Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Pengaruh Jus Buah Delima (Punica granatum) sebagai Agen Anti-inflmasi pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) yang Diinduksi Larutan Complete Freund’s Adjuvant (CFA) melalui Jalur Penurunan Kadar Sitokin Pro-inflamasi TNF-α Muhammad Axel Arsyad; Nurmawati Fatimah; Gadis Meinar Sari; Mohammad Fathul Qorib
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52488

Abstract

Reaksi alami tubuh terhadap kerusakan atau penyakit adalah peradangan, yang ditandai dengan peningkatan mediator pro-inflamasi seperti TNF-α. Karena Complete Freund's Adjuvant (CFA) dapat menimbulkan peradangan kronis dan respons imunologis seluler, zat ini sering digunakan sebagai model induksi peradangan. Punicalagin, asam ellagic, dan flavonoid yang terdapat dalam buah delima (Punica granatum) memiliki sifat anti-inflamasi dan antioksidan yang dapat mengurangi respons inflamasi. Dalam eksperimen laboratorium ini, digunakan lima kelompok tikus jantan putih (Rattus norvegicus) dengan desain kelompok kontrol pasca-tes saja. Kelompok-kelompok tersebut meliputi kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif (CFA), kelompok vitamin C, dan dua kelompok perlakuan yang menerima dosis oral jus delima yang bervariasi selama 28 hari. Jus delima secara signifikan (p<0.05) menurunkan kadar TNF-α pada tikus yang diinduksi CFA dibandingkan dengan kelompok kontrol positif, dengan penurunan terbesar terjadi pada dosis tertinggi, menurut data. Oleh karena itu, telah dibuktikan bahwa jus delima memiliki sifat antiinflamasi dengan menurunkan kadar sitokin pro-inflamasi TNF-α.
Profile of Analgesics in Toddler Patients Undergoing Surgery at Dr. Soetomo General Academic Hospital, Surabaya, Indonesia, January 2021-December 2021 Devin Hernando; Maulydia Maulydia; Mohammad Fathul Qorib; Kohar Hari Santoso
JUXTA: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga Vol. 17 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/juxta.V17I12026.7-13

