Articles
ACCURACY TEST OF BRUNTON COMPASS AND SUUNTO COMPASS IN MEASURING QIBLA DIRECTION
Muhammad Hidayat;
Arwin Juli Rakhmadi;
Abdul Rahman Cemda;
Marataon Ritonga
Proceeding International Seminar of Islamic Studies INSIS 5 (March 2023)
Publisher : Proceeding International Seminar of Islamic Studies
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
One of the methods in measuring Qibla Direction is using a compass. The compass itself consists of various types and has different levels of accuracy. Therefore this trial was conducted to determine the level of accuracy between the Brunton compass and the Suunto compass in measuring Qibla direction. This research method uses the field research method or field research using the Brunton Compass, Suunto Compass, Theodolite, Arc Roller, Solar Azimuth Data, Magnetic Deviation Data for Medan City and other supporting data/instruments. The results of this study indicate that the Brunton compass has higher accuracy than the Suunto compass which was tested using a theodolite.
ZIJ ULUGH BEK AND HIS INFLUENCE ON ISLAMIC ASTRONOMY DEVELOPMENT IN NUSANTARA
Arwin Juli Rakhmadi;
Hariyadi Putraga;
Nor Azam bin Mat Noor
Proceeding International Seminar of Islamic Studies INSIS 5 (March 2023)
Publisher : Proceeding International Seminar of Islamic Studies
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Ulugh Bek (d. 853 H/1449 AD) was a Muslim scientist who mastered mathematics and astronomy, he also served as director of the Samarkand Observatory. One of his works in astronomy is “Zij Ulugh Bek” also known as “Zij al-Sulthany”. This zij contains data or astronomical tables of celestial bodies which include studies of hisab and calendar, the celestial bodies' area, planets, and the star's position. In its development, this work significantly influences the Islamic science idea and development in Nusantara, where the Islamic science books written by Islamic science national figures refer to and quote this zij a lot. Genealogically, Ulugh Bek’s Zij is one of the main sources of Islamic science studies development in Nusantara, while the astronomical data contained in this book is fairly accurate so it is still suitable to use at present.
Penentuan Awal Waktu Subuh Menggunakan Kamera DSLR dan Metode Moving Average
Hariyadi Putraga;
Arwin Juli Rakhmadi;
Muhammad Dimas Firdaus;
Muhammad Hidayat
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (505.402 KB)
|
DOI: 10.24198/jiif.v6i2.38995
Keberadaan Teknologi terutama optik dan digital yang dapat digunakan dengan pengaturan serupa dimanapun agar dapat dilaksanakan siapa saja dapat menjadi standar baru untuk penentuan dan tampilan visual awal waktu subuh yang terlihat di lapangan. Kamera Digital yang dapat diambil dengan berkala sehingga dapat menghasilkan deretan gambar sesuai waktu dan menujukan perbedaan langit saat transisi waktu subuh menjadi salah satu pilihan dan alat pembuktian awal waktu subuh di dunia.Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan awal waktu subuh menurut Kemenag dengan hasil olahan citra menggunakan metode moving average. Hasil olahan citra tersebut berhasil menunjukkan awal perubahan langit pada waktu subuh dengan terlihatnya perubahan nilai pixel yang signifikan. Dari penelitian ini ditemukan hasil awal waktu subuh pada tanggal pengamatan berada pada saat matahari pada dip -17° 07' 12".
PENENTUAN WAKTU SUBUH MENGGUNAKAN ALL SKY CAMERA DAN METODE MOVING AVERAGE DI KOTA MEDAN
Marataon Ritonga;
Arwin Juli Rakhmadi;
Abu Yazid Raisal
Mahkamah : Jurnal Kajian Hukum Islam Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24235/mahkamah.v8i1.13033
Waktu salat Subuh dimulai ketika terbit fajar shadiq dan berakhir sampai terbit Matahari. Di Indonesia banyak ahli falak yang menetapkan kriteria ketinggian Matahari untuk menentukan awal waktu salat Subuh dengan ketinggian yang bervariatif, mulai dari -18 derajat sampai -20 derajat di bawah ufuk bahkan pada ketinggian -13 derajat di bawah ufuk. Kementerian Agama RI menetapkan ketinggian Matahari untuk waktu salat Subuh pada -20 derajat di bawah ufuk. Dengan adanya perbedaan dalam menetapkan ketinggian Matahari di bawah ufuk, para ahli falak maupun astronomi banyak melakukan pengamatan ulang terhadap kemunculan fajar shadiq. Salah satunya melakukan pengamatan fajar shadiq menggunakan All Sky Camera dengan metode moving average dan pendekatan Gradien. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan (field Research) melalui observasi untuk mendapatkan data dilapangan secara langsung. Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapatkan kemunculan fajar shadiq pada saat ketinggian Matahari pada -15 derajat di bawah ufuk.
