Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN, TOTAL FENOLIK DAN TOTAL FLAVONOID EKSTRAK BUAH, DAUN DAN KULIT BATANG LIMPASU (Baccaurea lanceolata) Sani Nurlaela Fitriansyah; Diah Lia Aulifa; Yeni Augustina; Firman Firman
JURNAL FARMASI GALENIKA Vol 5 No 3 (2018): Jurnal Farmasi Galenika Volume 5 No. 3, 2018
Publisher : Universitas Bhakti Kencana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70410/jfg.v5i3.127

Abstract

Senyawa antioksidan dapat berupa senyawa sintetis dan senyawa alami yang terdapat dalam tanaman. Senyawa alami antioksidan diantaranya fenol dan flavonoid. Baccaurea lanceolata salahsatu tanaman yang berlimpah dan belum banyak informasi ilmiah tentang aktifitas farmakologinya. Namun, Baccaurea lanceolata telah dilaporkan memiliki golongan fenol dan flavonoid. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui penetapan kadar total fenol, flavonoid dan aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol buah, daun dan kulit batang Baccaurea lanceolata. Metode : Buah, daun dan kulit batang kering, masing-masing diekstraksi menggunakan sokhlet dengan etanol 96%. Masing-masing ekstrak cair diuapkan menggunakan rotary vaporator sehingga dihasilkan ekstrak etanol buah, daun dan kulit batang. Pengujian aktivitas antioksidan dengan DPPH menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Penetapan kadar total fenol dengan metode Pourmurad dan kadar total flavonoid dengan metode Chang. Hasil : ekstrak etanol daun limpasu memiliki kadar total fenol dan flavonoid tertinggi yaitu 1,402 g GAE/100 g ekstrak dan 46,006 g QE/100 g, sedangkan yang terendah pada ekstrak etanol buah sebesar 0,364 g GAE/100 g ekstrak dan 2,220 g QE/100 g ekstrak. Aktivitas antioksidan diekspresikan dengan nilai IC50 terhadap peredaman DPPH. IC50 ekstrak etanol daun memiliki nilai terkecil yaitu 296,397 µg/mL, sedangkan ekstrak etanol kulit batang sebesar 3305,716 µg/mL dan ekstrak etanol buah limpasu sebesar 4942,87 µg/mL. Keberadaan fenol dan flavonoid pada ekstrak etanol buah, daun dan kulit batang limpasu dapat berkontribusi pada aktivitas antioksidan.
Daidzein and Genistein Content in Tempeh Products from Several Local Soybean Varieties: Kandungan Daidzein dan Genistein Dalam Produk Tempe Dari Beberapa Varietas Kedelai Lokal (Glycine Max (L.) Merrill) Uswatun, Siti; Fitriansyah, Sani Nurlaela; Herawati, Irma Erika
Jurnal Farmasi Galenika (Galenika Journal of Pharmacy) (e-Journal) Vol. 11 No. 2 (2025): October 2025
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/j24428744.2025.v11.i2.17247

Abstract

Background: Tempeh is a widely consumed food due to its health benefits, affordability, and suitability for long-term consumption. The production process of tempeh from soybeans involves several stages, including soaking, dehulling, and inoculation with Rhizopus oligosporus yeast. Fermentation plays a key role in enhancing the nutritional quality of tempeh, particularly by increasing the levels of aglycone isoflavones. Tempeh contains three major types of aglycone isoflavones: daidzein, glycitein, and genistein. Among these, daidzein and genistein are classified as phytoestrogens due to their structural similarity to endogenous estrogen and their associated health-promoting properties. Objectives: This study was conducted on six different soybean seed varieties and their corresponding tempeh products, processed using traditional methods and subjected to three different fermentation durations (42, 47, and 52 hours). Methods: Soybean seeds and tempeh samples were extracted using a cold extraction method and analyzed for daidzein and genistein content through the standard addition method. Results: The results indicated variations in daidzein and genistein content across the six soybean varieties and among tempeh products fermented for different durations. The tempeh produced from the Dering 1 soybean variety showed the highest daidzein content (2.59%), while the Devon 1 variety exhibited the highest genistein content (2.13%) after 47 hours of fermentation. Conclusions: These findings support the potential of tempeh made from local soybean varieties as a functional food, due to their elevated levels of bioactive isoflavones.
Gambaran Tingkat Pengetahuan Masyarakat Dalam Pemanfaatan Daun Sukun Pada Penyakit Degenerative di Kecamatan Cinunuk, Cileunyi Kabupaten Bandung. Riasari, Hesti; Fitriansyah, Sani Nurlaela; Wibowo, Diki Prayugo; Hasanah, Siti Uswatun; Wirasutisna, Komar Ruslan; Restiasari, Anggi
Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2024): Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat
Publisher : Progran Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpm.v5i1.337

