Claim Missing Document
Check
Articles

Kesiapan guru sekolah reguler untuk implentasi pendidikan inklusif Mumpuniarti Mumpuniarti; Prima Harsi Kantun Lestari
JPK (Jurnal Pendidikan Khusus) Vol 14, No 2 (2018): Jurnal Pendidikan Khusus
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.017 KB) | DOI: 10.21831/jpk.v14i2.25167

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan memotret kesiapan guru sekolah regular melaksanakan pendidikan inklusi. Metode penelitian dengan menggunakan daftar pertanyaan kepada responden guru setelah mengikuti pelatihan tentang implementasi inklusi. Responden guru terdiri dari guru tingkatan satuan taman kanak-kanak/TK; satuan Sekolah Dasar/SD; dan satuan Sekolah Menengah Pertama/SMP. Analisis data menggunakan kategorial jawaban dari responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan inklusi ternyata di satuan sekolah taman kanak-kanak/TK lebih siap, karena terdukung kompetensi pedagogi. Bagi guru sekolah regular yang belum siap untuk implementasi pendidikan inklusi berharap adanya guru pendidikan khusus dan sarana akomodasi yang lengkap untuk implementasi pendidikan inklusi.Kata kunci: kesiapan guru regular, pendidikan inklusiAbstract: This study aims to portrait the readiness of regular school teachers to carry out inclusive education. Research method by using questionnaires to teacher respondents after participating in training on implementation of inclusion. Teacher respondents consist of teachers in kindergarten/kindergarten level; elementary school / elementary school unit; and junior high school /junior high school units. Data analysis uses categorical answers from respondents. The results showed that inclusive education turned out to be better prepared in kindergartens/kindergarten schools, because pedagogy’s competence was supported. For regular school teachers who are not ready to implement inclusive education expect special education teachers and complete accommodation facilities for the implementation of inclusive education.Keywords: regular teacher readiness, inclusive education
PERAN ORANG TUA BAGI PERKEMBANGAN KOMUNIKASI CEREBRAL PALSY DENGAN SISTEM KOMUNIKASI TAMBAHAN DAN ALTERNATIF (Augmentatif and Alternatif Communication/AAC) Mumpuniarti Mumpuniarti
JPK (Jurnal Pendidikan Khusus) Vol 13, No 1 (2017): Jurnal Pendidikan Khusus
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.358 KB) | DOI: 10.21831/jpk.v13i1.27498

Abstract

Komunikasi sebagai bentuk penyampaian pesan saling timbal balik di antara komunitas manusia. Penyampaian pesan melalui saluran kode atau symbol, pada umumnya dengan symbol bunyi yang disebut verbal atau bahasa. Keterbatasan Cerebral Palsy menggunakan kode dengan verbal berakibat terhambat komunikasi. Komunikasi dengan Alternatif dan Tambahan(Alternative and Augmentatif Communication(AAC) sebagai solusi mengatasi hambatan komunikasi. AAC menggunakan kode komunikasi dengan bentuk kode lainnya, selain kode verbal dengan bicara. Kode agar fungsional penggunaannnya perlu dilatihkan oleh orang tua dalam penggunaan sehari-hari.
PEMBERDAYAAN ORANG TUA DAN MASYARAKAT DI DESA BALINGASAL DALAM IDENTIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS Ernisa Purwandari; Atien Nur Chamidah; Mumpuniarti Mumpuniarti
JPK (Jurnal Pendidikan Khusus) Vol 13, No 2 (2017): Jurnal Pendidikan Khusus
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.515 KB) | DOI: 10.21831/jpk.v13i2.19133

