Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Aktivitas Krim Ekstrak Etil Asetat Pelepah Pisang Ambon (Musa acuminta Colla) Sebagai Antibakteri Penyebab Jerawat (Propionibacterium acnes) Tatambihe, Naomi Azazya; Yuhara, Novena Adi; Rawar, Ellsya Angeline
JURNAL KESEHATAN PERINTIS Vol 11 No 2 (2024): Jurnal Kesehatan Perintis
Publisher : LPPM UNIVERSITAS PERINTIS INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33653/jkp.v11i2.1112

Abstract

Propionibacterium acnes merupakan salah satu bakteri yang menyebabkan jerawat. Pelepah pisang merupakan bagian tanaman pisang yang sering tidak dimanfaatkan dan biasanya menjadi limbah. Ekstrak pelepah pisang ambon (Musa acuminata Colla) mengandung senyawa tanin yang memiliki potensi antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu fisik dan stabilitas krim antijerawat ekstrak pelepah pisang ambon serta mengetahui aktivitas antijerawat terhadap Propionibacterium acnes. Pelepah pisang ambon diekstraksi melalui metode maserasi dengan menggunakan pelarut etil asetat kemudian dibuat 4 sediaan krim yang diuji organoleptis, pH, homogenitas, daya sebar, daya lekat dan viskositas sebelum dan sesudah uji cycling test selama 3 siklus, serta dilakukan uji antibakteri dengan metode sumuran, data zona hambat dilakukan uji One-Way ANOVA dan uji Duncan untuk mengetahui apakah ada perbedaan signifikan dari setiap formula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan krim dinilai memiliki stabilitas yang baik pada F1, F2, F3 dilihat dari uji organoleptis sediaan yang berbentuk lembut, berwarna putih kecoklatan, homogen, pH masuk dalam rentang (4,5-8,0), daya sebar (5-7 cm), daya lekat dan viskositas dibawah 40.000 cps. Hasil zona hambat yang didapatkan F1 sebesar 14,33 mm, F2 sebesar 15,20 mm, F3 sebesar 16,483 mm dan F4 sebesar 17,2 mm dengan nilai hasil uji One-Way ANOVA p-value <0,05, yang berarti terdapat perbedaan signifikan. Hasil uji Duncan menyajikan secara berurutan zona hambat dari yang terendah hingga yang tertinggi. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan, F1 memiliki mutu fisik yang baik dikarenakan memenuhi semua syarat mutu fisik.
Pengaruh Ekstraksi Bertingkat Terhadap Kadar Flavonoid Total Ekstrak Binahong (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) Fitriyani, Nisa; Haresmita, Perdana Priya; Wardani, Arief Kusuma; Rawar, Ellsya Angeline
Jurnal Kimia Fullerene Vol 9 No 2 (2024): Fullerene Journal Of Chemistry
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37033/fjc.v9i2.652