Abstract

Health is a very important aspect in human life. Degenerative diseases are a serious challenge faced by modern society. Community service aims to describe the level of knowledge of the community in Cinunuk District, Cileunyi, Bandung Regency, as well as analyzing the extent to which breadfruit leaves are used in efforts to prevent and treat degenerative diseases. This community service was carried out on October 26 2023 at the Sebaguna Building, Cinunuk Cileunyi District, Bandung Regency in collaboration with Medina Farma Pharmacy. A total of 78 people took part in counseling activities related to degenerative diseases, plants used as herbal medicines, healthy lifestyles to prevent degenerative diseases, workshops on making breadfruit leaf tea products, health checks such as blood pressure, instant blood sugar, total cholesterol levels, accompanied by health counseling and distribution of pamphlets, 45 of them filled out the questionnaire online using g-form. The results of respondents before the counseling and workshop were 45.89%, indicating that the level of knowledge of respondents was very poor, after the counseling and workshop on making herbal tea preparations there was an increase in the knowledge of the people of Cinunuk District by 81 .48% with a high category of respondents' knowledge regarding degenerative diseases, plants that can be used as herbal medicine, the use of breadfruit leaves and their processing in the form of herbal tea preparations which makes it easier for people to consume them in traditional treatment efforts as preventive and curative.
Penguatan Kapasitas Komunitas sebagai Strategi Pencegahan Stunting di Desa Karyamukti Fitriansyah, Sani Nurlaela; Astriany, Dewi; Riasari, Hesti; Nelvi, Nelvi; Nanda, Nanda; Widowaty, Windy
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhinneka Vol. 4 No. 2 (2025): Bulan November
Publisher : Bhinneka Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58266/jpmb.v4i2.824

Abstract

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Desa Karyamukti, Kabupaten Garut. Berbagai upaya telah dilakukan namun prevalensi tetap tinggi. Program pengabdian kepada masyarakat oleh STFI yang berkerjasama dengan Rumah Tangguh Stunting (RTS) bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat terkait pencegahan stunting. Program ini mentargetkan ibu-ibu serta kader posyandu melalui kegiatan edukasi terstruktur dan pendampingan langsung. Metode yang digunakan mencakup Focus Group Disussion (FGD), penyebaran kuisioner pre-test dan post-test, serta pengenalan produk tambahan gizi berbasis lokal seperti serbuk telur dan madu curcumin. Hasil program ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pengetahuan dan kesadaran peserta, dengan kader posyandu menjadi lebih proaktif dalam memantau tumbuh kembang anak. Inisiatif ini membuktikan bahwa edukasi terarah dan intervensi yang tepat dapat meningkatkan upaya pencegahan stunting, sekaligus menekankan pentingnya keterlibatan komunitas dan pemantauan berkelanjutan untuk mencapai hasil yang berkesinambungan
Education and nutrition intervention to mitigate stunting in Cisaranten Wetan, Cinambo District, Bandung Dewi Astriany; Adang Firmansyah; Pupung Ismayadi; Iffa Risfayanti; Rizki Amaludin Mutaqin; Sani Nurlaela Fitriansyah
Abdimas: Jurnal Pengabdian Masyarakat Universitas Merdeka Malang Vol. 9 No. 2 (2024): May 2024
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/abdimas.v9i2.12813

