukan pekerjaan dan postur janggal adalah sebaliknya. Postur kerja yang kurang baik dapat mengakibatkan risiko terjadinya keluhan musculoskeletal pada pekerja. Instalasi CSSD menunjang pendistribusian alat dan bahan yang akan digunakan pada setiap ruangan baik IGD, kamar operasi, rawat inap, ICU, poli klinik, penunjang medic, ruang bayi dan pekerjaan sterilisasi alat-alat medis dengan menggunakan alat bantu mesin autoklaf dan dry heat, khususnya dalam penyiapan kassa steril guna menjaga agar kondisi bahan tidak terkontaminasi. Metode: Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Hasil dan Pembahasan: Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan tekniktotal sampling dimana jumlah sampel yang diambil adalah 10 responden. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah univariat dengan analisa risiko menggunakan metode REBA dan software Ergo Fellow. Pekerja yang memiliki risiko tinggi sebanyak 9 anggota (90%) dan yang memiliki risiko sedang sebanyak 1 anggota (10%). Kesimpulan: Hasil menunjukan bahwa proporsi tertinggi yaitu dengan tingkat risiko tinggi sebanyak 9 anggota dan proporsi terendah dengan tingkat risiko sedang sebanyak 1 anggota.
Analisis Penyebab Tenaga Kesehatan Terpapar Coronavirus Disease 19 (Covid-19) Di RS X Tahun 2020 Setyarini Dwi Ratna; Decy Situngkir; Putri Handayani; Cut Alia Keumala Muda; Ahmad Irfandi
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 14 No 4 (2022): JIKM Vol. 14, Edisi 4, November 2022
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v14i4.247

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Tenaga kesehatan merupakan setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan yang memiliki pengetahuan dan/atau ketrampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan. Peran dan kerja nyata tenaga kesehatan dari berbagai jenis profesi sebagai garda terdepan dalam upaya penanganan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) sangat krusial untuk mempercepat penanganan pandemi ini. Memberikan pelayan kepada pasien, terutama kepada pasien Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) menyebabkan tenaga kesehatan rentan untuk terpapar Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran penyebab paparan covid-19 pada tenaga kesehatan. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Informan dalam penelitian ini berjumlah 6 orang dengan rincian 4 orang informan utama, 1 orang informan kunci dan 1 orang informan pendukung. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara dan telaah dokumen. Hasil: Ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai dengan peraturan yang berlaku, tetapi ditemukan pengunaan masker N95 dengan sistem UV, tenaga kesehatan bekerja melebihi jam kerjanya dan tidak dapat beristirahat diantara jam kerja dikarenakan penggunaan APD. RS X telah memberikan pendidikan dan pelatihan kepada tenaga kesehatan, tetapi belum menyeluruh dikarenakan jam pelaksanaan dilakukan di jam kerja. Namun, pengawasan penggunaan APD dan pemantauan proaktif deteksi dini di RS X sudah dilakukan sesuai dengan peraturan yang ada. Kesimpulan: Pada penggunaan masker N95 dengan sistem UV, sebaiknya digunakan dengan maksimal pemakaian 8 jam. Lembar checklist pemenuhan AP Ddiperlukan untuk memantau ketersediaan APD disetiap unit, manajemen rumah sakit dianjurkan dapat mengantur jam kerja dengan menerapkan waktu kerja lebih pendek seperti dengan menerapkan 4 shift kerja setiap harinya. Kata Kunci: Tenaga kesehatan, Covid-19, Penyebab, APD, Pengawasan Abstract Background: Health workers are people who perpetuate themselves in the health sector who have knowledge and/or skills through education in the health sector. The real role and work of health workers from various types of professions as the front line in efforts to deal with Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) is very crucial and needed to accelerate the handling of this pandemic. Providing services to patients, especially to patients with Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) causes health workers to be vulnerable to being exposed to Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Methods: This research is descriptive with a qualitative approach. This study's participants comprised six people with details of 4 main informants, one key informant and one supporting informant. Observation, interview and document review methods carried out data collection. Results: Availability of Personal Protective Equipment (PPE) under applicable regulations, but it was found that using N95 masks with UV systems, health workers worked beyond their working hours and could not rest between working hours due to the use of PPE. Hospital X has provided education and training to health workers, but it needs to be more comprehensive because the hours of implementation are carried out during working hours. However, monitoring the use of PPE and proactive monitoring of early detection at Hospital X have been carried out under existing regulations. Conclusion: An N95 mask with a UV system should be used for a maximum of 8 hours. The PPE fulfilment checklist sheet is needed to monitor the availability of PPE in each unit; it is recommended that hospital management arrange working hours by implementing shorter working hours, such as four work shifts every day. Keywords : Health workers, Covid-19, Causes, PPE, Supervision
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keluhan Gangguan Penurunan Fungsi Penglihatan pada Pekerja Pengelasan di Wilayah Kelurahan Kedaung Kali Angke dan Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat Ainnaya Natin Ristanti; Putri Handayani; Veza Azteria; Cut Alia Keumala Muda
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 15 No 1 (2023): JIKM Vol. 15, Edisi 1, Februari 2023
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v15i1.328

