Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

VALUE RATIONALITY OF PEOPLE LIVING ON THE SLOPE OF MERAPI IN YOGYAKARTA Napsiah, Napsiah; Gunawan, Budhi; Abdoellah, Oekan Soekotjo; Sulaeman, Munandar
Analisa: Journal of Social Science and Religion Vol 1, No 1 (2016): Analisa: Journal of Social Science and Religion
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18784/analisa.v1i1.201

Abstract

This study aims to describe rationality of the people who live in the eruptionprone areas of Mount Merapi and who refuse to be relocated. A qualitative research method with interpretative phenomenological analysis is used in this research. Informants are selected by snowball sampling technique. The location of research is in Pangukrejo village which is a village in the southern slopes of Merapi. The results show that people think Merapi as a place of origin where they obtain senses of comfort and safety. Merapi is also a place where they acquire and preserve community value system. Merapi is a symbol of their dignity that must be maintained. In this relation, eruption is interpreted as destiny, eruption is interpreted as destiny of God that can not be circumvented. At that time, their living conditions were on the bottom and could be overcome by means of mutual cooperation to return to normal condition. The value rationality motivate them to resettle in their homes after the great eruption of Merapi.
PENINGKATAN PEMAHAMAN MASYARAKAT TERHADAP MANFAAT KEGIATAN URBAN FARMING Wulandari, Indri; Abdoellah, Oekan Soekotjo; Suparman, Yusep; Mulyanto, Dede; Basagevan, Rahma Maulia Fadli; Fianti, Nafa Destri
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 2 (2023): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v6i2.45634

Abstract

Pangan merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia. Untuk memenuhi kebutuhan pangan di wilayah perkotaan, umumnya mengandalkan hasil produksi pertanian dari wilayah pedesaan. Namun, hal ini menyebabkan alih fungsi lahan di wilayah pedesaan, yang berdampak pada penurunan kualitas lingkungan. Dengan demikian, masyarakat di wilayah perkotaan dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Upaya yang dapat dilakuakn ileh masyarakat perkotaan adalah dengan melakukan kegiatan urban farming. Disamping memberikan manfaat untuk memenuhi kebutuhan pangan sebagai bentuk ketahanan pangan, urban farming juga memberikan manfaat lain dan belum banyak dipahami oleh masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan penyuluhan ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan atau meningkatkan pemahaman pada masyarakat terhadap manfat urban farming. Pengumpulan data dilakukan dengan metode campuran (mix method) antara metode kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengumpulan data kualitatif adalah dengan wawancara mendalam pada informan dan untuk data kuantitatif dengan menyelenggarakan pre-test dan post-test pada responden, yang akhirnya dilakukan penilaian terhadap masing-masing tes. Masyarakat memahami pentingnya kegiatan pertanian untuk ketahanan pangan dan memiliki keingintahuan untuk melakukannya. Akan tetapi, masyarakat belum memahami manfaat kegiatan urban farming lainnya, selain untuk memenuhi kebutuhan pangan. Setelah dilakukan pemberian materi dan informasi mengenai tujuan dan manfaat urban farming, melalui skema penyuluhan, terjadi peningkatan pemahaman pada responden. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya hasil penilaian post-test dibandingkan pre-test sebesar 20%. Dengan mengikuti kegiatan penyuluhan ini masyarakat memahami bahwa urban farming penting untuk ketahanan pangan serta juga memberikan pendapatan rumah tangga dan meningkatkan kualitas lingkungan di wilayah perkotaan.
MITIGASI PERUBAHAN IKLIM: PENGUATAN PENGETAHUAN DAN KAPASITAS MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH ORGANIK Wulandari, Indri; Abdoellah, Oekan S.; Suparman, Yusep; Mulyanto, Dede; Utama, Gemilang Lara
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 3 (2024): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v7i3.51351

