Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

PENGARUH Nigella sativa TERHADAP JUMLAH NEUTROFIL DAN PERBAIKAN SCORING ASTHMA CONTROL TEST PADA ANAK ASMA Detriana, Vivin; Barlianto, Wisnu; Kusuma, HMS Chandra
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 3 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.687 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.006.03.2

Abstract

Asma merupakan gangguan inflamasi kronik saluran napas. Sebagian besar kasus asma dipengaruhi oleh peningkatan neutrofil jalan nafas. Penderita asma yang tidak terkontrol memberikan dampak negatif. Alat atau metode tervalidasi untuk menilai kontrol klinis asma yaitu Asthma Control Test/ACT. Saat ini berkembang pengobatan asma dengan menggunakan immunomodulator Nigella sativa (NS). Penelitian ini ingin mengetahui pengaruh pemberian NS terhadap jumlah neutrofil dan scoring ACT pada kelompok anak asma ringan sedang. Penelitian ini berjenis eksperimental, clinical trial, pre-post control study untuk scoring asma. Populasi penelitian adalah semua anak yang didiagnosis asma ringan dan sedang yang memenuhi kriteria, di Poli Respirologi Anak dan Alergi Imunologi Anak RS. Dr. Saiful Anwar Malang selama periode Januari-September 2016, jumlah sampel 28 pasien yang dibagi menjadi kelompok A (asma ringan+NS), B (asma sedang+NS), C (kontrol asma ringan), D (kontrol asma sedang), masing-masimg kelompok di-lakukan pemeriksaan darah lengkap dan peilaian skor ACT pre-post selang 8 minggu. Berdasarkan hasil analisis statistik didapatkan penurunan yang tidak signifikan jumlah neutrofil setelah perlakuan pada kelompok A (asma ringan dengan pemberian NS) (p = 0,359), didapatkan peningkatan signifikan skor ACT setelah perlakuan pada semua kelompok, dan didapatkan korelasi negatif signifikan antara jumlah neutrofil dan skor ACT pada kelompok asma sedang sebelum perlakuan (p = 0,015). Kesimpulannya, pemberian Nigella sativa pada anak asma ringan dan sedang, tidak dapat menurunkan neutrofil. Pemberian Nigella sativa pada anak asma ringan dan sedang dapat meningkatkan skor ACT. Tidak terdapat hubungan antara penurunan neutrofil dan peningkatan skor ACT setelah pemberian Nigella sativa pada anak asma ringan dan sedang.
PENGARUH Nigella sativa TERHADAP CD4+IL5, CD8+IL5, DAN KADAR INTERLEUKIN 5 SERUM PADA ANAK ASMA RINGAN DAN SEDANG Wirawan, Tommy Nugroho; Barlianto, Wisnu; Kusuma, HMS Chandra
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 2 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.311 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.006.02.2