Abstract

Stunting is a complex problem related to environmental health and the provision of nutritious food. Chronic malnutrition in children results in permanently impaired physical and cognitive growth. Cisaranten Wetan Village, Cinambo District, Bandung has problems with the health conditions of children who are indicated to be stunted. The purpose of this service activity is to provide education to Integrated Healthcare Center (in Indonesia: Posyandu) cadres and the community regarding stunting, as well as assistance with specific nutritional interventions for children indicated as stunted. Education was conducted by the STFI Community Service Team with the theme of balanced nutrition and child development in the form of counseling, videos, and leaflets. Children who are indicated to be stunted are given additional food in the form of egg powder, curcumin honey, and goat milk regularly. The existence of routine education carried out with various media causes a change in the level of knowledge from the moderate category to good in mother respondents with children who are indicated to be stunted. Increased maternal knowledge affects behaviour in parenting and child growth and development.
Edukasi Berbasis Literasi untuk Meningkatkan Pengetahuan Masyarakat tentang Khasiat Rimpang Herbal Siti Uswatun Hasanah; Diki Prayugo Wibowo; Hesti Riasari; Sani Nurlaela Fitriansyah; Irma Erika Herawati
CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 8 No. 3 (2026): April
Publisher : Ilin Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31960/caradde.v8i3.3225

Abstract

Medicinal plants can consist of herbs or specific parts of plants, such as spices commonly used in cooking. In today’s digital era, the dissemination of information regarding the use of herbal medicine plays an important role in public education. During the Industry 4.0 era, people can easily access various information independently through websites and online learning platforms. However, the utilization of local herbal plants remains relatively low due to limited public understanding of their potential as medicinal herbs. This community service activity aimed to improve the knowledge and understanding of the residents of Ciburuan Hamlet, Jingkang Village, Bandung Regency, regarding herbal plants, particularly the rhizomes of ginger, turmeric, aromatic ginger (kencur), and galangal (lengkuas). Education was carried out through interactive education sessions and brochure distribution. The methods included preliminary observation, interviews, and questionnaires. The results showed a significant increase in participants’ knowledge about the active compounds and pharmacological activities of herbal plants. Before the activity, most participants were unfamiliar with the bioactive components of herbal rhizomes and only knew their traditional uses. After the interactive session, all participants were able to recognize the chemical constituents and mechanisms of action of these herbs as antioxidants, antibacterials, and anti-inflammatory agents. This activity demonstrates that digital and visual literacy-based education can effectively enhance public awareness (83%) and confidence in using herbal medicine as an alternative for maintaining family health.
Evaluasi Sistem Penghantaran Obat Transdermal Berbasis Microneedle: Tinjauan Karakterisasi, Farmakokinetik, Efikasi, Stabilitas, Dan Keamanan Kiki Kania; Revika Rachmaniar; Sani Nurlaela Fitriansyah
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1715

