Claim Missing Document
Check
Articles

KANDUNGAN BAHAN ORGANIK SEDIMEN DAN KADAR H2S AIR DI DALAM DAN DI LUAR TEGAKAN MANGROVE DESA BEDONO, KABUPATEN DEMAK Sa’diyah, Halimatus; Afiati, Norma; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 1 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.476 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i1.22527

Abstract

Kawasan mangrove dapat memproduksi bahan organik dari proses dekomposisi serasah yang jatuh yang menjadi penyuplai nuterien ke lingkungannya. Proses tersebut menggunakan oksigen terlarut yang apabila oksigen terlarut habis maka proses tersebut beralih ke proses dekomposisi secara anaerob yang menyebabkan terbentuknya senyawa H2S. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kandungan bahan organik sedimen dan kadar H2S air di dalam dan di luar kawasan mangrove serta untuk mengetahui hubungan kandungan kadar H2S air dengan bahan organik sedimen dan oksigen terlarut di kawasan mangrove desa Bedono. Metode penelitian adalah metode survey. Penelitian ini dilakasanakn pada bulan Mei- Juni 2017 di lokasi yang mewakili kawasan mangrove dan lingkungan sekitarnya. Data yang diukur adalah suhu air, kecerahan, kedalaman, kecepatan arus, oksigen terlarut, pH, bahan organik sedimen dan H2S air yang dilaksanakan empat kali dengan selang pengukuran dua minggu. Hasil yang didapat yaitu suhu air 28-31oC, kecerahan 14,5-68 cm, kedalaman 33-165 cm, kecepatan arus 0-0,1 m/s, oksigen terlarut , pH 5-6, bahan organik sedimen 7,73-20,27%, H2S air 0,003-0,037 mg/l. Kandungan bahan organik sedimen dan kadar H2S air tertinggi di dalam kawasan mangrove dengan rata-rata 16,36% dan 0,031 mg/l, dan terendah di luar kawasan mangrove dengan rata-rata 9,78% dan 0,01 mg/l. Kadar H2S tinggi di dalam kawasan mangrove dan lebih rendah di luar kawasan mangrove. Kadar H2S air dengan bahan organik sedimen dan oksigen terlarut berhubungan linier dengan persamaan H2S= 0,027 + 0,001BOS- 0,006 DO (r= 0,7246, BOS= Bahan Organik Sedimen, DO= Dissolved Oxygen). Mangroves produce organic matter from the decomposition of falling leaves, twigs etc, which supply nutrient to the environment. The process uses dissolved oxygen; when dissolved oxygen exhausted, it switches into anaerobic decomposition which causes the formation of H2S compounds. This study aims to knowing differences in sediment organic materials and H2S within and adjacent of mangrove areas and to determine the relation of H2S with sediment organic materials and dissolved oxygen in the mangrove areas of Bedono. Survey method is refered, and the study was conducted in May - June 2017 on locations representing mangrove areas and the surrounding environment. The data measured are water temperature, brightness, depth, current speed, dissolved oxygen, pH, sediment organic materials and H2S in the water. Sampling was conducted four times every fortnight. The result of the water temperature is  28-31 ° C, brightness 14.5 to 68 cm, 33-165 cm depth, current speed 0-0.1 m/s, dissolved oxygen 2-5,2 mg/l, pH 5-6, sediment organic material 7,73 to 20.27%, H2S 0.003 to 0.037 mg/l. Sediment organic materials and H2S were highest within the mangrove area, with an average 16.36% and 0.031 mg/l, and the lowest outside of mangrove area with an average 9.78% and 0.01 mg/l. H2S higher in the inside of  the mangrove areas compared to the outside of it. The relation of H2S with sediment organic materials and dissolved oxygen is linearly related according to the equation H2S= 0.027+ 0.001SOM- 0.006DO (r= 0.7246, SOM= Sediment Organic Materials, DO= Dissolved Oxygen).
STRUKTUR POPULASI TIRAM (Saccostrea cuccullata Born, 1778) PADA EKOSISTEM MANGROVE DAN NON-MANGROVE DI SEMARANG, JAWA TENGAH Rismawati, Ulfah; Afiati, Norma; Suprapto, Djoko
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.782 KB)