Abstract

Inklusi merupakan perubahan praktis yang memberikan peluang bagi anak denganberbagai latar belakang dan kemampuan yang berbeda untuk bisa berhasil dalam belajar.Perubahan ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi anak yang sering tersisih sepertianak berkebutuhan khusus tetapi juga bagi semua anak dan orangtuanya, guru dan administratorsekolah, serta setiap anggota masyarakat. Dampak dapat dirasakan semua pihak karena melaluiinklusi guru bertanggung jawab untuk mengupayakan bantuan dalam menjaring dan memberikanlayanan pendidikan pada semua anak. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalahmemberdayakan orang tua dan masyarakat untuk mengidentiikasi anak berkebutuhan khususyang belum bersekolah di lingkungannya. Identifikasi ini penting karena anak berkebutuhankhusus memerlukan layanan yang disesuaikan dengan hambatan belajar dan kebutuhan masingmasingsecara individual. Balingasal, Padureso merupakan daerah pegunungan yang aksesmasuknya cukup sulit, sehingga mobilitas kegiatan guru dan siswa sering mengalami gangguan.Di samping itu wilayah Padureso merupakan wilayah yang jauh dari ibukota kabupaten dan kotakotalainnya, dan belum ada SLB yang dapat memfasilitasi anak berkebutuhan khusus dalammelakukan pendidikannya, sehingga rata-rata orangtua memasukkan anaknya yang berkebutuhankhusus di SD regular. Diasumsikan di daerah ini masih banyak anak berkebutuhan khusus yangbelum teridentifikasi sehingga perlu adanya upaya untuk mengembangkan sumberdaya setempatagar dapat mengidentifikasi anak berkebutuhan khusus. Pemberdayaan masyarakat dan orang tuadalam identifikasi dilakukan dengan membekali masyarakat dan orang tua tentang anakberkebutuhan khusus melalui ceramah dan pendampingan. Materi yang perlu disampaikan yaitupengertian dan karakteristik anak berkebutuhan khusus, identifikasi sederhana anakberkebutuhan khusus,dan layanan bagi anak berkebutuhan khusus. Selain penyampaian materi,perlu adanya pendampingan selama identifikasi. Diasumsikan dengan adanya pemberdayaanmasyarakat dan orang tua untuk identifikasi anak berkebutuhan khusus, layanan untuk anakberkebutuhan khusus di desa Balingasal menjadi lebih optimal.
Pendekatan Scientific dalam Implementasi Kurikulum 2013 bagi Peserta Didik dengan Hambatan Intelektual Wening Prabawati; Mumpuniarti Mumpuniarti
JPK (Jurnal Pendidikan Khusus) Vol 16, No 1 (2020): Jurnal Pendidikan Khusus
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.604 KB) | DOI: 10.21831/jpk.v16i1.30345

Abstract

Artikel ini membahas tentang penggunaan pendekatan scientific dalam pelaksanaan kurikulum 2013 bagi anak dengan hambatan intelektual. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Subjek dari penelitian ini adalah dua sekolah luar biasa di Kota Yogyakarta. Teknik pengumpula data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Instrumen berisi pertanyaan dan pernyataan yang digunakan untuk mengetahui penggunaan pendekatan scientfic dalam kegiatan pembelajaran. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran bagi anak dengan hambatan intelektual terdiri dari aktivitas menanya, mengamati, mengumpulkan informasi/mencoba, menalar dan mengkomunikasikan. Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah pendidik perlu mencoba banyak pendekatan dalam pembelajaran bagi anak dengan hambatan intelektual agar mereka dapat lebih memahami materi yang mereka pelajari.
Persepsi dan pengembangan peta kognitif mahasiswa dalam blended learning Mumpuniarti Mumpuniarti
Jurnal Inovasi Teknologi Pendidikan Vol 8, No 2 (2021): Oktober
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.071 KB) | DOI: 10.21831/jitp.v8i2.25787