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Data Puskesmas Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat pada bulan Januari hingga Oktober 2021 tercatat 113 pekerja industri informal mengalami gangguan penurunan fungsi penglihatan. Studi pendahuluan pada 20 pekerja pengelasan, mayoritas mengalami iritasi mata dan penurunan fungsi penglihatan. Penelitian bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan gangguan penurunan fungsi penglihatan pada pekerja pengelasan di wilayah Kelurahan Kedaung Kali Angke dan Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Metode: Metode kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Sampel sejumlah 59 orang dari 15 bengkel pengelasan. Variabel dependen adalah keluhan gangguan penurunan fungsi penglihatan, variabel independen adalah umur, masa kerja, lama paparan, dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Data yang digunakan berupa data primer dan sekunder. Analisis menggunakan uji statistik regresi linear sederhana dan chi-square. Hasil: Sebanyak 31 pekerja pengelasan (52,5%) mengalami keluhan berat gangguan penurunan fungsi penglihatan. Uji statistik menunjukkan ada hubungan antara umur (P-value = 0,004) dan masa kerja (P-value = 0,020) dengan keluhan gangguan penurunan fungsi penglihatan. Hasil observasi lapangan menunjukkan rendahnya penggunaan APD (25,4%) pada pekerja pengelasan. Kesimpulan: Umur dan masa kerja merupakan faktor utama yang berhubungan dengan keluhan gangguan penurunan fungsi penglihatan pada pekerja pengelasan di Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Disarankan agar pemilik bengkel las menetapkan jam kerja dan waktu istirahat yang sesuai. Saran untuk rendahnya penggunaan APD pada pekerja adalah pemilik bengkel las wajib menyediakan APD yang tepat guna dan layak pakai sesuai kebutuhan, memberikan edukasi dan memastikan para pekerja patuh dalam menggunakan APD dengan baik dan benar. Factors Related with Complaints of Visual Impairment in Welding Workers in Kedaung Kali Angke and Kapuk Village, Cengkareng District, West Jakarta Abstract Background: Data from the Cengkareng District Center, West Jakarta, from January to October 2021, was recorded that 113 informal industry workers experienced impaired vision function. A preliminary study of 20 welding workers showed that most experienced eye irritation and decreased visual function. This study aimed to analyze the factors associated with complaints of decreased visual function in welding workers in the Kedaung Kali Angke and Kapuk Village, Cengkareng District, West Jakarta. Methods: Quantitative method with a cross-sectional study design. A sample of 59 people from 15 welding workshops. The dependent variable is complaints of impaired visual function. The independent variables are age, years of service, length of exposure, and use of PPE. The data used are primary and secondary. Data analysis used simple linear regression and chi-square statistical tests. Results: 31 welding workers (52.5%) experienced severe complaints of impaired visual function. Statistical tests showed a relationship between age (P-value=0.004) and years of service (P-value=0.020) with complaints of decreased visual function. The field observations showed the low use of PPE (25.4%) among welding workers. Conclusion: Age and years of service are the main factors associated with complaints of decreased visual function in welding workers in Cengkareng District, West Jakarta. Based on the results of this study, it is recommended that the welding workshop owner set reasonable working hours and rest periods. The suggestion for the everyday use of PPE for workers is that the welding workshop owner is obliged to provide appropriate and suitable PPE for use as needed, provide education and ensure that workers are obedient in using PPE properly and correctly.
Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri pada Pekerja Proyek Pengendalian Banjir Sunga Bekasi dan Faktor yang Mempengaruhinya Dian Septiyani; Namira Wadjir Sangadji; Putri Handayani; Cut Alia Keumala Muda
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 16 No 3 (2024): JIKM Vol. 16, Edisi 3, Agustus 2024
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v16i3.468

Abstract

Abstract Background: Based on preliminary observations made by researchers to 10 workers of the Bekasi River flood control project package 1, 8 workers did not comply with ppe in accordance with company standards. The purpose of this study was to determine the factors related to compliance with the use of Personal Protective Equipment (PPE). Method: This study had a sample of 88 people with total sampling technique, using quantitative method with cross sectional design. This study used the primary data collection method obtained through interviews and observations using checklist sheets and secondary data obtained from company documents in the form of company descriptions, company procedures and labor lists. Results: There is a relationship between knowledge and compliance of PPE use (P Value 0.013 and PR = 2.461), there is a relationship between ppe use attitudes and compliance (P Value 0.000 and PR = 0.419) and there is a relationship between supervision and compliance of PPE use (P Value 0.000 and PR = 0.432). Conclusion: Knowledge, attitude and supervision are factors related to the compliance of the use of PPE in workers of the Bekasi River Flood Control Project Package 1. It is recommended to ensure that educational programs run, evaluate employment contracts with foremen and subcontractors and provide strict sanctions to workers who do not comply with the use of PPE. Keywords: construction, compliance, PPE, knowledge, attitude, supervision