Abstract

Tiram (Saccostrea cuccullata), merupakan salah satu sumberdaya perikanan yang memiliki nilai ekonomis penting. Pengambilan tiram umumnya dilakukan secara tidak teratur baik jumlah, ukuran dan waktunya sehingga diduga hal tersebut berpengaruh terhadap struktur populasi. Penelitian ini dilakukan di Pantai Mangkang yang merupakan daerah bermangrove dan Pantai Maron yang non-mangrove, Semarang Jawa Tengah selama bulan Juli – September 2014, yang bertujuan untuk mengkaji perbedaan struktur populasi tiram berdasarkan perbedaan pada ekosistem mangrove dan non-mangrove. Metode survei deskriptif digunakan dalam penelitian ini dengan teknik pengambilan sampel bersifat purposive random. Jumlah sampel tiram yang terkumpul selama tiga bulan (Juli – September, 2014) pada daerah bermangrove yaitu 209 individu, sedangkan pada daerah non-mangrove berjumlah 253 individu. Kisaran panjang cangkang tiram pada ekosistem mangrove yaitu 12,00 – 82,20 mm dan untuk berat basah total yaitu 1,01 – 55,03 g. Pada daerah non-mangrove kisaran panjang cangkang yaitu 21,30 – 82,00 mm dan berat basah totalnya 2,04 – 83,45 g. Kerapatan populasi tiram di daerah bermangrove berkisar 16 – 96 individu/m2 dan pada daerah non-mangrove yaitu 24 – 104 individu/m2. Pola distribusi pada ekosistem mangrove dan non-mangrove umumnya mengelompok. Sifat pertumbuhan yang didapat dari analisis hubungan panjang berat yaitu alometrik negatif, dimana b<3. Pada pengamatan Indeks STORET (Kepmen LH No. 115, 2003) diperoleh hasil yaitu perairan Pantai Mangkang (Mangrove) dan Pantai Maron (Non-Mangrove) masuk kategori perairan tercemar sedang. Oysters (Saccostrea cuccullata) is the one of the fisheries resource that has an important economic value. Collection of oysters usually done in irregular either total, size and time allowing allegedly this impact on the structure of population. This research is conducted in Mangkang Beach wich is a mangrove areas and Maron beach is a non-mangrove areas, Centtral Java Sea during July – September 2014 with a purpose to study the differences of structure population based on mangrove and non-mangrove areas. Methods that used in this study was descriptive survey with purposive random sampling. Variable observed  i.e  physic, chemist, biology, social and economic factors. Total of sample that collected during three months (July – September) in mangroves areas 209 individuals and in non-mangrove areas 253 individuals. The range of shell length in mangroves ecosystem is 12,00 – 82,20 mm and the total weight is 1,01 – 55,03 g. In non-mangrove ecosystem the range of shell length is 21,30 – 82,00 mm and the total weight is 2,04 – 83,45 g. Population density of oyster in mangrove and non-mangrove areas is generally clumped. Correlation of length and weight of oysters has a meaning negative allometric both of mangrove and non-mangrove, wich  b<3. Sex ratio of oysters both of mangrove and non-mangrove areas is not balanced, wich the male less than female. The results of STORET Index (Kepmen LH No. 115, 2003) categorised that both the waters in mangrove and non-mangrove ecosystem as relatively contaminated.
ANALISIS TROPHIC STATE INDEX CARLSON AIR MUARA SUNGAI BANJIR KANAL TIMUR, SEMARANG Khasani, Andro; Afiati, Norma; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 1 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1164.059 KB)

