Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Perancangan Ulang Bag Filter di Industri Peleburan Baja Bety Noraini; Ahmad Erlan Afiuddin; Alma Vita Sophia
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 2 No. 1 (2019): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peleburan baja menghasilkan limbah debu dan asap yang berdampak pada lingkungan dan kesehatan mahluk hidup. Kegiatan yang menghasilkan limbah diharuskan memiliki pengolahan limbah sebelum di buang langsung ke lingkungan. Perancangan ulang bag filter dilakukan karena bag filter yang terpasang belum bisa mengolah limbah partikulat secara maksimal, hal ini dibuktikan dengan hasil pengukuran konsentrasi partikel yang melebihi baku mutu yaitu sebesar 193,162 mg/m3. Perancangan ulang bag filter terdiri dari pengukuran kadar konsentrasi partikulat di area arc furnace menggunakan HVAS (High Volume Air Sampler) dan metode gravimetri , pengukuran ukuran partikulat menggunakan SEM (Scanning Electron Microscopy), analisa data dengan membandingkan fisik dan performa antara bag filter lama dan bag filter baru. Hasil penelitian menunjukan bahwa kadar konsentrasi partikulat limbah peleburan baja sebesar 193,162 mg/m3 dan ukuran partikulat paling kecil sebesar 1,845 𝜇m. Dimensi bag filter baru sebesar 7,7 m x 4,9 m x 13,73 m dengan diameter duct 152,4 cm. Bag filter baru dirancang dengan efisiensi lebih besar dari bag filter lama yaitu sebesar 99,8% sedangkan bag filter lama 60,12%.
Perencanaan Wet Scrubber pada Unit Boiler di Industri Minyak Goreng Annisa Fitri Heriantini; Ahmad Erlan Afiuddin; Alma Vita Sophia
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 2 No. 1 (2019): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses kerja coal boiler menghasilkan emisi dalam bentuk partikulat dengan kandungan gas CO, CO2, SO2, dan NO2. Perusahaan mengantisipasi adanya dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh emisi coal boiler dengan mengadakan sebuah unit gravity settling chamber (GSC). Penelitian terdahulu menyebutkan bahwa ukuran partikulat di industri minyak goreng ini sebesar 5 µm, sehingga dapat diketahui bahwa GSC bukan tipe dust collector yang sesuai karena GSC hanya digunakan untuk menghilangkan partikel dengan ukuran 40-60 µm. Dust collector yang mampu mengolah kandungan partikulat dan gas dalam satu waktu adalah wet scrubber. Perencanaan pengolahan partikulat yang lebih efektif di perusahaan ini terdiri dari proses perencanaan wet scrubber dan proses perencanaan jalur pengolahan partikulat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merencanakan proses pengolahan partikulat yang lebih efektif. Proses perencanaan wet scrubber membutuhkan data ukuran partikulat, kecepatan gas dan konsentrasi partikulat yang dapat diukur menggunakan metode gravimetri. Hasil uji konsentrasi partikulat menunjukkan partikulat yang lepas ke lingkungan masih melebihi baku mutu Pergub Jatim No. 10/2009, dengan hasil uji sebesar 0,2657 mg/Nm³ dan 0,8345 mg/Nm³. Partikulat yang terdapat pada industri ini memiliki diameter 0,1-13 µm. Hasil perencanaan wet scrubber diperoleh dimensi wet scrubber dengan panjang 1,7 m; lebar 1,7 m dan tinggi 8 m. Hasil perencanaan jalur pengolahan partikulat menunjukkan diameter duct yang dibutuhkan sebesar 1,37 m.