Abstract

Asma merupakan penyakit inflamasi kronis pada saluran napas yang menjadi masalah kesehatan di dunia. Respons inflamasi pada pasien asma melibatkan banyak reaksi yang saling terkait antara epitel organ respirasi, sistem imun alami dan adaptif yang ditunjukkan oleh aktivasi Th2. Salah satu sel efektor yang penting pada eksaserbasi asma eosinofil yang aktivasinya diperantarai sitokin IL-5. IL-5 dihasilkan oleh CD4+  dan CD8+. Nigella sativa mengandung thymoquinone yang berfungsi sebagai imunomodulator. Tujuan penelitian adalah mengkaji efek pemberian Nigella sativa terhadap IL-5 serum dan jumlah sel CD4+IL-5+ dan CD8+IL-5+pada anak asma ringan dan sedang.  Desain penelitian adalah pre-post controlled study. Sebanyak 28 anak dengan rentang usia 5-18 tahun yang dibagi menjadi empat kelompok perlakuan, yaitu kelompok A dan B: asma ringan dan sedang dengan terapi standar; Kelompok C dan D: asma ringan dan sedang dengan terapi standar + Nigella sativa dengan dosis 600 mg per hari (15-30 mg/kgBB/hari) dan diberikan selama 8 minggu. Kadar IL-5 serum tidak berbeda bermakna pada semua kelompok sebelum dan setelah perlakuan (p > 0,05),  serta jumlah sel CD4+IL-5+ dan CD8+IL-5+ tidak berbeda antara sebelum dan setelah perlakuan kecuali pada kelompok A (asma ringan + terapi standar). Nigella sativa tidak memberikan perbedaan signifikan terhadap kadar IL-5 serum, jumlah sel CD4+IL-5+ dan CD8+IL-5+ dibandingkan terapi standar baik pada asma ringan maupun sedang (p > 0,05). Uji korelasi menunjukkan tidak ada korelasi signifikan antara kadar IL-5 serum, jumlah sel CD4+IL-5+ dan CD8+IL-5+ pada kelompok asma ringan dan sedang. Pemberian Nigella sativa tidak menurunkan kadar IL-5 serum, jumlah sel CD4+IL-5+ dan CD8+IL-5+ darah secara signifikan serta tidak didapatkan korelasi antara kadar IL-5 serum, jumlah sel CD4+IL-5+ dan CD8+IL-5+ darah pada kelompok asma ringan dan sedang.
Efek Imunoterapi, Probiotik, Nigella Sativa terhadap Rasio CD4+/CD8+, Kadar Imunoglobulin E, dan Skoring Asma Fattory, Hittoh; Endharti, Agustina Tri; Barlianto, Wisnu; Olivianto, Ery; Kusuma, HMS Chandra
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 4 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.04.13

Abstract

Imunoterapi alergen-spesifik dan reduksi alergen merupakan intervensi pada penyakit alergi yang berpotensi untuk mengurangi gejala alergi jangka panjang. Penurunan sel T CD4+ dan CD8+ type 2 berkorelasi erat dengan mekanisme regulasi dari imunoterapi. Sejauh ini belum ada penelitian yang mengkaji pemberian jangka panjang imunoterapi, probiotik dan Nigella sativa terhadap modulasi respon imun, khususnya rasio sel T CD4+/CD8+, kadar imunoglobulin E (IgE) dan skoring asma. Desain penelitian berupa eksperimental randomized clinical trial (RCT), pre-post control study untuk rasio sel T CD4+/CD8+, kadar IgE dan skoring asma. Subjek dibagi 4 kelompok, imunoterapi+plasebo, imunoterapi+Nigella sativa, imunoterapi+probiotik, dan imunoterapi+Nigella sativa+probiotik. Semua perlakuan diberikan selama 56 minggu. Imunoterapi yang digunakan adalah imunoterapi house dust mite subkutan. Probiotik yang diberikan ProBi (Medifarma) berisi 2x109 colony forming unit (cfu)/gram Lactobacillus acidophilus dan Bifidobacterium lactis. Skoring asma dinilai dengan skor Asthma Control Test. Rasio sel T CD4+/CD8+ diukur dengan flowcytometry, dan kadar IgE diukur menggunakan Chemiluminescence Enzyme Immunoassay. Hasil penelitian menunjukkan rasio sel T CD4+/CD8+ meningkat bermakna pada kelompok imunoterapi+Nigella sativa (p=0,027), imunoterapi+probiotik (p=0,001), dan imunoterapi+Nigella sativa+probiotik (p=0,046). Kadar IgE tidak berbeda bermakna pada kelompok imunoterapi+plasebo (p=0.,993), kelompok imunoterapi+Nigella sativa (p=0,756), imunoterapi+probiotik (p=0,105), dan imunoterapi+Nigella sativa+probiotik (p=0,630). Skoring asma meningkat bermakna pada kelompok imunoterapi+plasebo (p=0.000), imunoterapi+Nigella sativa (p=0,002), imunoterapi+probiotik (p=0,000), dan imunoterapi+Nigella sativa+probiotik (p=0,000). Sebagai kesimpulan, pemberianimunoterapi dengan ajuvan probiotik danatau Nigella sativa dapat meningkatkan secara bermakna rasio sel T CD4+/CD8+ dan skoring asma.Kata Kunci: Imunoglobulin E, imunoterapi, Nigella sativa, probiotik, rasio sel T CD4+/CD8+, skoring asma
Efek Pemberian Imunoterapi, Probiotik, Nigella sativa terhadap Th17, Neutrofil, dan Skoring Asma Muhyi, Annisa; Barlianto, Wisnu; Kusuma, HMS Chandra
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 4 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.816 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.04.14