Abstract

ABSTRAKSungai Banjir Kanal Timur merupakan salah satu sungai besar yang dimiliki Kota Semarang. Sungai ini berfungsi dalam sistem drainase dan pengendalian banjir. Beberapa aliran sungai mengalir ke Sungai Banjir Kanal Timur dan berakhir di muara. Muara merupakan segmen yang akan menampung semua beban yang berasal dari sungai. Oleh karena itu, status trofik perairan di muara, khususnya Sungai Banjir Kanal Timur perlu dievaluasi dalam rangka pengelolaan lingkungan dan pemanfaatan sumberdaya alamnya. Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Mei 2016 di muara Sungai Banjir Kanal Timur Semarang. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kualitas air melalui status kesuburan perairan di muara Sungai Banjir Kanal Timur, berdasarkan metode Trophic State Index (Carlson, 1977) dan metode STORET dalam Kepmen LH No. 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air dan PP RI No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Variabel utama yang digunakan pada Analisis TSI Carlson adalah kandungan total N, total P, klorofil-a, dan kecerahan air (angka Secchi disk). Metode penelitian menggunakan metode deskriptif dengan penentuan lokasi sampling bersifat purposive sampling. Hasil yang diperoleh dari analisis TSI (Carlson, 1977) berkisar 53 – 57. Kriteria TSI menunjukkan bahwa TSI TP < TSI SD > TSI CHL dan TSI TP > TSI SD > TSI CHL. Pendugaan interpretasi hubungan tersebut menjelaskan bahwa fosfor membatasi biomasa alga (rasio TN/TP lebih besar dari 33:1), dan nilai TSI Chl yang rendah disebabkan beberapa faktor lain selain fosfor seperti, pemangsaan oleh zooplankton, kandungan nitrogen, dan sebagainya yang sifatnya mengurangi biomasa algae. Di sisi lain, analisis (Indeks STORET) menggunakan Kepmen LH No. 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air menghasilkan skor, yaitu -8. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kesuburan perairan muara Sungai Banjir Kanal Timur, Semarang menurut TSI (Carlson 1977) berada pada status eutrofik ringan atau (Indeks STORET, Kepmen LH No. 115 / 2003) termasuk kategori perairan tercemar ringan. Kata Kunci : Status Mutu Perairan, Trophic State Index Carlson (1977),  Kepmen  LH No. 115 Tahun 2003, muara Sungai Banjir Kanal Timur Semarang. ABSTRACTEast Banjir Kanal River is one of the largest river owned by the city of Semarang. The river has a main function as drainage system and flood control of the city. Several streams flowing into the East Banjir Kanal River and end at the estuary. As estuary accommodates all loads from the river, therefore, the trophic status of waters in particular for East Banjir Kanal River needs to be evaluated in the context of environmental management and utilization of natural resources. This work was conducted during May 2016 in the estuary of East Banjir Kanal River. The objective was to determine river water quality using Trophic State Index by Carlson (1977) and the STORET method in the Decree of the Minister of Environment of The Republic of Indonesia (Kepmen LH) No. 115/2003 regarding Guideline for the Determination of Water Quality Status and The Government Regulation of The Republic of Indonesia No 81/2001 regarding Water Quality Management and Water Pollution Control. The main variables used in the analysis of Trophic State Index by Carlson, 1977 are total N, total P, chlorophyll-a and water clarity. Descriptive method is used to determine random sampling points. The average results of all stations analysed by means of Trophic State Index (Carlson, 1977) ranged from 53-57. The interpretation showed that TSI TP < TSI SD > TSI CHL and TSI TP > TSI SD > TSI CHL, these mean that phosphorus limit the biomass of algae (the ratio TN/TP larger than 33:1). Furthermore, lower TSI Chl values in all sampling point were due to several factors other than phosphorus, such as predatory zooplankton, nitrogen which worked to reduce algal biomass. The STORET analysis in the Decree of the Minister of Environment of The Republic of Indonesia (Kepmen LH) No. 115/2003 about Guideline for the Determination of Water Quality Status gives an overall score of  minus 8. It is concluded that by applying both methods, the estuary of the East Banjir Kanal, Semarang during the course of the study were on light eutrophic status and categorized as lightly polluted waters. Keywords:  Water Quality Status, Trophic State Index Carlson (1977), Decree of the Minister of Environment of The Republic Indonesia (Kepmen LH) No. 115/2003, Estuary of East Banjir Kanal River Semarang. 
SEBARAN BAKTERI HETEROTROF, BAHAN ORGANIK TOTAL, NITRAT DAN KLOROFIL-A AIR MUARA SUNGAI CIPASAURAN, SERANG Santi, Denita Irma; Afiati, Norma; Pujiono Wahyu Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 3 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1000.421 KB)