Abstract

Highlights: Pain is the most common complaint in every medical procedure. Pain management in toddlers requires special attention due to the need to consider various factors.   Abstract Introduction: Pain is the most frequent complaint in all medical procedures. Managing procedures in toddlers requires special attention due to various influencing factors. The 19th century witnessed significant advancements in analgesics. Analgesics help manage pain that may arise from procedures performed on toddlers. Methods: This study identified the analgesic profile in toddlers undergoing surgery at the Integrated Surgery Center (GBPT) of Dr. Soetomo General Academic Hospital, Surabaya, Indonesia, from January to December 2021. It was a retrospective descriptive study using medical records. The sample included toddlers who underwent surgery and received analgesics at Dr. Soetomo General Academic Hospital in Surabaya, Indonesia. The sampling technique used was total sampling. Results: During January to December 2021, a total of 451 pediatric patients underwent surgery at Dr. Soetomo General Academic Hospital in Surabaya, Indonesia. A total of 232 patients were excluded due to incomplete medical records. A total of 219 patients met the criteria. The majority were 1-year-old (32.42%), with male patients being predominant (58.9%). Most toddlers had a normal body mass index (BMI). The majority of surgeries lasted 1-3 hours (64.38%). The most common procedures were debridement and wound dressing (11.87%). Opioids were the most frequently used analgesics (41%), with fentanyl being the most common (71.85%), while paracetamol was the primary non-opioid analgesic (43.33%). The most common pain intensity before and after surgery was no pain. Conclusion: Analgesics help manage procedural pain in toddlers. Opioids were the most frequently used, with fentanyl being the most common.
PENINGKATAN PENGETAHUAN TATA KELOLA NYERI SENDI PADA TENAGA KESEHATAN DASAR DI KECAMATAN JETIS KABUPATEN MOJOKERTO Kusuma Eko Purwantari; Lucky Prasetiowati; Danti Nur Indiastuti; Mohammad Fathul Qorib
Jurnal Gembira: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 06 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Media Inovasi Pendidikan dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nyeri sendi termasuk salah satu keluhan yang sering didapatkan pada lansia. Adanya anggapan yang salah di masyarakat bahwa keluhan nyeri sendi disebabkan oleh kelainan kadar asam urat dan kolesterol. Hal ini juga didukung kurang tepatnya diagnosa yang ditegakkan oleh tenaga kesehatan, selanjutnya berakibat penanganan yang salah. Tenaga kesehatan yang meliputi dokter umum, bidan desa dan perawat merupakan lini terdepan,sebagai tempat pilihan lansia untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Tujuan pengabdian masyarakat ini untuk meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan tentang nyeri sendi sehingga terwujud penatalaksanaan yang tepat. Selain itu tenaga kesehatan diharapkan  mampu menjadi jembatan untuk meluruskan pemahaman yang salah di masyarakat. Kegiatan berupa penyuluhan dan pelatihan yang dilanjutkan dengan diskusi. Materi yang disampaikan meliputi anatomi klinik nyeri sendi, pemeriksaan dasar sendi dan tata laksana nyeri sendi baik farmakologi dan non farmakologi. Evaluasi pelaksanaan kegiatan ini menggunakan metode pre test dan post test. Hasil dari pre test dan post test dilakukan uji paired t- test, dengan hasil signifikan apabila p > 0,05. Hasil yang diperoleh, terdapat peningkatan rerata nilai yaitu rerata pre test sebesar 1,15 ± 6,19 dan rerata post test sebesar  72,41 ± 37,87, dengan  nilai p = 0.000, menunjukkan beda signifikan. Hal ini menggambarkan adanya peningkatan pengetahuan peserta yang meliputi gejala, pemeriksaan dasar dan tata laksana nyeri sendi. Pengetahuan mengenai gejala klinis dan pemeriksaan dasar sendi diperlukan untuk menegakkan diagnosa. Diagnosa yang tepat sangat diperlukan agar penderita mendapat penanganan yang tepat.  
Pemberdayaan Fisioterapis dan Mahasiswa dalam Deteksi Dini Pra-Sarkopenia pada Dewasa Muda melalui Metode SARC-Calf di Kota Makassar Mohammad Fathul Qorib; Bambang Purwanto; Rini Tri Yuniarti; Kusuma Eko Purwantari; Sinta Ayu Choiriyah
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 7 No. 2 (2026): Edisi Mei - Agustus
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v7i2.8874

Abstract

Latar Belakang: Gaya hidup sedenter pada dewasa muda meningkatkan risiko pra-sarkopenia hingga 76,1%. Salah satu wilayah yang termasuk resiko tinggi adalah Makassar. Namun, deteksi dini oleh fisioterapis di Makassar masih terhambat oleh ketergantungan pada alat mahal dan kurangnya penguasaan metode skrining terbaru yang lebih praktis. Tujuan: Meningkatkan kompetensi fisioterapis dan mahasiswa dalam deteksi dini pra-sarkopenia menggunakan metode SARC-F dan lingkar otot betis. Metode: Pengabdian dilakukan melalui dua tahap: (1) Focus Group Discussion (FGD) dan Training of Trainer (ToT) bagi 46 anggota IFI Makassar, serta (2) Pelatihan skrining mandiri bagi mahasiswa profesi fisioterapi Polkesmas. Evaluasi dilakukan melalui pre-test, post-test, dan uji statistik Wilcoxon. Hasil: Terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan pada 69,6% peserta (\(p < 0,001\)), sementara 30,4% lainnya mempertahankan skor pada kategori "Baik". Melalui penugasan lapangan, kegiatan ini menargetkan jangkauan skrining pada 825 responden di Kota Makassar. Kesimpulan: Pemberdayaan fisioterapis melalui metode SARC-Calf merupakan strategi yang efektif, aplikatif, dan cost-effective dalam memitigasi risiko sarkopenia sejak usia produktif.