Abstract

Pendahuluan: Microneedle merupakan sistem penghantaran obat transdermal inovatif yang menggunakan jarum berukuran mikro (150–1500 µm) untuk menembus stratum corneum secara minimal invasif. Meskipun teknologi ini telah berkembang sejak akhir 1990-an, panduan terintegrasi mengenai parameter evaluasi yang harus dilakukan dalam pengembangan microneedle masih terbatas, sehingga menyulitkan standardisasi metode dan komparasi hasil antar studi. Tujuan: Review ini bertujuan menyusun kerangka sistematis parameter evaluasi yang perlu dilakukan dalam karakterisasi dan pengembangan sediaan microneedle, yang mencakup enam domain utama: karakterisasi struktur dan sifat fisik, evaluasi sediaan, profil farmakokinetik, efikasi, stabilitas, dan keamanan. Metode: Penelusuran literatur secara naratif-sistematis dilakukan pada basis data PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar terhadap publikasi periode 2018–2025 menggunakan kata kunci microneedle yang dikombinasikan dengan operator Boolean AND/OR. Kriteria inklusi meliputi artikel penelitian asli berbahasa Inggris pada microneedle berbasis polimer yang dimuat zat aktif dan melaporkan minimal satu parameter evaluasi. Hasil: Identifikasi literatur menghasilkan enam domain evaluasi yang harus dilakukan: (1) karakterisasi struktur melalui Scanning Electron Microscopy (SEM), pengukuran kekuatan mekanik (rentang 0,22–32 N), dan ketebalan patch (38 µm–1 mm); (2) evaluasi sediaan melalui insertion test (kedalaman penetrasi 200–600 µm), drug loading (38–99%), uji disolusi (1,5–20 menit), uji difusi Franz cell, dan kadar kelembapan (2,25–3,8%); (3) studi farmakokinetik in vivo yang ditunjukkan pada patch microneedle cannabidiol dengan bioavailabilitas relatif 144,70% dibandingkan injeksi subkutan; (4) evaluasi efikasi yang disesuaikan dengan indikasi terapeutik (antikanker, antidiabetes, antiinflamasi, antihipertensi, antibakterial, dan dermatologi); (5) uji stabilitas mengacu pada pedoman ICH Q1A (R2) dengan kondisi dipercepat, intermediet, dan jangka panjang; serta (6) evaluasi keamanan melalui uji iritasi Draize dengan parameter Primary Irritation Index (PII) yang menunjukkan iritasi ringan dan reversibel. Simpulan: Pengembangan sediaan microneedle yang berkualitas mensyaratkan pelaksanaan keenam domain evaluasi secara terpadu. Kerangka sistematis ini dapat menjadi acuan standar bagi peneliti dan pengembang microneedle di Indonesia, sekaligus mendorong harmonisasi metode evaluasi dengan pedoman internasional untuk memfasilitasi translasi klinis dan registrasi produk domestik.
Metode Isolasi Protein Albumin Ikan Gabus (Channa Striata) dan Pengaruhnya terhadap Karakteristik Albumin: Tinjauan Naratif Juniashri Auna Ratri; Santika Puja Annisa; Sri Gustini Husein; Sani Nurlaela Fitriansyah
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.42230

Abstract

Albumin merupakan protein globular utama dalam plasma darah yang memiliki peran krusial dalam tekanan osmotik koloid dan transportasi ligan. Ikan gabus (Channa striata) dikenal sebagai sumber albumin alami yang potensial untuk mengatasi hipoalbuminemia dan mempercepat penyembuhan luka pasca-operasi. Namun, efisiensi isolasi dan stabilitas struktural albumin sangat dipengaruhi oleh metode ekstraksi yang diterapkan. Tinjauan Naratif ini bertujuan untuk menyintesis berbagai metode isolasi albumin dari C. striata, baik konvensional maupun modern, serta menganalisis dampaknya terhadap karakteristik fisikokimia dan struktural protein yang dihasilkan. Penelusuran literatur dilakukan melalui database elektronik dan platform pengindeks komprehensif (Google Scholar, ResearchGate, dan SINTA) mencakup publikasi sepuluh tahun terakhir.Hasil tinjauan menunjukkan bahwa metode konvensional berbasis suhu (pengukusan dan perebusan) mampu memberikan rendemen tinggi namun rentan memicu denaturasi protein jika suhu melebihi 60oC. Sebaliknya, metode non-termal modern seperti Ultrasonic-Assisted Extraction (UAE) dan hidrolisis enzimatik mampu menjaga integritas struktural albumin (berat molekul ~65–67 kDa pada SDS-PAGE) serta mempertahankan gugus fungsi Amida I dan II berdasarkan analisis FTIR. Di sisi lain, metode kimiawi seperti hidrolisis asam terkontrol menggunakan HCl encer dapat memecah ikatan peptida secara efektif dan meningkatkan kadar protein serta albumin seiring bertambahnya jumlah pelarut dan waktu hidrolisis. Regulasi pH pada titik isoelektrik (pH 4,5-4,6) terbukti efektif mengoptimalkan purifikasi albumin terisolasi. Tinjauan ini menyimpulkan bahwa pemilihan metode isolasi harus menyeimbangkan antara aspek kuantitas (rendemen) dan kualitas struktural (bioaktivitas) albumin untuk aplikasi sediaan farmasi.