This Author published in this journals
All Journal Ulul Albab: Jurnal Studi dan Penelitian Hukum Islam Afkaruna: Indonesian Interdisciplinary Journal of Islamic Studies Intiqad: Jurnal Agama dan Pendidikan Islam YUDISIA : Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam Heritage of Nusantara: International Journal of Religious Literature and Heritage KARSA: Jurnal Sosial dan Budaya Keislaman (Journal of Social and Islamic Culture) MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum MAHKAMAH: Jurnal Kajian Hukum Islam JIPFRI (Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika dan Riset Ilmiah) Titian Ilmu: Jurnal Ilmiah Multi Sciences SPEKTRA: Jurnal Kajian Pendidikan Sains Jurnal Environmental Science MUST: Journal of Mathematics Education, Science and Technology Prosiding SNFA (Seminar Nasional Fisika dan Aplikasinya) Jurnal Pendidikan Islam Jurnal SOLMA Al-MARSHAD: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan ORBITA: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Fisika Jurnal Dinamika Sosial Budaya Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Idrak: Journal of Islamic Education Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan IJISH (International Journal of Islamic Studies and Humanities) Jurnal Kumparan Fisika Journal of Islam and Science Indonesian Review of Physics (IRiP) Ihsan: Jurnal Pengabdian Masyarakat Jurnal Ilmu Pemerintahan, Administrasi Publik, dan Ilmu Komunikasi (JIPIKOM) ELFALAKY: Jurnal Ilmu Falak Maslahah: Jurnal Pengabdian Masyarakat Al-Fikru: Jurnal Ilmiah International Journal of Community Service Proceeding International Seminar of Islamic Studies Al-Hilal: Journal of Islamic Astronomy Al-Afaq: Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi Edu Society: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sosial dan Pengabdian Kepada Masyarakat Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara INJURITY: Journal of Interdisciplinary Studies DIKTUM: JURNAL SYARIAH DAN HUKUM Astroislamica: Journal of Islamic Astronomy QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies Heritage of Nusantara: International Journal of Religious Literature and Heritage Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika Jurnal Pendidikan Islam Wahana Fisika : Jurnal Fisika dan Terapannya Azkayra: Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Sosial Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum JIPFRI (Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika dan Riset Ilmiah)
Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS PENGARUH APHELION DAN PERIHELION TERHADAP SUHU MENGGUNAKAN WEATHER STATION Abu Yazid Raisal; Hariyadi Putraga; Muhammad Hidayat; Arwin Juli Rakhmadi
Jurnal Environmental Science Vol 3, No 2 (2021): April
Publisher : UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.597 KB) | DOI: 10.35580/jes.v3i2.19996

Abstract

Matahari merupakan sumber energi utama bagi kehidupan di Bumi. Perubahan aktifitas Matahari jangka panjang memegang peranan penting dalam perubahan iklim global. Perubahan iklim tersebut menyebabkan naik turunnya suhu di permukaan bumi. Pancaran cahaya Matahari tersebut membawa energi bahkan radiasi. Total radiasi yang diterima dipermukaan bumi dipengaruhi oleh jarak Matahari, intensitas radiasi Matahari, panjang hari. Jarak Matahari selalu berubah sepanjang tahun dikarenakan orbit Bumi mengelilingi Matahari berbentuk elips. Saat Bumi berada pada jarak terdekat dengan Matahari disebut perihelion. Saat Bumi berada pada jarak terjauh dari Matahari disebut aphelion. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aphelion dan perihelion terhadap suhu di kota Medan menggunakan weather station. Aphelion dan perihelion tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap suhu Bumi. Ketika jarak Bumi paling dekat dengan Matahari (perihelion), suhu Bumi justru lebih rendah dibandingkan dengan saat jarak Bumi paling jauh dengan Matahari. Suhu Bumi sedikit lebih tinggi pada bulan Juli dikarenakan bagian utara planet Bumi yang padat akan daratan lebih condong ke arah Matahari, dimana daratan lebih cepat panas dibandingkan dengan lautan. Selain itu suhu di permukaan Bumi juga dipengaruhi oleh pola angin.
Uji Akurasi Perhitungan Waktu Ashar menggunakan Rubu’ Al-Mujayyab Muhammad Hidayat; Arwin Juli Rakhmadi; Hariyadi Putraga
DIKTUM: Jurnal Syariah dan Hukum Vol 20 No 1 (2022): DIKTUM: Jurnal Syariah dan Hukum
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1210.468 KB) | DOI: 10.35905/diktum.v20i1.1915

