Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Buah, Daun, Dan Kulit Batang Limpasu (Baccaurea lanceolata (Miq.) Müll.Arg.) dari Kalimantan Selatan Sani Nurlaela Fitriansyah; Yola Desnera Putri; Muhammad Haris; Rival Ferdiansyah
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 15 No. 02 Desember 2018
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pharmacy.v15i2.3062

Abstract

Limpasu merupakan tanaman yang berlimpah dari Kalimantan Selatan. Data empiris menunjukkan buah limpasu berpotensi untuk mengobati demam (karena infeksi), kesehatan kulit, dan antioksidan. Data ilmiah pendukung potensi limpasu sebagai anti-infeksi yang disebabkan bakteri masih minim. Penelitian ini bertujuan mendapatkan data ilmiah kandungan kimia secara kualitatif dan potensi ekstrak limpasu sebagai antibakteri. Bagian buah, daun, dan kulit batang limpasu diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% dengan soxhlet. Ekstrak cair diuapkan menggunakan rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak buah (EB), ekstrak daun (ED), dan ekstrak kulit batang limpasu (EKB). Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi padat menggunakan kertas cakram. Bakteri yang diuji terdiri dari Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli, Propionibacterium acnes, dan Staphylococcus epidermidis. Hasil penelitian menunjukkan, ekstrak etanol buah limpasu merupakan ekstrak yang paling aktif terhadap bakteri B. subtilis, S. aureus, P. aeruginosa, E.coli, dan P. acnes dengan konsentrasi hambat minimum adalah 2,5% b/v dengan diameter secara berturut-turut 6,87; 7,60; 7,94; 8,80; dan 10,29 mm. Ekstrak etanol buah, daun, dan kulit batang limpasu secara umum positif mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin.
FORMULASI DAN EVALUASI SPRAY GEL FRAKSI ETIL ASETAT PUCUK DAUN TEH HIJAU (Camelia sinensis [L.] Kuntze) SEBAGAI ANTIJERAWAT Sani Nurlaela Fitriansyah; Sohadi Wirya; Cici Hermayanti
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 13 No. 02 Desember 2016
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v13i02.1257

Abstract

Teh hijau sangat berpotensi sebagai antijerawat. Flavonoid dalam teh hijau diketahui merupakan senyawa yang bertanggung jawab sebagai antijerawat. Sediaan krim fraksi etil asetat teh hijau sudah berhasil diformulasikan dan mempunyai aktivitas antijerawat. Penelitian ini bertujuan menghasilkan formulasi sediaan spray gel fraksi etil asetat pucuk daun teh hijau sebagai antijerawat. Pucuk daun teh hijau diekstraksi dengan metode seduhan menggunakan pelarut air. Kemudian difraksinasi dengan ekstraksi cair-cair (ECC). Pengujian aktivitas antijerawat dengan menentukan Kadar Hambat Minimum (KHM) dari fraksi etil asetat daun teh hijau terhadap Propionibacterium acnes menggunakan metode sumur. Formulasi spray gel fraksi etil asetat teh hijau menggunakan karbopol dengan variasi konsentrasi NaOH sebagai penstabil viskositas dan pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KHM dari fraksi etil asetat pucuk daun teh hijau terhadap Propionibacterium acnes adalah 0,06%. Hasil uji stabilitas sediaan spray gel menunjukkan sediaan yang diperoleh kurang stabil. Viskositas dan pH sediaan spray gel mengalami penurunan selama 28 hari penyimpanan. Hasil uji iritasi pada kulit kelinci menunjukkan bahwa sediaan spray gel aman untuk digunakan dan tidak menimbulkan iritasi kulit. Hasil analisis statistik menggunakan one way Anova, aktivitas antijerawat menunjukkan sediaan spray gel memiliki diameter zona hambat yang berbeda signifikan antara F0, F1, F2 terhadap kontrol positif dengan nilai p
Kreasi Olahan Pangan Berbahan Buah Pepaya Dan Buah Naga dalam Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Siti Uswatun Hasanah; Hesti Riasari; Sani Nurlaela Fitriansyah
Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 2 No. 5 (2022): September 2022 - Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Indonesian Scientific Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/altifani.v2i5.284