Abstract

Tujuan dari artikel ini adalah untuk merefleksikan manfaat perkuliahaan perkembangan anak berkebutuhan khusus melalui perkuliahaan blended learning dari aspek persepsi secara kuantitatif dan peningkatan peta kognitif secara kualitatif. Metode penelitian dengan angket dari respon mahasiswa secara kuantitatif, sedangkan peta kognitif diambil secara kualitatif terhadap fakta refleksi mahasiswa dalam mendalami materi kuliah. Respon angket meliputi sangat sesuai, sesuai, dan tidak sesuai terhadap komponen-komponen substansi perkuliahaan. Analisis data menggunakan persentase bagi data kuantitatif dan kategorial peta kognitif pada data kualitatif. Hasil diperoleh bahwa pada waktu kuantitatif persepsi mahasiswa dalam kondisi stabil, namun fakta peta kognitif secara kualitatif terjadi perubahan meningkat secara bervariasi. Dari sebelas mahasiswa peserta kuliah perkembangan anak berkebutuhan khusus ketika respon terhadap kesesuaian materi kuliah dengan capaian pembelajaran sebelum dam sesudah blended learning ternyata stabil. Peningkatan peta kognitif pada refleksi materi perkuliahaan sebelum dan sesudah blended learning bervariasi tergantung minat dan ketertarikan mahasiswa pada masing-masing komponen dari substansi perkuliahaan. Jadi, mata kuliah perkembangan anak berkebutuhan khusus bermanfaat bagi pencapaian profil lulusan.Perception and development of cognitive map's student through blended learningAbstractThe purpose of the article reflects the benefits of lecturing on the development of children with special needs through blended learning from quantitative aspects of perception and improving cognitive maps qualitatively. The research method with a questionnaire from the students' responses quantitatively, while the cognitive map is taken qualitatively to the fact of student reflection in studying lecture material. The questionnaire response includes very suitable, appropriate, and incompatible with the components of the lecture substance. Next, they were asked to reflect descriptively about the contents of the material in each lecture component. Data analysis uses percentages for quantitative and categorical cognitive map data on qualitative data. The results obtained that in quantitative time the perceptions of students are in a stable condition, but the facts of cognitive maps qualitatively change changes vary. Of the 11 (eleven) students participating in the development of children with special needs when the response to the suitability of the course material with learning outcomes before the dam after blended learning turned out to be stable. Increasing cognitive maps on reflection of lecture material before and after blended learning varies depending on student interest and interest in each component of the lecture substance. So, the developmental course of children with special needs is useful for achieving graduate profiles.
Keterlibatan orangtua dalam needs asesment pengembangan komunikasi anak cerebral palsy Mumpuniarti Mumpuniarti; Sukinah Sukinah; Pujaningsih Pujaningsih
JPPM (Jurnal Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat) Vol 4, No 1 (2017): March 2017
Publisher : Departement of Nonformal Education, Graduate Scholl of Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.284 KB) | DOI: 10.21831/jppm.v4i1.11464

Abstract

Penelitian bertujuan menggali tindakan dan harapan yang dapat dilakukan oleh orang tua yang memiliki anak Cerebral Palsy, khususnya dalam mengembangkan kemampuan berkomunikasi. Hambatan komunikasi dan kognitif yang mayoritas dimiliki oleh anak Cerebral Palsy (CP) tetap harus dioptimalkan dengan menggunakan komunikasi alternatif dan tambahan (Augmentative and Alternative Communication/AAC). Untuk itu, perlu dikembangkan media komunikasi tersebut dan kemampuan menggunakan oleh anak Cerebral Palsy diperlukan keterlibatan orang tua. Oleh karena itu, penelitian dilakukan dengan tindakan partisipasi antara peneliti dan orang tua melalui mendampingi orang tua agar supaya orang tua mampu membuat media, serta mengimplementasikan bagi anaknya yang Cerebral Palsy. Partisipasi orang tua digali dengan angket, wawancara, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 95% dari orang tua membutuhkan anaknya dapat dengan AAC, demikian juga kebutuhan (need) asesmen masih pada kebutuhan level awal komunikasi. Kondisi itu berimplikasi mengembangkan komunikasi yang dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga. AAC yang dipilih lebih ke arah miniatur benda asli dan kartu gambar.Kata Kunci: Komunikasi AAC Cerebral Palsy (CP) Parental Involvement in the Needs Assessment of Cerebral Palsy Children Communication Development AbstractThe study aims to explore the actions and expectations can be done by parents of children with Cerebral Palsy, particularly in developing communication skills. Barriers to communication and cognitive majority owned by the child's Cerebral Palsy (CP) remains to be optimized by using alternative and additional communication (augmentative and Alternative Communication / AAC). For it is necessary to develop the communications media and the ability to use the Cerebral Palsy children need parental involvement. Therefore, the research carried out with the participation of action between researchers and parents through assisting the parents so that parents can make the media, as well as implements for Cerebral Palsy children. Participation of parents dug with questionnaires, interviews, and observations. The results showed that 95% of parents in need of child can be with AAC, so does the need (need) assessment is still at the initial level of communication needs. The condition is implicated develop communication needed for daily life in the family environment. AAC selected more towards miniaturized original objects and picture cards.Keywords: Communication with AAC of Cerebral Palsy
Pencapaian pemahaman orang tua dalam membimbing tata krama anak autis Dian Ngesti Swandari; Mumpuniarti Mumpuniarti
JPPM (Jurnal Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat) Vol 7, No 1 (2020): March 2020
Publisher : Departement of Nonformal Education, Graduate Scholl of Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jppm.v7i1.25036