Abstract

Binahong ( Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) merupakan tumbuhan yang memiliki banyak khasiat dan sering digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit. Salah satu kandungan senyawa yang terdapat dalam daun binahong adalah flavonoid yang berfungsi sebagai obat tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstraksi maserasi bertingkat terhadap kadar total flavonoid ekstrak binahong. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental. Daun binahong di ekstraksi secara maserasi bertingkat dengan menggunakan pelarut yang memiliki kepolaran berbeda. Pelarut yang digunakan terdiri atas pelarut n-heksana (nonpolar), etil asetat (semi polar), dan etanol 96% (polar). Analisis kualitatif pada penelitian ini menggunakan uji tabung dan analisis kuantitatif menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang maksimum 417,5 nm dengan pembanding standar rutin. Hasil analisis kualitatif ekstrak n-heksan, ekstrak etil asetat, dan ekstrak etanol 96% mengandung flavonoid positif. Berdasarkan pengujian kuantitatif diperoleh kadar flavonoid total ekstrak n-heksan, etil asetat, dan etanol 96% berturut-turut yakni sebesar 2,3102%; 3,6124%; dan 1,0264%. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan ekstraksi maserasi bertingkat memberikan pengaruh terhadap kadar total flavonoid yang dihasilkan pada masing-masing ekstrak.
Overview of Using Instagram as a Marketing Media of Apotek X Sleman Anadjawa, Angel Kartinisari; Rawar, Ellsya Angeline; Soegiantoro, Didiek Hardiyanto
Jurnal EduHealth Vol. 16 No. 02 (2025): Jurnal EduHealt, Edition April - June , 2025
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of digital technology has encouraged business actors, including pharmacies, to utilize social media as an effective marketing tool. Instagram, as a visual platform with a large number of active users, offers great potential in building interactions with consumers, increasing brand awareness, and expanding the reach of service and product information. This study aims to describe how Apotek X Sleman utilizes Instagram as a marketing medium throughout 2024, as well as identifying the types of content posted, audience responses, and potential strategies that can be optimized. This study uses a quantitative descriptive method with direct observation techniques on the official Instagram account of Apotek X. The data collected includes the number and type of content posted each month, user interactions in the form of likes and comments, and grouping comments based on sentiment (positive, negative, neutral) and question form. The data were analysed using Microsoft Excel to present a numerical and visual picture of the pharmacy's digital marketing activities. The results of the study show that during the period from January to December 2024, Apotek X published 227 original content without reposts from external parties, with the dominant content being drug information. This type of content also received the most responses from users, reaching more than 1,400 responses. No negative comments or complaints were found on all the content analysed. The highest spike in interactions occurred in June, which was likely triggered by promotional content or relevant health issues at that time. In conclusion, the use of Instagram by Apotek X has proven to be quite effective in building audience engagement and maintaining a positive image of the pharmacy. The development of relevant, educational, and trending content has proven to play an important role in increasing the effectiveness of the pharmacy's digital marketing strategy.
FORMULASI DAN UJI HEDONIK MINUMAN FUNGSIONAL DARI SERBUK JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus) DENGAN VARIASI KOMPOSISI GULA STEVIA Bombo, Gavrilia Patricia; Rawar, Ellsya Angeline; Kristariyanto, Yosua Adi; Widhiarso, Ari
Duta Pharma Journal Vol. 5 No. 1 (2025): Duta Pharma Journal
Publisher : Universitas Duta Bangsa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47701/djp.v5i1.4895

Abstract

Obesitas disebabkan oleh konsumsi makanan tinggi gula dan rendah serat. Obesitas dapat dicegah dengan asupan serat seperti ?-glukan yang berpotensi menurunkan berat badan. Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) mengandung ?-glukan yang dapat diformulasikan menjadi minuman fungsional dengan pemanis rendah kalori dengan stevia. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formula minuman fungsional yang memiliki karakteristik baik dan disukai konsumen. Tahapan penelitian meliputi determinasi, pembuatan simplisia, uji parameter spesifik dan nonspesifik, pembuatan minuman fungsional, uji karakteristik minuman, dan uji hedonik pada 70 panelis. Semua formula minuman memiliki karakteristik warna putih kekuningan, bentuk cair, dan rasa manis. Berdasarkan hasil uji sediaan fisik minuman, semakin tinggi komposisi stevia, maka pH semakin turun, waktu larut semakin cepat, dan kadar air semakin turun. Berdasarkan hasil uji post hoc dengan Mann-Whitney pada uji hedonik, didapatkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara formula 5 dengan formula 1, 2, dan 3, tetapi formula 5 tidak berbeda bermakna dengan formula 4. Dengan nilai uji hedonik tertinggi (6,2 ± 1,5), dapat disimpulkan bahwa formula 5 yang paling disukai konsumen dengan komposisi 490 mg serbuk jamur tiram putih, 20 mg gula stevia, dan 19,49 g dekstrin. Formula 5 berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai produk komersial yang memenuhi aspek fungsional, sensorik, dan preferensi konsumen.
The Genetic Polymorphisms of CYP3A4*1G and CYP3A5*3 in Javanese Indonesian Population: The Genetic Polymorphisms of CYP3A4*1G and CYP3A5*3 in Javanese Indonesian Atmaja, Sarah; Ellsya Angeline Rawar; Ani Kristiyani; Dwi Aris Agung Nugrahaningsih; Ahmad Hamim Sadewa; Christine Patramurti
Journal of Tropical Life Science Vol. 14 No. 1 (2024)
Publisher : Journal of Tropical Life Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/jtls.14.01.06