Abstract

Waste is something that is always produced daily. Therefore, its management is a challenge, both on a micro and macro scale. Human activities related to household waste management contribute to climate change and this is a concern for farmers, including urban farmers. Climate change that occurs can have a negative impact on agricultural activities. On the other hand, farmers also need to manage their urban agricultural land efficiently. This extension aims to increase public understanding of how to process household waste into liquid organic fertilizer independently. The method used is quantitative, using a questionnaire during the extension to assess community knowledge. The extension also demonstrated the processing of waste into liquid organic fertilizer, by showing simple tools, materials, and procedures. In addition, post-extension assistance was also provided to increase community capacity in managing waste into liquid organic fertilizer. The results showed that there was an increase in community knowledge regarding waste management. Ultimately, this initiative provides ongoing support to the community, helping them successfully process household organic waste into liquid organic fertilizer. Thus, the efforts made by the community in processing waste can potentially mitigate climate change. Sampah merupakan sesuatu yang selalu dihasilkan dalam kehidupan. Oleh karena itu, pengelolaannya menjadi tantangan, baik dalam skala mikro maupun makro. Aktivitas manusia terkait pengelolaan sampah rumah tangga berkontribusi terhadap perubahan iklim dan hal ini menjadi perhatian bagi para petani, termasuk petani perkotaan. Perubahan iklim yang terjadi dapat memberikan dampak negatif terhadap kegiatan pertanian. Di sisi lain, para petani juga perlu mengelola lahan pertanian perkotaannya secara efisien. Penyuluhan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang cara mengolah sampah rumah tangga menjadi pupuk organik cair secara mandiri. Metode yang digunakan adalah kuantitatif, dengan menggunakan kuesioner saat penyuluhan untuk menilai pengetahuan masyarakat. Dalam penyuluhan juga didemonstrasikan pengolahan sampah menjadi pupuk organik cair, dengan memperlihatkan alat, bahan, dan prosedur sederhana. Disamping itu, juga dilakukan pendampingan pasca penyuluhan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam melakukan pengelolaan sampah menjadi pupuk organik cair. Hasilnya menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat terkait pengelolaan sampah. Pada akhirnya, inisiatif ini memberikan dukungan berkelanjutan kepada masyarakat, membantunya berhasil memproses sampah organik rumah tangga menjadi pupuk organik cair. Dengan demikian, usaha yang dilakukan masyarakat dalam pengolahan sampah ini dapat berpotensi untuk memitigasi perubahan iklim.
The Traditional Gender Conceptions Among Sundanese in Rural Java and its Impact on the Community’s Post-Disaster Management Shidqi, Fathimah; Abdoellah, Oekan S; Supangkat, Budiawati
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 8 No 1 (2025)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/ganaya.v8i1.3656

Abstract

This study analyzes the traditional gender conceptions within the Sundanese community in Cikembang Village, West Java, explores the factors that shape these conceptions, and examines their impact on the community’s post-disaster management. Indonesia is prone to disasters, especially in West Java, where most of the Sundanese community resides. In 2021, a flash flood disaster occurred in one of the rural areas of West Java, namely in Cikembang Village. Gender as part of the socio-cultural structure influences how communities experience and respond to disasters, therefore, it is very important to study disaster events from a gender perspective. The research method used in this study is qualitative with a case study approach, and the data was collected through in-depth interviews and observations. This study shows that the Sundanese community has traditional gender conceptions, assigning distinct responsibilities to men and women. Men are seen as leaders and providers, while women are expected to nurture and fulfill reproductive roles. These gender conceptions are shaped by socio-cultural values and Islamic religious teachings. The rural context of Cikembang further solidifies the dominance of these traditional gender conceptions. These traditional gender conceptions greatly affect labor division in community post-disaster management. Men's dominance in leadership results in women's underrepresentation in decision-making, minimizing their contributions. It is essential to understand gender dynamics in disasters and recognize women's roles in resilience, as this can reveal how socio-cultural factors influence disaster-related social dynamics.
Gerakan Ekofeminisme Melawan Pembangunan Perusahaan Listrik Tenaga Uap 2 Indramayu (Tinjauan Perspektif Politik Rekognisi) Cusdiawan, Cusdiawan; Abdoellah, Oekan S.; Manan, Firman
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 6, No 1 (2022): Pebruari, 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jim.v6i1.2022.143-151