Abstract

ABSTRAK Muara Sungai Cipasauran merupakan ekosistem yang dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk kegiatan rumah tangga. seperti mandi, mencuci pakaian dan kegiatan nelayan. Aktivitas kegiatan tersebut menyebabkan masuknya air limbah ke saluran air sungai lainnya. Hilir Cipasauran Muara, berakhir di Pantai Anyer. Kegiatan penangkapan ikan di sekitar Pantai Anyer menunjukkan kualitas air yang relatif baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan sebaran bakteri heterotrofik, bahan organik total, nitrat dan klorofil-a, serta untuk mengetahui hubungan antara variabel. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah air sampel dari 4 lokasi di muara Cipasauran ke Pantai Anyer. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan dengan interval dua minggu, masing-masing dengan dua kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah bakteri heterotrofik  di empat stasiun berkisar antara 250-2500 cfu/ml, kandungan bahan organik jumlah berkisar 27,83-100,64 mg/l, konsentrasi nitrat berkisar antara 4,12-11,8 mg/l, dan klorofil-a pada empat stasiun berkisar 0,01- 6,31 mg/m3. Muara Sungai Cipasauran termasuk dalam kategori perairan yang subur (Eutrofik). Analisis regresi berganda memperlihatkan bakteri heterotrof signifikan pada bahan organik total (0,02< p<0,05). Adapun, ekstrak klorofil-a yang dihasilkan dari fitoplankton lebih tergantung kepada kadar nitrat (0,03<p< 0,05) dibandingkan terhadap kadar bahan organik total (0,11>p>0,05), sehingga unsur hara yang lebih banyak dibutuhkan adalah nitrat. Namun tingginya nitrat dapat memicu terjadinya eutrofikasi.  Kata Kunci : Bakteri Heterotrof; Bahan Organik Total; Nitrat; Klorofil-A; Muara Sungai Cipasauran ABSTRACT Cipasauran estuarine ecosystems utilized by local communities for household activities, such as bathing, washing clothes and fishing activities. These activities led to an influx of wastewater into waterways of the river. Downstream Cipasauran Estuary, ends at Anyer Beach. Fishing activities around Anyer Beach indicates the relatively good water quality. The purpose of this study is to determine the distribution of heterotrophic bacteria, total organic material, nitrate and chlorophyll-a, as well as to study the relationship between those variables. The material used in this study is water sampled from 4 location, at the estuary of Cipasauran down to Anyer Beach. The study used purposive sampling technique. Sampling was conducted at intervals of two weeks, each with two replication. The results showed that number heterotrophic bacteria in four stations ranged between 250-2500 cfu/ml, where as total organic materials ranged from 27.83 to 100,64 mg/l, nitrates ranged from 4.12 to 11.8 mg/l, and  chlorophyll-a at four stations ranged from 0.01 to 6.31 mg/m3. Cipasauran estuarine included in the fertile waters (Eutrofik). Regression analysis showed a significant increase in heterotrophic bacterial organic matter total (0.02<p<0.05). So, extract the chlorophyll-a resulting from more phytoplankton depend on nitrate levels (0.03<p<0.05) compared against the total organic material levels (0.11>p>0.05), so the more nutrient elements needed is nitrate. But high nitrate can trigger the onset of eutrophication.                Keywords: Heterotrophic Bacteria, Total Organic Material, Nitrate, Chlorophyll-a Cipasauran Estuary 
STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON UNTUK MENGEVALUASI TINGKAT PENCEMARAN DALAM RANGKA PENGELOLAAN SUNGAI KALIGARANG SEMARANG Utami, Dian Ayu Sapta Nur; Afiati, Norma; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sungai Kaligarang merupakan salah satu sungai terbesar di Kota Semarang yang berperan penting bagi masyarakat sekitarnya, karena menyediakan bahan baku air bersih dan di sisi lain juga dianggap sebagai tempat pembuangan sampah bagi masyarakat di sekitarnya, yang berdampak pada pencemaran perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan status mutu air berdasarkan tiga pendekatan, yaitu menggunakan struktur komunitas fitoplankton untuk menghitung kelimpahan fitoplankton, jumlah genera, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, indeks dominansi; melalui perhitungan SI dan TSI; dan menggunakan Kepmen LH No. 115 Tahun 2003 berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001.Penelitian yang dilaksanakan bulan Desember 2013 ini menggunakan metode studi kasus yang bersifat deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan pada tiga stasiun dimana setiap stasiun terdiri dari tiga titik. Pengambilan sampel fitoplankton menggunakan plankton net, kemudian diawetkan menggunakan Lugol iodine dan diidentifikasi di laboratorium. Analisis data yang dilakukan yaitu membandingkan data yang diperoleh dengan baku mutu perairan yang disyaratkan oleh pemerintah, kemudian data yang diperoleh diolah dengan metode Storet serta menentukan tingkat pencemaran air melalui perhitungan SI dan TSI.Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas fitoplankton yang diperoleh adalah kelas Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae, Florideophyceae, Euglenophyceae, Charophyceae dan Synurophyceae. Komunitas fitoplankton yang mempunyai kelimpahan tinggi adalah Nitzschia. Kelimpahan fitoplankton yang didapatkan tergolong sedang (mesotroph). Parameter kualitas air sesuai dengan baku mutu yang disyaratkan oleh pemerintah, kecuali kandungan fosfat yang melebihi persyaratan yang telah ditentukan. Berdasarkan perhitungan SI, TSI dan metode Storet menunjukkan skor -8 yang mempunyai arti Sungai Kaligarang termasuk kelas B dengan mutu air baik tetapi tercemar ringan.  Kaligarang is one of the largest river in Semarang City. The river has an important role for the surrounding community, as it provides raw materials for clean water and also regarded as a waste basket for communities around the river. The purpose of this study was to determine pollution level in the river by means of three approaches i.e. phytoplankton community, Saprobic Index (SI) and Tropical Saprobic Index (TSI), as well as water quality standard of the Minister of Environment Decree No. 115, 2003 pursuant to rule the Government of the Republic of Indonesia No. 82, 2001. This study was conducted in December 2013 by using a descriptive method. Sampling was conducted at three stations, where each station consists of three points. Phytoplankton sampled passively by sieving 100 liter waters into the net bucket, preserved in Lugol iodine and identified in the laboratory. Phytoplankton data were analysed  for their indices of community structure and Saprobic indices, whereas the routine physical and chemical data were analysed by means of Storet methods according to the Minister of Environment Decree No. 115, 2003.The results showed that phytoplankton community consist of 7 classes, i. e. Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae, Florideophyceae, Euglenophyceae, Charophyceae and Synurophyceae. As a summary of the findings, Kaligarang river is lightly polluted. This has been withdrawn from the result of the study, i. e. planktonic diversity and dominance indices ranging from --- to --- and --- to --- consecutively, Saprobic and Tropic Saprobic Indices ranging from --- to --- and --- to ---, whereas Storet calculations gave a scor -8, means this B category river is still in good water quality but lightly polluted.
KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN CUMI KUPING (Euprymna morsei, Verrill) YANG DIDARATKAN DI PPI TAMBAKLOROK, SEMARANG Wahyuningrum, Martha; Afiati, Norma; Harwanto, Dicky
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.362 KB)

