Claim Missing Document
Check
Articles

Cultural Acculturation Among Students from Outside Java: A Study Beyond Java's Borders: Akulturasi Budaya di Kalangan Mahasiswa dari Luar Jawa: Studi di Luar Batas Jawa Ana Fieka Niswatul Ilmy; Didik Hariyanto
Academia Open Vol. 9 No. 1 (2024): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/acopen.9.2024.5213

Abstract

This study explores cultural acculturation among students from outside Java at Muhammadiyah University Sidoarjo (Umsida). Utilizing qualitative methods, including purposive sampling, interviews, and observations, the research reveals swift adaptation in language, accents, habits, and cuisine. While students embrace Javanese culture through interactions and active participation, they maintain their original identity. This research contributes valuable insights into the nuanced dynamics of cultural assimilation within educational contexts, emphasizing the importance of fostering cultural understanding and inclusivity. Highlights : Swift Assimilation: Non-Javanese students at Umsida rapidly adapt to local language, accents, habits, and cuisine. Identity Maintenance: Despite cultural assimilation, students consciously retain aspects of their original identity. Educational Dynamics: The study sheds light on the intricate dynamics of cultural exchange within the educational setting, emphasizing the need for inclusivity and cultural understanding. Keywords: Cultural Adaptation, Non-Javanese Students, Umsida, Intercultural Communication, Identity Preservation
Construction of Political Identity on Instagram: Unveiling the Kadrun Hashtag Movement in Indonesia's 2024 Presidential Election: Konstruksi Identitas Politik di Instagram: Menyingkap Gerakan Tagar Kadrun dalam Pemilihan Presiden 2024 di Indonesia Ferry Adhi Dharma; Didik Hariyanto; Fajar Muharram
Academia Open Vol. 8 No. 2 (2023): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/acopen.8.2023.6922

Abstract

This scientific article investigates the construction of political identity through hashtag movements on Instagram, focusing on the "#kadrun" hashtag related to Anies Baswedan, a presidential candidate for the 2024 election in Indonesia. Using the framing analysis method by Zhong Dang Pan and Gerald M. Kosicky, the study examines the structural dimensions of political identity content by observing and analyzing the hashtag from October 3, 2022, to May 3, 2023. The results reveal three Instagram accounts actively contributing and acting as political identity buzzers, uploading 89 to 92 contents within seven months. The hashtag frames Anies Baswedan and his supporters as a radical Islamic group, seeking to establish a caliphate, and intolerant, potentially leading to political polarization based on religion, community, and ethnicity in the upcoming election. These findings hold implications for understanding the impact of social media content on political discourse and polarization, especially among young active voters who rely on Instagram as a source of information during elections. Highlight: Research Scope: The study explores the construction of political identity on social media, particularly through hashtag movements on Instagram related to the 2024 presidential candidate in Indonesia, Anies Baswedan, and the "#kadrun" hashtag. Framing Analysis: Utilizing the framing analysis method by Zhong Dang Pan and Gerald M. Kosicky, the research examines the structural dimensions of political identity content on Instagram, focusing on message characteristics and content design from October 3, 2022, to May 3, 2023. The hashtag spreads messages identifying Anies Baswedan as a radical Islamic group, causing potential religious-based political polarization, as seen in the 2019 Election. Additionally, ethnic elements now contribute to polarization based on religion, community, and ethnicity in the 2024 elections. Keyword: Political Identity, Social Media, Hashtag Movements, Instagram, Political Polarization.
Higher Self Efficacy Associated with Lower Academic Procrastination: Efikasi Diri yang Lebih Tinggi Berkaitan dengan Penundaan Akademik yang Lebih Rendah Pandu Bagus; Didik Hariyanto
Academia Open Vol. 10 No. 2 (2025): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/acopen.10.2025.12957

