Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Effect of Physalis angulata leaf extract cream on Interleukin-4, Interleukin-6, and Immunoglobulin-E in mice with induced atopic dermatitis Dhany Prafita Ekasari; Santosa Basuki; Wuriandaru Kurniasih; Herwinda Brahmanti; Aunur Rofiq
Universa Medicina Vol. 42 No. 2 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2023.v42.150-159

Abstract

BackgroundThe prevalence of atopic dermatitis (AD) and allergic or irritant contact dermatitis has been increasing significantly in the general population. Interleukin- 4 (IL-4), interleukin-6 (IL-6), and immunoglobulin E (IgE) play a key role in the pathogenesis of AD. Physalis angulata (PA) leaves reportedly have anti-inflammatory effects by impeding IL-4, IL-6, and IgE. This study aimed to evaluate the effect of PA leaf extract cream on IL-4, IL-6, and IgE using 2,4-dinitrochlorobenzene (DNCB) to induce AD-like skin inflammation in a mice model. MethodsThis study used an experimental design involving 30 BALB/c mice, that were randomized into 3 groups: 1) control group receiving no treatment; 2) Vehicle treatment group receiving vehicle cream preparation; 3) PA treatment group receiving 10% PA leaf extract cream after induction of AD-like skin inflammation by DNCB. After 30 days, tissue samples were extracted from the skin lesions to measure IL-4 and IL-6 levels, and serum to measure IgE using ELISA. One-way Anova, Kruskal-Wallis and Mann-Whitney tests were used to analyze the data. ResultsGroup 3 (PA treatment) had significantly lower IL-4 (281.15 ± 43.14 pg/mL) than group 2 (vehicle cream treatment) (388.89±135.88 pg/ml) (p=0.001). However, although IL-6 and IgE levels were lower in group 3 than in group 2, the differences were statistically not significant (p=0.096 and p=0.479 respectively). ConclusionThere were lower levels of IL-4, IL-6, and IgE in the group receiving PA leaf extract cream than in the group receiving vehicle cream preparation. Therefore, PA leaf extract cream may have therapeutic potential in AD.
The effectivity of ultrasound-guided platelet-rich plasma perineural injection in improving leprosy sensory peripheral neuropathy Brahmanti, Herwinda; Widiatmoko, Arif; Widasmara, Dhelya; Sari, Diane Tantia; Kurniawan, Shahdevi Nandar; Santoso, Widodo Mardi; Laksono, Ristiawan Muji; Gofur, Abdul
Journal of General - Procedural Dermatology & Venereology Indonesia Vol. 7, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Sensory nerve damage is the earliest leprosy sign which can lead to disability. Previous studies showed that autologous platelet-rich plasma (PRP) perineural blind injection can stimulate leprosy sensory nerve regeneration. Our study provided a safer and more accurate PRP agent delivery method through ultrasound-guided injection and was the first to compare PRP versus standard neuropathy treatment, the neurotropic vitamin. This study aimed to determine the effectiveness of combination therapy of ultrasound-guided PRP perineural injection and oral vitamin B complex compared to single oral vitamin B complex in sensory peripheral neuropathy of posterior tibial nerve in leprosy patients.
Laporan Kasus: FENITOIN SEBAGAI PENYEBAB DRUG REACTION WITH EOSINOPHILIA AND SYSTEMIC SYMPTOMS PADA PASIEN EPILEPSI: TANTANGAN DIAGNOSIS DAN ETIOLOGI Brahmanti, Herwinda; Pratita, Raras
Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 4 (2024): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2024.011.04.7