Perancangan Bag Filter pada Unit Rawmill di Industri Semen Brellian Mutiaraning Nareswari; Ahmad Erlan Afiuddin; Alma Vita Sophia
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 2 No. 1 (2019): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dust collector berupa Electrostatic Precipitator (EP) dipasang setelah proses penggilingan bahan baku semen yakni pada unit rawmill sebagai pemisah partikulat semen dengan gas yang akan dibuang ke lingkungan. Bertambahnya kapasitas produksi dan masa pakai membuat EP kerap mengalami penurunan kualitas alat. Ketika kualitas alat menurun maka sistem operasi akan mati serta debu tidak akan tertangkap oleh EP. Konsentrasi partikulat tertinggi yang terekam oleh continuous emission monitoring system (CEMS) yang terpasang pada cerobong keluaran EP mencapai 208,2 mg/Nm3 nilai tersebut telah melebihi baku mutu yang ditetapkan dalam PERMENLHK No. P.19 Tahun 2017 yakni sebesar 70 mg/Nm3. Oleh karena permasalahan tersebut maka diperlukan dust collector pengganti dengan kemampuan yang setara yakni bag filter. Perencanaan bag filter membutuhkan data konsentrasi partikulat yang diukur menggunakan metode gravimetri. Desain bag filter terdiri dari perhitungan diameter duct, perhitungan daya blower perhitungan filter length, penentuan jenis kain filter serta perhitungan jumlah bag. Berdasarkan analisa, partikulat yang akan diolah memiliki konsentrasi sebesar 10,18 g/m3 dan perhitungan nilai diameter pipa sebesar 1,376 m, daya blower masing –masing sebesar 114,404 HP dan 152,536 HP, filter length 2,9 m dan jenis kain fiberglass serta jumlah filter 546 buah.
Perencanaan Tempat Penampungan Sementara Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (TPS Limbah B3) di Pelabuhan Tanjung Perak Ilham Ngudyana; Novi Eka Mayangsari; Alma Vita Sophia
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 5 No. 1 (2022): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelabuhan Tanjung Perak memiliki fasilitas untuk proses bongkar muat kapal. Saat melakukkan aktivitas bongkar muat dibutuhkan alat bantu operasional seperti: mobil pick up, forklift, ekskavator, dan alat berat lainnya. Alat bantu operasional tersebut memerlukan perawatan rutin dan selama proses perawatan terdapat limbah B3 yang dihasilkan. TPS limbah B3 adalah bangunan untuk menyimpan Limbah B3 oleh penghasil limbah B3. Perencanaan TPS limbah B3 ini bertujuan untuk menentukan karakteristik dan desain bangunan. Perencanaan TPS limbah B3 berlokasi pada daerah bebas bencana. Blok limbah B3 direncanakan untuk limbah B3 yang memiliki karakteristik sama. Luasan TPS limbah B3 yang didapat sebesar 1200 cm2. Limbah B3 yang terdapat pada Pelabuhan Tanjung Perak memiliki karakteristik berbahaya terhadap lingkungan. Limbah B3 oli bekas memiliki karakteristik lain seperti cairan mudah terbakar dan beracun. Kain majun dan filter oli bekas memiliki karakteristik lain seperti padatan mudah terbakar. Accu bekas memiliki karakteristik lain seperti beracun dan cairan mudah korosif. Bangunan TPS limbah B3 mempunyai dimensi 12 m x 10 m dengan total luas area 120 m2.
Evaluasi Teknis Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja Supit Urang Kota Malang Tahun Pembangunan 2017 Annisa Nikmatul Lathifah; Ulvi Pri Astuti; Alma Vita Sophia
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 5 No. 1 (2022): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

IPLT merupakan fasilitas untuk mengolah lumpur tinja. IPLT Supit Urang Kota Malang merupakan IPLT dengan sistem pengolahan konvensional yang berlokasi di daerah Mulyorejo, Kecamatan Sukun. IPLT yang aktif beroperasi saat ini merupakan fasilitas yang dibangun pada tahun 2017. Permasalahan yang dihadapi IPLT saat ini yaitu overloadcapacity (kapasitas terbangun 25 m3/hari dan kapasitas yang masuk sebesar 41 m3/hari). Permintaan penyedotan dan pengolahan di IPLT akan terus meningkat seiring pencapaian target 100% akses sanitasi layak dari pemerintah. Sebelum dilakukan optimalisasi lebih lanjut pada IPLT sehingga dapat mengolah kelebihan kuantitas lumpur tinja eksisting maupun timbulan lumpur tinja di masa depan maka perlu dilakukan evaluasi IPLT terutama dalam aspek teknis. Evaluasi yang dilakukan diantaranya evaluasi sistem pengolahan termasuk dimensi, waktu tinggal, efisiensi pengolahan unit eksisting serta kualitas efluen IPLT. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa SSC eksisting tidak mampu menerima kelebihan volume yang diterima; waktu tinggal wetland tidak mencukupi;unit kolam maturasi memiliki efisiensi total coliform dibawah kriteria desain, IPLT eksisting mengalami penurunan kinerja pengolahan namun effluen IPLT masih memenuhi bakumutu air limbah domestik.