Abstract

Peran Th17 dalam patogenesis asma dan imunoterapi menjadi konsep dan paradigma terbaru. Imunoterapi merupakan salah satu manajemen di dalam asma dan memerlukan waktu yang lama sehingga sering mengakibatkan kegagalan terapi. Terapi adjuvant antara lain probiotik dan Nigella sativa diduga dapat meningkatkan efektifitas imunoterapi. Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi efek pemberian imunoterapi, probiotik dan/atau Nigella sativa terhadap jumlah sel Th17, neutrofil dan skoring asma pada anak asma selama imunoterapi fase rumatan. Penelitian dilakukan pada  31 anak yang dikelompokkan secara acak yaitu imunoterapi plus plasebo atau imunoterapi plus Nigella sativa atau imunoterapi plus probiotik atau imunoterapi plus Nigella sativa plus probiotik selama 56 minggu. Pengukuran jumlah sel Th17 dan neutrofil dilakukan menggunakan flowsitometri setelah perlakuan. Asthma Control Test dilakukan untuk mengevaluasi gejala klinis. Data dianalisis menggunakan uji komparasi Anova One Way dan  uji korelasi Pearson. Hasil menunjukkan tidak didapatkan perbedaan yang bermakna jumlah sel Th17 dan neutrophil antara kelompok perlakuan (p-value 0,199 dan 0,326). Asthma control test secara bermakna didapatkan perbedaan antara perlakuan imunoterapi plus probiotik dibandingkan imunoterapi saja. Skoring asma pada kelompok perlakuan imunoterapi plus probiotik adalah yang tertinggi (22,6). Jumlah sel Th17, neutrofil dan ACT menunjukkan hubungan yang lemah dan tidak bermakna secara statistik (r=-0,2) (p= 0,156). Jumlah sel Th17 dan neutrofil tidak didapatkan perbedaan yang bermakna. Skoring asma pada kelompok imunoterapi plus probiotik adalah yang tertinggi. Dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan antara Th17, neutrofil dan skoring asma.Kata Kunci: Imunoterapi, neutrofil, Nigella sativa, probiotik, sel Th17, skoring asma
Perbedaan Skor ACT, CD4+CD25+Foxp3treg, CD4+IFN-γ pada Pemberian Imunoterapi, Probiotik dan Nigella Sativa Sumantri, Debby Christinne; Sumarno, Sumarno; Barlianto, Wisnu; Olivianto, Ery; Kusuma, HMS Chandra
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 4 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.04.5