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu dari tridarma seorang dosen. Kegiatan pengabdian kali ini dilaksanakan di Desa Sukaluyu, yang berada di kabupaten Tasikmalaya. Potensi alam desa tersebut diantaranya adalah buah naga dan buah pepaya. Desa tersebut memanfaatkan buah naga dan pepaya sebagai konsumsi harian dan dijual dalam bentuk buah segar tanpa diolah. Atas dasar kondisi tersebut, dilakukanlah pengabdian masyarakat dengan tema utama pengolahan potensi alam Desa Sukaluyu menjadi produk pangan dengan nilai jual tinggi. Sasaran dalam kegiatan ini adalah seluruh warga Desa Sukaluyu, melalui para ibi-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keuarga. Pelaksanaan pengabdian terbagi atas dua sesi, yaitu sesi penyuluhan, dan sesi kedua adalah pelatihan pembuatan produk. Produk pangan yang diangkat dalam pengabdian ini adalah baso, chips/keripik, mie nature, serta dan satu produk kosmetik, berupa lulur tradisonal dengan memanfaatkan limbah kulit buah naga. Warga sekitar sangat antusias dengan diadakannya pelatihan tersebut, karena dapat memberikan tambahan pengetahuan, dan memberikan peluang usaha baru.
KANDUNGAN KIMIA DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA UMBI BAWANG DAYAK (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) HASIL FERMENTASI Sani nurlaela fitriansyah; Naimah Puteri; Nur Muthmainnah; Nur Asni Setiani
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.389 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v10i2.181

Abstract

Umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) memiliki kandungan fenol dan flavonoid yang berkhasiat sebagai antioksidan. Kandungan kimia dalam suatu tumbuhan dapat dipengaruhi dengan adanya proses pengolahan bahan baku. Salahsatu proses pengolahan baku tumbuhan yaitu dengan adanya fermentasi menggunakan pemanasan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh fermentasi pada kandungan kimia dan aktivitas antioksidan pada ekstrak umbi bawang dayak. Penelitian ini dilakukan dengan fermentasi umbi bawang dayak dengan pemanasan selama 10, 20 dan 30 hari. Ekstraksi dilakukan menggunakan maserasi dengan pelarut etanol 70%. Penetapan kadar fenol total, flavonoid total dan aktivitas antioksidan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan, ekstrak umbi bawang dayak hasil fermentasi selama 30 hari memiliki kadar fenol total, kadar flavonoid total dan aktivitas antioksidan tertinggi, ditunjukkan secara berurutan (3,721 g GAE/100 g ekstrak ± 0,210; 0,378 g QE/100 g ekstrak ± 0,189, IC50 peredaman DPPH 28,689 µg/mL± 0,144). Adanya proses fermentasi dan lama proses fermentasi dapat mempengaruhi kandungan kimia dan aktivitas antioksidan ekstrak umbi bawang dayak.
FORMULASI DAN EVALUASI FISIK SEDIAAN KRIM PELEMBAB DIMETHYLSILANOL HYALURONATE DENGAN PENAMBAHAN BASIS NANO DAN FASE MINYAK KELAPA MURNI Sani Nurlaela Fitriansyah; Sani Nurlaela Fitriansyah; Dolih - Gozali
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.496 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v3i1.34

Abstract

 AbstrakBasis nano merupakan aplikasi hasil nanoteknologi dalam farmasi. Penelitian formulasi dan evaluasi fisik sediaan krim pelembab dimethylsilanol hyaluronate dengan penambahan basis nano dan fase minyak kelapa murni dilakukan untuk melihat kestabilan fisik sediaan krim tersebut. Dalam penelitian ini dilakukan evaluasi fisik (pengamatan organoleptis, pH, dan viskositas), pengujian stabilitas fisik menggunakan metode sentrifugasi, pengamatan distribusi sediaan krim, dan pengujian iritasi pada kulit. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa secara fisik sediaan krim dengan fase minyak kelapa murni stabil dan memenuhi standar, bahkan sediaan krim dengan perbandingan antara basis nano 10% dan fase minyak kelapa murni 10% memberikan stabilitas dan penampilan fisik terbaik. Hasil distribusi pada sediaan krim, menunjukkan tidak adanya penumpukan globul dan globul-globul dalam sediaan krim tersebut terlihat merata Hasil pengujian iritasi sediaan krim pelembab dimethylsilanol hyaluronate 6% dengan perbandingan antara basis nano 10% dan fase minyak kelapa murni 10% tidak mengiritasi kulit. Kata kunci: Krim, pelembab, dimethylsilanol hyaluronate, krim, minyak kelapa murni AbstractNano base is the application of result nanotechnology in the pharmacy field. A research about the formulation and evaluation of physical stability of dimethylasilanol hyaluronate moisturizing cream with nano base and the phase of virgin coconut oil had been carried out to observe the physical stability of the cream dosage form. This research had through the physical evaluation (which included the organoleptic, pH, and viscosity), the physical stability using centrifugation method, the distribution of the nano cream dosage form in macroscopic and microscopic, and a skin irritation test. The result of observation indicated that dosage form of dimethylsilanol hyaluronate cream between nano bases 10% and 10% phase of virgin coconut oil gave the stability and the best physical performance so far. The distribution of cream preparation showed inagglomerate globules and looked smooth. The result of skin irritation test of 6% dimethylsilanol hyaluronate cream in 10% nano bases and 10% phase of virgin coconut oil had been proven as-non irritating.  Keywords: Cream, moisturizing, dimethylsilanol hyaluronate, nano cream, virgin coconut oil.
FORMULASI DAN EVALUASI FISIK SEDIAAN KRIM PELEMBAB DIMETHYLSILANOL HYALURONATE DENGAN PENAMBAHAN BASIS NANO DAN FASE MINYAK KELAPA MURNI Sani Nurlaela Fitriansyah; Sani Nurlaela Fitriansyah; Dolih - Gozali
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.496 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v3i1.34