Analisis Akar Penyebab Kegagalan Instalasi Pengolahan Air Limbah Industri Kecap Menggunakan Metode Root Cause Analysis Ferliyana Ajeng Setyawan; Dika Rahayu Widiana; Alma Vita Sophia
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 5 No. 1 (2022): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri kecap merupakan salah satu industri manufaktur yang dalam proses pembuatannya disamping menghasilkan produk utama kecap juga menghasilkan limbah dalam bentuk cair yang berasal dari air bekas pencucian bahan baku maupun wadah, air bekas proses pemasakan, maupun air dari proses produksi. Industri manufaktur kecap memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk mengolah air limbahnya yang merupakan salah satu bentuk upaya pengelolaan lingkungan agar meminimalisir terjadi pencemaran disekitarnya. Komponen IPAL industri kecap seringkali mengalami kerusakan sehingga berpengaruh pada kinerja IPAL. KinerjaIPAL yang kurang optimal akan berdampak pada effluent hasil pengolahan yang dihasilkan, biaya operasional, sertatenaga dan waktu yang dibutuhkan dalam melakukan perbaikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mode kegagalan dan akar penyebab pada IPAL industri kecap. Metode yang digunakan adalah Root Cause Analysis dengan menganalisis akar penyebab kegagalan dari setiap komponen IPAL melalui analisa 5 whys. Hasil analisis menunjukkan terdapat 72 mode kegagalan dari 48 komponen IPAL, sehingga dilakukanidentifikasi akar penyebab pada 3 kegagalan yang memiliki nilai prioritas risiko tertinggi. Mode kegagalan dengan nilai prioritas risiko tertinggi memiliki 11 root cause, mode kegagalan dengan nilai prioritas tertinggi kedua memiliki 7 root cause, danmode kegagalan dengan nilai prioritas risiko tertinggi ketiga memiliki 7 root cause.
Analisis Nilai Kalor Biopelet dari Limbah Tongkol Jagung dan Plastik LDPE Fadilla Rachmadani; Ahmad Erlan Afiuddin; Alma Vita Sophia
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 5 No. 1 (2022): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses produksi industri semen termasuk proses produksi high energy yang membutuhkan energi termal cukup besar, perlunya penerapan co-processing secara bertahap pada proses produksi, dengan memanfaatkan bahan bakar alternatif berupa biomassa sebagai substitusi batubara yang memiliki sifat energi non-renewable. Ketersediaan sumber energi tersebut semakin menurun, untuk itu diperlukan bahan alternatif baru yang dapat mengurangi konsumsi penggunaan bahan bakar utama dengan memanfaatkan limbah tongkol jagung dan limbah plastik LDPE sebagai biopelet yang sesuai dengan standar mutu biopelet pada biomassa untuk energi yaitu SNI 8675:2018. Penelitian ini menggunakan metode torefaksi untuk meningkatkan nilai kalor yang terkandung pada biopelet. Rasio variabel komposisi bahan baku dari limbah jagung dibandingkan dengan limbah plastik LDPE yang digunakan pada penelitian yaitu 90%:10% dan 95%:5% dengan suhu proses torefaksi 200°C, 250°C, dan 300°C, serta suhu pada pemanasan manual dengan sinar matahari selama 20 menit. Perekat yang digunakanberupa tepung tapioka dengan kadar campuran 20% dari total berat biopelet. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai kalor biopelet memenuhi baku mutu dengan range nilai 18,14 MJ/Kg – 34,61 MJ/Kg dan nilai kalor terbaik pada variasi komposisi 90% tongkol jagung dan 10% plastik LDPE dengan suhu 250°C.