Abstract

Probiotik dan Nigella sativa memiliki efek imunomodulator dan telah banyak banyak dikaji penggunaannya dalam kombinasi dengan imunoterapi asma. Imunoterapi dapat merubah perjalanan alamiah asma yang melibatkan perubahan respon imun Th2 menjadi Th1 dengan peningkatan IFN-γ. Proses tersebut juga berhubungan dengan pembentukan Tregulator, tetapi belum jelas mekanisme mana yang lebih dominan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui perbedaan skor ACT serta jumlah sel CD4+CD25+FoxP3Treg dan CD4+IFN-γ pada anak asma ringan yang mendapat imunoterapi, probiotik dan Nigella sativa. Penelitian dilakukan dengan desain randomized clinical trial posttest only with control pada 32 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dalam 4 kelompok yaitu kelompok A (imunoterapi+plasebo), kelompok B (imunoterapi+Nigella sativa), kelompok C (imunoterapi+probiotik), dan kelompok D (imunoterapi+Nigella sativa+probiotik). Perlakuan diberikan selama 56 minggu (imunoterapi fase induksi 14 minggu dan fase rumatan 42 minggu). Imunoterapi berupa ekstrak house dust mite diberikan subkutan, probiotik berupa Lactobacillus acidophilus dan Bifidobacterium lactis, dengan penilaian skoring asma menggunakan Asthma Control Test (ACT). Jumlah sel CD4+CD25+FoxP3+Treg dan CD4+IFN-γ diukur menggunakan flowcytometry. Hasil menunjukkan skor ACT kelompok C lebih tinggi bermakna dibandingkan kelompok A (p=0,04). Jumlah CD4+CD25+FoxP3+Treg paling tinggi pada kelompok D (15,966±9,720) , sedangkan jumlah CD4+IFN-γ paling tinggi pada kelompok C (17,506±11,576), tetapi tidak didapatkan perbedaan bermakna pada jumlah CD4+CD25+FoxP3+Treg (p=0,278) dan CD4+IFN-γ (p=0,367) antar semua kelompok. Dapat disimpulkan bahwa Imunoterapi+probiotik dapat meningkatkan skor ACT lebih baik dibandingkan imunoterapi saja. Imunoterapi, Nigella sativa, dan probiotik tidak memberikan perbedaan bermakna pada jumlah CD4+CD25+FoxP3 Treg dan CD4+IFN-γ.Kata Kunci: Asthma Control Test, CD4+CD25+FoxP3+Treg, CD4+IFN-γ, imunoterapi, Nigella sativa, probiotik
Membangun Desa Binaan Tanggap COVID-19, Lupus, Reumatik, dan Alergi: Upaya Menurunkan Angka Kejadian dan Mencegah Kekambuhan di Malang Handono, Kusworini; Wahono, Cesarius Singgih; Barlianto, Wisnu; Dewi, Elvira Sari; Sari, Tita Luthfia; Hasanah, Dian; Rahman, Perdana Aditya; Anshory, Muhammad; Wulandari, Desy; Sari, Dewi Purnama; Endharti, Agustina Tri; Nurdiana, Nurdiana; Kalsum, Umi; Susianti, Hani; Kalim, Handono
International Journal of Community Service Learning Vol 5, No 1 (2021): February 2021
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ijcsl.v5i1.30161

Abstract

Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang COVID-19, lupus, reumatik, dan alergi mempengaruhi keberhasilan terapi, penurunan angka kejadian, dan pencegahan kekambuhan. Tujuan pengabdian masyarakat adalah membangun desa-desa binaan tanggap COVID-19, lupus, reumatik, dan alergi di Malang oleh Tim Kelompok Kajian Lupus, Autoimun, Reumatik, dan Alergi (LAURA) Universitas Brawijaya. Warga desa binaan diberikan penyuluhan berupa seminar awam dan pelatihan tentang pertolongan awal pada penyakit COVID-19, lupus, reumatik, dan alergi, kemudian diminta mengisi kuesioner posttest untuk mengukur pemahaman. Desa-desa binaan diberikan thermo-gun dan wastafel untuk menerapkan protokol kesehatan. Satu bulan kemudian dievaluasi adanya kejadian COVID-19, lupus, reumatik, dan alergi di desa binaan. Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata warga desa binaan memahami 78,3% materi yang diberikan dan menerapkan protokol kesehatan sesuai yang diajarkan saat penyuluhan. Dilaporkan tidak ada kejadian COVID-19 serta kekambuhan lupus, reumatik, dan alergi dalam satu bulan terakhir kegiatan. Kesimpulan: pembangunan desa-desa binaan di Malang meningkatkan tanggap warga terhadap COVID-19, lupus, reumatik, dan alergi.
PENGARUH PEMBERIAN Nigella sativa TERHADAP KADAR IGE, IL-6 PLASMA SERTA SKOR ASTHMA CONTROL TEST PADA ANAK ASMA RINGAN DAN SEDANG Mutaqin, Fadilah; Barlianto, Wisnu; Santoso, Sanarto
Majalah Kesehatan FKUB Vol 7, No 4 (2020): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2020.007.04.2

