Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Etika dalam Pemikiran Hamka dan Relevansinya Terhadap Toleransi Antarumat Beragama Fadilla, Nur; Hendri, Novi
Indo Green Journal Vol. 4 No. 1 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i1.157

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep etika dalam pemikiran Hamka serta relevansinya terhadap penguatan toleransi antarumat beragama dalam masyarakat plural. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena meningkatnya sikap intoleransi, eksklusivisme, dan konflik sosial berbasis agama. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) dan pendekatan analisis pemikiran tokoh. Data dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa etika dalam pemikiran Hamka merupakan integrasi antara iman, akhlak, dan kehidupan sosial. Etika dipahami sebagai ekspresi kesadaran tauhid yang melahirkan sikap adil, jujur, dan menghormati sesama. Dalam konteks hubungan antarumat beragama, toleransi bukan berarti relativisme kebenaran, melainkan sikap etis yang lahir dari kedewasaan iman. Relevansi pemikiran Hamka terlihat pada tiga aspek: teologis, moral-filosofis, dan sosial. Dengan demikian, pemikiran Hamka memberikan kontribusi penting dalam membangun toleransi yang berakar pada etika keberagamaan.
MEDIA DAKWAH KONTEKSTUAL BERBASIS KEARIFAN LOKAL: PELESTARIAN BUDAYA DAN PENGUATAN IDENTITAS KEAGAMAAN DI DESA UJUNG PASIR Rahmat Pike Pirnanda; Hendri, Novi; Wirman, Hardi Putra; Jafar, Muslim
HIKMAH : Jurnal Dakwah Dan Sosial Volume 6, No. 1 Maret 2026
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah (Universitas Islam Bandung)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/hikmah.v6i1.8965

