Claim Missing Document
Check
Articles

Construction of Political Identity on Instagram: Unveiling the Kadrun Hashtag Movement in Indonesia's 2024 Presidential Election: Konstruksi Identitas Politik di Instagram: Menyingkap Gerakan Tagar Kadrun dalam Pemilihan Presiden 2024 di Indonesia Ferry Adhi Dharma; Didik Hariyanto; Fajar Muharram
Academia Open Vol. 8 No. 2 (2023): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/acopen.8.2023.6922

Abstract

This scientific article investigates the construction of political identity through hashtag movements on Instagram, focusing on the "#kadrun" hashtag related to Anies Baswedan, a presidential candidate for the 2024 election in Indonesia. Using the framing analysis method by Zhong Dang Pan and Gerald M. Kosicky, the study examines the structural dimensions of political identity content by observing and analyzing the hashtag from October 3, 2022, to May 3, 2023. The results reveal three Instagram accounts actively contributing and acting as political identity buzzers, uploading 89 to 92 contents within seven months. The hashtag frames Anies Baswedan and his supporters as a radical Islamic group, seeking to establish a caliphate, and intolerant, potentially leading to political polarization based on religion, community, and ethnicity in the upcoming election. These findings hold implications for understanding the impact of social media content on political discourse and polarization, especially among young active voters who rely on Instagram as a source of information during elections. Highlight: Research Scope: The study explores the construction of political identity on social media, particularly through hashtag movements on Instagram related to the 2024 presidential candidate in Indonesia, Anies Baswedan, and the "#kadrun" hashtag. Framing Analysis: Utilizing the framing analysis method by Zhong Dang Pan and Gerald M. Kosicky, the research examines the structural dimensions of political identity content on Instagram, focusing on message characteristics and content design from October 3, 2022, to May 3, 2023. The hashtag spreads messages identifying Anies Baswedan as a radical Islamic group, causing potential religious-based political polarization, as seen in the 2019 Election. Additionally, ethnic elements now contribute to polarization based on religion, community, and ethnicity in the 2024 elections. Keyword: Political Identity, Social Media, Hashtag Movements, Instagram, Political Polarization.
Diskursus Normalisasi Homoseksualitas di Era New Media dalam Film Pendek “PRIA” Ferry Adhi Dharma; Didik Hariyanto; Novia Ayu Hafidah
Jurnal SASAK : Desain Visual dan Komunikasi Vol. 8 No. 1 (2026): SASAK (In Press)
Publisher : Universitas Bumigora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30812/sasak.v8i1.6228

Abstract

Digitalisasi media memberi ruang pada konten-konten bermuatan Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Queer, Intersex, Aseksual, dan lainnya (LGBTQIA+) hadir secara terang-terangan di berbagai platform media baru. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses normalisasi homoseksualitas di media baru melaluifilm pendek “PRIA” yang ditayangkan di platform YouTube. Metode yang digunakan adalah kualitatif, yang dielaborasi dengan analisis semiotika Roland Barthes dan konsep kekerasan simbolik Pierre Bourdieu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa film pendek “PRIA” tidak menyajikan nilai homoseksualitas secara eksplisit atau konfrontatif, melainkan melalui narasi yang tenang dan kaya akan nuansa emosional yang mendalam. Gaya penyajian ini memungkinkan penonton secara bertahap menerima keberadaan homoseksual, meskipun secara tidak langsung mulai menggoyahkan nilai-nilai budaya yang sudah mapan tanpa memicu resistensi yang keras. Kebaruan kajian ini terletak pada upaya penerapan kerangka konsep kekerasan simbolik pada lanskap media baru, yang mana perlawanan terhadap kekerasan simbolik di masa kini tidak lagi mengandalkan konfrontasi terbuka, tetapi melalui normalisasi afektif: cerita-cerita yang membangkitkan empati dan ikatan emosional, serta mudah menyebar luas di berbagai platform digital. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa algoritma media sosial serta pola konsumsi tontonan netizen telah menjadi wujud doxa masa kini, yang secara tak kasatmata mereproduksi tandingan dominasi simbolik tentang gender.
The Role of Electronic Word of Mouth in Constructing Consumer Loyalty through Digital Social Legitimacy for Culinary MSMEs Muhammad iffan Fadhillah; Didik Hariyanto
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 15, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v15i1.3987