Abstract

General Background: Academic procrastination is commonly experienced by university students and involves delaying academic responsibilities that may disrupt learning processes. Specific Background: Self efficacy reflects an individual’s belief in their ability to organize and complete academic tasks and is related to behavioral regulation. Knowledge Gap: Research examining the relationship between self efficacy and academic procrastination within specific university student populations remains limited. Aims: This study aimed to analyze the relationship between self efficacy and academic procrastination among university students. Results: A quantitative correlational design was applied using self efficacy and academic procrastination questionnaires analyzed with Pearson product moment correlation. The results showed a significant negative relationship, indicating that students with higher self efficacy demonstrated lower procrastination levels. Novelty: This study provides empirical evidence within the examined university student population regarding psychological determinants of academic procrastination. Implications: The findings support the inclusion of self efficacy development in academic counseling and student support programs to address delayed academic task completion.  Highlights: Statistical Testing Identified an Inverse Correlation Between Confidence in Task Ability and Delay Behavior. Questionnaire Analysis Demonstrated Variability in Postponement Patterns Among Participants. Psychological Capability Belief Was Identified as a Factor Related to Delayed Academic Responsibility. Keywords: Self Efficacy, Academic Procrastination, University Students, Academic Behavior, Student Task Completion
Komodifikasi Bahasa Lokal Sebagai Simulakra: Studi Kasus Pojok Kampung JTV Didik Hariyanto; Ferry Adhi Dharma; Fara Putri Amalia
ETTISAL : Journal of Communication Vol. 10 No. 1 (2025): Ettisal : Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan pola konsumsi media akibat disrupsi digital telah menyebabkan banyak media konvensional mengalami krisis eksistensi. Di tengah fenomena ini, Jawa Pos Televisi (JTV) Surabaya mempertahankan eksistensinya sebagai media lokal melalui strategi simbolik, yaitu komodifikasi bahasa lokal Suroboyoan dalam program Pojok Kampung. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana bahasa lokal diposisikan sebagai simulacra dalam proses produksi berita dan bagaimana komodifikasi terjadi dalam ruang redaksi. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan analisis perspektif Jean Baudrillard, data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap produser, presenter, dan audiens program. Hasil menunjukkan bahwa bahasa Suroboyoan telah kehilangan referensi aslinya dan menjadi bentuk representasi hiperrealitas, praktik ini membentuk realitas simbolik dalam ruang redaksi yang sesuai dengan konsep simulacra dan simulasi dari Jean Baudrillard yang berfungsi sebagai strategi membentuk persepsi dan mempertahankan keterikatan audiens lokal. Strategi ini membuktikan bahwa simbol budaya lokal dapat direkonstruksi sebagai alat resistensi media terhadap hegemoni digital. Temuan ini menunjukkan bahwa media lokal tidak hanya memproduksi informasi, tetapi juga membentuk persepsi melalui konstruksi simbolik bahasa.
Diskursus Normalisasi Homoseksualitas di Era New Media dalam Film Pendek “PRIA” Ferry Adhi Dharma; Didik Hariyanto; Novia Ayu Hafidah
Jurnal SASAK : Desain Visual dan Komunikasi Vol. 8 No. 1 (2026): SASAK (In Press)
Publisher : Universitas Bumigora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30812/sasak.v8i1.6228

Abstract

Digitalisasi media memberi ruang pada konten-konten bermuatan Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Queer, Intersex, Aseksual, dan lainnya (LGBTQIA+) hadir secara terang-terangan di berbagai platform media baru. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses normalisasi homoseksualitas di media baru melaluifilm pendek “PRIA” yang ditayangkan di platform YouTube. Metode yang digunakan adalah kualitatif, yang dielaborasi dengan analisis semiotika Roland Barthes dan konsep kekerasan simbolik Pierre Bourdieu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa film pendek “PRIA” tidak menyajikan nilai homoseksualitas secara eksplisit atau konfrontatif, melainkan melalui narasi yang tenang dan kaya akan nuansa emosional yang mendalam. Gaya penyajian ini memungkinkan penonton secara bertahap menerima keberadaan homoseksual, meskipun secara tidak langsung mulai menggoyahkan nilai-nilai budaya yang sudah mapan tanpa memicu resistensi yang keras. Kebaruan kajian ini terletak pada upaya penerapan kerangka konsep kekerasan simbolik pada lanskap media baru, yang mana perlawanan terhadap kekerasan simbolik di masa kini tidak lagi mengandalkan konfrontasi terbuka, tetapi melalui normalisasi afektif: cerita-cerita yang membangkitkan empati dan ikatan emosional, serta mudah menyebar luas di berbagai platform digital. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa algoritma media sosial serta pola konsumsi tontonan netizen telah menjadi wujud doxa masa kini, yang secara tak kasatmata mereproduksi tandingan dominasi simbolik tentang gender.
The Role of Electronic Word of Mouth in Constructing Consumer Loyalty through Digital Social Legitimacy for Culinary MSMEs Muhammad iffan Fadhillah; Didik Hariyanto
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 15, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v15i1.3987