Abstract

Polymorphisms of CYP3A4*1G and CYP3A5*3 affect the pharmacokinetic profile of various drugs, e.g., fentanyl, tacrolimus, diltiazem, simvastatin. Tetra-primer amplification refractory mutation system-polymerase chain (ARMS-PCR) is a simple and economical method for SNP determination. The polymorphisms in the CYP3A4*1G and CYP3A5*3 genes have not yet been examined using this method in Javanese Indonesian. Our aim was to determine the frequency of polymorphisms in the CYP3A4*1G and CYP3A5*3 genes in Indonesian Javanese using the ARMS-PCR method. Eighty-six patients at the Kalasan Community Health Centre in Yogyakarta, Indonesia, were chosen based on the inclusion criteria, which is Javanese ancestry. They gave their informed consent to blood collection by completing a form. Genetic variants were detected using Tetra-primer amplification refractory mutation system-polymerase chain (ARMS-PCR). The chi-square test was used to determine genotype deviations from Hardy-Weinberg equilibrium, with a significant threshold of 0.05. For homozygous wild types, CYP3A4 *1/*1 dominated overall among study participants (73.35%), whereas for CYP3A5*3/*3, homozygous mutants were more prevalent (83.72%). Hardy-Weinberg equilibrium is consistent with genotype frequencies (p > 0.005). One participant carried a homozygous mutation for both CYP3A4*1G and CYP3A5*3, while the other 49 subjects were heterozygous for CYP3A4*1G and homozygous mutant for CYP3A5*3, which is the highest number of SNP combinations. The findings of the current investigation demonstrate that the population has the highest proportion of homozygous CYP3A4*1G wild-types (CYP3A4*1/*1) and homozygous mutants for CYP3A5*3 (CYP3A5*3/*3)
Penentuan Aktivitas Antioksidan dengan Metode DPPH dan Kandungan Fenol Total dalam Minyak Atsiri Daun Sirih Hijau Christiani, Grace Joy; Rawar, Ellsya Angeline; Yuhara, Novena Adi
Jurnal Farmasi Sains dan Terapan (Journal of Pharmacy Science and Practice) Vol. 10 No. 2 (2023): October
Publisher : Faculty of Pharmacy, Widya Mandala Surabaya Catholic University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jfst.v10i2.4893

Abstract

Sirih hijau telah dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional dan menginang. Senyawa yang terkandung dalam daun sirih hijau beranekaragam, salah satunya adalah minyak atsiri sebesar 0,8-1,8 %. Fenol adalah salah satu jenis senyawa dalam minyak atsiri yang berpotensi sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan aktivitas antioksidan dan kadar fenol total dalam minyak atsiri daun sirih hijau. Distilasi uap-air digunakan untuk mengisolasi minyak atsiri dalam daun sirih hijau. Metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil) digunakan untuk menguji aktivitas antioksidan, sedangkan metode kolorimetri dengan reagen Folin-Ciocalteu digunakan untuk menentukan kandungan fenol total. Rendemen dari hasil isolasi minyak atsiri dalam daun sirih hijau dengan distilasi uap-air adalah 0,1% dengan kandungan fenol total sebesar 595,4 mg GAE/100 gram dan aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 5,67 µg/mL. Minyak atsiri daun sirih hijau berpotensi sebagai sumber antioksidan.
Analisis Kadar Fenolik dan Flavonoid Total pada Teh Hijau (Camellia sinensis) yang Dikeringkan dengan Oven, Solar Dryer dan Pengeringan Tradisional Rumahombar, Vonny Geminta; Setyowati, Emerita; Rawar, Ellsya Angeline
Jurnal Farmasi Sains dan Terapan (Journal of Pharmacy Science and Practice) Vol. 12 No. 1 (2025): March
Publisher : Faculty of Pharmacy, Widya Mandala Surabaya Catholic University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jfst.v12i1.6015