Abstract

Asma adalah penyakit saluran respiratori karena inflamasi kronis yang mengakibatkan obstruksi dan hiperreaktivitas saluran respiratori. Patogenesis asma diperankan oleh keseimbangan Th1 dan Th2 yang menstimulasi produksi IgE yang ikatanya dengan sel mast dapat merangsang mediator inflamasi. Selain itu,  IL-6 yang diproduksi oleh Th17 juga berperan pada asma. Nigella sativa terbukti dapat menurunkan Th17 dan dapat memperbaiki nilai kontrol asma. Tuuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa N. sativa dapat mempengaruhi kadar IgE dan IL-6 plasma serta perbaikan skor Asthma Control Test (ACT) pada anak dengan asma ringan dan sedang. Penelitian ini berjenis eksperimental, clinical trial, pre-post control study. Populasi penelitian yaitu penderita asma ringan dan sedang yang dinilai berdasarkan kriteria GINA 2016. Subjek dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kelompok A (asma ringan, mendapat terapi short acting beta agonis, kortikosteroid inhalasi dosis rendah dan N. sativa) dan kelompok B (asma sedang, mendapat terapi long acting beta agonis, kortikosteroid inhalasi dosis rendah dan N. sativa), kelompok C (kontrol) (asma ringan, hanya mendapat terapi short acting beta agonis, kortikosteroid inhalasi dosis rendah) dan kelompok D (asma sedang, hanya mendapat terapi long acting beta agonis, kortikosteroid inhalasi dosis rendah). Pada pasien diuji kadar IgE, IL-6 dan skor ACT sebelum dan sesudah perlakuan yang diberikan perlakuan selama 8 minggu. Data dianalisis secara statistik dengan aplikasi SPSS ver 18.  Didapatkan kadar IgE pada kelompok asma sedang (B, D) lebih tinggi dibandingkan dengan asma ringan (A, C) dan didapatkan penurunan rerata kadar IgE total pada semua kelompok meskipun nilainya tidak berbeda bermakna (A: p = 0,482, B: p = 0,277; C: p = 0,18; D: p = 0,655). Didapatkan penurunan rerata kadar IL-6 pada semua kelompok meskipun nilainya tidak berbeda bermakna (A: p = 0,123; B: p = 0,338; C: p = 0,848; D: p = 0,564). Terdapat perbedaan bermakna skor ACT pada kelompok A (p = 0,016) maupun kelompok C (kontrol) (p = 003) dibandingkan dengan sebelum perlakuan. Tidak didapatkan hubungan antara kadar IgE dengan skor ACT maupun IL-6 dengan skor ACT setelah diberikan N. sativa (p > 0,05). N. sativa dapat menurunkan kadar IL-6 dan IgE plasma pada anak dengan asma ringan dan sedang serta perbaikan skor ACT pada anak dengan asma sedang meskipun nilainya tidak berbeda bermakna, tetapi sangat bermakna pada asma ringan. Tidak terdapat hubungan antara penurunan IgE dan IL-6 plasma dengan peningkatan skor ACT setelah pemberian N. sativa pada anak asma ringan dan sedang. 
Low Level of Vitamin D is Correlated with High C-Reactive Protein (CRP) and Disease Activity in Indonesian Juvenile Idiopathic Arthritis (JIA) Patients Desy Wulandari; Wisnu Barlianto; Tita Luthfia Sari
The Indonesian Biomedical Journal Vol 12, No 2 (2020)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v12i2.1143