Abstract

The study aims to measure the calculation of time using Rubu Al-Mujayyab, in addition to explaining in detail the steps on calculating time of Ashr using Rubu' Al-Mujayyab. The research method used in this research is experimental. The results of this study indicates that Rubu Al-Mujayyab has a fairly high time calculation accuracy, especially in calculating of the Ashr time. It is evident that there is no difference in the results of time calculations using Rubu' Al-Mujayyab by applying the Contemporary Hisab Method and Accurate Times Software. In addition, Rubu Al-Mujayyab can determine the declination of the Sun and there are other functions of the Asr line that can make it easier for users to determine after the beginning of time until the length of the shadow of an object is doubled or the beginning of time.
Pengukuran Kecerahan Langit Malam dan Polusi Cahaya di Provinsi Sumatera Utara Hariyadi Putraga; Arwin Juli Rakhmadi; Muhammad Dimas Firdaus; Muhammad Hidayat
Prosiding SNFA (Seminar Nasional Fisika dan Aplikasinya) 2022: Prosiding SNFA (Seminar Nasional Fisika dan Aplikasinya) 2022
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/prosidingsnfa.v7i0.71953

Abstract

Abstract: The astronomical phenomenon that occurs at a certain time and duration becomes objects for study and research. However, not every location provides the astronomical phenomenon visibility that observers want. To achieve the best data, the best observer position is also needed. During the author’s experience pursuing astronomical phenomena around North Sumatra, only a few places provide good visibility. This is related to the night sky brightness level and light pollution of the location. The night sky brightness is a variable that needed to be included to determine the location used for astronomical observation points so the observers could get the best results. The measurement was taken using a photometer named Sky Quality Meter in several locations around North Sumatra to find the best sky brightness data value reading. From the measurements, the maximum reading results for the East coast of North Sumatra is 19.39 MPSAS, for mid-North Sumatra 20.92 MPSAS, and for the West coast was 21.87 MPSAS. The location with the best night sky brightness quality and the lowest light pollution is the West coast of North Sumatra.Abstrak: Fenomena astronomi yang terjadi pada waktu dan durasi tertentu menjadi salah satu objek kajian dan penelitian. Namun, tidak semua lokasi memberikan keterlihatan fenomena astronomi seperti yang diinginkan pengamat. Untuk mendapatkan data dengan kualitas terbaik, diperlukan pula lokasi pengamat terbaik. Dalam perjalanan penulis mengejar fenomena astronomi di sekitar Sumatera Utara, hanya beberapa tempat saja yang memberikan hasil keterlihatan dengan baik. Hal ini terkait dengan tingkat kecerahan langit malam dan tingkat polusi cahaya di lokasi tersebut. Kecerahan langit malam merupakan salah satu variabel yang perlu dimasukkan dalam penentuan lokasi pengamatan astronomi agar pengamat bisa mendapatkan hasil terbaik. Pengukuran yang dilakukan menggunakan sebuah fotometer yaitu Sky Quality Meter di beberapa lokasi untuk mendapatkan data kecerahan langit malam di sekitar Sumatera Utara. Dari pengukuran yang dilakukan, didapatkan hasil maksimal untuk pesisir timur Sumatera Utara adalah 19,39 MPSAS, pertengahan Sumatera Utara adalah 20,92 MPSAS, dan untuk pesisir Barat adalah 21,87 MPSAS. Maka lokasi dengan kualitas kecerahan langit malam terbaik dan polusi cahaya paling rendah berada sekitar pesisir Barat Sumatera Utara.
ACCURACY TEST OF BRUNTON COMPASS AND SUUNTO COMPASS IN MEASURING QIBLA DIRECTION Muhammad Hidayat; Arwin Juli Rakhmadi; Abdul Rahman Cemda; Marataon Ritonga
Proceeding International Seminar of Islamic Studies INSIS 5 (March 2023)
Publisher : Proceeding International Seminar of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of the methods in measuring Qibla Direction is using a compass. The compass itself consists of various types and has different levels of accuracy. Therefore this trial was conducted to determine the level of accuracy between the Brunton compass and the Suunto compass in measuring Qibla direction. This research method uses the field research method or field research using the Brunton Compass, Suunto Compass, Theodolite, Arc Roller, Solar Azimuth Data, Magnetic Deviation Data for Medan City and other supporting data/instruments. The results of this study indicate that the Brunton compass has higher accuracy than the Suunto compass which was tested using a theodolite.
ZIJ ULUGH BEK AND HIS INFLUENCE ON ISLAMIC ASTRONOMY DEVELOPMENT IN NUSANTARA Arwin Juli Rakhmadi; Hariyadi Putraga; Nor Azam bin Mat Noor
Proceeding International Seminar of Islamic Studies INSIS 5 (March 2023)
Publisher : Proceeding International Seminar of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ulugh Bek (d. 853 H/1449 AD) was a Muslim scientist who mastered mathematics and astronomy, he also served as director of the Samarkand Observatory. One of his works in astronomy is “Zij Ulugh Bek” also known as “Zij al-Sulthany”. This zij contains data or astronomical tables of celestial bodies which include studies of hisab and calendar, the celestial bodies' area, planets, and the star's position. In its development, this work significantly influences the Islamic science idea and development in Nusantara, where the Islamic science books written by Islamic science national figures refer to and quote this zij a lot. Genealogically, Ulugh Bek’s Zij is one of the main sources of Islamic science studies development in Nusantara, while the astronomical data contained in this book is fairly accurate so it is still suitable to use at present. 
Penentuan Awal Waktu Subuh Menggunakan Kamera DSLR dan Metode Moving Average Hariyadi Putraga; Arwin Juli Rakhmadi; Muhammad Dimas Firdaus; Muhammad Hidayat
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.402 KB) | DOI: 10.24198/jiif.v6i2.38995