Abstract

 Digital transformation in the culinary sector has shifted marketing communication from conventional word-of-mouth (WOM) to platform-based electronic word-of-mouth (e-WOM). This shift establishes online reviews as socially constructed spaces that fundamentally influence consumer perceptions and loyalty. This study aims to analyze how e-WOM shapes consumer loyalty toward Hanaraya Chicken Noodle, a prominent local culinary MSME. A qualitative descriptive case study was employed, utilizing data from in-depth interviews, field observations, and the documentation of 2,580 online reviews posted throughout 2024 on Google Reviews, ShopeeFood, and GrabFood. The data were analyzed through thematic analysis and validated via source triangulation. The findings reveal that e-WOM constructs loyalty by integrating cognitive, affective, and conative dimensions. Specifically, narratives emphasizing taste consistency generate satisfaction and emotional attachment, while perceptions of price fairness reinforce trust and value evaluation. The interaction of these dimensions produces digital social legitimacy, which serves as a collective reputation-building mechanism that triggers repurchase intentions and active recommendations. This study highlights that for culinary MSMEs, sustaining long-term loyalty in digital marketplace ecosystems depends on the synergy between consistent sensory quality and perceived price equity as reflected in peer-generated digital discourse.Transformasi digital dalam sektor kuliner telah mengubah pola komunikasi pemasaran dari word of mouth (WOM) konvensional menjadi electronic word of mouth (e-WOM) berbasis platform. Pergeseran ini memperkuat peran ulasan daring sebagai ruang konstruksi sosial yang secara fundamental memengaruhi persepsi dan loyalitas konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana e-WOM membentuk loyalitas konsumen pada Mie Ayam Hanaraya, sebuah UMKM kuliner lokal yang sedang berkembang. Pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif digunakan dalam penelitian ini, dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, serta dokumentasi terhadap 2.580 ulasan daring selama tahun 2024 pada platform Google Reviews, ShopeeFood, dan GrabFood. Data dianalisis menggunakan analisis tematik dan divalidasi melalui triangulasi sumber. Temuan penelitian menunjukkan bahwa e-WOM membangun loyalitas melalui integrasi dimensi kognitif, afektif, dan konatif. Secara spesifik, narasi yang menekankan konsistensi rasa menghasilkan kepuasan dan ikatan emosional, sementara persepsi keadilan harga memperkuat kepercayaan dan evaluasi nilai. Interaksi dimensi-dimensi tersebut menghasilkan legitimasi sosial digital yang mendorong niat pembelian ulang dan rekomendasi aktif. Penelitian ini menegaskan bahwa bagi UMKM kuliner, menjaga loyalitas jangka panjang dalam ekosistem pasar digital sangat bergantung pada sinergi antara kualitas sensorik yang konsisten dan keadilan harga yang tercermin dalam diskursus digital antarkonsumen. 
Analisis Strategi Pemasaran Digital melalui Instagram untuk Menarik Minat Mahasiswa Baru Achmad Junaidi; Mas Aldrin Zagna Rania Kartika; Didik Hariyanto
Jurnal Pengabdian Sosial Humaniora Vol 2 No 3 (2026): EDISI 4
Publisher : Universitas Teknologi Sumbawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36761/abdimawa.v2i3.7123