Abstract

Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptom (DRESS) merupakan adverse-drug reaction (ADR) yang ditandai dengan erupsi eritematosa, demam, kelainan hematologi dan keterlibatan organ dalam. Sindrom DRESS sering disebabkan oleh obat (antibiotik, anti inflamasi non steroid, obat anti epilepsi, dan anti HIV), namun juga dapat disebabkan oleh koinfeksi virus (Human Herpes Virus-6/HHV-6). Tujuan penulisan kasus ini adalah untuk menambah kewaspadaan klinis mengenai kemungkinan terjadinya ADR saat pemberian terapi pada pasien. Pada kasus ini, seorang perempuan usia 19 tahun dengan keluhan bercak kemerahan disertai gatal di seluruh tubuh. Keluhan dirasakan 2 minggu setelah mengkonsumsi obat fenitoin. Demam 1 hari sebelum munculnya bercak merah serta didapatkan adanya bengkak pada kedua kelopak mata. Pemeriksaan  laboratorium menunjukkan adanya eosinophilia dan peningkatan fungsi liver. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium lalu dilakukan pemeriksaan skoring DRESS dengan memakai RegiSCAR didapatkan skor total 5 dengan kesimpulan probable DRESS. Pasien didiagnosis dengan DRESS akibat obat yang dicurigai sebagai penyebab yaitu fenitoin. Pasien mendapat terapi oral methylprednisolone dan menghentikan konsumsi fenitoin. Pada pemantauan hari ke-8 didapatkan adanya perbaikan. Methylprednisolon kemudian diturunkan secara bertahap. Sindrom DRESS memiliki gambaran manifestasi klinis yang serupa dengan penyakit lain. Penegakan diagnosis dan etiologi sangat penting untuk menentukan tatalaksana yang tepat dan menekan mortalitas.
Laporan Kasus: PENDEKATAN DIAGNOSIS DAN TATA LAKSANA LIVEDOID VASCULOPATHY Tazakka, Achmad Aidil; Brahmanti, Herwinda; Ekasari, Dhany Prafita; Retnani, Diah Prabawati
Majalah Kesehatan Vol. 12 No. 3 (2025): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2025.012.03.9

Abstract

Livedoid vasculopathy (LV) adalah penyakit trombo oklusif yang melibatkan pembuluh darah superfisial dan mid-dermis. Insidens LV sangat jarang dengan prevalensi 1/100.000 penduduk/tahun. Patogenesis LV berhubungan dengan oklusi dari mikrosirkulasi kapiler kutaneus yang menyebabkan trombosis, infark dan iskemia. Laporan kasus ini bertujuan untuk memaparkan pendekatan diagnosis dan tata laksana LV berdasarkan temuan klinis yang khas. Perempuan berusia 34 tahun mengeluhkan muncul bercak merah disertai nyeri pada kedua kaki sejak 3 minggu. Bercak berubah menjadi bintil berisi air dan menjadi luka. Luka menutup dengan meninggalkan bekas luka berwarna putih. Pemeriksaan dermatologis pada regio pedis dekstra dan sinistra didapatkan patch eritematosa, vesikel, ulkus, dan atrophie blanche. Pemeriksaan darah didapatkan trombositosis, PT, APTT, dan D-dimer normal, ANA test dan anti-dsDNA negatif. USG Doppler tidak terdapat insufisiensi pembuluh darah. Pemeriksaan histopatologi didapatkan gambaran dilatasi pembuluh darah dengan lumen berisi trombus disertai ekstravasasi eritrosit, infiltrat sel radang limfosit, histiosit di sekitar pembuluh darah. Pasien diberikan asam asetilsalisilat dengan dosis 4 x 80 mg dan metilprednisolon dosis rendah untuk menekan peradangan dalam waktu singkat. Didapatkan perbaikan gejala dan klinis setelah pemberian terapi dalam empat minggu. Penegakkan diagnosis pada kasus ini didasari dengan adanya atrophie blanche yang merupakan karakteristik LV disertai dengan pemeriksaan laboratorium dan histopatologi yang menunjang. Diagnosis banding lain seperti gangguan koagulasi, penyakit autoimun, dan gangguan pembuluh darah telah disingkirkan. Diagnosis dan tata laksana LV perlu ditegakkan dengan cepat dan tepat sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup dan mencegah komplikasi.