Abstract

BACKGROUND: Vitamin D plays essential role in the regulation of inflammation, such as in pathogenesis of Juvenile Idiopathic Arthritis (JIA). Vitamin D deficiency has been reported among JIA patients, but there were conflicting results regarding the correlation with disease activity. This study aimed to assess vitamin D serum level and its correlation with C-Reactive Protein (CRP) and disease activity in JIA patients.METHODS: Children who were diagnosed with JIA according to International League of Associations for Rheumatology (ILAR) criterias were enrolled as JIA group subjects, while age and sex-matched healthy children were enrolled as the control group subjects. Vitamin D and CRP serum level were measured. Disease activity of JIA patients was calculated by Juvenile Arthritis Disease ActivityScore-27 (JADAS-27).RESULTS: Vitamin D serum level was lower in the JIA group compared to the healthy control group (p=0.000). Among 26 JIA patients, 61.5% were deficient, 30.8% were insufficient, and 7.7% had normal vitamin D. No significant different in CRP level between vitamin D group (p=0.441), but there was significant different in JADAS-27 (p=0.001). The mean of CRP and JADAS-27 were found highest in vitamin D deficiency group. Vitamin D serum level was negatively correlate with CRP (p=0.021, r=-0.452) and JADAS-27 (p=0.001 r=-0.595).CONCLUSION: Low level of vitamin D in JIA patients was inversely related to higher CRP and disease activity,suggesting that vitamin D supplementation could be havepotential role in JIA treatment.KEYWORDS: vitamin D, CRP, disease activity,JADAS-27, JIA
Immunomodulation Effects of Bryophyllum Pinnatum on Pregnant Pristane-Induced Lupus Mice Model Nurdiana Nurdiana; Elvira Sari Dewi; Yuni Sari; Rahmawati Wahyuni; Aminah Maya; Nursari Abdul Syukur; Mirza Zaka Pratama; Wisnu Barlianto; Umi Kalsum; Kusworini Handono
Research Journal of Life Science Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (755.245 KB) | DOI: 10.21776/ub.rjls.2016.003.03.8

Abstract

Objective: To determine the effect of Bryophyllum pinnatum treatment in modulating immune response and the pregnancy outcomes of pregnant pristane-induced lupus mice model.Methods: Sixteen Balb/c mice were intraperitoneally injected with single 0.5 cc pristane to induce lupus manifestations. After 12 weeks of injection, mice were mated and considered as gestational day 0 (GD0). Mice were divided into 4 groups based on the dosages of Bryophyllum pinnatum: control (no treatment), B1 (10.5 mg/kg), B2 (21 mg/kg), and B3 (42 mg/kg). The treatment was given orally every day started from GD9 until 9 days. At the end of the study, blood pressure and fetal size were measured. Serum anti-dsDNA and urine albumin levels were measured by ELISA. Spleen T helper (Th) and mature B cells percentages were measured by flow cytometry.Results: Administration of Bryophyllum pinnatum reduced the percentages of Th1 (p=0.006), Th2 (p=0.005), Th17 (p=0.000), and mature B cells (p=0.007) in dose-dependent manner. B1 and B2 had significantly lower of systolic blood pressure compared to control (p=0.026 and p=0.022 respectively). Significantly lower of anti-dsDNA levels were found in B1 group compared to control (p=0.014). However, no significantly different of urine albumin levels were found between groups. Bryophyllum pinnatum also significantly increased the fetus body weight in dose-dependent manner (p=0.000).Conclusion: Treatment of Bryophyllum pinnatum could improve the pregnancy outcome and modulate the immune response in pregnant pristane-induced lupus mice. Therefore, Bryophyllum pinnatum is a potential herb which can be developed as an immunosuppressive agent in the future.
Compatibility of Clinical Manifestation with Skin Prick Test Result and Food Provocation Test in Food Cross Reaction Azwin Lubis; Wisnu Barlianto; Anang Endaryanto; Ariyanto Harsono
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 29 No. 2 (2017): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.635 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V29.2.2017.106-116