Abstract

Perkembangan media sosial telah mengubah strategi promosi pendidikan dengan menghadirkan ruang komunikasi digital yang interaktif dan mudah diakses calon mahasiswa. Instagram menjadi salah satu platform yang dimanfaatkan institusi pendidikan untuk membangun citra, menyebarkan informasi akademik, serta memperkuat daya tarik program studi melalui konten visual. Memiliki potensi strategis dalam meningkatkan visibilitas dan kepercayaan calon mahasiswa melalui penyampaian informasi berbasis konten visual dan interaksi pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan Instagram pada akun @mist_umsida sebagai strategi promosi program studi berbasis marketing mix 7P. Digunakan metode kualitatif deskriptif melalui wawancara dan dokumentasi konten Instagram, dengan analisis data model Miles & Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh elemen marketing mix 7P telah diimplementasikan melalui konten Instagram @mist_umsida. Product ditampilkan melalui kegiatan akademik, price melalui informasi biaya pendidikan, place melalui dokumentasi fasilitas kampus, promotion melalui unggahan pendaftaran mahasiswa baru, people melalui profil dosen, process melalui sistem perkuliahan hybrid, dan physical evidence melalui bukti visual lingkungan kampus. Pemanfaatan Instagram dinilai cukup efektif dalam membangun citra program studi dan menarik minat calon mahasiswa. Meski demikian, efektivitas promosi masih dapat ditingkatkan melalui konsistensi unggahan, interaksi audiens, dan perluasan platform digital. Dengan demikian, Instagram memiliki peran strategis dalam mendukung promosi program studi di era digital.
Framing Prabowo's 'Gemoy' Campaign: National and International Media Perspectives Esa Rezki Habibillah; Didik Hariyanto
Lingkar Studi Komunikasi (LISKI) Vol 12 No 1 (2026): FEBRUARI 2026
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/liski.v12i1.9187

Abstract

The “Prabowo Gemoy” campaign has become a prominent political communication innovation in Indonesia, particularly in targeting younger voters through humorous, expressive, and highly visual content. This study analyzes how two media outlets, Kumparan (as national media) and BBC News (as international media), frame the campaign using Robert M. Entman’s framing analysis model. A qualitative media text analysis method was employed to examine four key elements of framing: defining problems, diagnosing causes, making moral judgments, and suggesting remedies. The results indicate that Kumparan frames the campaign as a modern and emotionally resonant strategy to connect with Gen Z and millennial voters, depicting it as a breakthrough in digital political marketing. Conversely, BBC News frames the campaign critically, highlighting the risks of image rebranding and the potential whitewashing of Prabowo's controversial human rights record. These divergent frames reflect the cultural and institutional differences between the media outlets. This study concludes that media not only report political events but actively shape public perception and political discourse through strategic framing, which plays a crucial role in constructing the image of political figures.
Strategi Komunikasi Interpersonal Pemimpin Tim Rare Dalam Permainan Online Point Blank M. Yoga Setiawan; Didik Hariyanto
Jurnal Ilmu Komunikasi dan Media Kontemporer Vol. 1 No. 1 (2025): October
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/jikmk.v1i1.486

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan memahami strategi komunikasi interpersonal yang digunakan oleh pemimpin tim Rare dalam membangun kekompakan, koordinasi, dan kerja sama tim dalam konteks permainan online Point Blank. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis konten. Subjek penelitian terdiri dari lima anggota aktif tim Rare. Data dikumpulkan melalui wawancara online dengan pertanyaan terbuka. Hasil wawancara direkam, ditranskrip, dan dianalisis untuk mengidentifikasi tema-tema utama terkait strategi komunikasi tim. Hasil dari penelitian ini adalah lima indikator strategi komunikasi interpersonal yang dijalankan oleh pemimpin Tim Rare, yaitu keterbukaan (openness), empati (empathy), dukungan (supportiveness), sikap positif (positiveness), dan kesetaraan (equality). Kelima strategi ini mencerminkan peran kapten dalam membangun komunikasi yang inklusif dan dialogis, menciptakan suasana tim yang suportif dan demokratis. Kapten membuka ruang diskusi, memahami kondisi emosional anggota, memberikan dukungan mental, menyebarkan semangat positif, serta mendorong partisipasi setara, sehingga memperkuat solidaritas dan kekompakan tim dalam situasi kompetitif
The Hyperreality of Identity Politics on Social Media Didik Hariyanto; Ferry Adhi Dharma; Ishak Yussof; Fajar Muharram
Communicatus: Jurnal Ilmu komunikasi Vol. 8 No. 1. June (2024): Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/cjik.v8i1.28356