Abstract

Green tea (Camellia sinensis) is renowned worldwide, not only for its flavor but also for its exceptional health benefits, primarily due to its antioxidant-rich bio active components, including polyphenols like flavonoids and phenolics. The drying process is crucial for preserving these benefits, making the choice of drying method vital. This research examines how different methods—traditional, oven, and solar tunnel drying—affect the total flavonoid and phenolic content in green tea. The findings show that the solar tunnel dryer results in the highest water loss at 90.00%, followed by the oven at 76.92% and traditional drying at 70.00%. The oven also produced the highest total flavonoid levels at 5.1 ± 0.1 mg EK/g, compared to 4.9 ± 0.2 mg EK/g for solar drying and 3.78 ± 0.05 mg EK/g for traditional methods. For total phenolics, oven drying yielded 93 ± 2 mg GAE/g, while solar drying produced 79 ± 3 mg GAE/g and traditional methods resulted in 57 ± 1 mg GAE/g. Selecting the right drying method can significantly enhance the health benefits of green tea, making it an excellent choice for health-conscious consumers.were obtained in the oven drying method of 93±2 mg GAE/g, in the solar tunnel dryer 79±3 mg GAE/g and traditional 57±1 mg GAE/g.space
Using TikTok as a Marketing Media of Telemedicine X in Indonesia Kehek, Marlina Agustina; Soegiantoro, Didiek Hardiyanto; Rawar, Ellsya Angeline
Jurnal EduHealth Vol. 16 No. 04 (2025): Jurnal EduHealt, Edition October-December , 2025
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The rapid growth of social media, particularly TikTok, has transformed digital marketing strategies across industries, including healthcare. Telemedicine X in Indonesia seeks to harness TikTok’s influence to expand outreach and enhance engagement, especially among younger demographics. However, the platform’s marketing effectiveness in this context has yet to be thoroughly evaluated. This research aims to assess the performance of Telemedicine X’s TikTok content throughout 2024 by analysing user engagement (likes and comments), content types, posting frequency, audience preferences, and consumer complaints. A descriptive-quantitative method was employed, using content analysis of all TikTok posts during the study year. Data were collected manually and processed using Microsoft Excel to quantify interactions and classify comment sentiment. The results revealed high engagement levels, with over 9 million likes and 84,000 comments, indicating significant public interest. Educational content dominated the account’s output (207 out of 228 posts), aligning with public health goals and algorithmic preferences. Promotional and drug-related content were minimal due to regulatory constraints. Complaint peaks in March and June highlighted service-related dissatisfaction, while lower volumes in other months reflected either improved service or reduced outreach. The study concludes that TikTok is a promising platform for telemedicine marketing in Indonesia, capable of driving awareness and engagement. However, it recommends more interactive content, timely customer support, and data-driven campaign optimization to strengthen brand trust and effectiveness. These findings can inform broader strategies for digital health communication in emerging markets.
FORMULASI DAN UJI HEDONIK MINUMAN FUNGSIONAL DARI SERBUK JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus) DENGAN VARIASI KOMPOSISI GULA STEVIA Bombo, Gavrilia Patricia; Rawar, Ellsya Angeline; Kristariyanto, Yosua Adi; Widhiarso, Ari
Duta Pharma Journal Vol. 5 No. 1 (2025): Duta Pharma Journal
Publisher : Universitas Duta Bangsa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47701/djp.v5i1.4895

