Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

The role of interleukin-17 in vulvovaginal candidiasis (VVC): literature review Rizka Amelia; Susilawati Susilawati; Fatmawati Fatmawati
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.57356

Abstract

Vulvovaginal candidiasis (VVC) is one of the most prevalent infections of the female genital tract. According to epidemiological data, almost 75% of women will at some point in their lives contract VVC. The main causative agent is Candida albicans. One of the main mediators is IL-17, a pro-inflammatory cytokine that is essential to the immunopathogenesis of VVC. Although IL-17 is essential for antifungal immunity, excessive or prolonged activation may lead to pathogenic inflammation and recurrence. This intricacy highlights the necessity of more research into the IL-17 regulation mechanisms in VVC and its possible use as a therapeutic target. Research published between 2020 and 2025 was included in a literature search that was done using databases including Scopus, PubMed, and Google Scholar. Eight of the 64 examined papers satisfied the requirements for inclusion. IL-17 is a key mediator in the immunopathogenesis of vulvovaginal candidiasis (VVC), according to preclinical, mechanistic, and clinical research. Treatments for VVC either increase or decrease IL-17 responses, and genetic variations in the IL-17/IL-23 axis are associated with a higher risk of developing the disease. In conclusion, IL-17 plays a key role in the pathophysiology of VVC. It is a promising biomarker and therapeutic target since it influences both immunological modulation and vulnerability through therapeutic treatments and genetic differences in the IL-17/IL-23 axis.
Pengaruh Kondisi Fisik dan Kimia Air dengan Jumlah Larva Nyamuk pada Tempat Penampungan Air Dwi Handayani; Yolanda Delia Putri; Dalilah Dalilah; Susilawati Susilawati; Gita Dwi Prasasty
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 9, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v9i1.12613

Abstract

Nyamuk merupakan vektor berbagai penyakit menular seperti demam berdarah dengue, malaria, dan filariasis. Perkembangbiakan nyamuk sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan terutama faktor fisik dan kimia air pada Tempat Penampungan Air (TPA) yang berpotensi menjadi habitat larva. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kondisi fisik dan kimia air dengan jumlah larva nyamuk di kawasan salah satu taman wisata Kota Palembang. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian mencakup seluruh TPA alami maupun buatan yang ditemukan di area dalam dan luar ruangan serta larva yang ditemukan didalamnya. Parameter fisik dan kimia air yang diukur meliputi suhu, pH, salinitas, dan total dissolved solids (TDS). Identifikasi larva dilakukan secara mikroskopis untuk menentukan genus nyamuk. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dan Spearman. Penelitian ini menemukan 7 TPA, terdiri atas 4 TPA dalam ruangan (57,14%) dan 3 TPA luar ruangan (42,86%). Hanya dua kolam yang positif terdapat larva dengan total 13 ekor, seluruhnya termasuk genus Culex. Rata-rata suhu air 30,29℃, pH 7,9, salinitas 0,11‰, dan TDS 57,14 ppm. Nilai korelasi menunjukkan bahwa pH (r=0,858; p=0,014) dan salinitas (r=0,764; p=0,046) berhubungan signifikan dengan jumlah larva nyamuk, sedangkan suhu (p=0,113) dan TDS (p=0,740) tidak signifikan. Indeks larva menunjukkan ABJ 100%, HI 0%, dan CI 0%, menandakan area penelitian bebas jentik Aedes sp. Secara umum, lingkungan penelitian tergolong bebas jentik Aedes dan memiliki kepadatan larva yang rendah.