Abstract

 Euprymna morsei masuk dalam famili sepiolidae. Jenis ini tidak memiliki cangkang dalam atau yang biasa disebut dengan gladius seperti pada jenis cumi-cumi lain pada umumnya. E. morsei hidup di daerah benthopelagic, biasanya banyak ditemukan di perairan pantai yang memiliki dasar berpasir. Spesies ini banyak dijumpai di perairan Indonesia, Malaysia, Filipina dan tersebar di seluruh Jepang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik morfometri E. morsei, hubungan panjang berat dan pertumbuhan allometrik pada E. morsei. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2012 – Februari 2013 di PPI Tambaklorok, Semarang, Jawa Tengah yang dilanjutkan dengan identifikasi dan pengukuran di Laboratorium Hidrobiologi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Tembalang, Semarang. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sistematik random sampling, yaitu penarikan sampel secara sistematik (pengambilan sampel pada tempat dan selang waktu yang sama) pada suatu populasi yang homogen. Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah Panjang Mantel (PM), Panjang Mata (PM), Tinggi Mata (TMt), Panjang Kepala (P), Panjang Lengan (PL), Panjang Tentakel (PT), Panjang Sirip (PS), Lebar Sirip (LS), Lebar Badan (LB), dan Berat Basah (Bb). Nilai hubungan panjang berat E. morsei mempunyai persamaan W = 0,00285L2,416 dengan nilai slope (b) adalah sebesar 2,416. Nilai slope (b) tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan E. morsei bersifat allometrik negatif. Nilai faktor kondisi pada penelitian ini adalah sebesar 1,019, kisaran faktor kondisi tersebut menunjukkan bahwa jenis ini memiliki bentuk tubuh yang agak gemuk.
STRUKTUR POPULASI DAN ANALISIS PARASITOLOGI KEONG MAS (Pomacea canaliculata Lamarck 1819) DI DESA JABUNGAN, SEMARANG Widiastuti, Lusiana Rahayu; Afiati, Norma; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.269 KB)

