Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Strategi Penanganan Kawasan Tepian Sungai Tukad Yeh Poh sebagai Recreational Waterfront Kabupaten Badung Made Isaka Riasmi; Ni Ketut Agusintadewi; Widiastuti Widiastuti
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 18, No 3 (2022): JPWK Volume 18 No. 3 September 2022 (in progress)
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v18i3.37520

Abstract

Pengentasan masalah permukiman kumuh pada perkotaan di Kabupaten Badung merujuk pada  Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU). Upaya ini diawali dengan cara mengubah daerah kumuh menjadi “Kawasan Produktif Pariwisata” pada Kawasan Tepian Sungai Tukad Yeh Poh yang bertujuan untuk meingkatkan kualitas lingkungan dengan penambahan nilai ekonomi kawasan bagi masyarakat, sehingga dapat mendukung kelestarian lingkungan menuju terwujudnya kota berkelanjutan. Fokus penelitian ini adalah untuk mengkaji strategi peningkatan kualitas lingkungan yang berpotensi kumuh pada lokasi penelitian sebagai kawasan produktif pariwisata berupa recreational waterfront di Kabupaten Badung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif. Pengumpulan data menggunakan teknik Participatory Rural Appraisal (PRA). Hasil penelitian memaparkan strategi yang dilakukan dalam upaya peningkatan kualitas lingkungan, seperti perbaikan infrastruktur fisik, penyediaan ruang terbuka publik, dan penunjang kegiatan wisata air, seperti destinasi wisata kuliner dan olahraga. Selain itu juga, upaya lain dengan menerapkan sistem Eko-Drainase dan pembuatan biopori, penanganan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan serta pengembangan destinasi wisata yang dapat dimanfaatkan dan dikelola berbasis masyarakat. Dengan membuat Kawasan Produktif Pariwisata, maka perekonomian masyarakat meningkat, sehingga dapat berperan serta dalam menjaga lingkungan setempat.
Influence of Spatial Attributes on Human Behavior in Complying with COVID-19 Health Protocols in The City Park of Puputan Badung Denpasar Bali Ni Ketut Agusintadewi; Gede Wardana Putra; Widiastuti Widiastuti; Ni Putu Yunita Laura Vianthi
Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) Vol 13 No 1 (2023): Volume 13 No 1 April 2023
Publisher : Pusat Kajian Bali Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JKB.2023.v13.i01.p06

Abstract

The study aims to determine the most effective spatial setting for the fitness spots with pandemic mitigation in the city park of Puputan Badung Denpasar Bali as well as to identify various responses of human behavior in complying with health protocols. A mixed-method strategy was utilized, where a quantitative technique was used to determine the level of compliance. A qualitative inquiry with a case study method was also used to assess the influence of spatial attributes on human behavior. The respondents were selected using accidental sampling during peak times for a week. The sport activities observed were fitness, which was available in several spots of parks. Based on human behavior theories, the fitness space equipped with COVID-19 mitigation measures has not provided optimal stimuli to the people in complying with health protocols, leading to low compliance levels. The results of this study can be used as a reference to evaluate the effectiveness of implementing pandemic mitigation in the city park of Puputan Badung and other city parks with similar characteristics from an architectural perspective.
Peran Interaksi Sosial dari Nelayan di Pelabuhan Padangbai bagi Pembangunan Ekonomi I Gede Harimurti; Ni Ketut Agusintadewi
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.545 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2023.v10.i01.p02