Abstract

Keberadaan Teknologi terutama optik dan digital yang dapat digunakan dengan pengaturan serupa dimanapun agar dapat dilaksanakan siapa saja dapat menjadi standar baru untuk penentuan dan tampilan visual awal waktu subuh yang terlihat di lapangan. Kamera Digital yang dapat diambil dengan berkala sehingga dapat menghasilkan deretan gambar sesuai waktu dan menujukan perbedaan langit  saat transisi waktu subuh menjadi salah satu pilihan dan alat pembuktian awal waktu subuh di dunia.Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan awal waktu subuh menurut Kemenag dengan hasil olahan citra menggunakan metode moving average. Hasil olahan citra tersebut berhasil menunjukkan awal perubahan langit pada waktu subuh dengan terlihatnya perubahan nilai pixel yang signifikan. Dari penelitian ini ditemukan hasil awal waktu subuh pada tanggal pengamatan berada pada saat matahari pada dip -17° 07' 12".
PENENTUAN WAKTU SUBUH MENGGUNAKAN ALL SKY CAMERA DAN METODE MOVING AVERAGE DI KOTA MEDAN Marataon Ritonga; Arwin Juli Rakhmadi; Abu Yazid Raisal
Mahkamah : Jurnal Kajian Hukum Islam Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/mahkamah.v8i1.13033

Abstract

Waktu salat Subuh dimulai ketika terbit fajar shadiq dan berakhir sampai terbit Matahari. Di Indonesia banyak ahli falak yang menetapkan kriteria ketinggian Matahari untuk menentukan awal waktu salat Subuh dengan ketinggian yang bervariatif, mulai dari -18 derajat sampai -20 derajat di bawah ufuk bahkan pada ketinggian -13 derajat di bawah ufuk. Kementerian Agama RI menetapkan ketinggian Matahari untuk waktu salat Subuh pada -20 derajat di bawah ufuk. Dengan adanya perbedaan dalam menetapkan ketinggian Matahari di bawah ufuk, para ahli falak maupun astronomi banyak melakukan pengamatan ulang terhadap kemunculan fajar shadiq. Salah satunya melakukan pengamatan fajar shadiq menggunakan All Sky Camera dengan metode moving average dan pendekatan Gradien. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan (field Research) melalui observasi untuk mendapatkan data dilapangan secara langsung. Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapatkan kemunculan fajar shadiq pada saat ketinggian Matahari pada -15 derajat di bawah ufuk. 
PERAN DAN KONTRIBUSI OIF UMSU DALAM PENGENALAN ILMU FALAK DI SUMATERA UTARA Muhammad Qorib; Zailani Zailani; Radiman Radiman; Amrizal Amrizal; Arwin Juli Rakhmadi
Jurnal Pendidikan Islam Vol. 10 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jpi.v10i2.3735