Abstract

Desa Jabungan memiliki sawah yang cukup luas dengan beberapa jenis Gastropoda didalamnya. Gastropoda yang banyak ditemui adalah keong mas (Pomacea canaliculata) yang merupakan salah satu sumberdaya perikanan tawar yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat sekitar. Penelitian yang dilaksanakan pada Juni – Juli 2014 ini bertujuan untuk mengaji struktur populasi serta mengetahui jenis parasit yang dikandung keong mas. Sampel dikumpulkan dari sawah irigasi Desa Jabungan, Kecamatan Tembalang. Area pengambilan sampel dibedakan menjadi tiga lokasi di perairan sawah Desa Jabungan, yaitu: inlet, tengah, dan outlet. Metode studi kasus digunakan dalam penelitian ini, sedangkan teknik pengambilan sampel bersifat purposive sampling. Ukuran keong mas yang didapat selama 4 kali sampling berkisar antara 9,1 mm – 40,5 mm, dengan total kerapatan populasi tertinggi pada inlet, yaitu sebanyak 100 ind/m2, di bagian tengah 40 ind/m2, dan di outlet sawah 96 ind/m2. Pola distribusi populasi keong mas selama penelitian bersifat mengelompok. Sifat pertumbuhan alometrik yang ditaksir dari variabel panjang cangkang terhadap berat kering jaringan, antara tanggal 19 Juni 2014 dan 3 Juli 2014 diketahui bersifat alometrik positif, sedangkan pada tanggal 26 Juni 2014 dan 10 Juli 2014 bersifat alometrik negatif. Pengamatan parasit dilakukan pada individu dengan kisaran ukuran 13,3 mm – 40,7 mm. Sampel tanggal 19 Juni 2014 mengandung 8 spesies parasit yaitu Opistorchis viverrini, Strongyloides stercoralis, Paragonimus westermani, Miracidium, Schitosoma japonicum, Echinostoma lindoense, Gnathostoma spinigerum, dan Echinococcus granulosus. Adapun sampel tanggal 10 Juli 2014 mengandung 13 spesies parasit yaitu Schitosoma mansoni, Opistorchis viverrini, Echinostoma lindoense, Paragonium westermani, Clomorchis sinensis, Echinococcus granulosus, Oxyuris vermicuralis, Strongyloides stercoralis, Trichinella spiralis, Fasciola hepatica, Gnathostoma spinigerum, Schitosoma japonicum, dan Telur Echinostoma sp.Jabungan is a village with a fairly extensive rice fields with some type of gastropod therein. Gastropods mostly found is the golden snail (Pomacea canaliculata) which is one of the freshwater fishery resources consumed by local residents. This study was carried out in June-July 201, aimed to examine the structure of the golden snail population and knowing the type of parasite contained within the golden snail. Snail collected from rice fields irrigated Village Jabungan, district Tembalang. Sampling area were divided into three locations in the waters of the rice field Jabungan village, namely: the inlet, middle, and outlet. The Case study method is used in this study, whereas the technique of sampling is purposive sampling. Size of golden snail obtained from 4 times sampling ranged between 9,1 mm – 40,5 mm, with a total population of highest density on the inlet i.e., 100 ind/m2, in the central part of the rice fields 40 ind/m2, and at the outlet of the rice fields 96 ind/m2. The snail population distribution patterns during the study is clumped. Type of allometric growth obtained from dry tissue weight against shell length varied, between June 19, 2014 and July 3, 2014 is positive allometric, while on June 26, 2014 and July 10, 2014 is a negative allometric. Observation of parasite performed on individuals with a range of size 13.3 mm – 40,7 mm. A sample on June 19, 2014 contained 8 species of parasites i.e., Opistorchis viverrini Strongyloides stercoralis, Paragonimus westermani, Miracidium, Schitosoma japonicum, Echinostoma lindoense, Gnathostoma spinigerum, and Echinococcus granulosus. Whereas a sample on July 10, 2014 13 species of parasites were found Schitosoma mansoni, Opistorchis viverrini, Echinostoma lindoense, Paragonium westermani, Clomorchis sinensis, Echinococcus granulosus, Oxyuris vermicuralis, Strongyloides stercoralis, Trichinella spirallis, Fasciola hepatica, Gnathostoma spinigerum, Schitosoma japonicum, and Echinostoma sp’s egg.
STRUKTUR KOMUNITAS LARVA IKAN PADA EKOSISTEM MANGROVE DENGAN UMUR VEGETASI YANG BERBEDA DI DESA TIMBULSLOKO, DEMAK Riswandha, Novrizal Soni; Solichin, Anhar; Afiati, Norma
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.799 KB)