Abstract

There are four groups of active fishermen in Padangbai Beach. Their members are part of a social network that actively interacts to meet social and economic needs. In 1999, a pier was built and named after Padangbai People's Port. This port has impacted the village economy, an essential means to maintain these fishermen's existence, activities, and social groups. This research examines the role of social interaction in developing this port and its contribution to the economic development of the Padangbai Village. This study uses a descriptive-qualitative method with a case study. Study results indicate that the Padangbai Port provides a place for fishermen and their groups to interact socially, where they can conduct various self-development activities that contribute to the economic development of the Padangbai Village. Most are done in manners where direct and intense social contacts and communications are profoundly chosen as a way to associate among fishermen.Keywords: social interaction; fisherman groups; economic development AbstrakTerdapat empat kelompok nelayan yang beraktifitas di Pantai Padangbai. Anggotanya merupakan bagian dari sebuah jejaring sosial yang aktif melakukan interaksi dalam rangka memenuhi kebutuhan sosial dan ekonomi. Tahun 1999 dibangun dermaga dengan nama Pelabuhan Rakyat Padangbai. Pelabuhan ini berdampak terhadap perekonomian desa sebagai sumberdaya penting dalam memelihara eksistensi para nelayan, aktivitas terkait yang lakukan, dan kelompok sosial yang dimiliki. Penelitian ini membahas tentang peran interaksi sosial dalam perkembangan pelabuhan dan kontribusinya terhadap pembangunan ekonomi Desa Padangbai. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan studi kasus. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa Pelabuhan Padangbai menyediakan wadah bagi nelayan dan kelompoknya untuk berinteraksi sosial, dimana mereka bisa melakukan usaha-usaha pengembangan diri yang berdampak pada pembangunan ekonomi Desa Padangbai. Sebagian besar dilakukan dengan cara kontak sosial dan komunikasi secara langsung dan intensif yang dipilih sebagai cara berasosiasi diantara para nelayan.Kata kunci: interaksi sosial; kelompok nelayan; pembangunan ekonomi
Karakter Arsitektural Bangunan Kolonial sebagai Warisan Budaya Kota Singaraja Ni Ketut Agusintadewi; Tri Anggraini Prajnawrdhi; Made Wina Satria
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 8 No. 2 (2019): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.8.1.16

Abstract

Menelusuri sejarah Kota Singaraja sebagai ibukota Kabupaten Buleleng di Bali Utara selalu bertalian erat dengan peninggalan arsitektur kolonial Belanda. Peninggalan arsitektur kolonial masih dapat ditemui dibeberapa sisi kota, tetapi tidak sedikit yang sudah mengalami perubahan bentuk, bahkan tampak berbeda dengan keadaan semula. Adanya akulturasi dalam arsitektur antara penjajah dan kultur Bali dan juga penyesuaian pada iklim tropis menyebabkan arsitektur kolonial di kota ini memiliki tampilan yang unik. Tujuan penelitian ini adalah menelusuri pembentuk elemen fasade bangunan dan pembentuk elemen ruang dalam sebagai karakter arsitektural bangunan kolonial di Kota Singaraja. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengambilan data secara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Bangunan kolonial yang dipilih sebagai kasus studi dilakukan dengan teknik purposive sampling melalui beberapa kriteria. Analisis data dilakukan secara induktif dengan lebih menekankan kepada makna dan nilai sejarah. Hasil pengamatan peneliti menjadi salah satu cara untuk memaparkan dan menyimpulkan kedua elemen pembentuk karakter arsitektural pada bangunan-bangunan kolonial tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan kolonial di Kota Singaraja memiliki karakter arsitektural yang dapat ditentukan dari jendela, pintu masuk, atap, dan dinding. Sementara karakter yang lain dapat ditentukan dari denah dasar dan bentuk bangunan. Indikator dari variabel-variabel tersebut semakin memperkuat karakter arsitektural pada bangunan-bangunan kolonial tersebut secara fisik dan visual sebagai warisan budaya kota dalam memperkuat identitas Kota Singaraja sebagai kota pusaka.
How the Communal Buildings Created? Socio-Spatial Transformation of the Osing in Kemiren Village towards Social Sustainability Dwiki Putrawan, I Made; Agusintadewi, Ni Ketut; Widiastuti, Widiastuti
Local Wisdom Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal Vol. 13 No. 2 (2021): July 2021
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/lw.v13i2.5184

Abstract

The socio-cultural life of the Osing in Kemiren Village always interplays with their social activities and interactions, both among local people and travelers who come to visit the village. To accommodate these various activities, the Osing uses communal buildings, such as the Pesantogan Kemangi and two cultural houses: the Sukosari and the Osing. Data from the field reveals that the traditional house is a reference for creating communal buildings. The study aims to disclose the transformation process in spatial patterns and forms that occurs in communal facilities. It discusses a set of combination parts of traditional houses that create communal buildings. A qualitative inquiry was carried out the study with the ethnography approach. The result shows that socio-spatial transformation occurs in a dynamic change of communal activities that affect new architectural models of the public buildings. The transformation includes dimensional spatial patterns and building shapes, reduction, and additional spaces and components. Finally, the study contributes to being a reference for future research in the traditional architecture of the Osing. Both the local government and people work organized in preserving traditional architectural values as a pearl of local wisdom. Therefore, it supports and encourages tourism programs in Kemiren Village towards a socially sustainable community.
Architectural Elements as A Component of Cultural Tourism: (Case Study: Cultural Heritage of Maospahit Gerenceng Temple) Agusintadewi, Ni Ketut; Jyoti, Putu Savitri Dharma
Local Wisdom Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal Vol. 17 No. 1 (2025): January 2025
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/lw.v17i1.11056