Abstract

Background: Subjective diagnostic test of food allergy is hugely biased, resulting in irrational diet avoidance. Additional objective tools by skin prick test following food provocation test resulting more accurate cause and prevalence on population. Purpose: To evaluate the compatibility of clinical symptoms with skin prick test and provocation test for imunoglobulin E (IgE) mediated food allergy in Dr. Soetomo Hospital Surabaya. Methods: Cross sectional observational analytic study. Patient with allergy symptoms, diagnosed with food skin prick test followed by food provocation test. McNemar test and Kappa were used to analyze compatibility of skin prick test with food provocation test.  Sensitivity and spesificity test of skin prick test toward food provocation test were done. Results: McNemar test between skin prick test  and food provocation test are valued p<0.05 in all food allergen, except fruit p=0.607, but all Kappa test are low p<0.6. Fruit and chocolate showed low sensitivity  (0.307;0.409) but with high spesificity (0.823;0.8333); egg and shrimp showed high sensitivity (0.777;1.000) but low spesificity (0.548;0.352); cow’s milk, seafish, and chicken meat showed sensitivity (0.636;1.000;0.785) and high specifity (0.607;0.625;0.631); fresh water fish showed low sensitivity and spesificity (0.500;0.583). IgE mediated symptoms profile is dominated by cough except for shrimp, and non-IgE mediated also is dominated by cough  except seafish and shrimp. Conclusion: There is incompatibilty between result of skin prick test and food provocation test in IgE mediated food allergy. IgE mediated and non-mediated food allergy symptoms are dominated by airway, gastrointestinal tract, and skin symptoms. Food allergy symptoms are more related to IgE mediated than non-IgE mediated.
Co-Authors Abd. Rasyid Syamsuri Adelheid Riswanti Herminsih, Adelheid Riswanti Agustina Tri Endharti Al Faizah, Belinda Nabiila Anang Endaryanto Annisa Muhyi Ardiansyah, Esha Aris Soewondo Ariyanto Harsono Asasain, Rayi I. Atho'illah, Mochammad Fitri Azwin Lubis Debby Christinne Sumantri, Debby Christinne Desfryda, Elynca Putri desy wulandari Desy Wulandari Desy Wulandari Desy Wulandari Desy Wulandari Desy Wulandari Dewi Purnama Sari Dian Hasanah Dicky Faturrachman Dwinadella, Sephia Dyahris Koentartiwi Elvira Sari Dewi Erawati, Dini Rachma Ery Olivianto Fadlilah, Dawama Nur Hajeng Wulandari Handono Kalim Hani Susianti Hermanto, Ifirlana Hittoh Fattory, Hittoh HMS Chandra Kusuma Indira Ratih Izati, Rahmi Kalsumy, Umi Karyono Mintaroem Kavitarna, Septhyanti Aprilia Kurniawan Taufiq Kadafi Kusworini Handono Kusworini Handono M Fahrul Udin Mawaddah, Shohipatul Micho, Rahma Mohamad Slamet Chandra Kusuma Muhammad Anshory, Muhammad Mutaqin, Fadilah Naila, Centaura Ni Luh Putu HM Nisak Humairok Nurdiana Nurdiana Nurdiana Nurdiana Nursari Abdul Syukur Perdana Aditya Rahman Pratama, Mirza Zaka Putri, Choirinnisa Meilia Ayu Ra. Aminah Maya Rachmaningrum, Rafika R. Rahmawati Wahyuni Rifa'i, Muhaimin Rinik Eko Kapti, Rinik Eko Rizka Yunita Sa'adah, Nur Alfi Maghfirotus Sanarto Santoso Sari, Tita L. Sari, Tita Luthfia Satrio Wibowo Setyawati Karyono Shinta Oktya Wardhani, Shinta Oktya Siti Nur Arifah, Siti Nur Solly Aryza Sony Wicaksono Sumarno . Suryanto Suryanto Susanto Nugroho Susanto Nugroho Tita Luthfia Sari Tita Luthfia Sari Vivin Detriana, Vivin Wahono, Cesarius Singgih Wirawan, Tommy Nugroho YOGA DWI JATMIKO Yuni Sari Zaenal Kusuma