PERAN DAN KONTRIBUSI OIF UMSU DALAM PENGENALAN ILMU FALAK DI SUMATERA UTARA
Muhammad Qorib;
Zailani Zailani;
Radiman Radiman;
Amrizal Amrizal;
Arwin Juli Rakhmadi
Jurnal Pendidikan Islam Vol. 10 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22236/jpi.v10i2.3735
Astronomy is counted as a natural science that always gets the most attention of humans all the time. Lately, in Indonesia began to appear astronomical observatories that examine various things. The Falak Observatory of the University of Muhammadiyah North Sumatra (OIF UMSU) is one that has played an important role in the development of astronomy in Indonesia, especially in North Sumatra. In this observatory there are classical and modern astronomical tools. Among the role and contribution of this observatory is to provide information for students about the phenomenon and importance of astronomy, then training for students, astronomy studies, and others. The existence of this observatory is basically an appreciation of science and technology that are part of civilization.
Pelatihan Pembuatan Peta Bintang Pada Masyarakat Di Danau Lau Kawar
Ida Hanifah;
Abu Yazid Raisal;
Arwin Juli Rakhmadi;
Muhammad Hidayat
Azkayra: Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Sosial Vol 1, No 1 (2024)
Publisher : Azkayra: Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Sosial
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55311/azkayra.v1i1.8
Astronomi merupakan cabang ilmu pengetahuan tertua yang mempelajari tentang langit dan segala yang ada didalamnya. Pengamatan benda langit merupakan elemen yang penting untuk mempelajari astronomi karena dapat mengembangkan keterampilan, meningkatkan pemahaman tentang konsep astronomi, dan membantu menumbuhkan minat. Minat masyarakat Indonesia terhadap astronomi semakin meningkat namun kendalanya astronomi tidak diajarkan secara khusus di sekolah. Salah satu pembahasan yang ada dalam astronomi adalah planisphere. Planisphere atau peta bintang merupakan alat yang digunakan untuk mengidentifikasi bintang dan rasi bintang di langit malam. Tujuan pengabdian ini adalah untuk mengenalkan peta bintang baik dalam teori dan penggunaannya serta melatih cara membuat peta bintang secara mandiri. Kegiatan ini dilakukan dalam tiga tahap yaitu pendahuluan, pembuatan, dan evaluasi. Berdasarkan tanggapan peserta diketahui bahwa peserta menyukai kegiatan ini karena menyenangkan dan dapat menambah ilmu. Kendala yang didapatkan saat melakukan kegiatan adalah pada saat peserta mencoba menggunakan peta bintang yang sudah dibuat karena kondisi langit yang berawan. Keyword : Astronomy, Planisphere, Lau Kawar.
Tolerance and Moderation in the Formulation of A Global Islamic Calendar
Muhammad Qorib;
Arwin Juli Rakhmadi
Al-Fikru: Jurnal Ilmiah Vol. 17 No. 2 (2023): Desember (2023)
Publisher : STAI Serdang Lubuk Pakam
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51672/alfikru.v17i2.291
The Global Islamic Calendar is a new breakthrough in the modern era with the aim of uniting all Muslims in a unified and integrated time scheduling system. In this regard, this study aims to analyze the dynamics of the global calendar and solutions to minimize differences in views. The research method used is qualitative based on literature study. Data analysis was conducted using content analysis. The results of the study revealed that the idea of a global calendar was motivated by the frequent differences in dropping the days of worship, especially Ramadan, Shawwal, and Zulhijah, not on the same day, even the difference reached more than two days. The idea of the Global Islamic Calendar has been rejected by a number of parties with all the reasons and rebuttals that cause the dynamics and discourse about it to continue to emerge. Considering the sharp differences, a moderate and tolerant attitude is needed from all parties because this issue is a fiqh issue that is prone to differences of opinion. Moderation and tolerance are the keys to the realization of the Global Islamic Calendar. This research certainly has implications for the improvement of Islamic knowledge, and also as an effort to unite the ukhuwah of the people.