Abstract

 Digital transformation in the culinary sector has shifted marketing communication from conventional word-of-mouth (WOM) to platform-based electronic word-of-mouth (e-WOM). This shift establishes online reviews as socially constructed spaces that fundamentally influence consumer perceptions and loyalty. This study aims to analyze how e-WOM shapes consumer loyalty toward Hanaraya Chicken Noodle, a prominent local culinary MSME. A qualitative descriptive case study was employed, utilizing data from in-depth interviews, field observations, and the documentation of 2,580 online reviews posted throughout 2024 on Google Reviews, ShopeeFood, and GrabFood. The data were analyzed through thematic analysis and validated via source triangulation. The findings reveal that e-WOM constructs loyalty by integrating cognitive, affective, and conative dimensions. Specifically, narratives emphasizing taste consistency generate satisfaction and emotional attachment, while perceptions of price fairness reinforce trust and value evaluation. The interaction of these dimensions produces digital social legitimacy, which serves as a collective reputation-building mechanism that triggers repurchase intentions and active recommendations. This study highlights that for culinary MSMEs, sustaining long-term loyalty in digital marketplace ecosystems depends on the synergy between consistent sensory quality and perceived price equity as reflected in peer-generated digital discourse.Transformasi digital dalam sektor kuliner telah mengubah pola komunikasi pemasaran dari word of mouth (WOM) konvensional menjadi electronic word of mouth (e-WOM) berbasis platform. Pergeseran ini memperkuat peran ulasan daring sebagai ruang konstruksi sosial yang secara fundamental memengaruhi persepsi dan loyalitas konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana e-WOM membentuk loyalitas konsumen pada Mie Ayam Hanaraya, sebuah UMKM kuliner lokal yang sedang berkembang. Pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif digunakan dalam penelitian ini, dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, serta dokumentasi terhadap 2.580 ulasan daring selama tahun 2024 pada platform Google Reviews, ShopeeFood, dan GrabFood. Data dianalisis menggunakan analisis tematik dan divalidasi melalui triangulasi sumber. Temuan penelitian menunjukkan bahwa e-WOM membangun loyalitas melalui integrasi dimensi kognitif, afektif, dan konatif. Secara spesifik, narasi yang menekankan konsistensi rasa menghasilkan kepuasan dan ikatan emosional, sementara persepsi keadilan harga memperkuat kepercayaan dan evaluasi nilai. Interaksi dimensi-dimensi tersebut menghasilkan legitimasi sosial digital yang mendorong niat pembelian ulang dan rekomendasi aktif. Penelitian ini menegaskan bahwa bagi UMKM kuliner, menjaga loyalitas jangka panjang dalam ekosistem pasar digital sangat bergantung pada sinergi antara kualitas sensorik yang konsisten dan keadilan harga yang tercermin dalam diskursus digital antarkonsumen. 
Co-Authors Akbar, Azriyansyah Fadil Ana Fieka Niswatul Ilmy Andrean Dwi Prasetya Aninda Pinasti Putri Mariyanto Anjani , Silvia Mitahullisa Anjarsari, Surya Ardiani Kusuma Sari Arifin, M Saiful Asiyatul Ulfiyah Baghaswanta, Jeffrey Basri Hadi Baswedan, Fauzi Choiri Choiri Choiri Choiri Darmawan, Muhammad Alif Davina Feri Fatmala Dhea Alinda Vitara Djarot Meidi Budi Utomo Doni Rudiyanto Dwi Prasetya, Andrean Dwitia Masdarul Mawahib Dyah Ayu Kharina Fajar Muharram Fernanda, Eryansya Alga Ferry Adhi Dharma Fredy Kurniadi Gustin, Eliana Ardelia Hafshah Hazimah Hakam, Dear Haris, Utari Kencana Hariyadi, Nanda Widyanita Harli Brata Wardhana Hendra Sukmana Ilmy, Ana Fieka Niswatul Jamaluddin Fawaid Joko Susilo Khofifatuzzahro , Rifki Khoirun Nisak Lesmana, Sandi Putra Lina Nur Azizah Maulana, Riswanda Maulia Figo Arian Difa Mayetti Akmal Melyana, Azahra Aqita Menza , Noval Nabadi Sevi moh saifulloh, moh Mohamad Faiz Bilmukharom Muhammad Ardiansyah Muhammad iffan Fadhillah Muhammad Mahmud Mulyanto, Kharisma Putri Nanda Rizkiyah Novi Nur Aini, Novi Nur Novia Ayu Hafidah Novianti, Anandita Putri Nur Luqman Shalahudin Nurjanah, Indah PRAMONO, PUGUH Putri, Safira Ramadhani Rahman, Nur Fatkhur Rahmawati , Neny Ratti, Kara Thania Rijal, Moch. Choirul Rio Agung Permana Riza Fatmawati Roro Ayu Ruddy Purnama Sagita, Faikatul Anggola Saifudin, Fahmi Savana, Ylin Diva Sidiq, Akhmad Totok Wahyu Abadi Tri Santoso, Redy Vivi Mulyati Wincoko Wulandari , Ariesta Wulandari Ciptaningtyas , Ariesta Wulandari, Alifiah Mulia Yuanico Lirauka Yuniarti, Vitri Yusri Dianne Jurnalis Yussof, Ishak