Abstract

Tata krama merupakan bagian dari keterampilan sosial yang mengajarkan sikap baik dalam pergaulan dari segi bahasa maupun tingkah laku. Tata krama perlu diperkenalkan pada anak autis agar mereka dapat membedakan perilaku baik dan perilaku yang kurang tepat untuk dilakukan. Orang tua memegang peranan penting dalam membimbing tata krama anak autis. Oleh karena itu diupayakan agar orang tua memahami cara untuk mendampingi dan membimbing tata krama anak autis. Salah satu cara yang efektif dalam pendampingan latihan tata krama anak autis adalah dengan pembelajaran observasional, di mana orang tua berperan sebagai model atau contoh yang akan ditiru oleh anak autis. Adapun tujuan dari latihan tata krama dengan pembelajaran observasional ini adalah agar anak berlatih tata krama dengan melihat orang tua sebagai model kemudian anak berlatih tata krama berdasar apa yang dilihatnya pada orang tua. Jadi orang tua memiliki peran ganda yaitu sebagai model dan pendamping latihan sehingga orang tua dapat memahami fungsi dari peran orang tua anak autis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan yang melibatkan semua pihak secara langsung dan dimaksudkan untuk meningkatkan keterampilan pada semua pihak yang terlibat. The achievement of parents comprehension in guiding autism children manners AbstractManners are parts of social skills that teach good attitude in association in terms of language and behaviour. Manners need to be introduced to autistic children so that they can distinguish between good behaviour and inappropriate behaviour to do. Parents play an important role in guiding the manners of autistic children. Therefore efforts are made so that parents understand how to assist and guide the behaviour of autistic children. One effective way of mentoring autism practices for children with autism is observational learning, where parents act as models or examples that will be imitated by autistic children. The aim of this observational learning is that children can practice manners by seeing their parents as models and at the end, they can apply what they see from their parents. Therefore, parents have two roles, that are as a model and a training companion so that parents can understand the role function of parents of children with autism. The method used in this research is action research that involves all parties directly and intended to improve the skills of all parties involved.
Development of activity of daily living modules based on behavioral approaches for moderate intellectual disability Noorita Dwi Sulistyaningrum; Mumpuniarti Mumpuniarti; Nurkhamid Nurkhamid
Jurnal Prima Edukasia Vol 9, No 1 (2021): January 2021
Publisher : Asosiasi Dosen PGSD dan Dikdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jpe.v9i1.32857

Abstract

Moderate intellectual disability requires a specific behavioral approach of learning Activity of Daily Living (ADL). This study aims to develop an appropriate and effective ADL module for moderate category intellectual disabilities in a special program instruction based on behavioral approaches. This research is a Research and Development (RD) using the Dick and Carey development model. The Dick and Carey development model consists of 10 steps of development, namely identifying needs in setting goals, analyzing learning, analyzing learners and context, developing learning objectives, developing assessment instruments, developing learning strategies, developing and selecting learning materials, designing and implementing formative evaluations, improving learning, designing and conducting the summative assessment. The module was implemented in the Special School of PGRI Sentolo and the Special School of Ma'arif Bantul through individual trials involving one subject, a small group trial involving six subjects, and a field test involving 15 subjects. Data collection was carried out using interviews, observations, questionnaires, and performance tests. The results of the study are that the ADL module is feasible and effective to use. The module was designed according to a behavioral approach, including the objectives were arranged from simple to complex, the presentation of the material was based on task analysis, verbal positive reinforcement was presented by the flap lift, and rewards are provided as star stickers available in the module.
Pembentukan Peta Kognitif Tunagrahita Ringan Dalam Penguasaan Konsep Pengukuran Di Bidang Berhitung dan Ilmu Pengetahuan Alam Mumpuniarti --
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 7 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i7.509