Abstract

Denpasar is a city in Bali that possesses a robust cultural heritage. One of the temples in Denpasar is the Maospahit Gerenceng Temple. The Maospahit Gerenceng Temple has been in existence for several centuries. The temple in question has been officially recognized by the Denpasar municipal government as a cultural tourist destination. The objective of this study was to identify architectural components within temple structures that possess potential as cultural tourist offerings, thereby contributing to the long-term viability of tourism in Bali. This descriptive qualitative analysis was conducted in the Maospahit Gerenceng Temple located in Denpasar, Bali. The data collection process involved employing participant observation to examine the traditional architecture of the Maospahit Temple, conducting in-depth interviews with the informant, Jero Mangku, and conducting a comprehensive review of relevant literature and documents. The results of the study indicate that the Maospahit Temple has distinctive architectural characteristics, particularly in its utilization of the Panca Mandala concept. The architectural design of this structure emerges from the process of acculturation between Balinese and East Javanese architectural styles, with the primary objective of enhancing the temple's role as a cultural tourist destination. Therefore, these distinctive architectural components serve as the primary focal point of the cultural tourism attraction of Maospahit Gerenceng Temple.
STRATEGI KONSERVASI MATA AIR PADA PENYEDIAAN AIR BERSIH BERBASIS MASYARAKAT DI NUSA PENIDA Palguna, Kadek Wahyu; Agusintadewi, Ni Ketut; Yudantini, Ni Made; Widiastuti, Widiastuti
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: One indicator of the success of sustainable development is the provision of clean water, especially spring conservation. One of the spring conservation activities in the provision of community-based clean water is the Pamsimas program. Sekartaji Village and Batumadeg Village in the Nusa Penida Islands have springs that can be used to meet the need for clean water. The purpose of this study is to identify conservation schemes for the use of springs, facilities and infrastructure accommodated in the use of springs, and community-based management of the use of springs for the provision of clean water in Sekartaji Village and Batumadeg Village, Nusa Penida District. The method used is a qualitative method with a descriptive method, namely explaining community activities in conserving springs, referring to relevant theories. The results of the research on the conservation scheme for the use of springs are by implementing Enrichment Planting around the springs. Utilization of this scheme is not all of the total spring discharge. Management of water use is carried out by administrators (KP-SPAMS) from each village under the auspices of BUMDes. The benefit of carrying out this research is to find out the importance of spring conservation for the provision of clean water in sustainable development. Where in these activities require the participation of the community in its use.Keyword: spring conservation, clean water supply, community participationAbstrak: Salah satu indikator keberhasilan pembangunan berkelanjutan adalah penyediaan air bersih, terutama konservasi mata air. Salah satu kegiatan konservasi mata air pada penyediaan air bersih berbasis masyarakat adalah program Pamsimas. Desa Sekartaji dan Desa Batumadeg di Kepulauan Nusa Penida memiliki mata air yang bisa dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan akan air bersih. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi skema konservasi pemanfaatan mata air, sarana dan prasarana yang diakomodasi dalam pemanfaatan mata air, dan pengelolaan pemanfaatan mata air berbasis masyarakat untuk penyediaan air bersih di Desa Sekartaji dan Desa Batumadeg, Kecamatan Nusa Penida. Metode yang digunakan adalah metode Kualitatif dengan metode Deskriptif yaitu menjelaskan kegiatan masyarakat dalam mengkonservasi mata air, merujuk pada teori-teori yang relevan. Hasil penelitian skema konservasi pemanfaatan mata air yaitu dengan melaksanakan Enrichment Planting di sekitar mata air. Pemanfaatan skema ini tidak seluruh dari total debit mata air. Pengelolaan pemanfaatan air dilakukan oleh pengurus (KP-SPAMS) dari masing-masing desa yang bernaung di bawah BUMDes. Manfaat dalam melaksanakan penelitian ini adalah untuk mengetahui pentingnya konservasi mata air untuk penyediaan air bersih dalam pembangunan berkelanjutan. Dimana dalam kegiatan tersebut membutuhkan peran serta masyarakat dalam pemanfaatannya.Kata Kunci: konservasi mata air, penyediaan air bersih, partisipasi masyarakat
IMPLEMENTASI KESESUAIAN KEGIATAN PEMANFAATAN RUANG GUNA MENDORONG REFORMA AGRARIA BERKELANJUTAN DI KABUPATEN KLUNGKUNG Wahyuni, I Gusti Agung Putu; Agusintadewi, Ni Ketut; Wibowo, Antonius Karel Mukti
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Abstrak Population growth drives high demand for land, altering land use and potentially damaging the environment. Regional Spatial Plans (RTRW) and Conformity of Spatial Utilization Activities (KKPR) are crucial in regulating land use to sustain the environment and support agrarian reform. This study examines KKPR implementation in Klungkung Regency and its relation to agrarian reform. Using qualitative descriptive and case study approaches, data was gathered from KKPR documents, field observations, and relevant regulations. Findings indicate that KKPR effectively controls land use, despite violations in land area and basic building coefficient (KDB). KKPR applications for business, especially in the plantation and agriculture sectors, are often rejected. Monitoring KKPR implementation is vital to ensure consistency with RTRW and prevent deviations that could hinder agrarian reform goals. Controlling spatial utilization through KKPR plays a central role in maintaining land use conformity with spatial plans and supporting agrarian reform. Re-evaluating the District RTRW is necessary to meet community needs while considering environmental sustainability principles. Enhancing KKPR effectiveness can build public trust in the government and support agrarian reform towards achieving social justice and prosperity goals.Keyword: KKPR, Implementation Monitoring, Agrarian ReformAbstrak: Pertambahan jumlah penduduk mendorong permintaan lahan yang tinggi, mengubah penggunaan lahan dan berpotensi merusak lingkungan. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) penting dalam mengatur penggunaan lahan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan mendukung reforma agraria. Studi ini meneliti penerapan KKPR di Kabupaten Klungkung dan hubungannya dengan reforma agraria. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif dan studi kasus, data dikumpulkan dari dokumen KKPR, observasi lapangan, dan peraturan terkait. Temuan menunjukkan KKPR berhasil mengendalikan penggunaan lahan meskipun terdapat pelanggaran terhadap luas lahan dan koefisien bangunan dasar (KDB). Permohonan KKPR untuk usaha, terutama di sektor perkebunan dan pertanian, sering ditolak. Monitoring pelaksanaan KKPR penting untuk memastikan konsistensi dengan RTRW dan mencegah penyimpangan yang bisa menghambat reforma agraria. Pengendalian pemanfaatan ruang melalui KKPR dalam menjaga kesesuaian penggunaan lahan dengan rencana tata ruang serta mendukung reforma agraria. Evaluasi ulang RTRW Kabupaten perlu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan mempertimbangkan prinsip keberlanjutan lingkungan. Efektivitas KKPR dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap pemerintah dan mendukung reforma agraria untuk mencapai tujuan keadilan sosial dan kemakmuran.Kata Kunci: KKPR, Monitoring Implementasi, Reforma Agraria          
INTEGRASI KESESUAIAN REGULASI DAN DESAIN ARSITEKTUR HOTEL PARKSIDE’S DI JALAN SEROJA KOTA PALEMBANG Dinata, Marta; Sueca, Ngakan Putu; Agusintadewi, Ni Ketut
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i2.3965