Abstract

Mangrove di kawasan Desa Timbulsloko, Demak yang semula rusak dengan perlahan mulai direhabilitasi melalui kegiatan Mangrove Replant (MR). Hasil dari kegiatan tersebut membentuk suatu zonasi mangrove berdasarkan umur vegetasi mangrove yang diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap struktur komunitas larva ikan yang berada di dalamnya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2014 – Januari 2015. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, sedangkan pengambilan sampel dilakukan menggunakan scoope net di tiga lokasi sampling yang memiliki umur vegetasi berbeda. Penelitian dilakukan selama 4 kali dalam 1 bulan dengan interval 1 minggu. Hasil penelitian didapatkan larva ikan di Stasiun I (8 bulan) sebanyak 109 indvidu, di Stasiun II (2 tahun) diperoleh larva ikan sebanyak 173 individu dan di Stasiun III (5 tahun) diperoleh sebanyak 429 individu. Keseluruhan larva ikan yang tertangkap terdiri dari 5 famili. Indeks keanekaragaman termasuk dalam kategori rendah dengan nilai berkisar antara 0,89-1,05, dengan nlai tertinggi di Stasiun III yaitu mangrove umur 5 tahun. Indeks keseragaman berkisar antara 0,56-0,65, nilai tertinggi juga pada Stasiun III dengan umur mangrove 5 tahun. Nilai indeks Dominasi berkisar antara 0,47-0,54, dengan nilai tertinggi pada Stasiun II. Dengan demikian dapat dilihat bahwa semakin tua umur mangrove semakin baik fungsinya sebagai penyedia habitat dan lindungan bagi ikan. Dapat dilihat juga bahwa komposisi larva ikan di ketiga stasiun penelitian relatif sama, namun kelimpahan yang paling banyak ditemukan di Stasiun III yang memiliki umur vegetasi lebih tua dibandingkan Stasiun I dan Stasiun II. Mangrove in Timbulsloko Village area, Demak, which was originally broken is slowly rehabilitated through Mangrove Replant program (MR). These activities was influential in the formation of zoning by mangrove vegetation. Age of mangrove plant is expected to have an influence on the community structure of fish larvae that are in it. This study was conducted in December 2014 - January 2015. This study applying descriptive method, sampling was conducted using a scoope net in three sampling sites which have  different age vegetation. Sampling was conducted  4 times in one month at weekly interval. The results of the study obtained 109 individual fish larvae at the Station I (8 months old trees) 109, at the Station II (2 years old mangrove trees) obtained fish larvae as many as 173 individuals and at the Station III ( 5 years old mangrove trees) obtained as many as 429 individual. As a whole, fish larvae caught consist of 5 families. Diversity index considered low with score range between 0,89-1,05, for which the highest value owned by Station III ( 5 years old mangrove). Uniformity index ranged from 0,56-0,65, with the highest value in Station III (5 years old mangrove).  Domination index ranged from 0,47-0,54 , with the highest in Station II. Thus it can be seen that the older the mangrove age,  the better service they provide for the community . Beside that, even thought composition of fish larvae in three stations research are the same, the abundant most was in Station III, having the oldest vegetation compared to Station I and Station II .
TROPHIC STATE INDEX (TSI) DI HABITAT RAJUNGAN (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758) PANTAI BETAHWALANG, KABUPATEN DEMAK Latifah, Lulu Adilla; Afiati, Norma; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.839 KB)

Abstract

Perairan Betahwalang di desa Betahwalang, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak merupakan perairan habitat rajungan (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758) dengan intensitas penangkapan sepanjang tahun. Sebagai habitat rajungan, perairan Betahwalang direncanakan menjadi kawasan lindungan laut daerah yang dikelola masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu, perlu dievaluasi status trofik perairannya dalam rangka pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya hayatinya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui status kesuburan perairan di habitat rajungan berdasarkan metode Trophic State Index (TSI) Carlson (1977) dan Kepmen LH No. 115/ 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air dan Kepmen LH No. 51/2004 tentang Baku Mutu Air Laut untuk Biota Laut. TSI Carlson menggunakan 3 komponen utama, yaitu total fosfor, klorofil a, dan kecerahan air untuk menduga status trofik perairan. Metode deskriptif dengan teknik penentuan lokasi sampling bersifat purposive random digunakan dalam penelitian ini. Hasil yang diperoleh dari analisis TSI Carlson (1977), berkisar antara 60-68, sementara skor status mutu air dari analisis Kepmen LH No.115/2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air dan Kepmen LH No. 51/2004 tentang Baku Mutu Air Laut untuk Biota Laut adalah -20. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pantai Betahwalang berada pada status eutrofik sedang dan termasuk kategori perairan tercemar sedang untuk biota air laut. Betahwalang aquatic water in Betahwalang village, Bonang district, Demak Regency, is a blue swimming crab (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758) habitat with fishing intensity throughout the year. Accordingly, trophic status of the water in Betahwalang needs to be evaluated for sustainable management of the crab. The purpose of this study is to determine the fertility status of the water in blue swimming crab habitat based on Trophic State Index (TSI) Carlson (1977) and Decree of the Minister of Environment of The Republic Indonesia (Kepmen LH) No.115/2003 regarding Guideline for the Determination of Water Quality Status and Decree of the Minister of Environment of The Republic Indonesia (Kepmen LH) No.51/2004 regarding the Standard Quality of Sea Water for Marine Biota. TSI by Carlson (1977, 2005) applying three main components, i.e. total phosphorus, chlorophyll-a, and water transparency to assess trophic status of the water. Descriptive method is used in this study, for which sampling location was determined by using purposive random. The result from the analysis of TSI Carlson (1977) is among 60-68, while the score of water quality status analysed using Decree of the Minister of Environment of The Republic Indonesia (Kepmen LH) No.115/2003 about Guideline for the Determination of Water Quality Status and Decree of the Minister of Environment of The Republic Indonesia (Kepmen LH) No.51/2004 about the Standard Quality of Sea Water for Marine Biota is -20. Based on the results of this research, it is concluded that Betahwalang beach is on medium eutrophic status and categorized as medium polluted water for marine biota.
STUDI MORFOMETRI DAN FAKTOR KONDISI SOTONG (Sepiella inermis: Orbigny, 1848) YANG DIDARATKAN DI PPI TAMBAKLOROK, SEMARANG Rochman, Nur; Afiati, Norma; Haeruddin, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.786 KB)