Abstract

Astronomy is counted as a natural science that always gets the most attention of humans all the time. Lately, in Indonesia began to appear astronomical observatories that examine various things. The Falak Observatory of the University of Muhammadiyah North Sumatra (OIF UMSU) is one that has played an important role in the development of astronomy in Indonesia, especially in North Sumatra. In this observatory there are classical and modern astronomical tools. Among the role and contribution of this observatory is to provide information for students about the phenomenon and importance of astronomy, then training for students, astronomy studies, and others. The existence of this observatory is basically an appreciation of science and technology that are part of civilization.
Pengaruh Emisi Cahaya dari Data VIIRS Day/Night Band pada Kecerlangan Langit Malam di Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (OIF UMSU) Arwin Juli Rakhmadi; Ajraini Nazli; Hariyadi Putraga; Muhammad Hidayat
Wahana Fisika Vol 8, No 1 (2023): June
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/wafi.v8i1.42451

Abstract

Sebagai tempat pengamatan astronomi, Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (OIF UMSU) membutuhkan kualitas langit malam yang bebas dari polusi cahaya. Atas dasar hal tersebut, penelitian ini melakukan analisa pengaruh polusi cahaya pada kualitas langit astronomis di OIF UMSU (3°34’56’’ LU dan 98°43’18’’ BT). Pengamatan kualitas langit malam dilakukan oleh OIF UMSU dari Februari 2018-Maret 2020 dengan Sky Quality Meter (SQM) fotometer pada arah zenit. Dari 588 hari pengamatan, Kami memperoleh rata-rata kecerlangan langit malam dan kecerlangan langit malam maksimum adalah 16,73 mpdbp dan 18,43 mpdbp. Nilai tersebut memberikan batas magnitudo pengamatan mata telanjang (NELM) masing-masing sebesar 2,86 dan 4,32. Untuk meninjau kontribusi cahaya artifisial pada kualitas langit malam di OIF UMSU, kami meninjau emisi cahaya malam hari dari pengamatan satelit Suomi National Polar-Orbiting Partnership (S-NPP) dengan sensor Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) dalam rentang tahun 2018-2020. Emisi cahaya malam hari di Kota Medan menunjukkan peningkatan sebesar 5,51-5,93%/tahun. Hubungan antara kecerlangan langit malam yang menggunakan SQM dan data VIIRS memiliki korelasi lemah dengan R2 = 0.03. Berbagai faktor mempengaruhi lemahnya korelasi tersebut, antara lain nilai kecerlangan langit malam yang dipengaruhi faktor cuaca dan cahaya bulan serta pengamatan kecerlangan langit malam yang hanya berada di satu titik lokasi. Kata kunci: polusi cahaya,kecerlangan langit malam, Sky Quality Meter, VIIRS Day/Night band
Pelatihan Pembuatan Peta Bintang Pada Masyarakat Di Danau Lau Kawar Ida Hanifah; Abu Yazid Raisal; Arwin Juli Rakhmadi; Muhammad Hidayat
Azkayra: Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Sosial Vol 1, No 1 (2024)
Publisher : Azkayra: Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55311/azkayra.v1i1.8

Abstract

Astronomi merupakan cabang ilmu pengetahuan tertua yang mempelajari tentang langit dan segala yang ada didalamnya. Pengamatan benda langit merupakan elemen yang penting untuk mempelajari astronomi karena dapat mengembangkan keterampilan, meningkatkan pemahaman tentang konsep astronomi, dan membantu menumbuhkan minat. Minat masyarakat Indonesia terhadap astronomi semakin meningkat namun kendalanya astronomi tidak diajarkan secara khusus di sekolah. Salah satu pembahasan yang ada dalam astronomi adalah planisphere. Planisphere atau peta bintang merupakan alat yang digunakan untuk mengidentifikasi bintang dan rasi bintang di langit malam. Tujuan pengabdian ini adalah untuk mengenalkan peta bintang baik dalam teori dan penggunaannya serta melatih cara membuat peta bintang secara mandiri. Kegiatan ini dilakukan dalam tiga tahap yaitu pendahuluan, pembuatan, dan evaluasi. Berdasarkan tanggapan peserta diketahui bahwa peserta menyukai kegiatan ini karena menyenangkan dan dapat menambah ilmu. Kendala yang didapatkan saat melakukan kegiatan adalah pada saat peserta mencoba menggunakan peta bintang yang sudah dibuat karena kondisi langit yang berawan. Keyword : Astronomy, Planisphere, Lau Kawar.