Abstract

Obesitas disebabkan oleh konsumsi makanan tinggi gula dan rendah serat. Obesitas dapat dicegah dengan asupan serat seperti ?-glukan yang berpotensi menurunkan berat badan. Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) mengandung ?-glukan yang dapat diformulasikan menjadi minuman fungsional dengan pemanis rendah kalori dengan stevia. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formula minuman fungsional yang memiliki karakteristik baik dan disukai konsumen. Tahapan penelitian meliputi determinasi, pembuatan simplisia, uji parameter spesifik dan nonspesifik, pembuatan minuman fungsional, uji karakteristik minuman, dan uji hedonik pada 70 panelis. Semua formula minuman memiliki karakteristik warna putih kekuningan, bentuk cair, dan rasa manis. Berdasarkan hasil uji sediaan fisik minuman, semakin tinggi komposisi stevia, maka pH semakin turun, waktu larut semakin cepat, dan kadar air semakin turun. Berdasarkan hasil uji post hoc dengan Mann-Whitney pada uji hedonik, didapatkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara formula 5 dengan formula 1, 2, dan 3, tetapi formula 5 tidak berbeda bermakna dengan formula 4. Dengan nilai uji hedonik tertinggi (6,2 ± 1,5), dapat disimpulkan bahwa formula 5 yang paling disukai konsumen dengan komposisi 490 mg serbuk jamur tiram putih, 20 mg gula stevia, dan 19,49 g dekstrin. Formula 5 berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai produk komersial yang memenuhi aspek fungsional, sensorik, dan preferensi konsumen.
FORMULASI DAN UJI STABILITAS FISIK SEDIAAN SCRUB DARI AMPAS KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) CANDIROTO Widiyaningrum, Dania Dewi; Soegiantoro, Didiek Hardiyanto; Rawar, Ellsya Angeline
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i4.7204

Abstract

ABSTRACT Candiroto Robusta coffee grounds, an underutilized waste product, hold potential as a base material for body scrub formulations, aligning with efforts to enhance the economic value of local commodities and reduce waste. This study aimed to formulate these coffee grounds into a scrub and evaluate its physical stability and consumer hedonic acceptance. An experimental method was employed, creating four scrub formulas (F0, F1, F2, F3) with varying concentrations of coffee grounds (0, 2.5, 5, and 7.5 grams). Physical stability was tested through organoleptic evaluation, homogeneity, pH, spreadability, and accelerated stability testing (3 cycles), while hedonic acceptance was assessed by 10 panelists. The results demonstrated that all formulations were physically stable throughout testing, evidenced by a constant pH of 6 (suitable for skin), homogeneous condition, and spreadability values meeting the standards for semisolid preparations. Organoleptic characteristics (color, aroma, texture) remained consistent, with higher coffee ground concentrations resulting in darker colors and coarser textures. Hedonic test results for color, aroma, and texture indicated that all scrub formulations were liked by the panelists. Formula F3, with a 7.5-gram concentration of coffee grounds, was the most preferred (average score of 43.22). In conclusion, Candiroto Robusta coffee grounds can be formulated into a scrub that is physically stable and sensorially acceptable, with F3 being the optimal formula. ABSTRAK Limbah ampas kopi robusta Candiroto berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku sediaan scrub, sejalan dengan upaya peningkatan nilai ekonomis komoditas lokal dan pengurangan limbah. Penelitian ini bertujuan memformulasi ampas kopi tersebut menjadi sediaan scrub dan menguji stabilitas fisik serta tingkat penerimaan konsumennya secara hedonik. Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan membuat empat formula (F0, F1, F2, F3) yang berbeda konsentrasi ampas kopi (0; 2,5; 5; dan 7,5 gram). Stabilitas fisik diuji melalui organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, dan stabilitas dipercepat (3 siklus), sedangkan uji hedonik melibatkan 10 panelis. Hasil uji stabilitas fisik menunjukkan semua formula stabil selama pengujian, dengan pH konstan 6 yang sesuai untuk kulit, kondisi homogen, serta daya sebar yang memenuhi standar sediaan semisolid. Karakteristik organoleptik (warna, aroma, tekstur) juga konsisten, dimana semakin tinggi konsentrasi ampas kopi, warna semakin tua dan tekstur semakin kasar. Hasil uji hedonik terhadap warna, aroma, dan tekstur menunjukkan bahwa semua formula scrub disukai panelis. Formula F3 dengan konsentrasi ampas kopi 7,5 gram merupakan formula yang paling disukai (nilai rata-rata 43,22). Disimpulkan bahwa ampas kopi robusta Candiroto dapat diformulasi menjadi scrub yang stabil secara fisik dan diterima secara sensori, dengan formula F3 sebagai formula terpilih.