Abstract

S. inermis merupakan spesies kompleks dan umumnya memiliki ukuran yang kecil dengan sirip yang sempit. S. inermis dapat ditemukan pada perairan dengan kisaran kedalaman 10-20 meter. Sifat pertumbuhan penting untuk dipelajari baik melalui studi panjang berat, faktor kondisi, dan morfometri karena dapat digunakan untuk upaya pengelolaan yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dimana pelaksanaannya melalui teknik survei dan pengambilan sampel menggunakan metode systematic random sampling. Data yang digunakan adalah data panjang mantel (mm) dan berat (gram) dari S. inermis serta pengukuran beberapa variabel morfometri (mm). Dari hasil penelitian hubungan panjang berat S. inermis mengikuti persamaan W = 0,00129 L2,4978. Hal tersebut menunjukkan bahwa sifat pertumbuhan dari S. inermis adalah allometrik negatif. Itu berarti bentuk tubuhnya kurus dan pertambahan panjangnya lebih cepat dari pertambahan berat. Sementara itu berdasarkan hasil pengukuran morfometri menunjukkan variasi sifat pertumbuhan antara variabel-variabel yang diperbandingkan. Lengan memiliki kecepatan tumbuh yang lebih cepat dibandingkan dengan mata, kepala, dan tentakel. Hal itu karena peran lengan yang sangat penting dalam proses kehidupannya untuk menangkap dan menaklukkan buruannya.
Co-Authors . Sumarno Abdul Ghofar Adam Putrarama Suyatno Adriyani Samad Agus Sabdono Ahnan, Muhammad Firhan Maftuh Aji, Fajar Bayu Ali Djunaedi Anggieta, Yayank Dita Anhar Solichin Arif Rahman Arya Ksatria Fernanda Hendrawan Aryansyah, Akbar Atami, Sekar Putri Azis Nur Bambang Bambang Sulardiono Bob Suroso Chiesa, Francesco Te David Nugroho Dewi, Desca Estiyani Diah Ayuningrum, Diah Dian Ayu Sapta Nur Utami Dicky Harwanto Djoko Suprapto Fadya Rachmi Puteri Fahmy Barik Farizan Adiya Pratama, Farizan Adiya Febrianto, Sigit Haeruddin Haeruddin Haque, Maharani Zahiratun Helfiana Tiuriska Perangin-angin Heni Susiati Indro Sumantri Indro Sumantri Irwani Irwani Iswanto, M. Fajar Fajar Johannes Hutabarat Khasani, Andro Kholilah, Nenik Lulu Adilla Latifah, Lulu Adilla Lusiana Rahayu Widiastuti Martha Wahyuningrum Mauritz L. Tobing Max Rudolf Muskananfola Max Rudolf Muskananfola Max Rudolf Muskananfola Megawati Arsita Putri Misbakul Munir Muhammad Arkan Zaky Rahman Mulkan Nuzapril Niniek Widyorini Novrizal Soni Riswandha, Novrizal Soni Nur Rochman Nurhuda, Izza Siti nurul latifah Ocky Karna Radjasa Oktavianto Eko Jati Prakoso, Teguh Budi Prijadi Soedarsono Pujiono Wahyu Purnomo Pujiono Wahyu Purnomo Pujiono Wahyu Purnomo, Pujiono Wahyu Purnami, Adelia Puspita, Like Viantika Jala Putra, Muchamad Iqbal Widiansyah Rachmawan, Dicky Setya Rahma, Dwi Aprilia Rahmawati, Laily Agustina Ramadhan, Faishal Retno Hartati Ria Purnama Dewi Sa’diyah, Halimatus Santi, Denita Irma Savitri Taurusiana Setiani, Heny Simangunsong, Erica Siti Rudiyanti Subagiyo Subagiyo Sumarno Sumarno Suradi Wijaya Saputra Surya Dwi Vrananta Sutrisno Anggoro Thomas Triadi Putranto, Thomas Triadi Tonny Bachtiar Ulfah Rismawati, Ulfah Yarianto Sugeng Budi Susilo Yuliana, Eka Yulfa