Abstract

This research was conducted in the learning for mild mentally retarded with the integration between field arithmetic and science through game play scales using balance scales. Learning in a way that aims to develop of mild mentally retarded cognitive map in mastering the concept of content size and weight; approach to research using classroom action research, research subjects 5 of mild mentally retarded students grade 1 SMP at SLB Negeri 2 Yogyakarta, monitoring actions with a structured observatio guide or unstructured observation, analysis qualitative data with a description of the information by selecting, simplifying, classifying, focused, and organized. The results showed that the mastery of the concept maps for weight and content measurement in mild mentally retarded through a gradual process and the grouping when playing scales. The process began measuring the body weight difference significant size difference was gradually reduced until the body weight difference was not significant; vice versa measuring the weight of the contents of the volume difference is different but the same type of object to the same volume but a different kind. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan pada pembelajaran bagi tunagrahita ringan dengan integrasi antara bidang berhitung dan ilmu pengetahuan alam melalui bermain timbangan memakai permainan timbangan neraca. Pembelajaran dengan cara tersebut bertujuan mengembangkan peta kognitif tunagrahita ringan dalam penguasaan konsep ukuran berat dan isi. Pendekatan penelitian menggunakan penelitian tindakan kelas, subjek penelitian 5 siswa tunagrahita ringan kelas 1 SMP Negeri 2 Yogyakarta, monitoring tindakan dengan pedoman observasi terstruktur maupun observasi tidak terstruktur, analisis data dengan kualitatif dari keterangan berupa deskripsi melalui menyeleksi, menyederhanakan, mengklasifikasikan, menfokuskan, dan mengorganisasikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguasaan peta konsep pengukuran berat dan isi pada tunagrahita ringan melalui proses bertahap dan secara grouping ketika bermain timbangan. Proses itu mulai mengukur dari benda yang perbedaan ukuran beratnya signifikan secara bertahap perbedaan itu diperkecil sampai ke benda yang perbedaan beratnya tidak signifikan; demikian juga sebaliknya mengukur berat dari isi yang perbedaan volumenya berbeda tetapi jenis bendanya sama sampai volumenya sama tetapi jenisnya berbeda.
Intervensi Dini Bahasa dan Bicara Anak Speech Delay Dewi Barotut Taqiyah; Mumpuniarti Mumpuniarti
Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol 6, No 5 (2022)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/obsesi.v6i5.2494

Abstract

Keterlambatan bahasa dan bicara harus dikenali oleh orangtua sejak dini, agar tata laksana yang diberikan dapat memaksimalkan kapasitas bahasa dan bicara yang dimiliki anak. Penelitian ini dilakukan untuk mendiskripsikan strategi pelaksanaan intervensi dini bahasa dan bicara pada anak speech delay. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian berjumlah satu orang yaitu anak berusia 4 tahun. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumen (catatan harian, dokumen chek list instrumen penilaian pencapaian perkembangan bahasa dan bicara, video kegiatan program intervensi dini). Metode analisis data menggunakan analisis deskriptif dengan pendekatan kualitaif. Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan bahasa dan bicara anak speech delay setelah diberikan intervensi dini selama 20 kali pertemuan. Peningkatan kemampuan bahasa dan bicara dapat dibuktikan dari hasil instrumen cheklist dengan menandai ketercapaian indikator bahasa dan bicara yakni anak mampu menjawab pertanyaan sederhana, mengungkapkan perasaan dengan kata sifat, mengatakan keinginan dan menyebutkan kata-kata yang dikenal.