Abstract

 AbstrakBasis nano merupakan aplikasi hasil nanoteknologi dalam farmasi. Penelitian formulasi dan evaluasi fisik sediaan krim pelembab dimethylsilanol hyaluronate dengan penambahan basis nano dan fase minyak kelapa murni dilakukan untuk melihat kestabilan fisik sediaan krim tersebut. Dalam penelitian ini dilakukan evaluasi fisik (pengamatan organoleptis, pH, dan viskositas), pengujian stabilitas fisik menggunakan metode sentrifugasi, pengamatan distribusi sediaan krim, dan pengujian iritasi pada kulit. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa secara fisik sediaan krim dengan fase minyak kelapa murni stabil dan memenuhi standar, bahkan sediaan krim dengan perbandingan antara basis nano 10% dan fase minyak kelapa murni 10% memberikan stabilitas dan penampilan fisik terbaik. Hasil distribusi pada sediaan krim, menunjukkan tidak adanya penumpukan globul dan globul-globul dalam sediaan krim tersebut terlihat merata Hasil pengujian iritasi sediaan krim pelembab dimethylsilanol hyaluronate 6% dengan perbandingan antara basis nano 10% dan fase minyak kelapa murni 10% tidak mengiritasi kulit. Kata kunci: Krim, pelembab, dimethylsilanol hyaluronate, krim, minyak kelapa murni AbstractNano base is the application of result nanotechnology in the pharmacy field. A research about the formulation and evaluation of physical stability of dimethylasilanol hyaluronate moisturizing cream with nano base and the phase of virgin coconut oil had been carried out to observe the physical stability of the cream dosage form. This research had through the physical evaluation (which included the organoleptic, pH, and viscosity), the physical stability using centrifugation method, the distribution of the nano cream dosage form in macroscopic and microscopic, and a skin irritation test. The result of observation indicated that dosage form of dimethylsilanol hyaluronate cream between nano bases 10% and 10% phase of virgin coconut oil gave the stability and the best physical performance so far. The distribution of cream preparation showed inagglomerate globules and looked smooth. The result of skin irritation test of 6% dimethylsilanol hyaluronate cream in 10% nano bases and 10% phase of virgin coconut oil had been proven as-non irritating.  Keywords: Cream, moisturizing, dimethylsilanol hyaluronate, nano cream, virgin coconut oil.
AKTIVITAS ANTI-INFLAMASI EKSTRAK ETANOL Ficus virens dan Ficus adenosperma Sani Nurlaela Fitriansyah; Diah Lia Aulifa; Riki - Nugraha
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (910.5 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v4i2.44