Abstract

Religious-based identity political content is widespread on social media, raising voter polarization and social conflict. This research revealed the religious commodification of political buzzers for political identity and the hyperreality created on social media to attack their political opponents with identity politics. It used a qualitative commodification perspective by Jean Baudrillard. The data source was identity political content produced by buzzers from 03 October 2022 to 03 May 2023 or since the NasDem Party declared Anies Baswedan a presidential candidate. The results suggested that political buzzers coordinatedly use religion as a political commodity to build hatred through the Kadrun hashtag. In the 2019 elections, this hashtag successfully created a radical stigma among groups supporting Prabowo-Sandi and is now used to attack Anies supporters. Besides, the hyperreality created by the buzzers is the symbolization of Arab Islam to label Anies and his supporters, and indigenous Islam to describe cultural Islamic groups or native Indonesian Islam. Through social media, Arab Islam is simulated as a group full of conflict and supporting the caliphate while indigenous Islam is a peace-loving and nationalist group, which leads to widespread social disintegration, not only among Muslims in the country but also sentiment among Arab descendants in Indonesia. The impact of extreme identity politics can encourage radicalization and violence, especially when there are narratives that manipulate feelings of injustice or threats to the identity of certain groups.
Co-Authors Achmad Junaidi Akbar, Azriyansyah Fadil Ana Fieka Niswatul Ilmy Andrean Dwi Prasetya Aninda Pinasti Putri Mariyanto Anjani , Silvia Mitahullisa Anjarsari, Surya Ardiani Kusuma Sari Arifin, M Saiful Asiyatul Ulfiyah Baghaswanta, Jeffrey Basri Hadi Baswedan, Fauzi Choiri Choiri Choiri Choiri Darmawan, Muhammad Alif Davina Feri Fatmala Dhea Alinda Vitara Djarot Meidi Budi Utomo Doni Rudiyanto Dwi Prasetya, Andrean Dwitia Masdarul Mawahib Dyah Ayu Kharina Esa Rezki Habibillah Fajar Muharram Fajar Muharram Fara Putri Amalia Fernanda, Eryansya Alga Ferry Adhi Dharma Fredy Kurniadi Gustin, Eliana Ardelia Hafshah Hazimah Hakam, Dear Haris, Utari Kencana Hariyadi, Nanda Widyanita Harli Brata Wardhana Hendra Sukmana Icho Ade Fikrianto Ilmy, Ana Fieka Niswatul Ishak Yussof Jamaluddin Fawaid Joko Susilo Khofifatuzzahro , Rifki Khoirun Nisak Lesmana, Sandi Putra Lina Nur Azizah M. Yoga Setiawan Mas Aldrin Zagna Rania Kartika Maulana, Riswanda Maulia Figo Arian Difa Mayetti Akmal Melyana, Azahra Aqita Menza , Noval Nabadi Sevi moh saifulloh, moh Mohamad Faiz Bilmukharom Muhammad Abror Muhammad Ardiansyah Muhammad iffan Fadhillah Muhammad Mahmud Muhammad Yani Mulyanto, Kharisma Putri Nanda Rizkiyah Novi Nur Aini, Novi Nur Novia Ayu Hafidah Novianti, Anandita Putri Nur Luqman Shalahudin Nurjanah, Indah Pandu Bagus PRAMONO, PUGUH Putri, Safira Ramadhani Rahman, Nur Fatkhur Rahmawati , Neny Ratti, Kara Thania Rijal, Moch. Choirul Rio Agung Permana Riza Fatmawati Roro Ayu Ruddy Purnama Sagita, Faikatul Anggola Saifudin, Fahmi Savana, Ylin Diva Sidiq, Akhmad Totok Wahyu Abadi Tri Santoso, Redy Vivi Mulyati Wincoko Wulandari , Ariesta Wulandari Ciptaningtyas , Ariesta Wulandari, Alifiah Mulia Yuanico Lirauka Yuniarti, Vitri Yusri Dianne Jurnalis Yussof, Ishak