Abstract

Abstract. This article examines Hari Raya Enam in Ujung Pasir Village as a medium of da’wah rooted in local wisdom and practiced as contextual religious communication. The study uses Asmuni Syukir’s theory of culture-based da’wah media, which emphasizes integrating Islamic values into local cultural forms accepted by society. This research is a qualitative field study in which the researcher directly engaged with the community through observation, participation, and dialogue to understand the meanings, practices, and social dynamics of the tradition. The findings show that Hari Raya Enam functions as an effective medium of da’wah because it conveys messages of faith, worship, and social harmony. Da’wah is delivered through cultural activities, allowing participants to receive religious values naturally without feeling lectured or pressured. Through active involvement in the celebration, community members indirectly become recipients of da’wah messages. Therefore, Hari Raya Enam can be regarded as a practical and relevant form of da’wah media that strengthens both religious values and community solidarity in local society. Abstrak. Artikel ini mengkaji Hari Raya Enam di Desa Ujung Pasir sebagai media dakwah yang berakar pada kearifan lokal dan dipraktikkan sebagai komunikasi keagamaan yang kontekstual. Penelitian ini menggunakan teori media dakwah berbasis budaya Asmuni Syukir, yang menekankan integrasi nilai-nilai Islam ke dalam bentuk budaya lokal yang diterima masyarakat. Penelitian ini merupakan studi lapangan kualitatif, di mana peneliti terlibat langsung dengan masyarakat melalui observasi, partisipasi, dan dialog untuk memahami makna, praktik, serta dinamika sosial tradisi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hari Raya Enam berfungsi sebagai media dakwah yang efektif karena menyampaikan pesan-pesan keimanan, ibadah, dan keharmonisan sosial. Dakwah disampaikan melalui kegiatan budaya sehingga peserta menerima nilai-nilai keagamaan secara alami tanpa merasa diceramahi atau ditekan. Melalui keterlibatan aktif dalam perayaan, masyarakat secara tidak langsung menjadi penerima pesan dakwah. Oleh karena itu, Hari Raya Enam dapat dipandang sebagai bentuk media dakwah yang praktis dan relevan dalam memperkuat nilai keagamaan serta solidaritas masyarakat lokal.
Makna Filosofis Tradisi Bagatik Tulak Bala Pada Masyarakat Nagari Koto Tinggi Kuranji Hilir Kecamatan Sungai Limau Kabupaten Padang Pariaman Aprila, Yoli; Hendri, Novi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna filosofis tradisi bagatik tulak bala pada masyarakat Nagari Koto Tinggi Kuranji Hilir, Kecamatan Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan dan pendekatan filosofis. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagatik tulak bala merupakan tradisi keagamaan yang dilaksanakan sekali dalam setahun sebagai ikhtiar kolektif untuk menolak bala atau bahaya melalui zikir bersama yang dipimpin oleh ulama dan berkaitan dengan amalan tarekat Syattariyah. Prosesi tradisi ini meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan penutupan. Pada tahap pelaksanaan, masyarakat berzikir sambil berarak keliling kampung dengan membawa obor dan diiringi gandang tasa. Simbol-simbol yang digunakan, seperti daun-daunan, jeruk nipis, kemenyan, obor, gandang tasa, dan sedekah, mengandung makna filosofis berupa perlindungan, penyucian, keseimbangan spiritual, dan kebersamaan. Temuan ini menunjukkan bahwa tradisi bagatik tulak bala bukan hanya ritual adat, tetapi juga media pewarisan nilai religius, sosial, dan budaya yang berfungsi menjaga keselamatan serta keharmonisan masyarakat.
Membangun Keharmonisan Dalam Kegiatan Rutinan Majelis Taklim Nuruzzahro Bukittinggi Nova Ramadhani, Sri; Hendri, Novi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian mengenai keharmonisan dalam komunitas keagamaan terus berkembang, namun penelitian yang secara spesifik mengkaji proses pembentukan keharmonisan melalui kegiatan rutin majelis taklim dalam konteks lokal masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana keharmonisan dibangun dalam kegiatan rutin Majelis Taklim Nuruzzahro Bukittinggi, meliputi bentuk kegiatan, dinamika sosial, dan dampaknya terhadap jamaah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif studi lapangan, melibatkan informan dari pengurus dan anggota majelis yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan rutin majelis taklim berperan penting dalam membangun keharmonisan melalui penguatan akidah, pembentukan akhlak Qur’ani, peningkatan ketaatan terhadap syariat, serta tumbuhnya rasa kebersamaan dan kepedulian sosial. Kegiatan keagamaan seperti pengajian, zikir, dan pembacaan shalawat juga mempererat hubungan emosional antarjamaah. Temuan ini menegaskan bahwa majelis taklim berfungsi sebagai ruang pembinaan spiritual sekaligus sosial. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan kajian keharmonisan berbasis nilai Islam serta menjadi rujukan praktis bagi pengelola majelis taklim.
Students’ Perceptions of Internalizing Local Cultural Accommodation Values in Religious Moderation Gucandra, Yudi; Hendri, Novi; Susanti, Riri
Ahlussunnah: Journal of Islamic Education Vol. 5 No. 1 (2026): April
Publisher : STIT Ahlussunnah Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58485/jie.v5i1.601

Abstract

This study aims to describe the perceptions of sixth-semester students in the Islamic Religious Education Program toward the internalization of local cultural accommodative values in religious moderation. The accommodative dimension remains one of the least empirically explored aspects compared to other dimensions of religious moderation. This study employed a descriptive quantitative approach using a survey method. The sample consisted of 80 students selected from a total population of 400 sixth-semester students through stratified random sampling. The research instrument was a Likert-scale questionnaire ranging from 1 to 5, developed based on four sub-indicators: recognition of cultural diversity, appreciation of local traditions, integration of Islam and culture, and cross-ethnic inclusive attitudes. The data were analyzed using descriptive statistics. The findings revealed that the average perception score reached 4.47 out of 5, which falls into the very high category. The recognition of cultural diversity sub-indicator obtained the highest score, while cross-ethnic inclusive attitudes received the lowest score. These findings indicate a tendency toward a gap between cognitive understanding and behavioral implementation in religious moderation. The study concludes that the learning process has successfully internalized local cultural accommodative values at a very high level; however, strengthening the behavioral dimension through more structured cross-cultural practices remains necessary.