Abstract

AbstrakTelah banyak dilaporkan dari beberapa ekstrak spesies Ficus sp [famili Moreaceae] memiliki aktivitas biologi diantaranya aktivitas anti-inflamasi. Walaupun demikian, aktivitas anti-inflamasi ekstrak daun Ficus adenosperma dan ekstrak daun Ficus virens belum banyak diteliti. Ekstraksi dilakukan terhadap daun Ficus adenosperma dan Ficus virens dengan metode maserasi menggunakan etanol. Ekstrak dipekatkan dengan rotavapor dan terhadap masing-masing ekstrak dilakukan pengujian skrining fitokimia dan aktivitas anti-inflamasi. Aktivitas anti-inflamasi diuji menggunakan metode induksi karagenan 1%. Dosis ekstrak yang digunakan adalah 250 mg/KgBB dan 500 mg/KgBB. Ekstrak etanol daun Ficus adenosperma dan daun Ficus virens memiliki kandungan metabolit sekunder flavonoid, fenol dan steroid, dan mempunyai aktivitas anti-inflamasi untuk model inflamasi akut. Ekstrak etanol daun Ficus virens memiliki nilai inhibisi radang pada 250 mg/KgBB sebesar 63,3% dan pada 500 mg/KgBB sebesar 76,7%. Aktivitas anti-inflamasi untuk model inflamasi akut dari ekstrak etanol daun Ficus virens lebih baik daripada ekstrak etanol daun Ficus adenosperma. Kata Kunci: Ficus adenosperma, Ficus virens, Anti-inflamasi Abstract It has been widely reported from several extract of species Ficus sp [family Moraceae] have biological activity such as anti-inflammatory activity. Nevertheless, the anti-inflammatory activity of leaves extract Ficus adenosperma and Ficus virens have not been reported. Extraction was performed with maceration method and used ethanol. The extract were evaporated using rotary evaporator and tested phytochemical screening and anti-inflammatory activity. The anti-inflammatory activity was used the carrageenan 1 % induced method. Extract doses were used 250 mg/KgBW and 500 mg/KgBW. Ethanol extract leaves of Ficus adenosperma and Ficus virens contain flavonoids, phenols and steroids and have anti-inflammatory activity in a model of acute inflammation. The percent inhibition of inflammatory activity from ethanol extract leaves of Ficus virens at 250 mg/KgBW was 63,3% and at 500 mg/KgBW was 76,7%. Anti-inflammatory activity for an acute model from ethanol extract leaves of Ficus virens, is better than ethanol extract leaves of Ficus adenospermae.  Keywords: Ficus adenosperma, Ficus virens, Antiinflamatory
PERBANDINGAN METODE FERMENTASI, EKSTRAKSI, DAN KEPOLARAN PELARUT TERHADAP KADAR TOTAL FLAVONOID DAN STEROID PADA DAUN SUKUN (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg) Riasari, Hesti; Fitriansyah, Sani Nurlaela; Hoeriah, Irna Siti
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.089 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v11i1.165

Abstract

Daun sukun mengandung metabolit sekunder antara lain flavonoid, polifenol, kuinon, dan steroid1. Proses biosintetik dapat menyebabkan perubahan warna, kandungan, dan jenis kandungan yang ada pada daun sukun. penelitian menggambarkan konsentrasi total metabolit sekunder yang dipisahkan berdasarkan polaritas pelarut dan metode ekstraksi. Proses biosintetik adalah fermentasi daun hijau segar menjadi daun hijau fermentasi (HF) melalui metode fermentasi aerob dan anaerob. Ekstraksi dilakukan dengan dua metode yaitu metode panas (sokletasi) dan metode dingin (maserasi) untuk membandingkan metode ekstraksi yang lebih baik. Ekstraksi dilakukan dengan kepolaran bergradasi menggunakan pelarut N-heksana, etil asetat, dan etanol. Ekstraksi kepolaran bertingkat akan menghasilkan senyawa-senyawa tertentu yang terpisah secara spesifik pada setiap pelarut yang digunakan, oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data ilmiah mengenai pengaruh metode fermentasi, metode ekstraksi, dan gradien polaritas pelarut terhadap kandungan flavonoid dan steroid total ekstrak daun. . sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg). Hasil kandungan flavonoid total tertinggi adalah ekstrak etil asetat dari daun sukun fermentasi aerobik dengan metode maserasi 0,3054 g QE/100g dan kandungan steroid total tertinggi pada ekstrak N-heksana dari daun sukun fermentasi aerobik maserasi 0 , 1169g/100g. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa metode ekstraksi terbaik untuk menentukan kadar total flavonoid dan steroid adalah metode maserasi. Sedangkan polaritas pelarut yang baik untuk penentuan kadar flavonoid total adalah etil asetat aerobik, dan N-heksana aerobik untuk penentuan kadar steroid total, metode fermentasi yang efektif dalam meningkatkan kadar metabolit sekunder pada daun sukun adalah metode fermentasi aerobik.
Antioxidant Activity, Sun Protection Factor and Phytochemical Properties of Different Parts Sawo Walanda (Pouteria Campechiana (Kunth.) B.) Extract Fitriansyah, Sani Nurlaela; Fadhilah, Syifa; Ruslan, Komar; Hartati, Rika; Fidrianny, Irda
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Suppl. 5, No. 2 (2023) Special Issue for The 3rd Bandung International Teleconference on Pharmacy (B
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijpst.v0i0.50584