Abstract

Artikel ini menganalisis faktor yang menyebabkan perempuan di Desa Mekarsari melakukan gerakan sosial dari perspektif proses pembingkaian. Penelitian dalam artikel ini menggunakan metode kualitatif, karena yang diteliti dalam artikel ini adalah proses interaksi ataupun pertarungan wacana yang memengaruhi kemunculan gerakan. Artikel ini berargumen bahwa ekofeminsme dalam kaitannya dengan politik rekognisi sebagai wacana penting dalam gerakan, karena dalam pembangunan Perusahaan Listrik Tenaga Uap di desa Mekarsari, bukan hanya mengancam kelestarian lingkungan, juga dianggap mengabaikan hak-hak para perempuan, baik dalam prosesnya maupun manfaatnya. Bagi para perempuan, memperjuangkan ruang hidup dan lingkungan, dimaknai juga sebagai perjuangan atas harga diri dan martabat. Artikel ini menemukan perbedaan makna dan kepentingan akan “pengakuan” bagi individu yang memilih terlibat di dalam gerakan dan yang menolaknya.Kata kunci: ekofeminisme, gerakan sosial, pembingkaian, pengakuan
Socio-Ecological Effect of Transition Landscape Dynamics from Agroforests to Monoculture Plantation in Upper Citarum Watershed Nugraha, Luthfan Meilana; Hakim, Lukmanul; Abdoellah, Oekan Soekotjo; Darmawan, Arief; Winarno, Bondan
Jurnal Sylva Lestari Vol. 12 No. 2 (2024): May
Publisher : Department of Forestry, Faculty of Agriculture, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jsl.v12i2.813

Abstract

Agroforests in many tropical countries have long been acknowledged as substantially necessary to contribute to biodiversity conservation and community livelihood. The importance of agroforest biodiversification is now overlooked and replaced by a simplified structure due to the impact of agricultural commercialization. Land use changes have occurred in the Upper Citarum Watershed over time, converting traditional agroforests into monoculture plantations at the expense of their socio-ecological function. This paper aimed to analyze land use change dynamics and the effect of biodiversity loss on the socio-economy aspect of the rural agricultural landscape in the Upper Citarum Watershed. We conducted a survey of 95 respondents of community farmers in the agricultural landscape in Sukapura and Resmi Tingal Village using questionnaire guidelines and direct interviews to gather information. There was a significant decrease in plant diversity in some plot agroforests, which, in the previous study, was dominant to be reduced even to local extinctions. The results also show that the farmer poverty index according to BPS criteria is 12.63% of respondents who are below the poverty line. Our results imply that preserving mixed-garden (talun) patches in a landscape dominated by cash-crop gardens is one of the strategies that could conserve landscape biodiversity and increasingly a sustainable livelihood. Keywords: agriculture commercialization, agroforestry, land use change, poverty index, rural development
KINSHIP PRACTICE OF TOBA BATAK MOSLEM AS A LAND CONTROL STRATEGY IN ASAHAN Ritonga, Sakti; Abdoellah, Oekan S.
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jcims.v4i1.7356

Abstract

Abstract: This study shows the use of Toba Batak Moslem kinship relations as a livelihood strategy for land control in the changing space of power since the Malay-Islamic era in Asahan through the perspective of Bourdieu's theory of practice. The research was conducted using ethnographic methods. The analysis units are determined in stages starting from the family, descent group, clan association, and the Toba Batak community in the hinterland areas of Bandar Pulau, Bandar Pasir Mandoge and Buntu Pane. The results of the study found that adaptation strategies have expanded alliances and increased the practical function of the Toba Batak kinship in an effort to control land as the most important source of livelihood as a corporate kinship unit. Contestation of land is getting more complicated as the influence of plantation corporate capital and state power enters the village. When dealing with the interests of other larger institutions such as plantation companies and the state in terms of land disputes, it appears that the use of clan networks or descent groups is limited in function, when compared with the competition for resources among Toba Batak families.   Keywords: kinship practices, livelihood strategies, migration, Toba Batak Moslem
Power Relations Between Actors in Coffee Agroforestry in Rural West Java: A Political Ecology Study Rezeki, Evi Sri; Abdoellah, Oekan S.; Mulyanto, Dede
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 2 (2026): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i2.67913