Desain Tempat Sampah Otomatis pada Tahap Mekanik untuk Timbulan Sampah di Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) M Ishthilakhul Choiri; Ahmad Erlan Afiuddin; Alma Vita Sophia
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 5 No. 1 (2022): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kewajiban dalam pemilahan sampah diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah. Saat ini PPNS belum memaksimalkan pemilahan sampah sebagai usaha pengelolaan yang baik menurut UUD No. 18 Tahun 2008, padahal dengan memilah sampah sesuai jenisnya dapat memudahkan proses pengolahan sampah pada tahap selanjutnya. Tidak semua warga PPNS mengetahui jenis-jenis sampah, sehingga masih kesulitan dalam melakuka pengelolaan sampah berupa memilah sampah sesuai jenisnya, oleh karena itu perlu adanya langkah inovatif untuk memilah sampah secara otomatis. Desain mekanik tempat sampah pemilah otomatis menyesuaikan karakteristik dan timbulan sampah yang ada di PPNS, berdasarkan jumlah timbulan tempat sampah di PPNS maka dimensi tempat sampah pemilah otomatis yang akan dibuat adalah 60cm x 60cm x 100cm. Peneliti merencanakan empat jenis sampah yang dapat dipilah secara otomatis meliputi LDPE, PET, kertas dan sampah residu. Pemilihan empat jenis sampah mengacu pada desain mekanik dan karakteristik sampah.
Kajian Life Cycle Assessment Pengolahan Air di IPAM Ngagel II Surabaya dengan Metode IMPACT 2002+ Endpoint Risky Faradina; Ahmad Erlan Afiuddin; Alma Vita Sophia
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 6 No. 1 (2023): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji proses pengolahan air IPAM Ngagel II Surabaya yang berpotensi menimbulkan dampak ke lingkungan menggunakan metode Life Cycle Assessment (LCA) dengan ruang lingkup gate to gate. Metode analisis mengggunakan IMPACT 2002+ pendekatan endpoint dengan bantuan software OpenLCA. Dampak yang timbul berasal dari kandungan logam berat di dalam air olah apabila diakumulasi dalam 1 tahun menimbulkan dampak buruk ke lingkungan dan manusia. Selain itu, konsumsi listrik dan penggunaan bahan kimia seperti alumnium sulfat dan klorin menimbulkan emisi ke udara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak lingkungan berupa climate change sebesar 4,25 × 106 Pt, ecosystem quality sebesar 2,48 × 106 Pt, dan human health sebesar 2,28 × 10-2 Pt.
Identifikasi Sumber Emisi dan Estimasi Beban Emisi Menggunakan Metode Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dan Atmospheric Brown Cloud (ABC) Emission Inventory Amilatun Nasikah; Ahmad Erlan Afiuddin; Alma Vita Sophia
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 6 No. 1 (2023): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pencemaran udara merupakan masalah utama yang terjadi pada lingkungan yang berdampak terhadap penurunan kualitas udara. Salah satu sumber pencemar udara berasal dari industri kimia. Aktivitas produksi industri kimia meghasilkan hasil samping berupa limbah. Salah satu limbah yang dihasilkan yaitu limbah gas yang berpotensi menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) dan emisi konvensional. Inventarisasi sumber dan emisinya merupakan salah satu cara untuk mendapatkan mengenai tingkat emisi maupun status emisi pada periode tertentu. Tujuan penelitian ini untuk melakukan identifikasi sumber emisi dan menentukan besarnya beban emisi GRK dan emisi konvensional di industri kimia pada sektor energi dan sektor industri. Penelitian ini mengacu pada PermenLHK Nomor 17 Tahun 2019 untuk identifikasi sumber emisi dan perhitungan beban emisi mengacu IPCC Guideline dan Atmospheric Brown Clouds (ABC) Emission Inventory Manual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber emisi di industri kimia dari sektor energi yaitu sumber bahan bakar dan transportasi, sektor industri yaitu air drying SO3 absorption, steam turbine generator, dan cerobong SA plant. Beban emisi total didapatkan setiap parameter yaitu CO2 sebesar 7.974.580 Ton/Tahun, CH4 sebesar 6.963.702 Ton/Tahun, N2O sebesar 20.891.107 Ton/Tahun, SOx sebesar 6.147.870 Ton/Tahun, NOx sebesar 3,0580 Ton/Tahun, CO sebesar 0,8062 Ton/Tahun, dan PM sebesar 0,000244 Ton/Tahun.