Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Menumbuhkan Minat Baca Anak-Anak melalui Pojok Baca sebagai Implementasi Nilai-Nilai Pancasila di Desa Mangunsari Jayanti, Laely Dwi; Atno, Atno; Arifkhi, Arifkhi
Jurnal Bina Desa Vol 6, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbd.v6i1.47131

Abstract

Abstrak. Artikel ini membahas upaya Tim UNNES GIAT 5 Desa Mangunsari dalam meningkatkan minat baca anak-anak melalui pendirian pojok baca sebagai implementasi nilai-nilai Pancasila di Desa Mangunsari, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Anak-anak yang memiliki minat baca yang rendah biasanya dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kurangnya perpustakaan yang memadai dan penggunaan gawai yang berlebihan. Metode pendekatan yang digunakan oleh Tim UNNES GIAT 5 adalah pendekatan komunitas dengan melibatkan masyarakat desa dalam pendirian pojok baca di sudut Balai Desa Mangunsari. Selain meningkatkan minat baca, program kerja ini juga mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam aktivitas membaca anak-anak. Hasilnya menunjukkan peningkatan minat baca anak-anak dan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Program ini relevan karena Pancasila sebagai dasar negara dapat membentuk karakter anak-anak. Pojok baca menjadi sarana penting dalam membentuk kebiasaan membaca positif dan memperkenalkan nilai-nilai Pancasila. Mahasiswa diharapkan dapat menjadi agen perubahan sosial yang berkontribusi positif dalam pengembangan masyarakat.Abstract. This article discusses the efforts of the UNNES GIAT 5 Mangunsari Village Team in increasing children's interest in reading through the establishment of a reading corner as an implementation of Pancasila values in Mangunsari Village, Magelang Regency, Central Java. Children with low interest in reading are usually influenced by many factors, such as lack of adequate libraries and excessive use of gadgets. The approach used by the UNNES GIAT 5 Team is a community approach by involving the village community in the establishment of a reading corner in the corner of Mangunsari Village Hall. In addition to increasing interest in reading, this project also integrates the values of Pancasila in children's reading activities. The results show an increase in children's interest in reading and the application of Pancasila values in everyday life. This program is relevant because Pancasila as the basis of the state can shape children's character. The reading corner is an important tool in establishing positive reading habits and introducing Pancasila values. College students are expected to be agents of social change who contribute positively to community development.Keywords: Reading Corner, Pancasila, Community Service 
The National Heroes in the Indonesian History Curriculum Pramono, Suwito Eko; Ahmad, Tsabit Azinar; Utama, Nanda Julian; Atno, Atno; Kurniawan, Ganda Febri; Nurpratiwi, Hany; Plangsorn, Boonrat
Paramita: Historical Studies Journal Vol 34, No 2 (2024): Disaster and Disease in History
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v34i2.42419

Abstract

Abstract: Indonesia has plenty of national heroes. In education, they have the potential as a medium for transmitting values and character education. From 1959 to 2023, the president awarded the title of hero to 206 people. This number will continue to increase every year. However, the contribution of learning about national heroes has not been studied in depth. Therefore, this paper aims to analyze how national heroes' mapping in history class and the heroes' position in the Indonesian History curriculum. This paper also examines the internalization of heroic values and obstacles encountered in historical learning. Data was collected on policies related to hero titles, curriculum documents, history textbooks, and learning cases about national heroes in Semarang City. The results showed that historical learning in the Indonesian curriculum accommodated the teaching of heroes. Some material addressed the role of the hero explicitly. However, not all heroes were conveyed in the lesson. Overproduction of heroes was counterproductive to students' recognition of the value of heroism. On the one hand, the role of local heroes had not been optimally reviewed. As a result, history learning was stuck on the term "learning about heroes." History learning has not entirely made students "learn from heroes" or "learn to be heroes." Abstrak: Indonesia memiliki banyak pahlawan nasional. Dalam dunia pendidikan, mereka memiliki potensi sebagai media transmisi nilai-nilai dan pendidikan karakter. Sejak tahun 1959 hingga 2023, presiden telah menganugerahkan gelar pahlawan kepada 206 orang. Jumlah tersebut akan terus bertambah setiap tahunnya. Namun, kontribusi pembelajaran tentang pahlawan nasional belum dikaji secara mendalam. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pemetaan pahlawan nasional dalam pelajaran sejarah dan kedudukan pahlawan dalam kurikulum Sejarah Indonesia. Tulisan ini juga mengkaji internalisasi nilai-nilai kepahlawanan dan kendala yang ditemui dalam pembelajaran sejarah. Data yang dikumpulkan berupa kebijakan terkait gelar pahlawan, dokumen kurikulum, buku teks sejarah, dan kasus pembelajaran tentang pahlawan nasional di Kota Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran sejarah di Indonesia dalam kurikulum (K13) dan Kurikulum Merdeka (KM) telah mengakomodir pengajaran tentang pahlawan. Beberapa materi membahas peran pahlawan secara eksplisit. Namun, tidak semua pahlawan tersampaikan dalam pembelajaran. Overproduksi pahlawan justru kontraproduktif terhadap pengenalan siswa terhadap nilai kepahlawanan. Di satu sisi, peran pahlawan lokal belum dikaji secara optimal. Akibatnya, pembelajaran sejarah hanya terpaku pada istilah "belajar tentang pahlawan". Pembelajaran sejarah belum sepenuhnya membuat siswa "belajar dari pahlawan" atau "belajar menjadi pahlawan".