Abstract

ABSTRACTThis article examines the coffee agroforestry system in West Java not merely as an environmental conservation strategy, but as an arena of contested power relations. The study aims to analyze power relations in the form of social relations of land and tree production, labor, and capital through a political ecology and actor-oriented framework. Drawing on an ethnographic approach, the research is based on participatory observation and in-depth interviews with farmers, laborers, environmental activists, policymakers, and local capital providers. The findings show that tree ownership functions as a primary claim over space amid tenure insecurity. Relations between formal landowners, cultivators/farmers, and laborers are not only hierarchical but also ambivalent. Farmers deploy everyday forms of resistance and survival strategies such as intercropping vegetables, refusing to pay profit-sharing or rent, ceb-cul arrangements, pruning coffee trees, and killing shade trees. The study concludes that coffee agroforestry is not simply a conservation practice, but a contested socio-political space. It calls for greater recognition of farmers’ rights and more equitable redistribution of power.Keywords: Power Relations; Coffee Agroforestry; Social Relations Of Production; Political Ecology; Ethnographic. ABSTRAKArtikel ini mengkaji sistem agroforestri kopi di Jawa Barat tidak hanya sebagai strategi konservasi lingkungan, tetapi juga sebagai arena kontestasi kekuasaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis relasi kuasa dalam bentuk relasi sosial produksi lahan serta pohon, tenaga kerja, dan modal menggunakan kerangka pemikiran ekologi politik dan berorientasi aktor. Pendekatan etnografis penelitian ini didasarkan pada observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan petani, buruh tani, aktivis lingkungan, pemangku kebijakan, dan pemodal lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan pohon berfungsi sebagai klaim utama atas ruang di tengah ketidakpastian tenurial lahan. Relasi antara pemilik lahan formal, penggarap, dan buruh bukan hanya bersifat hirarkis, tetapi juga bersifat ambivalen. Petani kecil mengembangkan berbagai bentuk perlawanan sehari-hari dan strategi bertahan hidup seperti tumpangsari sayuran, menolak membayar bagi hasil dan sewa, sistem ceb-cul, pemangkasan pohon kopi, dan mematikan pohon penaung. Studi ini menyimpulkan bahwa agroforestri kopi bukan sekadar praktik konservasi, tetapi ruang sosial-politik yang diperebutkan. Studi ini menyarankan pengakuan yang lebih besar terhadap hak-hak petani kecil dan kebijakan redistribusi kuasa yang adil.Kata kunci: Agroforestri Kopi; Relasi Sosial Produksi; Relasi Kekuasaan; Ekologi Politik; Etnografi
Analysis of The Sustainable Development Policies of Local Communities in Indonesia Iqra Sugandi; Oekan S Abdoellah; Budhi Gunawan
TRANSFORMASI: Jurnal Manajemen Pemerintahan Vol. 14 No. 2 (2022): TRANSFORMASI: Jurnal Manajemen Pemerintahan
Publisher : Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/jtp.v14i2.2258

Abstract

Historically, development has been viewed as an economic process that generates many social difficulties, ranging from increased environmental degradation and inequality to social fragility within the local community’s culture. The problems require a new strategy by applying the principles of human and ecological-based development. This study takes a qualitative approach to analyze the sustainable development policies of local communities and resolve environmental problems. Meanwhile, SDGs are localized through the Minister of Villages, Development of Disadvantaged Regions, and Transmigration’s Regulation No. 21 of 2020 on General Guidelines for Village Development and Empowerment of Village Communities. SDGs Desa lists the 18 objectives as a policy direction for rural community development and empowerment. The integration of sustainable development into village planning can increase success in designing a policy focused on the effectiveness of implementing, evaluating, reporting, and achieving goals. By adopting these strategies, the village can build awareness of the importance of tackling environmental degradation. Keywords: Development; Government; Policy; Sustainability Abstrak Pembangunan selalu dilihat sebagai fenomena ekonomi. Banyaknya permasalahan sosial yang diakibatkan oleh proses pembangunan yang hanya berorientasi pada ekonomi, mulai dari kerusakan lingkungan yang semakin meningkat, ketimpangan sosial, hingga kerawanan sosial dalam budaya masyarakat setempat. Permasalahan tersebut memerlukan strategi pembangunan baru, dengan menerapkan prinsip-prinsip pembangunan yang berbasis manusia, dan berbasis ekologi. Penelitian ini bertujuan menganalisa penerapan SDGs pada tingkat lokal desa, untuk mengetahui tantangan serta solusi agar penerapannya menjadi maksimal. Penelitian ini merupakan studi lapangan menggunakan pendekatan kualitatif dengan mempelajari berbagai literatur tentang keterlibatan pemerintah lokal dalam melaksanakan kebijakan pembangunan berkelanjutan, permasalahan kerusakan lingkungan, dan pendekatan solusi yang tepat. Lokalisasi SDGs diwujudkan melalui Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pedoman Umum Pembangunan Desa dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, dengan mencantumkan 18 tujuan SDGs Desa sebagai arah kebijakan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. Mengintegrasikan pembangunan berkelanjutan ke dalam perencanaan pembangunan desa dapat meningkatkan keberhasilan dalam merancang kebijakan yang lebih menitikberatkan pada efektivitas perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, pelaporan, dan pencapaian tujuan pembangunan desa. Dengan mengadopsi hal tersebut, desa akan mampu membangun kesadaran akan pentingnya menanggulangi kerusakan lingkungan yang ada. Kata kunci: Keberlanjutan; Pemerintah Lokal; Pembangunan
Collaborative Post-Mining Area Management in Kampoeng Reklamasi Air Jangkang, Bangka Regency, Indonesia Indi Agung Pratama; Oekan S. Abdoellah; Budhi Gunawan
TRANSFORMASI: Jurnal Manajemen Pemerintahan Vol. 15 No. 2 (2023): TRANSFORMASI: Jurnal Manajemen Pemerintahan
Publisher : Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/jtp.v15i2.3094