Abstract

AbstractUV radiation can lead production of Reactive Oxygen Species (ROS) on the skin and can cause negative effects1. Sun protector and antioxidant ingredients are needed to protect the skin2. Phenolic compounds and flavonoids have been used as sun protectors and as antioxidants3. Pouteria campechiana is known for its high abundance of phenolic compounds4. This study reported the phytochemical group, total phenol and total flavonoid content, antioxidant activity, and sun protector factor of ethanol extracts of pulp, seed, leaves, and twigs of Pouteria campechiana. Determination of antioxidant activity, sun protection factor, and total phenol and total flavonoid content were carried out using UV-visible spectrophotometry. Crude drugs and extract of pulp, seed, twig, and leaves P.campechiana containing phenolic group, tannin, and flavonoid. The leaf extract had the highest total phenolic content, while the highest total flavonoid content was in the seed extract. All of the extracts tested had very strong antioxidant activity indicated by the Antioxidant Activity Index (AAI) to DPPH value, >2. At a concentration of 1000 µg/mL, the leaf extract showed the highest SPF value, 16.01 ± 0.38.The conclusion, the leaf extract had the potential to further as a natural antioxidant, and sun protector. AbstrakPaparan radiasi UV dapat meningkatkan produksi Reactive Oxygen Species (ROS) sebagai radikal bebas dan dapat menimbulkan efek negatif pada kulit. Dibutuhkan senayawa aktif sebagai fotoprotektor dan senyawa penangkal radikal bebas yang disebut antioksidan untuk melindungi kulit. Golongan senyawa fenol dan flavonoid dapat menyerap radiasi UV dan menangkal radikal bebas. Pouteria campechiana dilaporkan mengandung senyawa fenol. Penelitian ini melaporkan golongan senyawa kimia, kadar fenol dan flavonoid total, aktivitas antioksidan terhadap DPPH dan aktivitas fotoprotektor yang menggunakan parameter nilai Sun Protector Factor (SPF) dari ekstrak etanol daging buah, biji, ranting dan daun Poteria campechiana. Ativitas antioksidan, nilai SPF, kadar fenol total, dan flavonoid total diukur secara spektrofotometri UV-Sinar tampak. Hasil penelitin menunjukkan simplisia dan ekstrak etanol daging buah, biji, ranting dan daun P.campechiana mengandung golongan senyawa fenoli, tanin, dan flavonoid. Ekstrak etanol daun memiliki kadar fenol total tertinggi, sedangkan kadar flavonoid total tertinggi ada pada ekstrak etanol biji. Keempat ekstrak tergolong pada antioksidan sangat kuat, dengan parameter nilai AAI >2. Pada konsentrasi 1000 µg/mL, ekstrak daun menunjukkan nilai SPF tertinggi yaitu sebesar 16,01 ± 0,38. Kesimpulan, ekstrak etanol daun P.campechiana lebih berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku aktif antioksidan alami dan fotoprotektor.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN KADAR TOTAL FENOL DARI EKSTRAK JAMU BERAS KENCUR DENGAN PENAMBAHAN RIMPANG KUNYIT Fitriansyah, Sani Nurlaela; Riasari, Hesti; Melati, Novi; Simanjuntak, Nela
Pharma Xplore : Jurnal Sains dan Ilmu Farmasi Vol 9 No 1 (2024): Pharma Xplore : Jurnal Sains dan Ilmu Farmasi
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jpx.v9i1.6483

Abstract

Jamu is a traditional medicine from Indonesia. Jamu beras kencur is one of the most popular jamu in Indonesia. Jamu beras kencur are often added with other ingredients to increase the efficacy. Turmeric (Curcuma domestica) was a traditional medicinal plant that has high antioxidant and anti-inflammatory effects. Phenolic compound is the largest secondary metabolite in turmeric. The aimsf this research were to determine antioxidant activity and total phenolic content of extract jamu beras kencur wich was added of various concentrations of turmeric and the differences boiling time in processing jamu preparations. The processing of jamu beras kencur with the addition of turmeric with boiling time (15 minutes and 30 minutes). Variation of concentration of tumeric were 5%, 10% and 20%. The concentration of turmeric used addition 5%, 10% and 20. Each preparation was extracted using ethyl acetat. Aantioxidant activity of each extract was performed by DPPH method wich demonstrated as IC50 DPPH. Determination of total phenolic was performed by UV-Vis spectrophotometry and expressed in g GAE/100 g extract. The highest antioxidant activity (IC50 of 485 μg/mL) and the highest total phenolic (41.336 g GAE /100 g extract) was given by jamu beras kencur wich 20% turmeric and 15 min boiling time. Addition of turmeric and differences of boiling time in processing jamu preparations can affect antioxidant activity and total phenolic content.