Abstract

Abstract: The development of Palembang City as one of the economic centers generated by business and tourism in South Sumatra requires infrastructure development by prioritizing spatial regulations by prioritizing sustainability aspects. This research also examines the integration between the architectural design of Parkside's Hotel on Jalan Lingkungan Seroja with the spatial regulations issued by KKPR from the RTRW and RDTR as a reference in order to ensure compliance with applicable regulations in Palembang city. The main focus is the aspects of safety, health, comfort, and convenience with attention to sustainability and harmony in the design of the Parkside's Hotel. The final results displayed assess and evaluate the integration between regulations and architectural design in the form of scoring from KKPR data, technical, field observations with points of land use, KLD, KDH RTNH, KDB, and GSB applied to the building make a positive contribution and provide useful recommendations for the development of spatial regulations, especially in hotel construction activities and other commercial buildings that exist and / or will be carried out in Palembang City, South Sumatra. Keyword: Architectural Design, Parkside's Hotel, Spatial Regulations, KKPR Abstrak: Perkembangan Kota Palembang seagai salah satu pusat ekonomi yang dihasilkan oleh bisnis dan pariwisata di Sumatera Selatan yang memerlukan pembangunan infrastruktur dengan mengedepankan regulasi tata ruang dengan mengedepankan aspek keberlanjutan. Penelitian ini juga mengkaji integrasi antara desain arsitektur Hotel Parkside’s di Jalan Lingkungan Seroja dengan regulasi tata ruang yang dikeluarkan KKPR dari RTRW dan RDTR sebagai acuan dalam untuk memastikan kesesuaian dengan peraturan yang berlaku di kota Palembang. Fokus utama adalah yaitu aspek keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan dengan memperhatikan keberlanjutan dan keserasian dalam desain Hotel Parkside’s tersebut. Hasil akhir yang ditampilkan menilai dan evaluasi intergrasi antara regulasi dan desain aristektur dalam bentuk Skoring dari data KKPR, Teknis, observasi lapangan dengan poin Peruntukan lahan, KLD, KDH RTNH, KDB, dan GSB yang diterapkan pada bangunan tersebut memberikan kontribusi positif serta memberikan rekomendasi yang berguna untuk pengembangan regulasi tata ruang terutama pada aktivitas pembangunan hotel dan bangunan-bangunan komersial lainnya yang ada dan/atau akan dilakukan di Kota Palembang Sumatera Selatan. Kata Kunci: Desain Arsitektur, Hotel Parkside’s, Reguasi Tata Ruang, KKPR
KARAKTERISTIK ELEMEN FISIK RUANG KORIDOR JALAN HASANUDIN DI KOTA DENPASAR Kusuma Sari, Ni Putu Nila; Agusintadewi, Ni Ketut
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i2.4007

Abstract

Abstract: Hasanudin Street corridor is one of the commercial areas with high trade activity in Denpasar City. This road functions as a city transportation route and trade center. As a result of increasing commercial activity, it causes pressure on the physical elements of space, which has the potential to reduce the quality and character of the area. This study aims to analyze the characteristics of the Hasanudin Street corridor based on the physical elements of space with a qualitative approach using the concept of eight urban design elements. The results show that the corridor is dominated by Dutch Architecture-style commercial buildings arranged linearly, parallel to the main road. The corridor is a one-way street with a pedestrian path filled with street vendors (PKL). In addition, the presence of billboards in the form of signage and directions reinforces the identity of the commercial area. However, the pressure of commercialization can threaten the sustainability of historic buildings and colonial-style shophouses along the corridor. Therefore, preservation efforts are made to maintain the architectural value of the buildings amidst the development of economic activities. Keyword: Characteristics of physical elements of space, physical elements of space, road corridor Abstrak: Koridor Jalan Hasanudin merupakan salah kawasan komersial dengan aktivitas perdagangan tinggi di Kota Denpasar. Jalan ini berfungsi sebagai jalur transportasi kota dan pusat perdagangan. Akibat meningkatnya aktivitas komersial menyebabkan tekanan terhadap elemen fisik ruang, yang berpotensi menurunkan kualitas dan karakter kawasan. Studi ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik koridor Jalan Hasanudin berdasarkan elemen fisik ruang dengan pendekatan kualitatif menggunakan konsep delapan elemen desain perkotaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koridor didominasi oleh bangunan komersial bergaya Arsitektur Belanda yang tersusun linier, sejajar dengan jalan utama. Koridor ini merupakan jalan satu arah dengan jalur pejalan kaki yang dipenuhi pedagang kaki lima (PKL). Selain itu, keberadaan reklame dalam bentuk papan nama dan petunjuk arah memperkuat identitas kawasan komersial. Namun, tekanan komersialisasi dapat mengancam keberlanjutan bangunan bersejarah dan ruko bergaya kolonial di sepanjang koridor tersebut. Oleh karena itu, upaya preservasi dilakukan untuk menjaga nilai arsitektural bangunan di tengah perkembangan aktivitas ekonomi. Kata Kunci: Karakteristik elemen fisik ruang, elemen fisik ruang, koridor jalan