Abstract

Abstract The mining sector is one of the significant contributors to revenue structure of the country but despite evident material benefits, certain problems often occur. One example is found in Tin mining, where aside from creating pits, reclaimed post-mining areas still retain the potential for community cultivation due to residual tin deposits. To address these concerns, efforts have been made to engage various stakeholders through the collaborative management method in the post-mining area. Currently, this method is being implemented in Kampoeng Reklamasi Air Jangkang, Merawang District. Therefore, this study aimed to measure the achievements of collaborative post-mining area management implemented at Kampoeng Reklamasi Air Jangkang. The mixed methods were used with a concurrent design measured through three variables, namely Economic, Social, and Ecological. The results showed that collaborative post-mining area management fell into the "successful" category with a success coefficient of 83.64%. Although positive changes were observed, improvements were needed in several aspects to achieve greater impacts. The impacts were also currently localized to specific program indicators within the region showing the need for more in-depth studies at a broader level and scale to measure the changes generated on a larger scope. Keywords: Management; Collaborative; Post-mining Area Abstrak Sektor pertambangan menjadi salah satu sektor yang berkontribusi besar dalam struktur pendapatan negara. Namun, dibalik keuntungan materiil yang diterima, persoalan-persoalan yang ditimbulkan kerap terjadi. Salah satu contoh terjadi pada pertambangan Timah, selain menyisakan lubang-lubang bekas galian, kawasan pascatambang yang telah dilakukan upaya reklamasi oleh perusahaan masih berpotensi untuk digarap kembali oleh masyarakat karena masih dapat ditemukan sisa-sisa endapan timah. Salah satu upaya yang dilakukan pada kegiatan reklamasi yaitu dengan melibatkan berbagai stakeholders melalui pendekatan Collaborative Management. Saat ini, pengelolaan kawasan pascatambang yang telah dilakukan dengan menggunakan pendekatan Collaborative Management berada di Kampoeng Reklamasi Air Jangkang, Kecamatan Merawang. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur capaian pengelolaan kawasan pascatambang secara kolaboratif yang dilaksanakan di Kampoeng Reklamasi Air Jangkang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Metode Penelitian Campuran (Mixed Methods) dengan model concurrent design yang diukur melalui tiga variabel yaitu Ekonomi, Sosial dan Ekologis. Dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil capaian pengelolaan kawasan pascatambang secara kolaboratif yang dilakukan di Kampoeng Reklamasi Air Jangkang masuk ke dalam kategori “berhasil” dengan koefisien keberhasilan sebesar 83,64%. Secara dampak yang dihasilkan telah memberikan perubahan ke arah positif namun masih perlu adanya perbaikan di beberapa sisi agar dapat membawa perubahan yang lebih baik lagi. Selain itu, pada beberapa indikator, dampak masih dirasakan dalam skala program yang berada dalam lingkup kawasan. Perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam serta pada level dan skala penelitian yang lebih luas, agar dapat mengukur dampak yang dihasilkan dalam lingkup yang lebih besar. Kata kunci: Pengelolaan; Kolaboratif; Kawasan Pascatambang