Pemikiran Pendidikan Bertrand Russell dan Implikasinya terhadap Pendidikan Islam
Robby Pamungkas;
Rakhmadi, Arwin Juli
Tsaqila | Jurnal Pendidikan dan Teknologi Vol. 3 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30596/tjpt.v3i2.485
Masalah kebekuan akal di dalam pengajaran agama Islam pada tingkat SMP dan SMA adalah sebuah ironi karena hal ini sangat bertentangan dengan pandangan al-Quran terkait dengan posisi akal di dalam tradisi Islam. Pada banyak ayat, al-Quran selalu menekankan para pembacanya untuk menggunakan akal secara serius. Berangkat dari masalah ini, peneliti menemukan Bertrand Russell dengan pemikirian pendidikan yang cukup solutif untuk masalah kebekuan akal ini dan juga memiliki implikasi yang baik terhadap pendidikan Islam secara umum, terutama pada penggunaan akal di dalam pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penggunaan akal di dalam pemikiran pendidikan Bertrand Russell dan implikasi pemikiran pendidikan beliau terhadap pendidikan Islam, serta solusi apa yang diberikan Bertrand Russell untuk masalah kebekuan akal yang terjadi di dalam pengajaran agama Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan jenis penelitiannya adalah studi tokoh. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah dokumentasi yang dilakukan dengan mengkaji literatur yang relevan dengan penelitian ini baik yang bersumber dari sumber-sumber primer maupun sumber-sumber sekunder. Teknik analisis data penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah, seperti reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan berdasarkan bukti-bukti yang valid. Pemikiran pendidikan Bertrand Russell secara kuat memberikan penekanan kepada penggunaan akal dan secara konsisten berimplikasi kepada tradisi penggunaan akal di dalam Islam, serta cukup solutif untuk menyelesaikan masalah kebekuan akal di dalam pengajaran agama Islam.
Peningkatan Pemahaman Kalender Hijriah Global Tunggal kepada warga Muhammadiyah Cabang Medan Helvetia
Hidayat, Muhammad;
Rakhmadi, Arwin Juli;
Raisal, Abu Yazid;
Khair, Alfath
IHSAN : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 6, No 1 (2024): Ihsan: Jurnal Pengabdian Masyarakat (April)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30596/ihsan.v6i1.19118
Saat ini Jamaah Warga Muhammadiyah Cabang Medan Helvetia belum begitu memahami Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT), baik dari segi konsep, argumentasi dan Implementasinya. Sementara itu Muhammadiyah sudah akan segera memberlakukan KHGT oleh karena itu pengabdian ini penting dilakukan agar masyarakat Indonesia, khususnya warga persyarikatan dapat memahami KHGT dengan baik. Metode yang akan digunakan dalam pelaksanaan program ini dimulai dari tahap persiapan program, tahap pelaksanaan program, dan tahap evaluasi program. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa warga yang sebelumnya tidak memahami konsep, argumentasi dan implementasi dari KHGT dan setelah dilakukan kegiatan pengabdian ini para warga dapat memahami dengan baik konsep, argumentasi dan implementasi KHGT hal tersebut dibuktikan dengan mampu menjawab contoh kasus yang diberikan.
'Ilm al Mìqāt fi al Hadhòroh al Arabiyyah wa al Islàmiyyah wa dawruhu fi al Mujtama' al Islàmi
Butar-Butar, Arwin Juli Rakhmadi
Heritage of Nusantara: International Journal of Religious Literature and Heritage Vol. 3 No. 1 (2014): HERITAGE OF NUSANTARA
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31291/hn.v3i1.24
Peradaban Islam terkenal karena kekayaan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, termasuk dalam bidang astronomi yang mempelajari langit dan benda-benda langit. Pada masa abad pertengahan, ilmu astronomi hadir dan berkembang dengan fokus pada kepentingan ibadah umat Islam, terutama terkait waktu salat dan puasa. Untuk memenuhi kebutuhan ini, muncullah para ahli astronomi Muslim yang secara khusus dikenal sebagai 'para juru waktu' (muwaqqit). Pada umumnya, para ahli astronomi ini, terutama pada zaman Mamalik, bekerja dan beraktivitas di masjid atau lembaga keagamaan lainnya, yang didukung oleh negara. Dalam konteks abad pertengahan, komunitas dan kegiatan para astronom ini dikenal sebagai institusi mikat (mu’assasah al-muwaqqit), yang merupakan lembaga ilmiah yang mempelajari benda-benda langit untuk kepentingan ibadah.